
Yayan dan Vina mengantarkan Wulan pulang ke rumahnya. Di sana sempat tidak ada orang, kata tetangga Rinto sedang pergi keluar.
Yayan berpikir bahwa ia sedang berupaya mencari pinjaman uang. Yayan lantas memberikan kabar tentang Wulan yang berhasil diselamatkan, si nasi goreng senangnya bukan main. Ia bergegas kembali untuk bertemu dengan putri tersayangnya.
“Tenang saja, ayahmu akan segera pulang,” Yayan menghibur Wulan yang agak murung.
Mereka selanjutnya menunggu dengan sabar kedatangan dari pemilik rumah. Yayan berkeliling melihat-lihat rumah Rinto. Terlihat kurang sopan, namun dia memiliki alasan.
Ruangan yang menjadi tujuan Yayan adalah kamar. Dia rumah itu hanya ada dua kamar, Yayan bisa langsung menebak yang mana kamar milik Rinto.
Yayan terfokus pada sebuah bingkai foto yang ada di nakas, sebuah foto keluarga.
“Oh, jadi ini ibunya Wulan?! Pantas saja … gadis itu ternyata mewarisi gen ibunya.“ gumam Yayan, dia meletakkan kembali bingkai foto itu kembali ke tempatnya.
Pria itu bergegas kembali sebelum teman wanitanya, yaitu Vina mulai berpikir yang tidak-tidak.
“Kau dari mana saja?“ tanya Vina melihat Yayan.
“Kebelet,“ balas Yayan memegangi perut dan menunjukkan ekspresi kurang nyaman.
Vina menanggapi dengan biasa, memang tidak ada yang perlu dicurigai.
Selanjutnya, Yayan dan Vina dengan tabah menunggu kedatangan si pemilik rumah. Rinto tiba 10 menit kemudian.
Tentu saja terjadi pertemuan haru antara ayah dan anak, seolah-olah dipisahkan dalam waktu yang sangat lama.
“Aku tak tau harus membalasnya dengan apa,“ ucap Rinto dengan mata yang berkaca-kaca, bahkan hendak bersujud di depan Yayan jika tidak dicegah.
“Kau tak perlu sampai segitunya. Sesama manusia memang harus tolong menolong.“ sangkal yayan. “Lagipula itu cuma bantuan kecil.“
Si penjual nasi goreng kekeh ingin bisa membalas budi. Ia hampir menawarkan semuanya, tapi Yayan menolak. Sampai akhirnya ada tawaran yang membuat Yayan tidak bisa menolaknya.
“Kalau begitu, aku akan bekerja untukmu sampai akhir hayatku.“
Yayan menyerah, dia menghela nafas. “Huh, ini lebih baik. Aku terima.“
Sementara itu, Vina hanya diam menyimak dan mengajak Wulan sibuk sendiri agar tidak terlalu memerhatikan pembicaraan Yayan secara si penjual nasi goreng.
Tiba saatnya untuk kembali, Yayan dan Vina lalu berpamitan pulang. Sudah tidak ada yang bisa dilakukan di sana.
“Pulang?“ tanya Yayan. Rasanya kurang pas untuk langsung pulang, sedangkan tidak ada yang bisa dilakukan di rumah.
“Oke, kita jalan-jalan. Pastikan ini berjalan mulus … Kalau tidak ….“ Vina menjeda menunjuk Yayan dengan tatapan serius. “Aku tidak mau jalan denganmu lagi.“
“Hmm … aku bisa menjamin untuk hari ini tidak akan ada masalah!“ ucap Yayan mengepalkan tangan pada dada kirinya.
__ADS_1
“Aku memegang ucapanmu!“ Wanita itu berlalu lebih dulu melewatinya.
Mereka kini sudah ada di jalan dan tengah mengendarai motornya Vina.
“Jadi, apa saja destinasi kita untuk hari ini?“ tanya Yayan.
Wanita itu lantas berpegang dagu untuk berpikir. “Kau punya saran?“
“Tidak! Aku akan mengikutimu, bahkan jika itu adalah ujung dunia.“ jawab Yayan sedikit bergurau.
“Heleh, ujung dunia … paling diajak ke rumah Yani sudah ogah,“ cibir Vina terkikik geli. Yayan mati kutu.
“Yah, itu pengecualian. Lagipula, apa rumah wanita itu bisa dijadikan lokasi healing, nggak, 'kan?“
Vina mengangguk yakin, “Beberapa bulan lalu itu adalah tempat yang sangat ingin kau kunjungi!“
“Hmph … a-aku memang tidak bisa menyangkalnya.“
Bis akhirnya tiba, Yayan dan Vina pun masuk.
“Hei, kita mau kemana? Tidak mungkin jalan-jalan tanpa tujuan dan hanya mengikuti jalur aspal!?“ Vina bertanya untuk kesekian kalinya.
Yayan menghela nafas berat, dia melirik Vina yang duduk di belakangnya dengan kaca spion.
