
“Kenapa semua ini harus terjadi padaku?“ Putri Rachial mulai menekan lehernya sendiri, ia memejamkan mata serta mengigit lidahnya sendiri.
“Kau serius ingin melakukannya?“ tanya Yayan. Tentu saja Putri tidak merespon, ia kemungkinan serius dengan perkataannya.
Beberapa saat kemudian, mulut Putri Rachial mengeluarkan darah. Dari raut mukanya, ia jelas menahan segala lara yang ia hasilkan sendiri. Wajahnya secara perlahan memucat, tubuhnya pun gemetaran. Ia harusnya sudah berteriak sekeras-kerasnya, tapi nyatanya ia sanggup tetap diam saat merasakan semua rasa sakit itu.
Yayan membelalakkan matanya dengan terkejut. 'Mental wanita ini? Dia benar-benar sanggup menahan semua itu?'
Yayan membaca pikiran wanita itu. Yah, ia cuma berpikir tentang keluarganya, mengingat-ingat kenangan masa lalu yang dirasa indah. Putri Rachial menginginkan hal itu berjalan selamanya, tapi ia ditampar oleh kenyataan dengan sangat keras. Ia tidak peduli apa pun, ia cuma mau keluarganya, semua orang yang ia sayangi.
'Dia aneh! Di satu sisi dia memiliki mental yang lemah, tapi di sisi lainnya memiliki mental yang kuat?!'
“Hei, kau serius ingin melakukannya?“
Yayan bangkit dari tindihan Putri Rachial, dia langsung melepaskan cengkraman di leher wanita itu.
“Buka mulutmu!“ titah Yayan yang secara mengejutkan dipatuhi oleh sang Putri.
Putri Rachial malah kebingungan sendiri karena tubuhnya tidak menuruti perintah otak. Yayan skeptis melihat mulut yang penuh akan darah itu.
[Transfer poin kesehatan]
“L-lukaku sembuh?“ Gumam Putri Rachial saat rasa sakit di mulutnya perlahan menghilang. Ia menatap Yayan dengan keheranan.
'Siapa dia sebenarnya? Kenapa dia punya banyak kekuatan yang aneh? Apa ada darah murni yang bisa memiliki banyak bakat?' pikir sang Putri.
'Tapi, aku tidak peduli. Aku muak dengan hidup ini!' Putri Rachial sekali lagi mencoba untuk mengakhiri hidupnya. Namun, lagi-lagi tubuhnya menolak kehendaknya.
“Jangan lakukan tindakan bodoh itu lagi!“ Yayan menatap mata Putri Rachial dengan serius.
“Kenapa? Apa pedulimu? Sudah tidak ada hal lagi yang bisa kupe——
“Kau egois sekali, Putri!“ Yayan mendekatkan wajahnya dan cup ….
Dia mencium sang Putri. Wanita berambut perak itu sungguh tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi. Ia cum merasakan sensasi lembut di bibirnya selama beberapa saat.
“Kau belum mengerti juga?“ bisik Yayan tepat di telinga Putri Rachial.
__ADS_1
Ia masih tertegun, ditatapnya Yayan nanar.
“Kau tega sekali! Mau kau apakan semua orang yang peduli padamu? Aku pedulimu, Putri. Aku mencintaimu!“ ucap Yayan yang terdengar sangat serius, dia mengelus pipinya Putri Rachial.
Sedangkan dalam hatinya, 'Ya, aku punya bakat menjadi buaya ternyata?'
[Apa itu sebuah kebanggaan, Host?]
'Pastinya!'
“Kau pikir aku main-main?“
Putri Rachial tidak bisa berkata-kata, ia hanya meratapi setiap perkataan dan perbuatan pria yang kini berjongkok di atas tubuh terlentangnya.
“Tetap hiduplah——”
“Jangan bicara omong kosong! Kau pikir aku akan termakan oleh rayuanmu?“ Tidak berselang lama, air mata sang Putri bocor lagi.
“Tentu saja,” jawab Yayan yakin, sorot matanya sangat serius. “Kau termakan oleh rayuanku ataupun tidak … aku tetap tidak akan membiarkanmu mati!“
“T-tolong, jangan berharap padaku! Aku sudah tidak mau lagi … aku hanya ingin melepaskan penderitaan ini,” ucapnya melas.
“Tenang saja, Putri. Aku janji tidak akan membuat dirimu merasakan kesedihan ini, akan kujadikan kau orang paling bahagia di seluruh dunia! Percayalah padaku!“ Yayan menghapus air mata yang menggenangi pipi Putri Rachial.
