Wanita Adalah Sumber Uangku

Wanita Adalah Sumber Uangku
Ch 22: Penyelidikan


__ADS_3

Pagi harinya …


Yayan menguap lebar seraya meregangkan kedua tangannya. Dia memaksakan diri untuk membuka mata meskipun jauh di lubuk hatinya ingin tetap terlelap. Lalu, dia kesulitan saat akan keluar dari kasurnya, ada sesuatu yang menahan.


Tangan melingkar di atas dadanya, memeluk erat.


“Huh, wanita ini?“


Yayan menyingkirkan tangan dan tubuh dari wanita yang bernama Andrea secara perlahan. Ia tertidur seperti kukang, entah bisa bangun atau tidak.


Yayan menatap Andrea sebentar, dia kemudian tersenyum.


“Siapa yang katanya sampai pagi?“ gumam Yayan yang tersenyum penuh kemenangan.


Dia berniat pergi ke kamar mandi untuk bebersih. Hari ini harus berangkat ngantor, Yayan sudah bolos selama beberapa hari.


“Drone itu?“


Yayan mendadak mengurungkan niatnya saat mata tak sengaja melihat drone yang tergeletak di nakas. Dia lalu mendekat dan mengambil benda terbang itu.


“Hmm … aku belum melihat rekamannya!?“


Alih-alih segera mandi, Yayan malah mengeluarkan laptop dan mencoba melihat rekamannya.


Setelah sibuk melihat-lihat, tidak ada tanda-tanda hasil rekaman yang bisa dijadikan petunjuk. Alhasil Yayan gigit jari.


“Cih, bagaimana ini?“ ucap pria itu kebingungan. Dia mencoba berpikir keras untuk mencari solusi.


Yayan sampai pada suatu kesimpulan.


“Aku terpaksa membolos lagi!“ Dia mengambil ponselnya dan memberi kabar tentang dirinya yang masih harus absen.


Bukan atasan dia memberi kabar, melainkan pada Vina.


Wanita itu seketika membalas pesan Yayan.


“Kau mau membolos lagi?“


“Ya, ini urusan penting. Aku harus menyelidiki para penculik itu,“ balas Yayan.


“Oh, ya. Kita masih harus mencari penculik Wulan.“


Yayan agak mengernyitkan kening saat membaca balasan Vina. “Kau mau ikut membolos? Tidak usah, biar aku saja!“


“Aku ikut!“


Balasan Yayan yang seterusnya tidak dibaca.


“Dia memang agak keras kepala!“ ucap Yayan kembali fokus pada laptopnya.


“Bagaimana cara mencari para penculik itu? Drone ini sudah tidak berguna!“


System tiba-tiba berbicara.


[System bisa melacaknya, host]


“Heh? Benarkah? Kenapa tidak bilang dari tadi?“ kejut yayan.


[Host harus lebih banyak membaca pengertian tentang “System]

__ADS_1


“Huh, oke. Aku juga tidak terlalu peduli. Nah, coba lacak pemilik drone itu!“


“Y-yan!?“ Andrea menggeliat, berucap manja.


Yayan lantas menjauh lalu keluar dari kos-kosannya. “Aku terlalu berisik!“


'System, gali informasi pemilik drone ini!'


Lalu muncul beberapa panel melayang di hadapan Yayan. Di sana termuat beberapa informasi. Jaringan hotspot yang digunakan, e-mail, nomor ponsel, dan beberapa akun sosmed.


System bisa melacak keberadaan pemilik drone berkat jaringan yang digunakan untuk menghubungkan drone.


Panel tambahan muncul, kali ini peta kota. Bulatan merah nampak kelap-kelip.


[Pemilik drone kemungkinan ada di sana, host]


'Ok, kerja bagus. Sekarang … aku tinggal, eh? Tunggu! Daerah sekitar taman?' heran Yayan, yah, tapi dia masa bodoh. Dia kemudian pergi mandi sebentar dan hendak bersiap-siap pergi.


“Aku tak punya banyak waktu.“


Tok … tok … tok …


“Cih, siapa yang datang sepagi ini?“ kesal Yayan pada seseorang yang mengetuk pintu.


“Siapa? teriaknya jelas tersirat kekesalan.


“Ini aku, Vina. Tolong buka pintunya,” beritahu suara dari luar. Ia memang Vina.


“Oh, kenapa ke sini? Nggak pergi ngantor?“ Yayan berjalan ke arah pintu.


Di saat yang bersamaan, Andrea keluar dari kos-kosannya Yayan. Ia melihat Yayan hendak membuka pintu.


“Kenapa tadi teriak-teriak? Eh, ada tamu, 'kah?“ celoteh dari wanita nyawanya belum terkumpul itu, masih linglung memandang sekitar, sibuk mengucek mata.


“Bukan, bukan. A-aku … aku lagi nonton film. Umm, sebentar Vin. Aku perlu membereskan kekacauan di tempat ini. Kau tidak suka kotor, 'kan?“ Yayan berdalih. Namun, Vina dengan polosnya percaya.


Yayan selanjutnya berusaha membereskan masalah yang ada, yaitu menyembunyikan Andrea. Dia menariknya kembali ke kamar, memaksa untuk memakai bajunya.


