Wanita Adalah Sumber Uangku

Wanita Adalah Sumber Uangku
Ch 29: Pesanan


__ADS_3

Yayan dan lainnya kembali setelah puas makan-makan. Sebetulnya mereka ingin bersenang-senang di taman hiburan atau mall, namun karena melihat kondisi Yayan yang sedikit aneh.


Dia menjadi sangat kelelahan. Jadi, mereka memutuskan untuk kembali. Tidak menjadi perayaan namanya jika salah seorang tidak bisa menikmati.


“Hei, Yan. Apa kau sakit?“ tanya Andrea, menempelkan punggung tangan di dahinya Yayan.


“Bukan! A-aku hanya kelelahan!“ Yayan mengenyahkan tangan Andrea. “Aku memperingatkanmu, Andrea. Jangan ganggu istirahatku! Awas jika nanti malam kau menyelinap masuk ke sini!“


“Aku masih punya akal sehat dan tak setega itu padamu.“ Andrea berkilah.


“Hmm … oke, sekarang keluar!“ usir Yayan secara tidak hormat, sedikit bentakan.


“Iya, iya. Selamat tidur, sayang——”


“Aku bukan pacarmu!“ teriak Yayan.


Andrea keluar dengan senyuman merekah, begitu puas ia menggoda Yayan. Wanita itu tanpa sadar sudah membentuk perasaan yang berbeda pada Yayan, bukan sebatas nafsu lagi. Ia tidak sadar sudah mencintainya.


Itulah kenapa saat berada di luar, di mana banyak keramaian, Andrea menjadi pendiam. Ia canggung berada di dekat Yayan dan berinteraksi dengannya bila ada banyak orang.


“Hah! Jadi, sekarang harus apa?“ bingung Andrea melihat rumah Bu Salma yang dijadikan kos-kosan.


“Para bocah itu malah pergi main lagi!?“ kesal Andrea. Niatnya ia ingin menyuruh bocah SMA itu untuk membersihkan kekacauan yang ia buat sebelumnya.


Jadi, kini Andrea terpaksa membersihkan kekacauan yang dibuatnya sendiri. Ia mulai membersihkan bungkus-bungkus makanan yang berserakan, sekalian menyapu serta mengepel. Tidak, sekalian membersihkan rumah. Ia jadi kebablasan.


“Wah, aku ternyata calon ibu rumah tangga yang baik,“ ucap Andrea narsis, merasa bangga bisa merapikan rumah yang sebelumnya berantakan itu.


“Selanjutnya apa?“ Andrea berpikir.


“Yayan lagi kurang enak badan, kubuatkan bubur saja kali, ya?“ cetusnya, ia merasa ide yang bagus.


Wanita itu kemudian menuju dapur, mencari-cari bahan yang diperlukan dengan bantuan internet. Seumur hidupnya, ia belum pernah memasak satu kali pun.

__ADS_1


“Wah, bahan makanan di sini sangat lengkap. Yayan benar-benar memerhatikan setiap kebutuhannya. Oke … ayo masak!“


Realita tak sesuai harapan. Andrea saat melihat tutorial memasak bubur nampak sangat gampang, tapi saat dipraktekkan … nol besar. Ia berkali-kali gagal, membuat dapur porak-poranda.


“Akhhh … kenapa sangat sulit?“ Andrea dengan frustasi mengacak-acak rambut cokelatnya.


Untuk menenangkan diri dari amarah, Andrea memanjakan tubuhnya sendiri. Memainkan gumpalan lemak di dada, dan menggesek-gesek ************. Ia melakukan itu sambil membayangkan Yayan yang menyentuhnya. Suara lenguhan indah datang dari dapur, ia benar-benar tidak tahu tempat. Namun, beruntung keadaan selalu sepi.


Andrea baru berhenti saat sudah orgasme.


“Huh, dasar tidak berguna! Rasanya berbeda jika menggunakan tangan sendiri.“


Wanita itu tiba-tiba termotivasi untuk menyenangkan Yayan agar ia bisa selalu melakukannya.


Namun, sebelum memikirkan bagaimana caranya. Andrea harus menyelesaikan membuat bubur. Ia berhasil setelah percobaan yang entah ke berapa, menghabiskan beberapa kilogram beras. Yah, boros ... jatah untuk satu minggu lebih.


“Akhirnya ….“ Andrea mencicipi bubur buatannya. Ekspresinya berubah seketika, bubur tadi langsung dimuntahkan.


