Wanita Adalah Sumber Uangku

Wanita Adalah Sumber Uangku
Ch 44: Mencari bawahan


__ADS_3

Malam harinya ….


Yayan berada di kos-kosannya sendiri, berbaring di kasur seraya menatap beberapa panel mengambang layaknya interface sebuah game. Matanya digerakkan mengikuti baris tulisan yang terpampang di sana. Tidak berselang lama, Yayan menghembus nafas dengan malas.


“Menyebalkan!“


System menampilkan daftar misi harian dan mingguan yang perlu dikerjakan untuk mendapatkan poin System, yaitu spera. Itu digunakan untuk membeli sesuatu dari shop. Sampai sekarang Yayan belum menyentuhnya fitur System yang satu ini.


[Push up 100X]


[Reward: 5 spera]✓


[Sit-up 500X]


[Reward: 5 spera]✓


[Pull-up 50X]


[Reward: 5 spera]✓


[Joging 10 km]


[Reward: 5 spera]✓


Yayan sudah mengerjakan misi-misi yang berhubungan dengan olahraga itu. Namun, masih ada misi harian yang lain. Seperti memberi makan kucing, membantu pengemis atau orang kurang mampu.


Yayan belum sempat mengerjakan semuanya. Dia cuma tidak sempat saja, fokusnya terbagi pada hal lain.


Kemudian, ponsel yang ada diletakkan di atas nakas berdering. Yayan mendapat sebuah panggilan dari ….


“Yah, kuharap ada berita bagus.“


Yayan mengangkat teleponnya. “ Kuharap kau menceritakan sesuatu yang bagus.“ Dia tanpa basa-basi langsung ke inti pembicaraan.


Pihak di seberang sontak menghela nafas. “Maaf, tidak ada berita bagus hari ini?“


Kedua sudut mulut Yayan seketika turun, dia menjadi malas berlama-lama teleponan dengan Rinto.


“Aku tidak bisa menemukan keberadaan wanita itu. Dia pindah entah kemana, semua tetangganya tidak ada yang tau, bahkan kerabat-kerabatnya. Aku sudah mencarinya dengan segenap usaha yang kubisa,” terang Rinto.


Yayan cuma berdehem, dia tidak bisa memaksakan kehendak. Sesuatu kadang memang tidak berjalan sesuai rencana.


“Ok, ok. Aku mengerti.“


“Maaf untuk tugas satu ini, bos.“


“Ya, tidak perlu dicemaskan.“

__ADS_1


Rinto lalu mematikan sambungan teleponnya.


“Huh, sialan wanita itu! Bisa-bisanya dia kabur? Jika begini … gimana aku membalas semua perbuatannya padaku?“ jengah Yayan, membaringkan diri. Dia menatap langit-langit kamar.


Yayan terpikirkan sesuatu.


“Yani? Dia mengerahkan banyak orang untuk mengawasiku?“ Yayan bergumam.


“Kenapa aku tidak melakukan hal yang sama? Aku harus mempunyai banyak bawahan!“ sambungnya.


Ya, itu ide yang bagus. Yayan langsung tancap gas, mengambil jaket dan asal keluar begitu saja. Azka dan Aji sontak bertanya.


“Membeli martabak,”kilah Yayan.


“Aku martabak manis dengan toping keju,” pinta Aji.


“Huh, iya, iya.“ Yayan dengan jengah memakai jaketnya.


Yayan langsung pergi tanpa menggunakan motor atau kendaraan lainnya. Dia langsung menuju ke tempat yang merupakan markas para preman. Dengan kecepatannya yang tinggi, Yayan bisa bergerak leluasa. Dia bisa melewati jalur atap tanpa halangan, sebab Saka sudah mengajari cara meringankan tubuh. Perjalanannya pun mulus tanpa terkendala macet, apalagi dengan aksi-aksi parkour.


Setelah beberapa saat, tepatnya 30 menit lebih. Yayan sampai di suatu proyek pembangunan gedung pencakar langit yang mangkrak. Di sana terlihat banyak orang berkumpul di sekitar api unggun.


“Hmm … mereka pasti tidak mau suka rela menjadi bawahan seseorang. Huh, harus dipaksa. Namun, kucoba dulu dengan uang.


Yayan mulai mendekat. Sementara itu, System mencetak uang senilai 1 miliar yang disimpan dalam koper.


