Wanita Adalah Sumber Uangku

Wanita Adalah Sumber Uangku
Ch 36: Deklarasi resmi


__ADS_3

Yayan terbungkam sebentar, menatap wanita yang kira-kira berusia 38 tahun. Meski begitu, ia tetap awet muda dan cantik, mirip dengan Wulan.


'Apa-apaan ini?' pikir Yayan.


Setelah itu, dia menyingkir untuk membiarkan wanita itu dan petugas medis mengurus si gadis kecil. Tidak berselang lama, Alya muncul. Ia mengecek kondisi Mysta, yah mereka sudah jadi teman. Lagi pun, mereka sebetulnya masih satu SMA, begitu juga dengan Azka dan Aji.


“Mysta, kamu tidak apa-apa?“ tanya Alya sedikit cemas, memerhatikan Mysta dengan seksama.


“Tenang saja, aku cuma meminum sedikit air,” balas Mysta pelan.


Alya membawa Mysta keluar dari kerumunan, Yayan pun juga ikut keluar setelah kenyang akan pujian dan rasa terima kasih. Bahkan pihak Waterboom akan menghadiahkan sesuatu. Namun, Yayan memutuskan untuk melemparnya pada orang lain, pada pahlawan yang nekat.


“Mysta, kenapa kau asal nyebur jika tidak bisa berenang. Hah … untung aku melihat gelagat anehmu. Dan juga … jika kau melihat orang tenggelam, berteriak, meminta bantuan!?“ Yayan menasehati, dia geleng-geleng heran.


“Untung saja kau baik-baik saja,” lega Yayan.


“Y-ya, terima kasih. Aku tidak akan mengulanginya lagi.“ Mysta menunduk, tidak berani menatap balik Yayan.


Selanjutnya Andrea, Rinto dan Wulan datang mendekat. Mereka bertanya tentang kehebohan tadi.


'Wanita itu sudah pergi. Bagaimana kalau Wulan melihat sosok yang sangat mirip dengan ibunya, atau tadi memang ibunya?' Yayan berpikir keras. Dia sungguh mempertanyakan identitas wanita tadi.


'Akhh … sebaiknya tidak usah kupikirkan. Mungkin cuma mirip. Tapi, miripnya sangat kebangetan!'


“Kenapa tadi ada ribut-ribut?“ tanya Andrea penasaran, ia melihat Mysta yang terduduk lemas. “Apa dia tenggelam?“


“Ya. Tapi, sekarang baik-baik saja.“


“Yan, jika aku tenggelam, apa kau akan menyelamatkanku? Memberikan nafas buatan?“ tanya Andrea dengan mata berkilauan.


“Aku hanya menunggu kau muncul ke permukaan. Lagipula kau bisa berenang, 'kan?“ tuduh Yayan.


“Cih, kau kejam sekali! Apa kau tidak kasihan padaku jika kenapa-kenapa?!“


“Tentu saja tidak. Kenapa aku harus mencemaskanmu!“ balas Yayan enteng, dia mencari keberadaan seseorang. Bukan Azka atau Aji, mereka sedang mencari pemandangan yang bagus.


'Vina? Dia dari tadi masih belum keluar dari kolam indoor? Di sekesal itu padaku?'


[Misi berhasil diselesaikan]


[Selamat, Host mendapatkan 20 spera, 8 poin daya tahan, 9 poin kecepatan]


[Host berhasil menyelesaikan misi sebelum batas waktu, reward tambahan diberikan. Sebuah mistery box]


'Hasil yang bagus.'


Setelah itu pun, Yayan bisa melanjutkan liburan yang menyenangkan. Dia dihampiri oleh pihak Waterboom, lalu terjadi sedikit perbincangan.


Yayan bisa saja menuntut kasus ini ke ranah hukum. Fasilitas berbahaya dan kelalaian. Yah, meski sebagain salahnya juga ada pada si orang tua dari gadis itu.


“Bagaimana?“ tanya Rinto.


Rombongan Yayan menunggu kedatangannya yang sibuk dengan urusan orang tenggelam.


“Yah, intinya insiden kali ini tidak akan diperbesar. Pihak anak kecil itu diberikan kompensasi, tapi tidak mau. Jadi, ya … diberikan padaku!“ beritahu Yayan.


“Oh, lumayan dong?“ respon Rinto.

__ADS_1


“Begitulah.“


'Aku memberikan semuanya pada Mysta, sih. Dia yang lebih membutuhkan,' batin Yayan yang melirik Mysta.


Mereka pun angkat kaki dari Waterboom, setengah hari mereka bermain air, kulitnya sudah pada keriput karena terlalu lama terendam air.


“Terima kasih ajakannya, bos.“


“Terima kasih, kak Yayan.“


“T-terima kasih, kak Yayan.“


Rinto, Wulan, Mysta, dan Alya memisah dari rombongan karena rumah mereka berlainan. Sementara itu, Vina ….


“Sampai jumpa, besok.“ Ia ikut nyelonong pergi.


'Dia ngambek!' batin Yayan menyaksikan Vina berjalan menjauhinya.


“Sebenarnya aku belum puas, sih,” celetuk Aji.


“Sana masuk lagi! Kami mau pulang.“


Yayan pulang bersama Andrea. Sedangkan Azka pergi ke tempat lain bersama Mitan, pacarnya.


“Lha, kok! Aku nggak serius, kali!?“ Aji menyusul Yayan dan Andrea.


