Wanita Adalah Sumber Uangku

Wanita Adalah Sumber Uangku
Ch 45: Isi Mistery Box


__ADS_3

Yayan dengan tenang mencolek setitik darah yang mengalir di pipinya. Dia menatapnya sebentar lalu melirik ke belakang, melihat benda yang baru saja melesat.


'Sebuah paku? Dilemparkan dengan kecepatan yang tinggi?' gumam Yayan dalam hati.


“Woah … kenapa ada ribut-ribut, sih? Menganggu ketenangan orang saja.“


Seseorang mendekat, rambut perak acak-acakannya sangat nyentrik, begitu mencolok. Semua preman membuka laluan untuk membiarkan orang itu lewat.


'Hmm? Masih berusia belasan tahun?' pikir Yayan saat pertama kali melihatnya.


Orang itu tidak terlalu jangkung, tinggi badannya cuma mencapai telinganya Yayan. Wajahnya nampak malas, ada kantung mata yang agak menghitam. Ia seolah-olah memang selalu ngantuk atau kekurangan waktu tidur.


“Hmm … tikus? Bukan, kenapa ada Om-Om di sini?“ ucapnya seraya menguap lebar.


“Om? Yah, sepertinya belum pantas. Aku ini masih muda!“ balas Yayan sambil tersenyum.


Orang berambut perak itu benar-benar remaja laki-laki yang baru masuk masa puber, umurnya mungkin baru 15 tahun. Namun, keberadaannya di sini jelas menyiratkan satu hal. Ia bukan orang biasa, mungkin memiliki suatu keistimewaan.


Yayan selalu bersiaga, dia waspada terhadapnya. Dia tida meremehkan ABG di hadapannya, terpaut jarak 12 meter.


“Hei, Om-Om sekalian. Habisi Om itu! Dia sudah menganggu waktu istirahatku!“ Si rambut perak mendadak berteriak sambil menunjuk Yayan.


Para preman tanpa pikir panjang langsung menyerbu Yayan.


“Huh.“ Yayan menarik nafas panjang, memasang kuda-kuda bertarung.


Saat para preman hendak menggebukan tiap senjata yang ada di tangan masing-masing, Yayan keburu melompat tinggi lalu menjauhi kerumunan preman. Dia mendarat di belakang si rambut perak.


'Hmm … aksi yang lumayan keren!?' batin Yayan memuji dirinya sendiri. Dia tersenyum dengan sendirinya.


Ini adalah peningkatan yang tidak disangka-sangka olehnya. Biasanya Yayan akan berkeringat dingin dan panik saat harus melawan belasan orang. Namun, kini semuanya berubah. Dia santai meski dikepung atau musuh membawa senjata.


Yayan sangat menikmati atas tindakan dirinya yang mempermainkan para preman. Sebelumnya dia yang selalu dipermainkan.


Para preman sontak kesal. Yayan jelas-jelas tidak tertarik dengan mereka. Dia cuma berminat pada si rambut perak.


“Hei, bagaimana kalau kita membuat kesepakatan?“ tawar Yayan.


Si rambut perak berbalik, “Aku tidak mau. Itu pasti merepotkan! Aku tidak mau susah.“


'Hahaha … tipe orang seperti ini yang susah diajak kerja sama,' batin Yayan tetap menjaga senyumnya.


“Hei, lawan kami!“ teriak salah seorang preman, ia dan teman-temannya bersungut-sungut menuju ke arah Yayan.


Akan tetapi, mereka berhenti ketika si rambut perak mengangkat tangannya.

__ADS_1


“Woah … sudah! Aku tidak tertarik dengan tawaranmu. Silakan pergi, kau itu mengganggu!“


“Apa yang kau inginkan? Aku mungkin bisa mengabulkannya?“ ucap Yayan dengan seringai tipis.


Si rambut perak lantas mengangkat sebelah alisnya. “Mengabulkan keinginanku? Kau siapa? Tuhan? Jangan melucu, Om!“ cibir si rambut perak yang tersenyum sinis.


'Sialan! Bocah ini! Dia tidak bisa diajak bernegosiasi!'


Yayan menghela nafas, dia berbalik pergi. “Kalau begitu, sampai jumpa, Silver!“


Akan tetapi, baru beberapa langkah Yayan berjalan. Dia sudah berbalik lagi, melempar sebuah paku, itu melesat dengan kecepatan tinggi.


Si perak hanya memiringkan kepalanya, dan paku itu melesat lewat di bawah telinga, memangkas beberapa helai rambut berwarna putih-perak itu.


“Siapa namamu?“ tanya Yayan.


“Sangat tidak sopan!“ gerutunya. Namun, ia tetap membeberkan nama. Entah asli atau palsu.


