Wanita Adalah Sumber Uangku

Wanita Adalah Sumber Uangku
Ch 47: Sisi lain si rambut perak


__ADS_3

“Mas yang waktu itu, 'kan?“ terka wanita itu.


Yayan cuma mengangguk sebagai respon. Sedangkan pria yang kemungkinan adalah suaminya menjadi bingung sendiri. Ia menatap tajam Yayan.


“Siapa dia?“


Yayan bisa merasakan nada ketus dari cara bicaranya.


“Itu, lho. Orang yang pernah kuceritakan. Dia sudah menyelamatkan Wulan?“


“Hah?“ pekik Yayan spontan, langsung mengambil sorotan sepasang suami-istri itu.


“Kenapa?“ tanya sang suami sedikit sinis pada Yayan.


'Orang yang posesif! Wajar, sih …istrinya sangat cantik,” gerutu Yayan dalam hati, dia sebal dengan sikap pria itu. Merasa angkuh karena memiliki istri yang cantik.


“Bukan apa-apa. Kaget, namanya kebetulan sama dengan anak kenalan saya. Kemungkinan umurnya sama.“ Yayan berusaha menjaga senyumnya.


'Hmm … aku sepertinya perlu untuk menyelidiki identitas wanita ini. Aku sedikit curiga.' Yayan diam-diam melirik ke suami posesif.


'Rinto ngutang pada siapa? Ya, aku juga perlu menyelidikinya juga.'


“Oh, benarkan? Suatu kebetulan. Hmm … untuk yang waktu itu, terima kasih banyak. Jika tidak ada Mas, mungkin Wulan sudah ….“ Wanita yang mirip dengan ibunya Wulan tidak kuasa lanjut berbicara.


“Tidak apa-apa. Terpenting kecerobohan itu tidak diulangi lagi,” ucap Yayan tersenyum.


Si suami nampak kesal, ia duduk di meja makan lebih dulu meninggalkan sang istri yang masih asyik bercengkrama.


'Pria ini ternyata juga pencemburu berat. Seolah-olah dia mendapat istrinya dengan usaha yang tidak main-main. Yah, dan itu … membuatku semakin curiga,' batin Yayan melihat wanita yang belum diketahui namanya itu.


Mereka kemudian duduk di meja makan.


“Yan, perkenalkan … ini adalah Bu Aida dan pak Satya.“ Sarah memperkenalkan sepasang suami-istri itu. Mereka mulai berjabat tangan.


“Salam kenal, Yan!“


“Iya, Bu——”


“Panggil Aida saja. Supaya lebih akrab, tolong jangan terlalu formal, ya!“ Aida tersenyum lembut.


Sang suami, Satya terlihat kebakaran jenggot. Yayan pun membatin. 'Bukan salahku, lho ya? Aku tidak pernah genit pada istrimu. Malah sebaliknya.“


Makan-makan atas perayaan pindahnya Sarah dan Mikha di perumahan itu berhasil lancar. Namun, ada satu pihak yang nampak tidak senang dan selalu memasang muka masam, tidak pernah tersenyum sedikit pun.


'Sepertinya aku tidak disukai.' Yayan menghela nafas.


“Terima kasih jamuannya. Nah, Wulan … ucap terima kasih pada Mbak Mikha dan mas Yayan.“


Anak kecil yang selalu bersembunyi di balik Aida akhirnya menjembulkan sedikit kepalanya dan berucap dengan malu-malu. “T-terima kasih.“

__ADS_1


“Semoga kalian betah di sini, ya?“


Keluarga kecil itu pun pulang.


Saat semuanya sudah selesai, Yayan membantu Mikha beres-beres. Terlebih cuci piring.


“Mikha, apa kau betah di sini?“ tanya Yayan di sela-sela mereka membasuh piring.


“Di sini nyaman, bersih. Aku senang tinggal di sini, terlebih bersama Bu Sarah,” jawabnya dengan ekspresi datar.


'Oh, ya … sampai kapan ibu akan berada di sini? Apa sampai aku mengonfirmasikan kapan aku menikah?'


Tiba-tiba Yayan mendapat panggilan dari Rinto meminta untuk datang ke tempat mangkalnya.


'Hmm … kebetulan sekali!' Yayan tersenyum. Di berpikir bisa sedikit menemukan titik terang dari identitas asli dari Aida.


“Kau tersenyum?“ Mikha menunjuk Yayan pada bibirnya yang melengkung.


“Ada sesuatu yang membuatku gembira.“


.


.


.


.


Yayan mendapat panggilan lagi, kini dari Nesa. Dia sekalian untuk pergi ke taman itu.


Yayan langsung pergi ke tempat mangkalnya Rinto.


