Wanita Adalah Sumber Uangku

Wanita Adalah Sumber Uangku
Ch 87: Babak 32 besar


__ADS_3

Putaran final Festival Dewa Perang resmi dimulai. 32 peserta terbaik sudah berkumpul dan akan menunjukkan siapa yang terbaik di antara kesemua petarung.


Turnamen itu akan diselenggarakan dalam waktu 4 hari, bisa berubah tergantung situasi. Sebetulnya turnamen itu merupakan salah satu kemeriahan acara tahunan terkenal di Rugia. Yah, namanya juga festival, masih ada acara-acara lain yang hadir untuk perayaan pada hari di mana sang dewa yang bernama Nikka bereinkarnasi sebagai manusia. Dan akan muncul sebagai panglima manusia dalam perang besar.


“Yah, itu dongeng yang bagus.“ Yayan merespons dengan malas, menunjukkan ketidaktahuannya pada cerita itu.


Orang yang susah-susah bercerita pun kesal. Bagaimana tidak, ia perlu mencari beberapa referensi dan sumber agar bisa bercerita dengan lugas. Yah, ia memang bukan warga Rugia. Ia adalah Vina.


Vina mencubit pipi Yayan, memelarkan pipinya.


“Ah, ok, ok. A-aku akan serius,” melas Yayan meminta Vina melepaskan cubitannya itu.


“Jadi, gimana pendapatmu?“ Vina langsung menangih komentarnya Yayan.


“Hmm … tadi dong——legenda yang bagus. Dewa yang bereinkarnasi sebagai manusia dan akan membantu manusia dalam sebuah Perang besar? Eh, tunggu! Perang apa yang dimaksud? Perang antar negara atau apa?“


“Aku juga tidak tau, sih. Tidak jelas apa yang dimaksud dengan kata 'perang' itu. Dari buku-buku referensi dan internet … memang tidak sebutkan sama sekali tentang perangnya!“ Vina mencoba mencari informasi lagi di internet.


'Vina sampai susah-susah belajar tentang legenda sekaligus ramalan itu! Niat amat agar terlihat lebih pintar dari Andrea.'


Yayan sudah paham tentang niat asli dari Vina, cuma ingin menunjukkan bahwa dirinya lebih berwawasan. Yah, sepertinya berhasil, Andrea dirasa kebakaran jenggot sebab cuma bisa menyimak tentang apa yang dijabarkannya.


'Vina memang lebih pintar dari Andrea, sih.'


Yayan kini berada di Colloseum untuk menyaksikan pertandingan pertama di babak 32 besar. Dia bersama ketiga istrinya berada di kursi penonton biasa, berkerumun dengan penonton lain. Dia bisa saja memesan paket VIP atau bahkan satu podium dengan keluarga kerajaan, tapi Yayan memilih untuk tidak menarik perhatian.


Dia pun kini menyamar dengan jaket dan topi. Begitu juga dengan 3 wanita yang ada di samping kiri, kanan, dan belakang. Itu sudah cukup untuk agar orang tidak mengenalinya.


Penonton di hari pertama turnamen tidak terlalu ramai. Mereka sepertinya menunggu beberapa peserta yang tampil mencolok di babak kualifikasi, contohnya Yayan. Begini-begini dia ada pendukung sendiri. Event itu memang dijadikan arena judi untuk orang-orang, mereka akan bertaruh pada jagoannya masing-masing.


'Keluarga kerajaan?'


Yayan diam-diam memerhatikan ke arah podium yang merupakan tempat para tamu VIP. Di sana ada keluarga kerajaan dan para menteri.

__ADS_1


'Ah, sangat menyebalkan! Tapi, tahan dulu!' Yayan mengalihkan pandangannya lagi, dia merasa ketahuan sudah melirik kesana.


“Sayang, bagaimana calon lawanmu? Kau sudah mengetahui informasi tentangnya?“ tanya Vina yang ada di samping kanannya.


“Tentu saja, aku bahkan sudah mengetahui semua informasi peserta di babak 32 besar.“ Yayan berkata dengan percaya diri. Dia memang sudah bisa memprediksi untuk lolos sampai semi final.


“Jadi, apakah ada lawan yang menarik?“ Mikha bersuara, ia duduk tepat di belakang Yayan.


“Ada, cuma beberapa. Aku ragu bisa bertemu dengan mereka semua. Mengingat pembagian bagannya! Yah, mungkin bisa bertemu jika aku lolos ke babak 8 besar.“


“Yah, harusnya mudah, 'kan? Suamiku ini pasti bisa melaju dengan mulus sampai final!?“ Andrea yang berada di sebelah kiri Yayan menyandarkan kepalanya ke bahu suaminya.


