
'Hmm … jika istriku bertambah, gimana jadinya nanti? Ketiga orang ini saja sudah bertambah beringas! Mereka lagi hamil lagi!'
Yayan melirik ketiga istrinya yang masih terlelap dengan kondisi tanpa busana dan memeluk dirinya dengan erat.
'Yah, sebaiknya pikiran nanti saja!“
Yayan memindahkan ketiga wanita itu dan mandi terlebih dahulu. Mereka akan sarapan bersama.
Setelah sibuk membersihkan badan ….
Yayan dan tentu saja ketiga istrinya, yah, mereka susah dipisahkan bila sang suami yang tidak berusaha menyelundupkan diri.
Mereka akan sarapan bersama di sebuah ruangan besar dengan meja makan panjang, selain dengan rombongannya sendiri, mereka juga akan makan dengan tamu hotel yang lain.
Saat sampai, Yayan tidak sengaja berpapasan dengan keluarga Rinto.
“Kak Yayan!“
Wulan langsung memeluk Yayan dan menyapa Vina, Andrea, dan Mikha.
Sementara itu, Yayan berusaha agar tidak melirik Aida. Istrinya Rinto pun begitu.
Mereka pernah melakukan hubungan yang seharusnya terlarang. Jadi, begitulah … mereka setiap melakukan kontak, keduanya sama-sama memalingkan muka.
'Huh, sudah beberapa bulan. Ayo, lupakan saja!'
“Selamat pagi,” sapa Rinto. Aida mau tidak mau juga jauh melakukan, itu adalah bentuk hormat atas jasa Yayan pada keluarganya.
“Ya, s-selamat pagi. Apa hotel ini cukup nyaman? Apa kalian bisa tidur dengan nyenyak?“
Rinto lantas memiringkan kepalanya sebab Yayan sudah menanyakan pertanyaan itu kemarin. Itu jelas tidak wajar, pertanyaan yang sama dilontarkan untuk kedua kalinya.
Yayan jadi ketahuan kikuk dan gugup. “Ah, siapa tau terjadi sesuatu yang membuat tidak nyaman, kan?“ Dia tersenyum masam. Selanjutnya sedikit mengalihkan topik pembicaraan dan itu berhasil.
Sedangkan Aida sendiri ….
__ADS_1
'Sadar Aida, kau punya suami dan anak! Yayan juga sudah berkeluarga. Ya, memang perlu diakui, waktu itu adalah pengalaman yang sangat berharga. Tapi, itu adalah hubungan terlarang! Tidak boleh melakukannya lagi!' Aida sibuk berperang dengan pikirannya sendiri.
Mereka sungguh tidak boleh dibiarkan berduaan, jika tidak … mereka akan kebablasan.
.
.
.
.
Babak kualifikasi festival Dewa perang dimulai hari ini. Peserta yang mendaftar sangat membeludak, jadi perlu mengecilkan jumlahnya. Adapun di putaran final cuma ada 32 peserta.
Ada 16 tempat berbeda yang menjadi venue pertarungan bebas itu. Sementara itu, Yayan kebagian tempat di sebuah stadion sepakbola. Ya, cuma stadion kecil milik klub swasta setempat.
“Babak kualifikasinya menggunakan sistem Round Robin. Setiap tempat terdiri dari 10 peserta. Menang mendapat 5 poin, kalah minus 1. Dua peserta dengan poin tertinggi
yang lolos ke putaran final cuma 2 orang!“ gumam Yayan yang sudah berdiri di tengah lapangan sepakbola, rumputnya sudah lapisi oleh semacam bahan pelindung agar rumputnya tidak rusak.
Sementara itu, kondisi di tribun sangat sepi. Mungkin yang hadir cuma kenalan para peserta. Babak kualifikasi memang tidak terlalu minat orang-orang. Tapi, lain cerita jika ada salah seorang yang membuat heboh jalannya kualifikasi.
Keluarga Rinto hadir untuk menonton, begitu juga dengan ketiga istrinya Yayan. Selain itu adalah kenalannya calon lawan yang bakal dihadapi oleh Yayan.