“Asin! Kenapa bisa asin?“


“Huh, kenapa aku tidak beli bubur instan saja dari awal? Definisi mempersulit diri!“


Andrea mengantar bubur itu ke kamar Yayan.


“Saya——Yan? Aku buatkan bubur. Kau mau?“ tawar Andrea seraya mengetuk pintu.


“Kau bodoh atau apa, sih? Kita tadi habis makan dengan brutal. Kau kira kapasitas lambungku sama dengan seekor gajah?!“ sembur Yayan yang begitu menusuk.


“Ugh …. “ Andrea terguncang, ia seakan ingin menangis pada saat itu. Yah, ia salah waktu untuk berkerja keras membuat Yayan bangga padanya.


Andrea pada akhirnya memakan bubur itu sambil menonton TV. Hanya mengisi kegabutan, tidak ada yang bisa dilakukan.


Wajah Andrea sedikit bermasalah ketika selesai melakukan sendokan pertama. Keningnya membentuk kerutan, ia pun nampak ingin segera meludah. Andrea buru-buru pergi ke dapur untuk mengambil air.

__ADS_1


“Untung Yayan tidak memakannya. Bisa dibunuh aku!?“ lega Andrea. “Tapi kenapa, sih? Apakah aku ditakdirkan tidak bisa memasak? Padahal tadi nggak terasa asin, lho!“ sebal Andrea, ia merasa dunia berlaku tidak adil. Bubur yang dibuat dengan susah payah akhirnya dibuang.


Untuk sementara waktu, Andrea memilih memainkan ponsel alih-alih menonton TV yang telah ia nyalakan.


Wanita itu melongo melihat aplikasi chatting miliknya kebanjiran pesan. Dan semuanya adalah permintaan job. Ya taulah apa pekerjaannya.


“Wah, wah … sebanyak ini?! Mereka pasti sangat rindu padaku. Tapi, maaf … aku pensiun!“


Andrea mengganti semuai bio sosmed-nya. Di sana tertulis … “Gantung bra”.


Meskipun begitu, masih ada yang kekeh ingin bermain dengan Andrea untuk terakhir kalinya. Ada seorang pria yang melakukan spam pesan. Andrea pun sedikit terganggu dan risih. Ia ingin memblok akun itu, tapi saat melihat pesan terakhirnya.


“Tolong, untuk terakhir kali …. aku akan membayarmu 100 juta!?“


Andrea kemungkinan sedikit tergiur. Ia lalu men-stalk akun pria itu untuk memastikan identitasnya.


“Hmm … pria berumur 20-an, kira-kira sedikit lebih tua dariku, anak konglomerat, sudah menjalankan anak perusahaan dari orang tuanya … lalu, dia sudah punya pacar! Kenapa bisa meminta jasaku? Dia tidak diberi jatah oleh pacarnya?“ heran Andrea, ia melihat seksama wajah pria yang ingin menyewanya. Ia menyadari sesuatu.


“Bukannya dia adalah pria yang disuruh Yayan untuk didekati. Hmm … kebetulan!? Aku terima saja kali, ya? Namun, sebelum itu … aku perlu konfirmasi dari Yayan.“


“Apa?“


Yayan mendadak muncul di belakang Andrea, wanita itu bahkan hampir reflek menamparnya.


“Kau membuatku jantungan!?“ seru Andrea, ia memegangi dada kirinya seraya terengah-engah.


“Ya … maaf.“ Yayan tanpa rasa bersalah langsung menyambar ponsel milik Andrea. Dia melihat apa yang sedang dilakukan wanita itu.


“Oh, ini sangat kebetulan!“ kejut Yayan mengembalikan ponselnya Andrea.


“Jadi, aku harus bagaimana?“ Wanita itu menunggu keputusan Yayan.


“Langsung sikat saja. Buat apa menunggu?“ Yayan kemudian berlalu pergi ke karena mandi, Andrea lantas menghentikannya dengan sebuah pertanyaan.

__ADS_1


“Kau pernah memiliki hubungan wanita yang menjadi pacar pria ini? Kau sepertinya ingin menghancurkan hubungan mereka!“


Yayan menghela nafas sejenak, “Huh … hubungan mereka? Aku tidak tertarik, aku hanya ingin menghancurkan hidup mereka bila ada kesempatan,“ ucapnya tanpa berbalik pada Andrea.


__ADS_2