Rinto terlihat membawa Wulan, gadis cilik itu tertidur pulas di pangkuan ayahnya.


“Wulan ikut?“


“Akhir-akhir ini dia memang selalu ikut aku kemana-mana. Dia berkata cuma kesepian!?“ beritahu Rinto seraya mengelus rambut putrinya.


Yayan melirik gerobak dagangan, “Nasi gorengnya sudah habis?“


“Maaf. Lain kali akan kusisakan satu porsi untukmu,” sesal Rinto.


“Tidak perlu dipaksakan. Lagian kenapa kau masih berjualan?“ tanya Yayan.


“Bukan apa-apa. Sudah menjadi rutinitas, aneh bila aku tidak berjualan. Saat aku mencari keberadaan wanita itu pun kusambi dengan berjualan keliling.“


“Maaf, sudah merepotkanmu.“


“Tidak!“ Rinto menggeleng. “Ini adalah balas budiku padamu, bos. Kau sangat berjasa pada keluargaku! Mungkin Wulan sudah menganggapmu sebagai ayah keduanya.“

__ADS_1


“Ayah kedua, ya?“ ulang Yayan menatap Wulan yang terlelap.


Waktu berbasa-basi selesai, Yayan langsung to the point. Rinto menjabarkan temuan barunya pada Yayan.


“Aku mendapat informasi ini dari seorang anak punk. Dia katanya pernah melihat wanita dengan ciri-ciri yang sama dengan Yani di Distrik Timur.“


Note: Aku tidak menggunakan setting dunia asli, tapi aslinya MC tinggal di Jakarta. Di sini kubuat, Distrik. Distrik Timur berarti Jakarta Timur.


“Apakah itu valid?“ tanya Yayan memastikan.


“Aku pun kurang tau. Namun, kita bisa coba untuk menyelidikinya.“


“Tidak. Itu menjadi tugasnya orang lain!“


Tepat setelah Yayan mengatakan itu, datang seseoy dengan penampilan mencolok. Rambut peraknya begitu menarik perhatian.


“W-woah, jadi gimana?“ Nesa anti yang namanya basa-basi, ia langsung membicarakan maksud kedatangannya. Ia sebetulnya sudah menyimak pembicaraan Yayan dan Rinto. Begini-begini ia jago mengendap-endap.


“S-silver fang?“ Rinto terlihat kaget saat melihat Nesa.


“S-silver … hei, itu julukanmu?“ tanya Yayan pada Nesa, tidak percaya.


“Bos tidak tau? Silver Fang adalah sebuah geng yang terkenal,” beritahu Rinto.


“Yah, aku kudet soal masalah geng-geng-an, sih. Jadi, apa istimewanya Silver Gang?“ tanya Yayan dengan penuh ketertarikan.


Dia mulai sedikit kagum dengan Nesa, rupanya kelompoknya begitu terkenal.


Si pemilik geng tidak menjawab, Rinto yang mengambil alih penjelasannya.


“Silver Fang terkenal untuk selalu membegal dan merampok orang-orang kaya, dan hasil jarahannya digunakan untuk sumbangan panti asuhan dan anak jalanan yang terlantar.“


“Huh?“ Yayan masih belum percaya 100%.


Dia terus menatap Nesa yang selalu memamerkan wajah ngantuknya. Remaja yang nampak pemalas itu punya niat sebaik itu, walaupun menggunakan cara yang salah.


'Robinhood di dunia nyata! Apa-apaan ini? Aku belum bisa mempercayainya!' batin Yayan.


Yayan selanjutnya memutuskan untuk mengintrogasi Nesa. Laki-laki itu tanpa ada yang ditutup-tutupi langsung menceritakan semuanya.


Nesa awalnya adalah anak buangan dari orang tuanya, ia dititipkan di sebuah panti asuhan. Ia tumbuh besar di sana, menjalin hubungan dengan saudara-saudaranya.


Akan tetapi, suatu ketika … panti asuhan ditutup karena tidak ada lagi yang mau menjadi donatur. Sejak saat itu, Nesa terpisah dari saudara-saudaranya dan ibu panti.


Ia tidak tahu menahu soal keadaan mereka. Masih hidup sampai sekarang atau tidak?


Nesa bertekad untuk tidak membiarkan panti-panti asuhan lain mengalami nasib yang sama. Ia selama ini telah mendanai banyak panti asuhan atau bahkan membangun panti asuhan baru.


'Yah, aku memang tidak boleh menilai seseorang dalam satu persepektif saja.'

__ADS_1


Yayan puas dengan cerita Nesa. Dia kemudian berganti topik.


“Rinto, sebetulnya aku punya sedikit pertanyaan untukmu. Dengan siapa sebetulnya kau berhutang?“


__ADS_2