Tentu saja Yayan tidak diperbolehkan masuk, bahkan langsung ingin dirampok. Mereka berdua melihat koper yang dibawa oleh Yayan. The


'Dasar merepotkan!'


Yayan mendadak memungut dua kerikil. Kedua preman itu sontak waspada.


Syat … jdug?


Yayan melemparkannya, tepat mengenai titik lumpuh yang ada di leher. Mereka tumbang seketika.


Yayan tersenyum puas, “Yah, begini manfaatnya menjadi kuat.“ Dia melewati kedua preman itu dengan santai.


Para preman nampak asyik bercengkrama di sekitar api yang dinyalakan di dalam tong. Mereka langsung sadar bahwa ada tamu yang tidak diundang. Semuanya langsung terfokus pada Yayan.


“Kita sedang tidak memasang perangkat tikus, 'kan? Kenapa ada tikus terjebak? Oh, apa dia tikus stress yang cari mati?“ ucap salah seorang dari mereka, mengejek Yayan.


Yayan sedang menghitung total orang yang ada di tempat itu.


'Ada lebih dari 20-an orang,” batinnya.


Salah seorang dari mereka maju mendekati Yayan, ia berbekal sebuah balok kayu. “Kau sudah repot-repot ke sini. Jadi, kenapa tidak langsung saja … serahkan semua barangmu jika tidak ingin ada darah yang tumpah,” ucap preman itu dengan percaya diri, memukul-mukulkan balok kayu ke telapak tangannya.

__ADS_1


“Aku adalah seekor tikus yang cari mati. Harusnya kalian membunuhku terlebih dulu, setelah ambil benda apapun yang kupunya.“ Yayan menyeringai.


“Cih, kau benar-benar cari mati. Baiklah, sesuai keinginanmu.“


Ia menerjang Yayan, mengayunkan balok kayunya dengan sekuat tenaga mengincar kepala.


“Oh, sayang sekali. Sepertinya kalian harus ekstra keras untuk bisa membunuh tikus ini!“ ucap Yayan dengan nada mengejek. Dia berhasil menangkap balok itu.


Digenggam sangat kuat sehingga preman nekat itu tidak bisa menariknya dari tangan Yayan.


“Woi, apa-apaan ini? Lepas——”


“Akan kulepaskan!“


Buaghh!


Yayan menendang tepat di perut preman itu, membuatnya terhempas ke arah teman-temannya.


“Hmm … oke. Begini saja, sebetulnya tikus ini hendak menyogok kalian dengan keju.“ Yayan menunjukkan koper yang dibawanya.


“Apa maksudmu?“ tanya salah seorang preman, ia penasaran.


“Kalian hanya perlu menjadi kacungku. Dan dapatkan keju ini?!“ Yayan membuka kopernya, terlihat tumpukan uang, membuat para preman bergairah.


“Ahh … kacung, ya?“ Para preman itu berpandangan satu sama lain. Nampaknya memiliki pemikiran yang sama.


Yayan sudah menduga tidak akan mudah, mereka hanya ingin mendapatkan uang tanpa susah-susah berusaha.


'Huh, yah … memang perlu dihajar dan menunjukan siapa sebenernya yang sedang berperan sebagai tikus,” batin Yayan, menutup kembali kopernya. Dia bersiap bertarung.


Para preman dengan aneka senjata secara bersamaan menerjang Yayan.


Depan-belakang, kiri-kanan, tidak ada jalan untuk kabur. Mereka mengepung Yayan. Dan secara bersamaan mengayunkan semua senjatanya.


Yayan tidak akan menunggu sampai serangan itu mengenai dirinya, dia dengan cepat mengelak lalu bergerak cepat merebut sebuah linggis digunakan oleh seorang preman.


Buaghh ... buaghh … buaghh …


Setengah dari mereka langsung berjatuhan tidak sadarkan diri. Yayan memukul mereka tepat di titik lemah.


Sisa preman menjadi sangat marah pada Yayan, mereka tidak bakal menahan diri lagi. Yayan santai saja, yakin bahwa akan menang dengan mudah.


Namun, pemikiran itu sedikit digoyahkan.


Syutt ….


Sesuatu yang kecil melesat cepat dan menyerempet pipi Yayan hingga berdarah.

__ADS_1


'Oh, mungkin itu bosnya?'


__ADS_2