Jika Andrea terpergok oleh Vina tanpa busana, bisa-bisa terjadi kiamat bagi Yayan. Dan itu tidak boleh menjadi nyata.


“Kenapa Vina datang tanpa mengabari?“ ucap Yayan yang mana kedua tangannya sibuk mengurus bayi besar itu.


“Oi, Andrea! Bangun, kau tidak boleh di sini?“ Yayan menepuk-nepuk pipi wanita itu agar sepenuhnya sadar. Namun, tiada hasil.


Andrea jelas-jelas linglung, Yayan terpaksa menggendong wanita itu ke kos-kosannya sendiri dan mengunci pintu.


“Huh, semoga tidak ketahuan!“


Yayan siap menuju pintu. “Maaf, menunggu lama.“ Dia membukanya.


Vina dengan sangat jelas memperlihatkan wajah manyun, ia menelisiri area dalam kos-kosan secara hati-hati.


“Apanya yang bersih-bersih? Ini sama saja! Tapi, tunggu … kenapa kau jadi sejorok ini?“


Yayan menjadi berkeringat dingin, dia melewatkan sesuatu yang sangat penting. Dan baru sadar saat dikomentari oleh Vina.


Kondisi kediamannya memang sedikit amburadul. Bungkus jajanan tercecer di sembarang tempat, yah … perbuatan Andrea.


“Tadi ada seorang perempuan, 'kan?“ Vina menambahkan, menunjuk Yayan dengan curiga.

__ADS_1


“Beneran nonton film! Tidak percaya … lihat?!“ Yayan menunjukkan ponselnya, sudah terputar sebuah video.


Bukti palsu itu belum cukup agar Vina yakin. Meski begitu, ia sepertinya sudah tidak terlalu peduli.


“Terserah lah … kita masih punya hutang kemarin. Kita harus menangkap para komplotan penculik,“ ucap Vina, ia asal duduk di ruang tamu.


“Hah? Kau mau ikut-ikutan bolos? Tidak, biar aku saja yang menyelesaikan ini. Lagipula, ini sedikit beresiko,“ tolak Yayan.


Vina menggeleng keras, “kau secara tak langsung sudah menyeretku ke dalam masalah ini, maka harus diselesaikan!“


'Ah, wanita ini. Namun, sebaiknya kuturiti saja maunya. Jika dia terlalu lama di sini, keberadaan Andrea sedikit terancam!?' batin Yayan melirik ke arah kos-kosan Andrea yang ada di seberang sekat pembatas.


“Yan?!“ panggil Vina setelah melihat rekan kerjanya sedikit bengong.


“Ya, aku tau. Lakukan saja sesuai keinginanmu!“ Yayan memilih mengalah.


Pria itu kemudian keluar, Vina mengekor di belakangnya. “Kau sudah memiliki rencana?“ tanya Vina.


“Ya. Aku telah menyewa seorang hacker untuk melacak keberadaan si pemilik drone. Alamatnya sudah kita kantongi.“


“Wah, itu perkembangan yang bagus. Kau sangat cepat tanggap,” puji Vina.


Yayan tidak memiliki motor, dia belum membelinya. Vina lantas memiliki inisiatif untuk menawarkan motor miliknya, lebih praktis dari pada angkutan umum.


Mereka berdua pun menuju lokasi. Vina sedikit kaget pada awalnya ketika diberitahu Yayan. Lokasi target ternyata rupanya dekat dengan taman.


“Yan, benar di sini?“ ragu Vina. Mereka kini berada di sebuah ruko.


“Ya, barbershop. Lokasinya memang di sini?“ ucap Yayan yakin.


'System, apa kau bisa mendeteksi keberadaan Wulan?'


[Ya, dia memang ada di sini, Host]


'Bagus.' Yayan tersenyum.


Yayan dan Vina kemudian masuk. Mereka pura-pura sebagai pelanggan, sedangkan Vina sibuk memerhatikan. Tidak ada yang aneh dari barbershop itu.


“Vin, pergi ke toilet!“ bisik Yayan.


Vina segera pergi ke toilet dengan petunjuk dari pegawai tempat itu.


Sementara itu, Yayan mulai menjalankan aksinya, di mulai menjalankan aksinya. Dia mulai bertanya-tanya.


“Siapa pemilik tempat ini?“ tanya pria itu, sambil melihat-lihat sekitar, menunjukkan bahwa Yayan baru pertama kali ke sana.


Yayan menemukan beberapa cctv.


'System, jabarkan lebih spesifik di mana keberadaan Wulan?'


[Dia ada di bawah, 6 meter di bawah tanah]


'Ruangan rahasia?'


“Mas, ada apa, ya? Kalau bos saya sedang pergi,“ ucap pegawai barbershop.


“Oh, bukan apa-apa. Tempat ini bagus.“ Yayan pura-pura menikmati interior di tempat itu.


“Haha … iya, terima kasih. Tunggu sebentar, mas. Tinggal satu pelanggan lagi!“

__ADS_1


“Iya, di bawa santai saja.“ balas Yayan tersenyum canggung.


'Aku harus segera membokar kedok tempat ini!' batin Yayan.


__ADS_2