
Festival Dewa perang semakin dekat. Di ibukota Rugia kini telah dipenuhi oleh petarung yang ingin berpartisipasi di acara itu. Mereka datang dari seluruh dunia dengan niat yang sama.
Festival Dewa Perang sejatinya adalah mencari prajurit terbaik yang akan memimpin pasukan untuk perang di masa lalu. Semua petarung akan bertarung satu sama lain untuk mendapatkan hak itu. Menjadi panglima tinggi pasukan Rugia serta diberi hak untuk menikahi Putri.
Yah, untuk hadiah-hadiah itu mungkin sudah dihapus. Festival Dewa perang berubah menjadi acara biasa yang memperebutkan hadiah uang dan ketenaran. Itu daya tarik utama agar para turis asing datang ke Rugia. Level acara itu sudah sama dengan piala dunia sepak bola.
“Hmm … apakah aku akan di negara ini sedikit lebih lama?“ gumam Yayan.
Festival Dewa perang sebetulnya agak sedikit bentrok dengan pertemuan Yayan dengan Raja. Selisih satu hari. Jika Yayan berpatisipasi di festival itu … maka dia harus tetap tinggal di Rugia sekitar sebulan. Dengan catatan bahwa Yayan bisa mencapai final.
Yayan kini berada di Colloseum untuk tur sejarahnya. Dia bersama dengan rombongan keluarga besarnya. Mereka melihat-lihat bangunan yang seakan membawa ke masa lalu.
“Di sini terlalu ramai!“ keluh Nesa. Aku ingin tidur di hotel saja.“ Dia menguap lebar lalu berjalan pergi.
Semakin lama rombongannya menghilang satu per satu, mereka bosan dengan tur itu. Pada dasarnya tidak suka hal yang membosankan seperti sejarah. Kini yang tersisa cuma Yayan dan ketiga istrinya. Mereka memang akan mengikuti Yayan, meski itu ke ujung dunia atau kawah gunung berapi … yah, katanya.
Yayan kini berada di tribun Colloseum, menyaksikan pertunjukan antara dua orang yang berlagak seperti dua pejuang . Itu adalah salah pertarungan paling bersejarah dan spektakuler yang pernah ada. Dijadikan acara terakhir dalam tur keliling Colloseum.
Setelah beberapa menit menikmati pertunjukan yang seolah-olah reka adegan dalam penyelidikan polisi.
“Saya ucapkan terima kasih banyak untuk memakai jasa kami dalam kegiatan tur kali ini. Besok acara festival Dewa perang akan dimulai. Bagi petarung yang ingin berpartisipasi … silahkan mendaftar sebelum pendaftaran di tutup,” beritahu si tour guide dengan lantang dengan bahasa Inggris.
Para wisatawan pun keluar dari area Colloseum. Sementara Yayan, dia pergi untuk mendaftar dalam acara itu.
Pendaftarannya cukup mudah, Yayan cuma disuruh untuk mengisi identitas. Tidak ada batasan untuk para pendaftar, mereka menerima semua orang, tidak peduli bagaimana latar belakangnya.
Selain itu, Yayan juga diminta untuk menandatangani kertas kontrak yang berisi segala hal yang terjadi selama turnamen adalah konsekuensi yang ditanggung oleh partisipan. Pihak penyelenggara tidak akan bertanggungjawab kecuali untuk urusan pengobatan di rumah sakit.
Setelah selesai mendaftar, Yayan memutuskan untuk kembali ke hotel. Namun, dia bertemu dengan pria yang mungkin sedikit menganggu tujuannya. Ya, ia adalah si pengantin pria. Kedatangannya cukup mencolok dengan beberapa orang berpakaian jas hitam selalu menguntitnya di belakang.
'Tipe pria menyebalkan yang ingin sekali kuhajar. Yah, dia anak perdana menteri … aku akan mempermalukanmu!'
Secara tidak terduga … calonnya Putri Rachial itu ternyata datang untuk melihat-lihat peserta yang mendaftar. Ia menyapa semua peserta, termasuk Yayan.
“Terima kasih sudah berpartisipasi, berusaha lah sebaik mungkin,” ucap si anak perdana menteri dalam bahasa Rusia.
