Wanita Adalah Sumber Uangku

Wanita Adalah Sumber Uangku
Ch 27: Penghuni kos yang lain


__ADS_3

Luna benar-benar terguncang, ia tidak bisa berkata-kata. Orang yang ia selalu remehkan dan rundung sewaktu SMA kini mampu membeli barang dengan harga miliaran tanpa pikir panjang.


'Apa yang terjadi? Kenapa Yayan bisa punya uang sebanyak itu? Apa pekerjaannya? Apa usahanya?' Luna mengepalkan tangannya dengan kuat.


Spekulasi bahwa Yayan menjadi lintah bagi Vina sudah hancur. Luna memutuskan untuk mulai menyelidiki Yayan.


Sementara itu ….


Vina melihat kedatangan Yayan yang melambai padanya. Wanita itu kini bisa bernafas dengan lega setelah melihat Yayan masih nampak ceria.


“Berhasil? Gimana?“ tanya Vina yang penasaran.


“Semuanya masih dalam trek,” ucap Yayan tersenyum lebar. Bagaimana tidak, dia kini memiliki uang senilai 6 miliar lebih. Uang yang diperoleh tanpa banyak usaha.


“Yah, aku tidak tau apa yang sudah kau lakukan pada wanita itu. Namun, aku ikut senang saja. Oke … ayo kita pulang saja!“ ajak Vina merangkul lengan Yayan seperti seorang kekasih.


Tidak jauh di belakang mereka, ada Luna yang mengintai.


'Kau pasti mendapatkan uang itu dengan cara yang tidak biasa! Aku akan membongkarnya!' Luna telah bertekad.


.


.


.


.


Yayan kembali ke kos-kosannya. Baru tiba, dia sudah disambut oleh pemandangan yang tidak sedap.


Andrea ngemil di ruang tamu bagian kos-kosan milik laki-laki. Yayan sebetulnya tidak mempersilahkan hal itu, tetapi busana yang dikenakannya. Ia hanya memakai kaos oblong dengan kain berbahan tipis sehingga lekuk tubuhnya bisa diterawang jika disinari cahaya. Lebih parahnya lagi, ia cuma memakai ****** *****.


'Dia memang sengaja membangkitkan hasrat pria!' batin Yayan geleng-geleng, bingung dengan tingkah Andrea.


“Oh, Yan. Sudah pulang? Kau jahat banget, aku ditinggal sendiri. Tidak meninggalkan apa-apa, aku hampir mati kelaparan, tau!“ ucap Andrea dengan kesal.


“Kenapa tidak memasak? Terlebih kau dapat uang dari mana untuk bisa memberi jajanan-jajanan itu?“ ucap Yayan menatap Andrea tajam.


Wanita itu dengan samar menghindar kontak mata, Yayan pun jadi curiga. Dia kemudian duduk di samping Andrea, menepuk pahanya untuk memberi isyarat.


Andrea mengerti, ia pun duduk di pangkuan Yayan.


“Kau dapat uang dari mana?“ tanya Yayan pelan, tepat di telinga Andrea.


Yayan juga menggerakkan tangannya secara perlahan melingkari perut Andrea, kaosnya disibak sedikit, Yayan mengelus-elus perut wanita itu.


“Ah … Yan, ini——”

__ADS_1


“Jangan mendesah! Apa kau terangsang hanya dengan sentuhan kecil di perut, pusarmu?!“


Yah, libido Andrea saja yang terlalu besar. Ia normalnya harus melakukan hubungan suami-istri minimal dua kali sehari. Jika tidak, ia akan terpaksa melakukan jasa terhadap diri sendiri.


“Yan, tolong manjakan aku! Aku akan mengatakan semuanya!“


Yayan mengerutkan keningnya, 'Aku memelihara wanita sangean, suka minta jatah.'


Namun, begitulah niat Yayan. Harus ada timbal balik, Andrea mesti melakukan apa yang diperintahkan oleh Yayan untuk mendapat jatahnya.


Yayan mulai menggerakkan kedua tangannya yang melingkari perut Andrea ke atas, melalui jalur dalam untuk menggapai dua gunung besar. Andrea sudah mengeluarkan suara indahnya meskipun Yayan belum memainkan dua gunungnya.


Supaya lebih nyaman, Yayan menyandarkan diri ke sandaran sofa lalu badan Andrea direbahkan ke tubuh Yayan.


Yayan pun mulai mengekploitasi dada Andrea, memberikan sentuhan erotis yang membuat ia terus-terusan mengeluarkan suara indah. Menurut Yayen itu terlalu bising, jadi dia menyumbatnya dengan ciuman.


Yayan mengeksploitasi bibir seksi Andrea, wanita itu menikmatinya sedemikian rupa, kesadarannya terbuai. Ia benar-benar memfavoritkan cumbuan milik Yayan, itu yang paling menggairahkan dari semua pria yang telah ia layani.


Yayan mengaduk-aduk indera perasa milk Andrea, menuangkan saliva miliknya ke sana. Tumpah ruah hingga kaos yang dikenakan Andrea basah.