“Ada yang ingin kau beli?“
“Ok, kita ke mall!“ potong Yayan, dia begitu bersemangat saat mengatakannya. Bagaimana tidak, dia akan mendapatkan uang.
Mereka berdua pun pada akhirnya pergi ke mall. Vina pada awalnya sedikit protes, tapi itu tak cukup untuk menggeser keputusan Yayan. Salah sendiri, kenapa bertanya.
“Benar-benar pergi ke mall,“ keluh Vina, ia sudah tidak nafsu melihat toko-toko brand terkenal.
“Nah, apa yang ingin kau beli?“ tawar Yayan, dia nampak sangat antusias. Hal itu membuat Vina jadi sedikit bingung.
“Kenapa kau nampak sangat senang? Jika tidak segan … aku bisa menguras habis uangmu, lho?!“ Vina mewanti-wanti.
“Asalkan itu dirimu, tidak masalah mau berapa pun uangnya.“ Yayan tersenyum.
“E-eh?“ Vina sedikit tersentak dan bicaranya sedikit gagap, ia menatap Yayan dengan pandangan yang berbeda dari yang tadi. Ia kemudian memalingkan muka, mencoba menenangkan diri.
“Oke … a-aku benar-benar … a-akan memeras sampai kering isi dompetmu.“ Vina bicara gagap. “A-aku serius!“
“Aku dari tadi sudah serius, Vina. Hmph?“ Yayan mendekatkan wajahnya ke arah Vina. Wanita itu dengan tergesa-gesa mundur sedikit.
Yayan lalu menyeringai lebar melihat tingkah Vina. Biasanya dia yang selalu digoda oleh wanita itu.
__ADS_1
“Jangan salting, Vin. Apa kau sungguh Baper dengan kalimat template seperti tadi? Kau menyukaiku, ya?“ goda Yayan, mencolek dagu Vina sambil tersenyum cengengesan.
“Akhhh … masa bodoh!“ Vina asal nyelonong pergi. Yayan mengikutinya dari belakang.
'Parameter kesukaan Vina padaku selalu stabil di angka 60-80. Itu artinya dia menyukaiku. Namun, masalahnya … kenapa aku tidak memiliki perasaan padanya. Dia hanya kuanggap sebagai teman, sahabat, adik. Apakah aku tidak bisa mencintai wanita lain, selain Yani?' Yayan diam-diam mengepalkan tangannya kuat-kuat.
'Aku sudah tidak bisa mencintai seseorang?'
Yayan terus mengikuti Vina berjalan. Wanita itu tak kunjung berhenti, terus berkeliling sebentar. Ia cuma numpang seliweran tanpa ada niatan membeli sesuatu.
“Hei, cepat putuskan apa yang ingin kau beli?“ tanya Yayan yang sudah menjejari langkah demi Vina. Dia memegang lengan wanita itu.
“Kau tidak lelah berjalan tanpa tujuan?“
Vina berhenti seketika, dari gestur tubuhnya ia seolah-olah akan meledak. Maksudnya mengeluarkan semua unek-unek di dalam kepala dengan brutal, berteriak kencang.
Yayan telah mengantisipasi jika hal ini terjadi, tapi Vina masih bisa mengendalikan dirinya.
Vina menarik nafas panjang sebelum bicara. “Oke, Yan. Kau menang! Ayo beli sesuatu!“ ia menarik Yayan menuju ke sebuah toko.
'Akkhh, aku sangat malu. Kenapa aku jadi salah tingkah? Jantungku rasanya mau meledak?' ucap Vina dalam hati.
“Mas, tolong beli jam paling mahal di sini?“ ucap Vina spontan ketika sampai di toko jam tangan dengan brand terkenal.
“Huh?“ Yayan seketika terkejut.
'Apa yang kukatakan? Apa aku benar-benar akan menguras habis tabungan Yayan?' Vina seketika panik.
Vina langsung menyadari kesalahan apa yang dibuatnya. Ia berupaya membatalkan permintaan itu.
“Eh? Maaf, Mas. Nggak jadi——”
“Tolong segera tunjukan jam paling mahal dan bagus di sini untuk teman saya!“ potong Yayan.
“Huh?“ Vina bingung, ia tidak mempercayai apa yang barusan di dengarnya.
Yayan masih tetap terlihat tenang, tapi dia terus berteriak di pikirannya. Uangnya tidak sampai ratusan juta, jika ada jam yang harganya segitu, maka bencana bagi Yayan. Namun, Yayan memilih bersikap tenang dan kalem, dia telah memikirkan sebuah rencana.
'Yah, jika uangnya kurang, aku tinggal mencari alasan bahwa kartu ATM tertinggal. Jadi, aku masih bisa mencari dana tambahan.'
Yayan seketika mengerutkan keningnya saat beberapa jam dikeluarkan. Semuanya di atas ratusan juta. Vina semakin merasa bersalah, ia terus menunduk.
'Huh, tidak bisa begini!' Yayan memutuskan sesuatu.
“Umm … Mas, sepertinya batal?!“ ucap Yayan, yang mengejutkan Vina dan si penjaga toko.
__ADS_1
“Hah?“