“Nesa, woah!“ Si rambut perak yang ternyata bernama Nesa itu menguap lebar.


Di saat yang bersamaan, Yayan melesat dan siap melancarkan tinjunya.


Nesa tidak bergeming, ia menangkap tinju Yayan yang hampir saja mematahkan tulang hidungnya bila terkena.


Yayan tersenyum seraya membelalakkan matanya.


“Apa pun yang Om lakukan … kau tidak akan bisa mengalahkanku!“ ucap Nesa malas, terus menguap, membuka lebar matanya. Sedangkan di sisi lainnya, ia mencengkram tangan Yayan dengan kuat. Yayan kesusahan menarik tangannya.


“Kau terlalu tinggi hati, anak mudai?“


Yayan melancarkan tendangan yang mengincar kepala dengan kaki kanannya. Nesa lagi-lagi bisa menangkapnya.


Yayan tidak menyera, dia mengangkat kaki kirinya setelah tendangan pertama gagal. Tubuh Yayan pun sepenuhnya melayang sebab ditahan oleh Nesa.


Si rambut perak kehabisan tangan. Untuk merespon serangan Yayan. Ia membebaskan salah satu tangannya, itu adalah yang menahan tinjunya Yayan.


Yayan memanfaatkan kesempatan itu dengan melancarkan tinjunya. Nesa tentu saja terkena telak dan terhempas beberapa meter.


Beberapa preman dengan sigap berperan sebagai peredam benturan agar Nesa tidak terluka.


“Pengalamanku kurang, bocah! Iq battle-mu juga begitu. Hmm … kemungkinan kau tidak suka menggunakan kaki!“ ledek Yayan.


“Om, ban9sat!“ Nesa meludah, sudut bibirnya sedikit berdarah karena pukulan Yayan tadi.


Yayan memungut kopernya yang terjatuh dari tadi, membersihkannya dari sedikit debu.

__ADS_1


“Jadilah kacungku! Aku akan membayarmu, nominalnya lebih dari ini!“ Yayan membuka kopernya, terlihat lembaran kertas berwarna merah muda dengan jumlah yang banyak.


Nesa melebarkan matanya dengan terkejut.


“Uang? Kenapa tidak bilang dari tadi? Aku sedang butuh uang, Om ban9sat!“ Nesa tiba-tiba meninggikan suaranya, ia marah-marah.


“Hah? Aku tadi sudah menawarkan sesuatu. Kau saja yang keras kepala!“ balas Yayan dengan suara yang tidak kalah tinggi. Mereka kemudian jadi saling berteriak satu sama lain.


“Siapa yang tau! Penampilanmu tidak mencerminkan orang kaya! Terlihat seperti orang miskin!“ seru Nesa.


“Dari awal aku sudah memamerkan uang ini! Dari mana saja kau? Para babumu itu mengeroyokku untuk merampas koper ini!“ Yayan masih ingin berseteru, saling berteriak.


“Siapa yang ngeh? Aku tadi terdiri dan bangun saat melihat kalian ribut-ribut.“ Nesa memelankan suara dan intonasi, suaranya mulai habis.


Yayan menghela nafas malas, “Huh, jadi kau menerima tawaranku?“


“Tentu saja. Dan aku meminta bayaran 10 miliar per bulan.“


'Dia ngelunjak! Aku pasti sedikit kewalahan untuk membayarnya. Pemasukannku hanya dari berkencan dengan seorang perempuan. Yah, tapi bisa kuusahakan. Lagipula, aku terlanjur menawarkan uang yang lebih besar dari pada isi koper ini!' batin Yayan.


“Baiklah, aku setuju. Tapi, kau dan anak buahmu harus mengerjakan setiap tugas yang kuberikan!“


“Setuju.“


'Dia langsung setuju! Hmm …. aku harus memikirkan kemungkinan dia bisa juga berkhianat! System, buka Mistery Box! Bukan, itu jelas-jelas Pray Box atau Wish Box. Isinya adalah sesuatu yang kubutuhkan sekarang.'


[Membuka Mistery Box]


[Mendapatkan skill Cursed Seal]


[Skill System: Cursed Seal]


[Level: 1(0/3]


[Cooldown: 1 Minggu]


[Forbidden:0/10]


[Cursed Seal membuat Host bisa membatasi tindakan-tindakan yang dilakukan target sebanyak 10. Anda bisa menetapkan hukuman jika target melanggar salah satunya]


'Untuk pelanggaran pertama, buat dia merasakan panas luar biasa di seluruh tubuhnya!'


[Hukuman ditetapkan]


[Forbidden:1/10]

__ADS_1


###


Maaf, belum bisa up lebih dari satu. Aku lagi sibuk-sibuknya kerja.


__ADS_2