'Kacungnya Yani selalu mengawasiku. Namun, sekarang mereka cuma sekedar mengintai. Tidak seperti yang dulu, membuatmu bonyok jika ada kesempatan!' pikir Yayan.


“Hei, Yan. Ayo, kenapa berhenti!“ cecar Andrea, Yayan mendadak berhenti berjalan.


“Huh, iya, ya. Sebentar!“


.


.


.


.


Yayan kini berada di kos-kosannya sendiri, mengunci pintu rapat-rapat agar Andrea tidak bisa masuk. Dia kini tidak sedang ingin diganggu, berupaya menikmati ketenangan guna berpikir.


'Si Yani itu ….!' Yayan mengepalkan tangannya kuat.


Wanita yang merupakan mantannya itu sudah keterlaluan, terlalu benci, dan terlalu niat. Ia memang bersikukuh untuk menjatuhkan Yayan.


'Aku harus segera meluruskan masalah ini!'


Dia mengambil ponsel yang tergeletak di sampingnya, lalu memulai mengetikkan nomor milik Yani. Yah, Yayan memang menghafalkannya dengan baik.


“Semoga saja nomornya tidak ganti.“


Setelah beberapa saat berupaya menghubungkan panggilan, pihak dari seberang akhirnya mengangkat panggilan.


“Ayo, kita ketemuan!“


Yayan hanya mengatakan itu lalu memutuskan panggilannya.

__ADS_1


Dia kemudian bersiap-siap untuk pergi.


Tempat tujuan?


Dia tidak perlu menentukan tempat untuk ketemuannya. Baik Yayan maupun Yani, pasti paham kemana harus pergi.


“Yan, mau kemana lagi kau? Katanya mau tidur?“ kaget Andrea melihat Yayan yang telah menyiapkan motornya untuk pergi. Yah, dia telah mengambilnya dari dunia System.


“Bukan urusanmu! Jangan sekali-kali untuk mengikutiku!“ peringat Yayan serius.


Dia langsung menggeber motornya melaju meninggalkan area kos-kosan.


Setelah berkendara hampir setengah jam, Yayan sampai di tempat tujuan. Itu adalah kafe yang selalu menjadi tempat favorit baginya dan Yani dulu, saat masih pacaran.


Yayan langsung masuk setelah memarkirkan motornya. Dia tidak perlu menunggu, wanita itu sudah duduk manis, nampak sedang menunggu seseorang.


'Aku tidak merasakan kehadiran para anak buahnya dan si Vicky?' batin Yayan agak memerhatikan sekeliling. Kafe itu agak sepi dari kehadiran pengunjung. Cuma ada 4 orang termasuk Yayan dan Yani.


“Apa di jalan macet? Aku sudah pesan. Seperti yang biasanya, 'kan?“ sambut Yani ketika Yayan hendak duduk.


Wanita itu sedang cosplay diri sendiri saat beberapa minggu yang lalu. Yayan tidak menghiraukan sambutan ramah yang disertai senyuman manis itu.


“Apa kamu tidak kangen? Tidak, sepertinya hanya aku saja … kita putus belum sebulan, tapi terasa sudah bertahun-tahun,” ucap Yani yang seolah-olah murung. Ia memainkan sedotan dari minumannya.


'Apa niat wanita ini?' Yayan memerhatikan angka yang merupakan tingkat kesukaan Yani pada Yayan.


'Minus? Sampai minus? Apakah itu berarti dia ….'


Tingkat kesukaan, bukan. Untuk kasus Yani, itu menjadi tingkat kebencian. Angka yang ada di atas kepala Yani secara teratur terus menurun sampai ke angka ….


'Infinity?'


Itu sudah menjadi kebencian murni.


“Yan, sejujurnya aku tidak rela. Ya, aku tidak rela ….“


Yayan masih bungkam, sedang berusaha menangkap maksud perkataan Yani.


“Kenapa kamu masih bisa tersenyum? Kenapa kau tidak putus asa?“ Tatapan mata Yani berubah, yang lembut berubah menjadi bengis dan dingin.


'Aku sebetulnya bingung, mana yang merupakan sisi asli dari Yani!' pikir Yayan


Brakkk …


Yani berdiri dan menggebrak meja, ia berteriak keras pada Yayan.


“Kenapa kau masih bisa tersenyum?“


Tentu saja, mereka berdua bdalam waktu singkat menjadi pusat perhatian seisi kafe. Yayan meladeni Yani.


“Kau tanya begitu? Bukannya jawabannya sudah jelas? Itulah berarti putus darimu bukan sesuatu yang berarti. Bukan akhir dari hidupku. Aku bisa mendapatkan wanita mana pun yang aku mau, dan itu lebih dari dirimu!“ ucap Yayan lugas, dengan nada normal. Tidak seperti Yani.


Namun, sebagian dari ucapan Yayan adalah omong kosong. Ada sesuatu hal yang membuat dia memiliki perasaan pada Yani. Dan itu membuatnya tidak bisa mencintai wanita lain dengan sepenuh hati.


“Begitukah?“


“Tentu saja.“

__ADS_1


Yani menyeringai. “Kalau begitu, jaga dirimu dan orang di sekitarmu! Aku akan serius membuatmu menderita!“


“Aku bukan orang yang ingin ditindas lagi. Tentu saja aku akan melawan!“ Yayan menanggapi dengan santai.


__ADS_2