
“Yayan!!!“
Suara Vina begitu melengking, menarik semua khalayak untuk meliriknya. Sejatinya ia dan Yayan sangat mencolok, apalagi gaya gendongannya.
Sementara itu, Yayan terus memacu kakinya. Tapi, sungguh sial. Target mereka sangat licin seperti belut, berlari di antara sela-sela pejalan kaki. Sedangkan Yayan sedikit terseok-seok.
“Minggir, tolong semuanya minggir!“ jerit pria itu.
Jika tidak melakukannya, dia akan tetap gagal menyusul si target.
'Cih, aku pasti bisa menangkapnya.'
“Vina, pegangan yang kuat!“
“Hah? Pegangan dari mananya?“ Protes Vina. “Turunkan aku! Pokoknya turunkan aku!“ Ia memukul-mukul punggung Yayan.
“Oi, oi, tenang! Bisa-bisa aku kehilangan keseimbangan!“
“Bodo amat! Turunkan aku!“
'Dia mau menyebrang jalan?' pikir Yayan saat melihat targetnya ingin menyeberang jalan.
Jalanan sedang dalam keadaan ramai, tapi di target untuk tetap menyeberang. Alhasil, bunyi klakson bersahut-sahutan karena keberadaannya yang secara ceroboh menyeberang.
Meskipun begitu, ia tetap berhasil sampai di seberang dengan selamat.
'Sialan!' rutuk Yayan dalam hati.
Kendaraan-kendaraan tidak mengizinkan dirinya lewat, dia tidak mau nekat. Yah, siapa yang tahu dengan keberuntungannya. Yayan jelas tidak mau mengambil resiko, apalagi ada Vina digendongannya.
“Cih, cepat, cepat. Jika begini … aku bisa kehilangan jejak!?“
Yayan perlu menunggu hampir dua menit, sambil mengawasi pergerakan si target. Soal kecepatan, dia tidak perlu khawatir.
Kendaraan yang lewat akhirnya sedikit lengang, langsung saja … pria itu nyeberang lalu menggeber kakinya lebih cepat. Beruntung di sisi jalan itu tidak banyak halangan. Yayan bisa memaksimalkan kecepatannya.
“Kena kau!“
Saat dia hampir menggapai si target, terjadi hal tidak diduga. Si target mendadak belok haluan, ia menuju ke celah antara dua bangunan.
Yayan susah mengerem.
“Sial!“
Yayan buru-buru ikut menuju celah itu. Keberuntungan untuk Yayan, itu adalah jalan buntu.
“Nah, kena kau!“ Yayan tersenyum puas. “Dasar merepotkan!“
Pria dengan Hoodie hitam dengan topi di kepalanya itu tidak bergeming, juga tidak nampak panik.
“Maaf.“ ucap orang ber-hoodie hitam.
“Apa?“
Ia melompat ke sisi salah satu tembok lalu menantul ke sisi tembok lainnya sehingga ia bisa meraih atap bangunan yang berupa ruko itu.
“Sampai jumpa.“
__ADS_1
Yayan tentu tidak akan membiarkannya.
'System, tingkatan kekuatan kakiku lebih kuat!'
[Menggunakan poin kekuatan]
Yayan lalu ingin mencoba trik yang sama. Namun, perlu diingat bahwa pria itu tidak memiliki keahlian parkour. Alhasil, kakinya terpeleset saat menapak tembok.
'Gawat! System, gunakan poin kesehatan tepat setelah benturan!'
Yayan juga memposisikan agar punggungnya mendarat lebih dulu, sedangkan Vina dipindahkan ke bagian depan tubuhnya, didekap dengan kuat.
Brakk …
“Akhhh!“
[Menggunakan poin kesehatan]
Yayan tadinya ingin berteriak sekencang mungkin, namun niat itu urung. Dia hanya mengerang sedikit. Rasa sakit yang diterima Yayan cuma berlangsung selama beberapa mili detik.
'Tadi hampir saja.' batin Yayan lega.
“Vin, kau tak apa-apa——”
“Malah tanya?! Lha kau sendiri bagaimana?“ Vina sedikit membentak, adrenalinnya tadi sangat terpacu. Panik dan takut, semuanya bercampur aduk.
“Tenang, aku itu kuat, kok!“ jawab Yayan, sedikit pura-pura kesakitan. Jadi, sedikit tidak natural karena hanya pura-pura.
“Jangan sok kuat! Apa beneran tidak apa-apa?“
“Hmm … tadinya sedikit nyeri. Tapi, sekarang bukan lagi masalah. Kau bisa mengecek punggungku?!“ ucap Yayan berbalik untuk membiarkan Vina melihat kondisi punggungnya.
“Ya, coba sentuh lebih keras atau tidak tampar sekalian?!“ usul Yayan.
