
Yayan tentu saja kaget dengan kedatangan orang tuanya yang mendadak. Tidak memberi kabar sama sekali, tau-tau sudah ada di kosannya.
Yayan pun bergegas pulang. Dia nanti akan berpura-pura izin pulang lebih cepat. Dan juga dia telah menyembuhkan luka-luka akibat dari pertarungannya dengan Saka. Dia tidak ingin ditanyai oleh ibunya yang cerewet.
“Kenapa tidak memberi kabar?“ ucap Yayan membuka pintu dengan keras, nafasnya terengah-engah.
Yayan menelisir kesemua area yang bisa dilihat oleh matanya. Dia menaikkan sebelah alisnya dengan bingung.
“Tidak ada?“ Yayan langsung melihat area di sekitar pintu masuk. “Tidak ada sandal! Apakah tadi cuma omong kosong! Yah, mana mungkin ibu ke sini. Untuk apa?“ Yayan terkekeh, merasa lega bahwa hal yang ditakutkan tidak kesampaian.
“Lho? Yayan, kau sudah pulang?“
Yayan mendapat jackpot tidak terduga. Dia secara perlahan berbalik merespon keterkejutan dari seseorang yang baru datang itu.
“A-aku izin, sih. Ya, itu karena ibu mengabari bahwa akan datang,” ucap Yayan canggung.
Dia disambar sebuah pelukan dari wanita yang telah melahirkannya. Itu adalah obat kerinduan setelah hampir setahun tidak bertemu. Yayan membalas pelukan ibunya.
“Kau sehat-sehat saja, 'kan, Yan?“
“Ya, aku pasti berusaha untuk baik-baik saja.“
Seorang anak akan selalu dianggap sebagai anak kecil, mau berapa pun usianya. Hal itulah yang membuat canggung dirinya, sebab ada keberadaan orang lain, yaitu Andrea.
Meskipun malu disaksikan oleh Andrea yang tersenyum cengengesan, Yayan tidak berniat melepaskan pelukan ibunya.
“Kau sudah jadi orang yang sukses, Yayan!“
“Ya, dan itu berkat ibu.“
Ibunya Yayan melepaskan pelukan setelah puas menghilangkan rindu. Sang anak pun mempersilahkan untuk masuk ke kos-kosannya yang sederhana.
“Hmm … kenapa kau lebih suka ngekos daripada ngontrak rumah?“ celetuk ibunya, memerhatikan sekeliling. Ia sedang mengevaluasi kondisi kos-kosan anaknya.
“Aku sedang menabung untuk membeli rumah. Untuk apa ngontrak?“ kilah Yayan. Dia sedari dulu memang sudah menabung. Namun, kini sudah tidak perlu. Yayan bisa mendapatkan uang dalam hitungan menit tanpa susah-susah berusaha.
Wanita dengan rambut hitam yang disanggul seperti konde itu manggut-manggut. Keriput-keriput di wajahnya tertarik mengikuti sudut bibirnya yang melengkung ke atas. Ia kemudian menatap Yayan dan Andrea.
“Sepertinya ibu salah paham, wanita yang baru kau temui itu bukan siapa-siapa! Dia cuma teman satu kos-kosan!“ jelas Yayan.
Yayan memang paling jago meruntuhkan suasana hati dari ibunya.
“Tapi, kalian cocok, lho?“
“Ya, ya. Kami memang cocok! Yayan saja yang selalu menyangkal“ sahut Andrea, mengangguk-angguk dengan cepat.
“Cocok dari mananya? Andrea payah dalam tugas-tugas rumah tangga. Merebus air saja kadang tidak bisa,” beber Yayan secara acuh tak acuh.
__ADS_1
Perkataan itu begitu menohok bagi Andrea, memang sebuah fakta yang menyakitkan.
“Yah, tapi selain itu … dia memang wanita yang baik. Walaupun nggak bisa disebut terlalu baik juga.“ Yayan memalingkan muka saat mengatakan itu.
Andrea pun tidak menyangka Yayan bakal sedikit memujinya. Ia tidak jadi murung, Andrea malah lebih termotivasi untuk menjadi wanita yang sempurna bagi Yayan. Kurasa tidak mungkin, ada bagian dari diri Andrea yang tidak lagi terjaga. Ia jadi kecewa terhadap hal itu.
Ibunya Yayan yang bernama Sarah cuman ber-oh. Ia bisa menduga kini anak sulungnya telah memiliki hubungan yang dekat dengan beberapa wanita. Namun, kesemuanya belum ada yang bisa merebut hatinya.
