
Yayan mendengus kasar sembari menggaruk-garuk kepalanya. Dia menoleh ke belakang, tidak jalan untuk kabur. Semuanya diblokir. Bahkan di atap-atap rumah ada orang yang berjaga.
"Merepotkan! Tetapi mereka adalah informan, 'kan?"
"Woah, y-ya ... mereka anak buahnya. Yani!?" Nesa dengan malas mengelurkan sebuah belati perak, bentuk bilahnya menyerupai taring.
'Ah, ternyata itu asal-usul dari julukannya. Silver fang?!'
Seolah-olah mengetahui pikiran yayan, nesa menimpali. "Belati ini adalah pemberian orang tuaku. Katanya adalah logam terkuat di bumi?!"
"Yah, itu bisa dibuktikan segera!"
Syutt ... jleb ...
Sebuah pisau melesat dari belakang mengincar kepala yayan, dia dengan sigap memposisikan telapak tangannya sebagai tameng. Alhasil, telapaknya yang tertusuk.
'Ugh, ini sedikit sakit!' erang yayan dalam hati.
Yayan lalu mencabut pisau yang menembus telapak tangannya, pemandangan yang sedikit ngilu.
"Nice try!" ucap yayan tersenyum lebar.
[Poin kesehatan digunakan]
Luka tusuk di telapak tangan yayan berangsur-angsur menutup dengan sendirinya. Semua orang yang melihatnya pun tercengang, bahkan Nesa sendiri. Tapi, laki-laki itu tetap mengenakan topeng wajah ngantuknya.
'Hmm ... dia cuma pamer dan menggertak. Masalahnya, kemampuan macam apa itu?' ucap nesa dalam hati.
“Hei, Yan. Apa perlu memanggil anak buah jika malas bertarung?“
“Untuk apa? Kau sendiri sudah siap tempur!? Aku punya dendam kesumat dengan orang-orang seperti ini. Aku dulu selalu menjadi samsak, itu sangat menyebalkan!“ Yayan tersenyum antusias, matanya terpancar api semangat yang berkobar-kobar.
“Oke, wo~ah … kuserahkan semuanya padamu.“ Nesa menyimpan belatinya kembali.
“Hoi, hoi! Siapa bosnya di sini?“
“Aku cuma memberimu kesempatan untuk bersenang-senang …”
Syutt …
Pisau lain melayang kembali ke arah Yayan. Berbekal dua jarinya, dia berhasil menangkap di antara sela-sela.
“Tidak sopan menganggu pembicaraan orang lain!“ kesal Yayan.
“Mana ada sopan santun di sini. Semuanya … serang dia!“
Gang yang sempit, dua orang pejalan kaki saja sudah hampir tak muat. Tidak pas untuk lokasi battle, susah bergerak. Namun, juga menjadi keuntungan ... Yayan tidak akan bisa dikeroyok.
Yayan menarik nafas, lalu memejamkan mata. Mencoba untuk meningkatkan fokus dan membuat panca indera lebih peka. Begitulah yang diajarkan mertuanya, Saka.
Suara gesekan udara pun mampu didengar Yayan. Dia tahu bahwa ada pisau lain yang melekat ke arahnya. Bukan satu, melainkan tiga dari tiga penjuru.
Nesa sendiri tetap tenang dan sesekali menguap, tidak merasa terancam sedikit pun.
Slash …. trangg!
__ADS_1
Yayan mengayunkan tangan kanannya yang memegang pisau. Luar biasa, tebasan itu membuat pisau yang melesat menuju arahnya langsung terbelah menjadi dua. Masing-masing belahannya terpental, lalu secara mengejutkan menangkis lesatan pisau yang lain.
Satu gerakan menangkis tiga serangan!
Yayan memanfaatkan musuhnya yang sibuk terperangah, mengagumi. Dia bergerak lebih dulu untuk menyerang.
Semuanya jadi tersentak saat sadar-sadar Yayan telah tepat di hadapannya.
“Peraturan pertama dalam pertempuran. Jangan lengah hanya karena kemampuan musuhmu itu mengagumkan. Itu sama saja kalian mengakui bahwa merasa lebih rendah, cuma segerombolan keroco!“
Buagh … buaghh …
Yayan membenturkan kepala mereka ke dinding gang. Tepat setelah suara benturan itu, semuanya jadi tersadar.
“Sialan, serang dia!“ teriak salah seorang dari mereka.
Tepat di belakang Yayan sudah ada yang hendak menikamnya dengan pisau. .