'Dia sulit ditaklukkan jika cuma bermain dengan kata-kata. Huh, terpaksa … aku harus sedikit mempengaruhinya!'
Wanita berambut perak itu keras kepala, hatinya susah diluluhkan sepenuhnya. Jadi, skill mental out lagi-lagi bertindak. Yayan mempengaruhi pikiran Putri Rachial agar mau percaya padanya.
“Ini akan jadi air mata yang terakhir kali kau tumpahkan karena merasa sedih!“
Sebagai pembuktian, Yayan akan membuat Richard's Palace porak-poranda. Awal dikenalnya Black Robe yang sebenarnya ke seluruh dunia.
“Hei, bukankah ini terlalu nekat? Misi membunuh perdana menteri. Istana pasti ditingkatkan keamanannya beberapa kali lipat, mengingat kekacauan di Colloseum!“ ucap 435 yang keberatan.
“Heh, kau tau? Semua ini salahmu! Anggap saja ini adalah hukuman, misi bunuh diri. Dan sialnya kami juga terseret,” balas 430 dengan ketus.
“Namanya juga satu tim. Tapi, ini ada baiknya. Jika kita berhasil membunuh si perdana menteri, apakah kita akan dipromosikan? Yah, code name seperti Omega, Nu, Phi, … itu terdengar keren!“ 432 menyahut.
__ADS_1
“Kalian ini … itu tidak lah mudah, bodohh! Kita harus membuktikan kemampuan kita dengan mengajak pemilik code name itu untuk berduel. Kalian sudah pede dengan kemampuan kalian? Kita ini non-clan, sadar diri lah!“ 430 mendecihkan lidah dengan kesal. Mendengar impian mustahil rekan setimnya membuat ia kehilangan mood.
Di Black Robe memang dibuat sistem promosi dan degradasi. Adapun sistem ranking. Hal itu menyebabkan para membernya semakin berusaha keras untuk menyelesaikan misi.
Kelompok yang dipimpin oleh 430 kini berada di sebuah atap bangunan yang terpaut jarak 500 meter dari istana. Mereka masih dalam proses pengintaian menggunakan drone yang dikendalikan oleh 433.
“Yap, selesai.“
4 buah drone mendadak muncul di sekitar mereka.
“Teknologi yang luar biasa. Ini serasa seperti film sains fiksi!?“ kagum 435.
“Begitulah … drone dengan fitur kamuflase dan tanpa suara. Sudah! Kita bisa memulai misi ini. Aku sudah memetakan rute yang paling longgar keamanannya, tapi kalian tetap harus bersiaga penuh! Keamanannya masih ketat!“ terang 433 melepas alat VR yang ia kenakan.
“Aku dan 430 yang akan memberi komando, kalian ikuti masing-masing drone itu!“
“Yang terpenting, kembali lah dengan selamat!“ 430 tersenyum menyeringai.
Jika salah satu dari mereka tewas, maka anggota kelompok yang lain akan merasa malu untuk kembali setelah misi. Jadi, mereka memilih menyusul rekannya.
Kondisi Richard's Palace sedang genting-gentingnya. Asap hitam mengepul dari salah satu area bangunan. Kendaraan-kendaraan militer dan beberapa helikopter berada di sekitaran bangunan istana.
“Jika kalian berani mengusik kami, maka bersiaplah untuk ibukota negara ini menjadi lautan api!“ suara keras terdengar dari dalam istana.
Itu hanya gertakan, mereka tidak sungguh-sungguh ingin melakukannya. Setidaknya, Black Robe tidak ingin ada korban dari warga sipil yang tidak paham oleh situasinya.
Boam! Boam! Boam!
Timbul ledakan-ledakan di berbagai tempat di ibukota. Kekacauan pun menjadi semakin meluas. Tapi, asal tau saja … orang-orang yang berada di tempat ledakan sebelumnya sudah dievakuasi, jadi tidak ada korban jiwa.
“Makanya jangan asal memberikan status buronan! Kalian itu cuma penonton yang tidak tau apa-apa! Hahaha ….“
“Yah, sedikit terlalu menjiwai untuk menjadi penjahat. Tapi, terserah lah!“ Yayan cuma tersenyum kecut menyaksikan siaran langsung penyerangan di Richard's Palace.
Dia menengok pada wanita berambut perak yang ada di sampingnya.
“Lihat saja, Putri. Mereka akan menerima balasan yang setimpal!“ Yayan tersenyum licik.
__ADS_1
Masuk masa hibernasi, terima kasih. Butuh waktu untuk merevisi novel yang amburadul ini.