“Sayang, kalahkan dia! Aku yakin kamu pasti menang!“ teriak Vina dengan keras, ia sangat bersemangat. Andrea juga tidak mau kalah.
'Aku memang bakal menang, sih. Lawanku cuma kroco … ah, dia sepertinya tidak suka padaku?!' Yayan agak terkesiap melihat ekspresi dari lawan duelnya yang perlahan berjalan ke tengah lapangan.
Yayan cuma menatapnya dengan pandangan datar. 'Dia iri karena aku memiliki pasangan, malah tiga lagi!'
“Pria yang memiliki pasangan itu sampah! Mau-maunya diperbudak wanita!“ ucapnya ketus seraya menodongkan pedang yang ia bawa.
Penggunaan senjata memang diperbolehkan, tapi senjata seperti pistol tidak diperbolehkan.
'Eh? System bahasa apa tadi? Aku tidak mengerti!'
__ADS_1
[Bahasa spanyol, Host]
System menerjemahkan perkataan pria tadi.
Yayan cuma berkata, 'Heh?' dalam hatinya dan memandang datar dirinya. 'Dia cuma belum menerima apa itu rasa cinta sampai tidak sadar bahwa telah diperbudak.'
Duel di babak pertama, pertandingan ke-empat akan segera dimulai. Tidak akan ada wasit yang memimpin jalannya pertarungan. Di tengah lapangan hanya ada sebuah drone yang sedikit rendah di sekitar para peserta.
Pria Spanyol itu menguatkan kuda-kudanya, ia akan langsung mengambil kesempatan pertama saat pertarungan resmi dimulai.
“Mordem! Yayan! Ready … Go!“
Sebuah suara muncul dari si benda terbang. Si pria Spanyol langsung menyerang Yayan dengan sekuat tenaga.
'Tidak kena?' pikir si pria Spanyol yang bernama Mordem itu. Tusukan lurus mengincar dada kiri nyatanya malah mengincar ketiak Yayan, pedangnya tepat diapit.
'Sejak awal kau sudah masuk perangkapku!' batin Yayan yang menarik pedang milik Mordem. Pria Spanyol itu tidak sanggup mempertahankan pedangnya.
Yayan segala kilat sudah menggerakkan pedang itu menuju leher Mordem.
“Yap, aku pemenangnya!“ ucap Yayan bangga. Sedangkan Mordem cuma berkeringat dingin, ia kemudian jatuh terduduk.
Drone lalu mengumumkan pemenang pertarungan ke-empat adalah Yayan. Dengan begini poin milik Yayan adalah 5. Dia di papan peringkat berada di urutan 4 dengan jumlah yang poin sama dengan peringkat 1 sampai 3.
Keluarga Rinto dan trio istrinya Yayan seketika bersorak dengan keras.
Mordem nampak putus asa, ia menunduk dalam untuk meratapi kekalahannya.
'Dia berlatih keras untuk turnamen ini. Setelah mengetahui jika dirinya dikalahkan dalam waktu yang sangat singkat, pasti membuat frustasi. Dia padahal ingin bersaing dengan para darah murni yang mengikuti turnamen,' ucap Yayan dalam hati.
Dia kemudian beranjak keluar dari lapangan karena pertarungan kelima akan segera dimulai. Yayan menuju ruang ganti pemain lebih dulu.
Namun, siapa sangka saat dia menuju tribun yang merupakan tempat ketiga istrinya duduk. Pertarungan kelima berakhir begitu saja dengan salah satu pihak terluka parah, sebelah tangannya terpotong.
“Dia kejam sekali! Meski bakal menang dengan mudah, tapi dia terlalu berlebihan!“ komentar Andrea. Yayan setuju dengannya.
__ADS_1
Menurut Yayan sendiri … peserta itu cuma ingin menunjukkan kekuatannya saja, menakut-nakuti peserta lain.
'Di babak ini mungkin tidak semua pesertanya adalah keroco!? Yah, ini pun jadi semakin menegangkan!'