Vina tentu tidak menuruti celotehannya Yayan, ia memilih untuk melihat langsung keadaan punggungnya. Ia menarik pakaiannya ke atas.
'Tetap mulus, sungguh tidak ada bekas padahal benturannya sangat keras. Minimalnya pasti ada sedikit memar.' batin Vina.
“Gimana, benar, 'kan?“ tanya Yayan karena Vina bengong sebentar.
“Oke … sepertinya kau benar.“
Plak …
Vina melayangkan telapak tangannya pada punggung Yayan.
“Oi, itu tetap sakit. Kau kejam sekali!“ erang pria itu mengelus-elus punggung.
Vina berdiri melihat ke sekeliling, ia berpikir bisa menemukan sesuatu. Yah, firasatnya tidak salah. Si target menjatuhkan benda yang sangat vital, Itu adalah drone.
“Drone-nya terjatuh?!“ gumam Vina.
“Hah? Apa?“ kaget, Yayan. Dia cepat-cepat menuju ke arah Vina.
“Sepertinya ini kesempatan kita, Yan.“ Vina memberikan drone itu pada Yayen. Ia menunduk dalam.
“Untuk yang sebelumnya, aku sangat berterima kasih. Aku sangat tersanjung kau rela terluka demi diriku.“ Vina berkata dengan pelan.
__ADS_1
“Sudah sewajarnya, sih. Tak perlu dipikirkan. Aku akan dibunuh oleh orang tuamu jika anak semata wayangnya lecet-lecet,“ ucap Yayan sedikit bergurau.
“Umm … Kau benar-benar tak butuh pengobatan? Ke rumah sakit, atau paling tidak ke tukang urut. Bisa saja ada luka dala,“ ucap Vina membujuk.
“Tidak perlu untuk saat ini.“
Mereka berdua selanjutnya kembali ke taman guna menemui Rinto. Yayan masih tetap menjaga rahasia soal drone pengawas.
“Maaf, kami tak dapat membantu banyak,“ sesal Yayan.
Setelah itu, Yayan undur diri bersama Vina. Dia terlebih dulu mengantar teman wanitanya itu sampai ke rumah dengan selamat.
“Sampai jumpa besok, Vin. Maaf untuk malam ini … lagi-lagi tidak berjalan mulus!“
“Ini bukan salahmu, Yan. Yah, kita hanya kurang beruntung. Aku masuk dulu, selamat malam.“ Vina masuk ke dalam rumahnya.
Yayan merasakan dirinya diawasi, yah pasti dari ayah Vina. Pria itu tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi bila Vina terluka sedikit saja.
'Wajar, sih over protective. Toh, anak satu-satunya, cantik lagi. Hmm … apa jangan-jangan alasan Vina menjomblo adalah bapaknya yang galak itu?' batin Yayan berpikiran yang bukan-bukan.
Yayan langsung pulang meskipun hari belum terlalu larut. Dalam pikirannya kini adalah melacak para penculik yang telah mempercundanginya. Satu-satunya petunjuk yang dimiliki adalah sebuah drone.
“Huh, satu lagi hari yang menyebalkan!“ Yayan menghela nafas dengan kasar, dia kemudian masuk ke dalam kos-kosannya.
Saat baru pertama kali membuka pintu ….
“Yayan!“
Seseorang langsung menyambarnya, memeluk lalu mencumbu dengan brutal.
“Unh … huh, lepas!“ Yayan melepas paksa pelukan wanita yang tidak lain adalah Andrea.
Yayan menatapnya malas, 'Oh, ya … aku lupa jika memelihara jalan9 satu ini. Huh, lagi malas lagi.'
“Kenapa? Kau tak mau menepati janjimu?“ ucap Andrea tersenyum.
'Ngungkit-ngungkit soal janji. Yah, aku memang sudah berjanji, sih.“
Yayan menghela nafas dengan malas, “Apa kau tidak kedinginan, sejak kapan kau telanjang?“ Dia memberikan Andrea jaket untuk menutupi tubuhnya.
Awalnya berhasil, Yayan hampir masuk ke kamarnya.
“Jangan mengalihkan perhatian! Kau punya hutang, Yayan!“ peringat wanita itu.
“Baiklah, baiklah. Pastikan kau jangan terlalu berisik! Di sini tidak ada peredam suara!“ Yayan akhirnya menyerah.
“Oke, jangan khawatir. Itu tidak akan terjadi!?“
'Semoga saja!?'
Andrea dengan semangat masuk ke kamar kos milik yayan.
“Sampai pagi, ya?“
“Yah, jika kau kuat,“ ucap yayan malas. Dia lalu menaruh drone di meja.
“Eh? Dari mana kau mendapatkan drone itu?“ Andrea baru sadar bahwa Yayan membawa benda itu.
__ADS_1
“Bukan urusanmu! Cepat, aku ingin segera tidur!“ desak yayen.
“Aku tidak akan membiarkanmu tertidur “