“Mati kau!“
Yayan back flip untuk menghindarinya. “Peraturan kedua. Jangan berteriak saat menyerang dari belakang! Kau menyebutnya serangan diam-diam? Eh, bukan!“
Brakkk …
Yayan mendaratkan kakinya tepat di punggung pria itu. Seketika tertindih, menghantam jalan aspal dengan sangat keras.
'Sial, ini keren. Aku tidak menyangka bisa begini. Hah … diriku yang lemah sudah hilang.'
Semua orang yang berada di gang itu kehabisan kata-kata, tangan mereka bergetar memegang senjata masing-masing.
Jdarr …
Lesatan timah panas yang setara dengan kecepatan suara langsung menghantam kepala Yayan tanpa ampun hingga tembus. Mereka seketika girang melihat Yayan yang hendak tumbang.
[40 poin kesehatan digunakan]
“Ugh, sakit, sih.“
Yayan tidak jadi tumbang, bekas tembak di dahinya kembali menutup. Pria itu mencolek darah dari belakang kepalanya, lalu mendongak ke atas atap. Keberadaan dari seseorang yang mempunyai pistol.
Orang itu gemetaran menggenggam pistolnya. Keringat bercucuran di dahinya, ia sudah ketakutan dengan sosok mantan pegawai kantoran itu. Ia mencoba menembak Yayan yang tersenyum ke arahnya, tapi kesemuanya meleset, tidak seperti bidikan yang pertama.
“Aku anggap kalian sudah mengerti. Nah, sekarang … di mana wanita itu, di mana Yani? Aku tidak akan membunuh kalian jika memberitahukannya ….“
Krekkk ….
Mereka secara serempak tiba-tiba memelintir lehernya sendiri hingga berputar 360°. Semuanya langsung tumbang satu per satu.
Yayan kehilangan kemampuan untuk bicara sementara waktu, dia menunduk, sorot matanya berubah dingin——sangat dingin.
Yayan kemudian berjongkok ke orang yang ditindihnya, dia mencari-cari ponsel milik orang itu. Setelah ketemu, Yayan menghidupkan ponselnya.
“Wanita itu? Aku tidak menyangka dia akan setega ini?! Apa dia memang benar manusia?“ ucap Yayan terdengar hampa saat melihat layar yang retak itu. Dia terfokus pada wallpaper seorang anak perempuan yang digendong oleh ayahnya, sedangkan sang ibu berdiri di sampingnya. Foto keluarga yang bahagia, dipenuhi senyuman.
Yayan mengatupkan mulut rapat-rapat. “Pria ini cuma orang yang tidak tau apa-apa.“ Dia kemudian menggenggam ponsel itu hingga hancur berkeping-keping.
__ADS_1
'System, buang semua jasad ini di duniamu. Hack semua ponselnya dan lacak semua orang yang pernah berhubungan mereka. Lalu …. tukar dengan uang, kirim pada keluarganya!'
[Baik, host]
.
.
.
.
Seorang wanita tampak sedang memasak di dapur sembari bersenandung riang, kentara sekali bahwa ia sangat bahagia. Hari ini adalah anniversary pernikahannya dengan sang suami, keluarga kecil mereka berencana untuk liburan.
Akan tetapi ….
“Ma, papa telepon!“ beritahu seorang anak perempuan yang menghampiri ibunya ke dapur. Ia menyerahkan sebuah ponsel.
Saat ingin mengangkatnya, panggilan dari suaminya mendadak terputus. Muncul sebuah pesan teks.
Sang istri membacanya sampai selesai. Dan responnya adalah ….
“Ma, mama. Ada apa?“ Si anak perempuan panik melihat ibunya yang jatuh lunglai bertumpu lutut, setitik air kemudian jatuh dari matanya.
“Ma, papa kenapa?“
Sang ibu seketika memeluk anak semata wayangnya yang tidak tahu apa-apa.
“Sudah, Nak. Papa baik-baik saja, jangan kamu pikirkan!“
Hari yang harusnya menjadi hari bahagia malah menjadi berkabung.
.
.
.
.
Di tempat lain ….
“Woah, kau sudah selesai bersenang-senangnya?“ tanya Nesa datar sambil menguap. Ia duduk di pinggir trotoar.
“Cih, bersenang apa-apanya? Malahan, kau asyik duduk-duduk di sini. Siapa, sih bosnya?“
“Aku menjaga agar tidak ada orang yang mendekat. Kau tadi … berisik, tau!“
“Hmm … yah, berisik dan hening dalam sekejap.“ Yayan ikut duduk di samping Nesa.
“Kau sudah mendapatkan informasi?“
“Yah, mungkin.“
Di depan Yayan terbentang panel biru transparan yang cuma bisa dilihat olehnya. Itu memuat semua riwayat komunikasi dari ponsel orang-orang itu.
__ADS_1