
Yayan dan Vina secara resmi memiliki hubungan dan mereka langsung memutuskan untuk menikah. Tidak perlu pendekatan, mereka berdua sudah saling mengenal sejak lama. Tau borok masing-masing.
“Kau bahagia?“
“Pertanyaan macam apa itu? Tentu saja aku bahagia.“ Vina masih belum bisa menghentikan air yang meluber dari matanya, tapi kini sedikit baikan sebab sedikit gurauan dari Yayan. Vina tersenyum ceria, seperti yang biasa dikenal oleh Yayan.
“Aku sangat tersanjung, Vin. Kau memilihku di antara pria-pria yang sebetulnya lebih dari diriku,” ucap Yayan murung, bukan, dia cuma pura-pura. Niatnya ingin mencairkan suasana sebab dia tahu respon selanjutnya dari Vina.
“Jika aku memilihmu … itu berarti kau lebih dari mereka semua. Kau terlalu rendah diri, Yan!“ Vina menampar punggung Yayan. Wanita itu kini sedang sakit, jadi pukulannya lemah dan tidak terasa.
“Begitu? Ya … entahlah. Aku susah menilai diri sendiri,” balas Yayan tersenyum getir, menggaruk-garuk kepalanya.
“Dan itu yang Kusuka darimu.“ Vina bergumam pelan, memalingkan muka.
“Hah?“
“Apa? Aku mengatakan sesuatu?“ tanya Vina, ia kemudian membaringkan dirinya lagi.
Yayan sebetulnya cuma pura-pura tidak mendengar. Dia iya iya saja.
“Nah, bagus. Kau tidur saja. Kau harus cepat sembuh, dengan begitu … kita akan langsung menikah.“ Yayan menyelimuti tubuh Vina.
“Yan, kau tau? Ini adalah hari paling bahagia di hidupku. Ka——kamu, tetaplah bersamaku!“ Vina mulai memejamkan matanya seraya menggenggam tangan Yayan.
__ADS_1
Setelah beberapa saat, ia langsung tertidur. Yayan menyibak poni yang menutupi wajah Vina. Dia memandanginya sebentar.
Yayan menggertakan giginya, dia merasa sangat kesal.
'Apa yang salah dengan diriku? Apakah menumbuhkan perasaan suka atau cinta begitu sulitnya?' pikirnya, dia geleng-geleng kepala.
Yayan memutuskan untuk mencari udara segar, dia keluar dari ruangan, memutuskan jalan-jalan. Harapannya juga bisa menemukan dokter yang tengah kesulitan dan dapat membantunya.
Sebelum itu … Yayan menghubungi Sarah, ibunya. Dia ingin memberitahukan perihal pernikahannya dengan Vina. Toh, ia ngebet meminta anaknya untuk segera menikah.
Sarah terkejut pada awalnya dan ada indikasi kecewa. Ia merasa nyaman serta cocok dengan Mikha, Sarah tentu ingin Yayan memilih bersama Mikha. Tapi, yah … ia tidak mau mengganggu keputusan anaknya. Jadi, Sarah terima-terima saja.
Yayan direstui dengan Vina. Lagian Vina bukan orang asing, Sarah sudah mengenalnya. Yayan memang suka menceritakan perihal temannya itu.
“Kan ibu yang ngebet aku untuk segera menikah. Harusnya lebih cepat lebih baik. Vina sedang sakit, jadi aku menunggunya sampai sembuh.“
“Oh, ya. Terserah kau saja. Aku akan memberikan kabar ini ke keluarga besar.“
“Terima kasih, Bu.“
Yayan memutuskan panggilannya. Dia menghela nafas. Fokusnya sedikit hilang, tidak melihat jalan dengan benar. Yayan menabrak seseorang.
“Ugh, maaf, aku bengong tadi.“ Yayan cepat-cepat mengklarifikasi kesalahannya.
__ADS_1
Orang yang ditabrak rupanya adalah seorang dokter, wanita pemilik rambut hitam panjang dan kulit putih selayaknya salju, tapi menurut Yayan sedikit pucat.
“Saya juga yang salah.“ Ia menggeleng kemudian berlalu pergi.
Yayan sempat melirik ke arah name tag yang tersemat di jas medis putih miliknya.
“Anju, Anjulani?“ gumam Yayan.
Yayan telah selesai berkeliling di seluruh area rumah sakit, yah tidak ada dokter yang kesulitan, mungkin?
Dia kembali ke ruangan Vina dan pamit untuk pulang ke rumah sebentar. Vina tentu mengizinkan.
“Jangan lama-lama, ya?“
“Huh, ya. Kau jadi manja sekali!“
Yayan pun pulang. Saat dia berada di area parkir, dia melihat dokter muda bernama Anju
Yayan memerhatikannya sebentar. Pertemuan yang kedua kalinya bisa menjadi pertanda akan ada sedikit hubungan.
Dokter itu sedang mencoba mengeluarkan sesuatu dari bagasi mobilnya, yaitu sebuah kotak besar. Ia kepayahan dalam mengangkatnya, tapi Yayan memilih mengabaikannya.
“Jika dipikir-pikir … mending skip saja misi ini. Hanya buang-buang waktu.“
__ADS_1