Wanita Adalah Sumber Uangku

Wanita Adalah Sumber Uangku
Ch 32: Lembur


__ADS_3

Pada pagi harinya, Yayan langsung berangkat ngantor. Dia menutupi lukanya yang sebetulnya sudah sembuh dengan sejumlah plester agar Andrea tidak curiga.


“Akhirnya kau ngantor juga,” sambut Vina pada Yayan yang baru berangkat ngantor setelah absen beberapa hari.


Pria itu tersenyum kaku seraya menggaruk-garuk pipinya. “Aku belakangan ini jadi orang yang sibuk, hehe. Lagian, kemarin kau juga absen——“


“Sudah, sudah. Kalian sama-sama absen kemarin!?“ sela seorang wanita, rekan kerja Yayan dan Vina. Ia memberikan setumpuk berkas pada dua sejoli itu.


“Ini tanggungan kalian! Siapa suruh bolos!?“


Vina menatap tumpukan berkas yang ada di tangan Yayan, ia tersenyum mengejek. “Hmm … mungkin ada yang akan lembur hari ini,” sindirnya sambil tersenyum mengejek. Tugas yang mesti dikerjakan Vina tidak sebanyak milik Yayan, ia hanya bolos kemarin.


Yayan menghela nafas dengan berat lalu duduk di biliknya. Dia hari ini bakal bekerja keras. 'Huh, jika mau aku mending resign saja. Toh, aku bisa mendapatkan uang dengan sangat mudah. Sudah saatnya menjadi bawahan, berubah menjadi bos!' batin Yayan mengkhayal. Namun, ia akan segera mewujudkannya.


Setelah larut dengan kerjaannya sendiri selama belasan menit, Yayan menyadari sesuatu.


'Wanita itu hari ini tidak berangkat, 'kah?' batin Yayan heran, dia kemudian mencoba bertanya pada Vina.


“Hei, Vin. Kemana si Yani?“


Tentu saja, Vina langsung mengata-ngatainya. “Wow, ada apa ini? Kenapa kau tiba-tiba bertanya soal Yani? Kau masih cinta, 'kan? Ingin balikan, 'kan?“ tuduh Vina sambil nyengir dengan lebar.


“Cih, sudah kubilang jangan selalu hubungkan diriku dengannya! Aku sudah tak memiliki hubungan apa-apa!“ tegas Yayan.


“Ya, mantan pertama itu sulit dilupakan. Aku maklum kok, Yan," timpal seorang lainnya, yang merupakan rekan kerja Yayan dan Vina. Sekedar mengingatkan, Yayan satu-satunya pria yang ada di divisi keuangan.


“Hah! Terserah kalian!“ Yayan malas berdebat dengan dua teman wanitanya. Dia memilih fokus mengerjakan tugas.


Vina tentu saja tersenyum cekikikan karena berhasil menggoda Yayan.


“Huh, yang bikin malas itu harus minta tanda tangan atasan. Aku nggak tau lagi, beliau kemana?!“ keluh Yayan yang memundurkan kursi putarnya. Dia kemudian berdiri lalu membuka pintu untuk keluar.


“Semangat, Yan!“ teriak Vina semangat, mengangkat sebelah tangan, tangan lainnya sibuk pada keyboard.


“Hmm!“ Yayan mendengkus malas. Dia langsung keluar ruangan.


Yayan cepat-cepat menuju ruangan atasannya untuk meminta tanda tangan, masih banyak tugas yang harus dia selesaikan. Namun, saat sampai di sana, dia mendapat berita buruk.


“Pak Kafi hari ini tidak berangkat.“


Itu kabar buruk, Yayan bingung harus apa.


“Gimana dengan berkas ini? Deadline-nya hari ini, lho?!“ ucap Yayan.

__ADS_1


“Ah, itu. Kau bisa memintanya pada Nona Nazuna. Dia memang ditugaskan untuk menggantikan peran pak Kafi.“


“Huh, kalau bicara jangan setengah-setengah! Aku jadi panik duluan, tau!“ kesal Yayan. “Lalu, di mana dia?“ tanyanya tidak sabaran.


“Di kantin, mungkin?“ Si lawan bicara mengangkat bahu, ia agak ragu, jawabnya cuma mengira-ngira. Tidak ada bukti konkret.


“Oke.“


Yayan sudah keburu pergi tanpa mendebarkan penjelasan lebih lanjut. Jadi, tujuan selanjutnya adalah kantin.


Saat Yayan sudah sampai di sana ….


'Ada apa dengannya?' bingung Yayan saat melihat Nazuna duduk sendirian, di meja nampak ada secangkir kopi.