Yayan selanjutnya pergi ke belakang untuk membuat minuman, dia meminta Andrea untuk menemani ibunya.
Andrea sedikit berbincang dengan Sarah. Ibunya Yayan itu bertanya, bagaimana Andrea bisa mengenal Yayan.
Andrea dengan semangat-semangatnya bercerita jika Yayan pernah menyelamatkan dirinya dari beberapa orang yang berniat memerkosanya. Yah, tentu itu bohong. Namun, tidak bisa disebut bohong juga.
“Sungguh? Yayan menghajar mereka semua! Aku tidak menyangka anak itu akan sangat gentle.“
“Gentle apa? Kau tidak bercerita yang aneh-aneh, 'kan?“ ucap Yayan yang datang membawa nampan berisi secangkir teh, dia menatap tajam Andrea.
“Aku cuma bercerita saat kau menjadi seperti pangeran!“ ucap Andrea terkekeh.
“Pangeran apanya? Bukan, bukan! Ibu tidak usah percaya! Aku mengenalnya saat ia mengemis minta makanan di depan kos-kosan.“
“Hei, aku tidak pernah begitu!“
Sarah tersenyum melihat anaknya beradu argumen dengan Andrea. Ia seketika menjadi sedikit terbengong. Yah, cuma memikirkan masa depan.
“Ibu! Bu?!“
Sarah sedikit tersentak dengan panggilan Yayan, ia tadi terbengong sebentar.
“Sampai kapan ibu akan di sini?“ tanya sang anak.
“Hmm … sampai kau menikah!“
“Huh, itu jelas-jelas akan sedikit lama. Hmm … kos-kosan ini sudah terlalu sempit! Mungkin aku bisa mencarikan tempat tinggal lain?!“
“Eh? Tidak usah, sebaiknya uangmu ditabung——”
“Aku sudah membeli rumahnya, Bu!“
“Huh?“
.
.
.
__ADS_1
.
Yayan kembali ke perumahan diamond town, padahal dia belum lama dari sana. Dia mengajak ibunya dan … sebenarnya bukan diajak, tapi memaksa ikut. Bisa ditebak, itu adalah Andrea.
“Kau memiliki satu unit rumah di perumahan ini?“ tanya sarah seakan tidak percaya. Setahunya, perumahan itu adalah tempat tinggal para golongan elit. Pejabat pemerintahan, artis-artis terkenal, dan pengusaha-pengusaha kaya.
Sarah tentunya tidak menyangka bahwa Yayan sanggup membeli sebuah rumah di sana.
“Ya. Ini adalah hasil dari kerja keras dan keberuntungan,” balas Yayan.
Yayan mengantar Sarah ke rumah seharga 5 miliar yang baru dibelinya.
“Ini rumahnya?“ takjub Sarah dengan mata yang berkaca-kaca. Ia memang ingin menangis. Anak yang dulu sudah dibesarkannya secara susah payah kini menjadi orang yang sukses.
'Mungkin untuk saat ini, aku memang belum bisa bicara secara gamblang. Dari mana uang yang kudapatkan?!' pikir Yayan, dia sedikit menguping suara hati dari ibunya.
Mereka bertiga kemudian masuk. Mikha menyambut, seperti biasa, wanita itu tidak banyak berekspresi.
“Yan, siapa dia?“ tanya Sarah. Andrea juga ingin bertanya begitu.
“Oh, ceritanya sedikit ruwet, sih. Tapi, ada kakek-kakek keras kelapa yang tertarik padaku dan memaksa agar aku mau menikahi anaknya. Yah, dan aku setuju, tapi masih dalam masa penjajakan,” beritahu Yayan dengan jelas.
Respon Sarah sedikit mengejutkan. Ia menyentuh dahi sang anak dengan punggung tangan. Sementara Andrea cuma memerhatikan Mikha dalam diam.
'Saingan baru.'
“Kau tidak sakit, 'kan? Apa syarafmu ada yang terputus?“ cemas Sarah.
Yayan menghembus nafas dengan malas, dia mempertanyakan logika sebagian orang.
“Tampang bukan segalanya!“
“Ya, ya. Cuma bercanda.“ Sarah mengulurkan tangannya pada Mikha. “Perkenalkan, aku ibunya Yayan. Kau dari klan Saka, 'kan?“
“Huh?“ Yayan terkejut. “Klan?“
.
.
.
.
Minta masukan ...
Aku sudah buat garis besar ceritanya sampai tamat. Lebih baik Harem atau setia pada satu wanita?
__ADS_1