Yayan menghela nafas, “rasa percaya diri yang tinggi itu kadang menjatuhkan!“


.


.


.


.


Putri Rachial yang memakai jubah berwarna hitam tak henti-hentinya menatap ke arah podium. Ia mengepalkan tangannya dengan kesal.


“Si Rudolf dan ayahnya itu … dia harus mati! Berani-beraninya ingin mengambil alih kekuasaan di Rugia!“ rutuknya dengan suara pelan. Ia berada di keramaian, tidak boleh bicara sembarangan.


“Tolong tenang, Yang Mulia. Mungkin ada yang mencurigai kita!“ Eta mewanti-wanti. Ia kemudian melirik 435. “Temani Putri Rachial, aku punya urusan yang harus diselesaikan!“


435 mengangguk, “baik, Nona.“


“Eh? Kemana si maroon itu?“ Si Putri terkejut saat Eta mendadak menghilang.


“Ada urusan lain. Tetap tenang dan saksikan pertarungan ini!“

__ADS_1


Putri berdehem dengan malas dan melipat tangan di di bawah dada. Ia dengan kasar duduk di kursinya.


'Kasihan juga cewek ini?! Apa yang terjadi jika dia tahu bahwa sang Raja sudah lama … ah, aku susah membayangkannya. Namun, kenapa Yayan tidak terus terang saja! Dia tidak mengatakan semua yang diketahuinya!' pikir 435 melirik Putri Rachial.


Pertarungan pertama dimulai. Partisipannya adalah seorang pria dengan bakat rambut jarum dan seorang lagi yang memiliki bakat pengerasan kulit.


Jika dilihat sekilas, yang akan memenangi pertarungan ini adalah orang dengan bakat pengerasan kulit. Si rambut jarum tidak akan memiliki kesempatan untuk membuat goresan pada lawan yang memiliki kulit sekeras batu. Sebab itulah, tiap darah murni tidak boleh terpaku pada bakatnya saja. Harus ada kemampuan seperti bela diri.


Kali ini, orang dengan bakat rambut jarum yang menguasai pertarungan. Si kulit batu rupanya tidak terlalu mahir dalam menggunakan bakatnya, terlebih lagi ia tidak selincah si rambut jarum.


Tubuhnya pun tertusuk banyak rambut yang seakan itu adalah jarum. Si kulit batu kemudian tidak berdaya untuk bergerak. Rupanya jarum-jarum itu dilapisi oleh racun pelumpuh.


Yah, kemenangan untuk si rambut jarum. Dengan begini, pertarungan pertama selesai. Kedua peserta itu kemudian diobati luka-lukanya.


Ada jeda beberapa menit sebelum lanjut ke pertarungan selanjutnya. Kondisi arena perlu dipulihkan, kini di arena banyak jarum beracun yang berserakan.


“Hei, 435 … siapa saja peserta di pertarungan kedua?“ tanya Rachial yang tertarik, menurutnya pertarungan tadi cukup seru. Ia ingin menyaksikan pertarungan selanjutnya.


Entah kenapa si nomor 435 tidak menjawab. Ia malah nampak tertekan, keringat dingin mengucur deras dari sebalik kupluk jubah yang menutupi wajah bagian atas.


'Arghh … sial! Aku lupa kalau baganku berada di nomor dua. Aku sekarang harus bertanding. Tapi, bagaimana dengan si Putri … Nona Eta sudah memperingatkan agar jangan biarkan si Putri sendirian. Dia bisa berbuat yang tidak-tidak. Ah, ini membingungkan, padahal aku ingin menunjukkan sedikit kebolehanku di turnamen ini!' 435 mengalami dilema. Ia bingung harus memilih yang mana.


Ia melirik Putri Rachial yang nampak tenang menonton. 435 jadi berpikir untuk meninggalkannya sendiri.


'Mungkin bisa? Aku harus bisa menyelesaikan pertandingannya secepat mungkin!'


“Umm … Yang Mulia. Saya pergi ke belakang sebentar. Bisa tolong jangan kemana-mana!“


“Ya, nikmati saja waktumu!“ balas Putri Rachial cuek.


435 sebetulnya agak ragu, tapi ia asal terobos. Putri ditinggalkan sendirian.


'Hmm … dia sudah pergi? Huh, ini kesempatan untuk menyelundup ke podium dan menghajar para bajin9an itu! Berani-beraninya mereka ingin membunuh Ayahanda!'

__ADS_1


__ADS_2