Wanita Adalah Sumber Uangku

Wanita Adalah Sumber Uangku
Ch 23: Tidak menerima beban!


__ADS_3

“Jika memang di sini, di mana Wulan disekap?“


Vina pergi ke toilet, yah dalihnya. Ia sebetulnya berkeliling untuk mencari keberadaan Wulan. Sayangnya tidak membuahkan hasil. Kendala terbesar adalah jangkauan pencarian, ia tidak leluasa menjelajah dan menggeledah tempat itu.


Vina selanjutnya menerima sebuah pesan dari Yayan.


“Menemukan sesuatu?“


Vina membalas, “Tidak. Aku akan mengusahakan untuk mencari ke lantai dua.“


“Tidak perlu. Wulan tidak di sana, dia di bawah tanah. Cari dan temukan pintu menuju ruang bawah tanah!"


“Bagaimana kau bisa tahu?“ tanya Vina.


“Kau meremehkanku?“


“Baiklah.“ Vina memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas. Ia fokus mencari ruang bawah tanah itu.


Vina mulai berkeliling lagi. Dia kali ini lebih teliti, memerhatikan tiap sudut ruangan. Ruang istirahat, dapur, toilet, gudang … Vina tidak menemukan apa-apa, ia sudah mencoba pengetahuan dari film. Pintu rahasia biasa ada tombol atau tuas pemicu, Jika bukan, itu berarti pintu tersembunyi. Vina juga tidak lupa mengecek ubin lantai, siapa tahu pintunya ada di sana.


“Aku tidak bisa menemukannya,“ ucapnya hampir menyerah


“Hei, apa yang kau lakukan di sini? Lho? Kau … kebetulan sekali.“ Seorang pria memergokinya, ia kemungkinan adalah si pemilik drone.


'Gawat! Bagaimana ini?'


Vina mundur secara perlahan, diam-diam memasukkan tangan ke dalam tas. Ia melakukan panggilan suara dengan Yayan.


“Kalian bisa ke sini pasti karena drone itu?! Namun, harus diakui, nyali kalian besar juga. Ini adalah wilayah musuh, kau tau!“ Pria yang memakai topi itu menyeringai.


'Yan, Cepatlah ke sini!' batin Vina ketakutan. Wanita itu sudah tersudut. Ia kini di dalam gudang.


“Hmm … tubuhmu lumayan! Begini saja, aku beri penawaran bagus. Aku tidak akan menyakitimu asal kau bersedia——”


Buaghh …


“Aku tak Sudi!“ Vina tiba-tiba menendang area ************ pria itu, tepat mengenai biji. Itu jelas sangat sakit.


“Arghhh ….“ ia terduduk lemas dan mengerang kesakitan memegangi selangkangannya.


Vina memanfaatkan kesempatan itu untuk melarikan diri. Namun, ia dijegal hingga terjatuh.


“J-jangan kabur!“ Pria itu memegangi kaki Vina.


Vina berupaya semaksimal mungkin untuk melepaskan diri, ia menendang-nendangkan kakinya agar terlucut. Perbedaan kekuatan yang berperan di sini, usaha Vina sia-sia.


Pria bertopi itu berangsur-angsur berdiri seraya memegang kuat pergelangan kakinya Wulan. Sepertinya rasa nyeri di ************ mulai mereda.


“Kau harus dihukum! Aku tau hukuman yang bagus …, hehe.“


'Yan, tolong aku!'


Pria hendak mulai meraba-raba kaki terus menuju paha.

__ADS_1


'Aku tak ingin seperti ini! Yan, Cepatlah datang!' Vina tak kuasa menahan tangisnya.


“Oh, jangan menangis! Aku merasa seperti orang paling jahat. Tenang saja, ini akan sangat enak——”


“Ban9sat!“


Buaghh …


Yayan datang lalu melepaskan pukulan dengan kekuatan penuh hingga pria itu terpental beberapa meter. mulut dan giginya mengeluarkan darah, ia mulai kehilangan kesadaran.


“Tidak ada yang menyuruhmu tidur!“ ucap Yayan, menodongkan gunting cukur tepat di lehernya.


Darah mulai menetes dari ujung gunting. Si pria bertopi seketika mengangkat kedua tangannya.


“A-a-aku akan melakukan apa pun, tapi jangan bunuh aku!“ ucapnya sedikit terputus-putus, tidak berani membuka matanya.


“Kau harusnya tau apa yang aku inginkan padamu!“ ucap Yayan dingin. Vina bahkan tidak menyangka teman kerjanya itu bisa bersikap kejam dan dingin.


'Yayan juga bisa seperti ini? Terlebih lagi, dia juga kuat. Kenapa dia selama selalu mengeluh soal stamina?' batin Vina melihat Yayan dengan tatapan yang tidak biasa.


“Lepaskan gadis itu!“ titah Yayan, sedikit memberikan penekan lebih pada gunting.


“A-aku mengerti, aku mengerti. Jauhkan benda tajam itu dari leherku!“ teriaknya sangat ketakutan.