Wanita itu menunduk, memegangi kepalanya. Terlihat seperti mengahadapi banyak masalah dan tekanan. Yayan jadi ragu untuk menyapanya.


'Huh, ini tidak akan selesai! Cukup minta tanda tangan lalu pergi, itu saja!' pikir Yayan yang asal terobos tanpa memperdulikan situasinya.


“Rukawa-san——”


“Ha'i!“ (iya) respon Nazuna yang seketika duduk tegak, ia jelas sangat kaget terhadap panggilan normal dari Yayan.


Wanita itu berbalik dan langsung mengelus dadanya.


Yayan malah jadi sedikit canggung ketika Nazuna tidak mau menatap balik dirinya.


'Ah, dia merasa bersalah saat kejadian waktu itu. Apa aku hapus saja ingatannya soal kejadian dia yang memamerkan dalemannya? Yah, walau itu akan sangat menguras tenaga!'


[Misi dikonfirmasi]


[Menjadi guru yang baik]


[Reward: 100 spera, 5 poin kecerdasan]


'Hah? Misi macam apa ini? Yah, aku kesampingkan itu dulu!'


Yayan lalu mencoba untuk membuat Nazuna menatapnya balik.


“Rukawa-san, aku ingin bicara!“ ucap Yayan. Nazuna reflek mendongak. Kesempatan ini dimanfaatkan dengan baik m


“Hmm?“


Yayan langsung menahan kepala Nazuna untuk tetap diam, mereka pun bertatapan selama beberapa detik. Skill System mulai bekerja, memori tentang kejadian pemergokan Yani dihapus sepenuhnya, itu tidak akan kembali selama tidak ada yang mengingatkannya.

__ADS_1


Skill ini efektif jika target adalah satu-satunya orang mengetahui kejadian yang ingin dihapus pengguna, jadi tidak ada kemungkinan pihak lain akan membangkitkan ingatannya.


“Hah … hah … hah … melelahkan, aku benar-benar harus berolahraga!“ Yayan seketika duduk, dia ngos-ngosan.


Sementara itu, Nazuna masih linglung sesaat. Setelah beberapa detik berselang, ia mulai sinkron dengan keadaan kantin yang sepi, ia terkejut melihat Yayan sudah duduk di depannya.


“Y-yayan-san?“


Yayan tidak peduli dan hanya langsung menyodorkan berkas yang harus ditandatangani oleh Nazuna.


Wanita Jepang itu mengerti meskipun Yayan tidak mengeluarkan sepatah kata pun.


Yayan bergegas undur diri setelah urusannya selesai. Namun, Nazuna menahan ujung lengan kemejanya Yayan.


“Chotto mate!“ (Tunggu!)


Yayan berbalik ingin mendengar hal apa yang ingin dibicarakan oleh Nazuna.


'Ayolah, cepat. Aku ingin menyelesaikan pekerjaanku!' batin Yayan tidak sabaran. Dia lalu mencoba untuk mendengar isi pikiran Nazuna.


'Huh, kenapa harus aku?' batin Yayan, dia mendengar suara hatinya Nazuna.


“Rukawa-san, Anda sedang mencari guru bahasa Indonesia, 'kan?“ Yayan pura-pura menerka.


Nazuna sontak terkejut, Yayan berhasil menebak isi pikirannya. Wanita itu lantas mengangguk, mengiyakan tebakan Yayan.


'Jadi, ini maksud dari menjadi guru yang baik. Hmm … aku terima saja. Hadiahnya lumayan,' pikir Yayan.


“Aku menerimanya. Jadi, kapan kita memulainya?“ tanya Yayan dengan semangat.


Nazuna sedang memproses otaknya untuk bisa menerjemahkan kalimat yang baru saja Yayan ucapkan. Tempo bicaranya terlalu cepat, Nazuna kurang bisa mengikuti. Namun, setelah beberapa saat menelaah, ia memberikan jawaban.


“N-nanti.“


Raut wajah cerah yang ditunjukan Yayan seketika perlahan mengendur. Semangatnya hilang begitu saja. Bukannya apa-apa, dia kini punya tanggungan yang banyak. Banyak pekerjaan yang harus diselesaikan, sudah diprediksi bakal lembur.


Lalu ….


'Lembur ya lembur. Aku akan pulang sangat telat malam ini!' keluh Yayan dalam hati, menarik nafas dalam-dalam.


“Aku setuju Rukawa-san!“


Tingkat kesukaan Nazuna secara perlahan tumbuh. Kini menyentuh angka 30.

__ADS_1


__ADS_2