Mereka tenggelam dalam kenikmatan, bukan … cuma Andrea. Yayan masih sadar, dia bisa langsung tau bahwa ada seseorang yang mengetuk pintu.


Yayan menambah kenikmatan untuk Andrea, indera perabanya memainkan mata air susu Andrea. Kaosnya dinaikkan untuk memberi ruang lega agar tangan yayan lebih leluasa menjelajah.


Andrea tentu merasa kenikmatan, kesadarannya hilang dan hanya ada insting hewan yang tersisa.


Tangan Yayan semakin intens menjelajah, peraba bagian kiri akan mengeksploitasi bagian terpenting dari tubuh Andrea. Namun, ekspedisi itu gagal berkat suara bising dari luar, pot tanaman gantung terjatuh.


Yayan berhenti melakukan semua sentuhan erotisnya pada Andrea. Dia beranjak dari sofa dan memindahkan Andrea yang masih terbuai oleh kenikmatan.


'System, apa ada orang——seorang wanita di sekitar sini?'


[Ada Luna, tetapi ia telah pergi setelah mengira dirinya akan ketahuan]


'Oh, sepertinya dia penasaran denganku.'


Yayan membiarkan Luna kabur, tidak ada gunanya mengejar wanita itu. Terlebih, Yayan yakin bahwa ia tidak bakal berbuat yang macam-macam.


Yayan kembali pada Andrea. Wanita itu rupanya belum puas. “Kenapa berhenti? Ayo, lagi!“ ucapnya dengan nafas terengah-engah, ia bahkan kini membelai dada dan guanya sendiri.


“Sudah selesai! Lagi pula ini masih terang, bahaya jika ada orang yang melihat kita. Nah, hutangmu … dari mana kau bisa mendapatkan uang.


“A-aku akan bicara, tapi … tolong sentuh dadaku!“


“Cih … baiklah, kau benar-benar ngelunjak!“


Yayan mengabulkan permintaan Andrea, dia memainkan dadanya. Setelah dirasa puas, wanita itu pun mulai bicara.

__ADS_1


“Aku dipinjami, sih.“


“Hah? Dari siapa?“ bingung Yayan menaikkan sebelah alisnya.


Tok … tok … tok …


Ketukan pintu itu membuat Yayan kelabakan, dia seketika menyuruh Andrea membenarkan bajunya yang berantakan dan memakai celana pendek. Setelah semua dirasa siap, barulah pintu dibuka.


“Ah, dia yang memberiku uang!“ tunjuk Andrea pada tamu yang baru datang.


“Huh?“ Yayan seketika kaget saat melihat wujud dari laki-laki yang bertamu, bukan. Ia atau tepatnya mereka berdua adalah penghuni kos-kosan.


“Azka, Aji? Kalian sudah balik?“


“Iya, dari tadi. Lha, kau sendiri? Tidak pergi ngantor?“ tanya salah satu dari mereka, Azka. Remaja laki-laki berumur 18 tahun depan potongan rambut hitam alami bergaya comma hair.


“Aku izin. Ada keperluan!“ balas Yayan.


“Iya, izin bermesraan dengan pacarmu. Dan kenapa kau tidak memberitahu bahwa kau memiliki pacar baru? Kau kemanakan Yani?“ timpal seorang lainnya, Aji. Ia berpenampilan nyentrik dengan gaya rambut under cut, yang bagian tengahnya disemir pirang. Ia begitu tertarik pada Andrea, susah mengalihkan pandangannya.


“Dia bukan pacarku!“ jawab Yayan sedikit malas.


“Wah, aku berarti memiliki kesempatan, dong——”


“Aku tidak sudi! Apalagi bocah sepertimu!“ sela Andrea tidak senang, menatap Aji dengan tatapan yang seolah berkata. “Jangan dekat-dekat, dasar bocah ingusan!"


“Sudah, Yan. Ayo, kita lanjutkan——”


Yayan seketika menyentak tangan Andrea yang hendak memeluk lengannya.


“Kau harusnya sudah puas! Tidak ada tambahan-tambahan. Oh, ya … perlu kutekankan. Kita bukan sepasang kekasih, teman pun bukan!“ tegas Yayan.


Dia berfokus pada Azka dan Aji, sebetulnya di tangan mereka ada sebuah bingkisan.


“Apa yang kalian bawa?“ tunjuk Yayan pada kresek yang mereka bawa.


“Hanya beberapa minuman soda. Kami berencana untuk melakukan perayaan karena setelah liburan semester dan kembali ke sini. Dan ….“ Azka berhenti bicara saat menatap Andrea, ia belum tahu namanya.


“Kalian bisa memanggilnya Andrea,” beritahu Yayan.


“Andrea, apa jajanannya sudah kau beli?“ tanya Azka tanpa basa-basi.


“Sudah.“


“Lalu, mana?“ Azka dan Aji mencari-cari jajanannya.


Tanpa rasa bersalah, Andrea menepuk-nepuk perutnya. “Ada di sini!“

__ADS_1


__ADS_2