__ADS_1
Yayan cuma mengangguk sebagai respon. Putra perdana menteri itu kemudian sedikit melirik Andrea dengan mata yang kurang sopan.
'Jaga matamu, sialan! Aku akan membunuhmu jika sekali lagi melirik istri-istriku!' Yayan menatap tajam pria di hadapannya. Ia merasa sedikit terintimidasi.
“Hmm … jika kau menjadi istriku, kau mungkin bisa menjadi Ratu di negeri ini! Tapi, sayang sekali … pria ini pasti sudah memilikimu!“ ucapnya dalam bahasa Rusia.
“Hah?“ Andrea bingung dengan ucapan yang diberikan padanya.
'Yap, aku benar-benar akan menghajar pria ini nanti,' batin Yayan. System memag bisa menjadi mesin translate.
Yayan tanpa kata mengajak ketiga istrinya untuk berlalu pergi. Tapi, siapa sangka bahwa tangan Andrea dipegangi.
“Jangan buru-buru!“ Kali ini ia berucap dengan bahasa Inggris.
“Kenapa, tolong lepaskan tangan istri saya! Itu tidak sopan!“ balas Yayan dengan bahasa Inggris juga.
“Oh, istri? Saya mengira adik!?“ si putra perdana menteri atau namanya Rudoft tersenyum lebar. Ia mengelus-elus telapak punggung tangan Andrea, itu sontak membuat tidak nyaman. Andrea seketika menyentak tangan Rudoft.
“Huh, langsung saja …. apa yang kau inginkan, Putra perdana menteri dan calon suaminya Putri Rachial?“ Yayan tidak mau berbasa-basi.
“Aku tidak peduli!“ balas Yayan.
Beberapa orang yang sempat mendengar topik pembicaraan mereka pun mendekat. Ini salah hal yang menarik.
Salah satu pengawal Rudoft mendekat dan memberikan sebuah pedang untuknya dan Yayan.
'Duel pedang?'
“Yan, apa ini ide yang bagus? Kamu tidak pernah memakai pedang, 'kan?“ bisik Vina cemas.
“Ya, sudahlah! Ayo pergi saja, untuk apa meladeni bajin9an itu?“ timpal Andrea.
“Kalian tenang saja. Aku tetap akan menang!“ ucap Yayan percaya diri.
Yayan siap menghadapi Rudoft dalam duel pedang.
__ADS_1
“Peraturannya cukup sederhana! Pedang yang terlucut dari tangan berarti kalah.“
Yayan mengangguk. “Aku setuju.“
Peringatan dari ketiga istrinya tidak digubris.
Bodyguard-nya Rudoft berdiri di antara Yayan dan sang Putra perdana menteri, ia akan menjadi wasit. Ia mengeluarkan sebuah koin lalu melemparkannya ke udara.
Rudolf dan Yayan menunggu saat koin itu jatuh ke tanah.
Rudolf sudah menguatkan kuda-kudanya saat koin hampir mencapai tanah. Sedangkan, Yayan cuma menyeringai tipis.
Slash …
Rudoft mengayunkan pedangnya secara vertikal dengan kecepatan yang sangat tinggi, Yayan tidak dapat bereaksi, dia hanya diam.
“Apa?!“
Semua orang terkejut … serangan Rudoft meleset. Serangannya itu bahkan tidak mencapai tubuh Yayan. Pedangnya Rudoft mendarat di sekitar ujung kaki Yayan.
'B-bagaimna mungkin? Aku sudah memperkirakan jaraknya dan dia bahkan tidak melakukan pergerakan sama sekali. Mustahil jika seranganku tidak sampai!?' pikir Rudoft dengan keras.
“Oh, apa ini giliranku untuk menyerang?“
Slash ….
“Apa?! Arghhh!“
Teriakan Rudoft terlambat, ia terkena telak oleh tebasan Yayan. Yah, itu cuma terjadi dalam pikirannya.
“Eh? Apa? Dadaku baik-baik saja?“
Sepersekian detik selanjutnya, Rudoft meraba-raba area sekitar dadanya. Tidak ada luka sama sekali.
“Ada apa Tuan Perdana Menteri? Kenapa reaksimu sangat berlebihan?“ Yayan tersenyum lebar.
__ADS_1
Rudolf tanpa sadar sudah masuk dalam tipu muslihatnya Yayan.