Yayan tersenyum puas, dia menarik kembali guntingnya. Namun, pria itu tidak puas karena ia hampir melecehkan Vina.


Yayan menendang kepala si pria bertopi. “Kau beruntung aku datang lebih awal. Jika tadi kau sudah melecehkan temanku … yah, siapa yang tau!“ Yayan mengangkat bahunya, nada bicara dan tatapannya sudah kembali normal.


“Vin, kau belum diapa-apain, 'kan?“ tanya Yayan.


Si pria bertopi kemudian membawa Yayan dan Vina ke ruang bawah tanah. Pintu masuknya ternyata ada di bagian bawah tangga, Vina belum sempat memeriksa ke sana.


Ruang rahasia itu tidak ada bedanya dengan gudang yang ada di atas, penuh dengan barang tua dan rongsokan. Bedanya di sini sedikit panas dan pasokan udara yang sedikit, tidak ada ventilasi sama sekali.


“Hei, apa-apaan ini? Kalian berniat membunuhnya!“ ucap Yayan sedikit marah. “Hei, apa kalian memberikannya makan?“


Tidak ada jawaban ….


“Kalian terlalu biadab!“ Senjata andalan kembali digunakan. “Aku sebetulnya ingin membunuhmu dan antek-antekmu. Namun, aku sadar bahwa tindakan itu lebih banyak kerugian dari pada keuntungan.“ Yayan mendekat, melepas topinya lalu mencukur asal rambut pria itu.


Pria yang merupakan komplotan penculik itu meneguk ludahnya dengan ngeri. Ia bergegas menuruti tuntutan Yayan.


Wulan dibebaskan, kondisi si gadis kecil dalam kondisi tidak sadarkan diri.


“Dia beri obat bius,” beritahu si pemilik drone atau si penculik. Langsung mendapat delikan tajam dari Yayan.


Kondisi Wulan kurang baik, ia sepertinya kelaparan dan sesak nafas.


'Mereka berani-beraninya melakukan ini?!' batin Yayan geram.


“Gimana, yan? Apa Wulan baik-baik saja?“ tanya Vina agak cemas.


“Tidak terlalu buruk. Masih terkendali.“

__ADS_1


Yayan menggendong Wulan yang tidak sadarkan diri, dia berniat langsung membawanya pergi. Dia juga berencana untuk memenjarakan pria di hadapannya yang merupakan komplotan penculik.


“Kau harus mempertanggungjawabkan perbuatanmu——”


“Kalau bisa?!“


Yayan sontak menarik Vina ikut menjauh. Si penculik menyeringai lebar.


“Apa maksudmu——apa?“ Yayan sangat terkejut.


'Dia sudah menghubungi kelompoknya? Sial, aku lengah?'


Si penculik membuang ponselnya lalu duduk bersila dengan santai, ia tersenyum licik ke arah Yayan dan Vina. Kemenangan sudah terjamin, mungkin?


“Vina, kita harus segera pergi dari sini!?“


Tap … tap … tap …


Langit-langit bergetar, bunyi langkah yang bergemuruh terdengar. Ada banyak orang yang menuju ruang bawah tanah.


“Yan, bagaimana?“ Vina cemas, ia merapat pada Yayan, menggenggam tangannya kuat-kuat. Vina jelas ketakutan, tangannya gemetar.


'Yang aku takutkan adalah para penculik itu ada yang memiliki senjata api. Aku mungkin bisa mengatasinya. Namun, Vina dan Wulan tidak mungkin.' Yayan dengan kesal menggigit bibir bagian bawahnya.


Yayan lalu berfokus pada pria yang mengira dirinya sudah menang.


'Dia sangat menyebalkan!' geram Yayan, alhasil ia mendapat tendangan kedua.


Buaaghh …


“Kau belum menang! Jangan senang dulu!“ Yayan menarik bajunya lalu memelintir tangannya ke belakang. “Kau akan jadi sandera!“


“I-tu tindakan antagonis. Cara-cara licik tak cocok bagi protagon——”


Krekkk ….


“Jangan banyak omong!“


Suara tulang diputar itu membuat Vina sedikit ngilu. Wanita itu menatap Yayan secara diam-diam.


'Jadi, aku selama ini belum mengenal Yayan sepenuhnya. Aku tak pernah tahu dia punya sisi seperti ini!' wanita itu reflek menggenggam tangan Yayan lebih erat.


Bala bantuan akhirnya tiba, bukan kubu Yayan, melainkan kubu penculik. Hal yang dikhawatirkan Yayan terjadi. Mereka semua bersenjata dan memakai topeng ski.


“Jangan mendekat atau kubunuh orang ini?!“ ancam Yayan.


“Siapa peduli!“


Jdarr ….


“Ugh?!“


“Yayan?“ teriak Vina histeris.

__ADS_1


“Apa itu solidaritas? Kami tidak menerima beban?!“


Salah satu dari penculik itu menembak kompolotannya sendiri, timah panasnya tembus hingga ke tubuh Yayan.


__ADS_2