Wanita Adalah Sumber Uangku

Wanita Adalah Sumber Uangku
Ch 37: Tantangan


__ADS_3

Yayan mendapat berita bahwa Yani resign dari perusahaan. Itu adalah hal yang mengejutkan, semua orang mengaitkannya dengan Yayan, putusnya hubungan mereka berdua yang terjalin beberapa tahun.


'Dia benar-benar serius! Aku perlu waspada kali ini,' pikir Yayan, dia kelihatan bengong di depan monitor PC.


“Hoi! Jangan bengong!“


“Kurang keras Vina!?“ timpal karyawan lainnya, agak terganggu dengan teriakan Vina. Sedangkan yang lain diam saja. Mereka telah mengetahui perangai dari wanita yang selama ini melajang, meskipun pria sekantor mengincarnya.


“Ya … habisnya, si Yayan ini!“ Vina menunjuk Yayan.


Pria itu menghela nafas. “Aku memangnya kenapa? Suaramu tadi … mungkin bisa memecahkan kaca!?“ ledek Yayan.


“Mulutku bukan toa!“ sangkal Vina. “Kenapa kau bengong! Sedih, kah Yani resign?“ sangkanya dengan nada meledek.


“Oh, apakah Yayan galau? Tidak bisa melupakan mantan?“ timpal seorang lainnya. Ia adalah si manager keuangan.


Namanya Intan, wanita berusia 23 tahun. Yah, lebih muda dua tahun dari Yayan.


“Tidak usah ikut-ikutan, manager! Aku memikirkannya saja tidak, kenapa aku harus galau? Dia mau resign, menghilang dari dunia … aku tidak peduli!“ tegas Yayan melakukan penyangkalan.


“Heh, lain di mulut, lain di hati!“ Vina masih berusaha mengganggu Yayan.


“Cih, terserah saja!“ balas Yayan muak.


“Huh, sudah-sudah. Begini saja Yan, agar kau tidak gelisah, galau, merana … lebih baik ikut aku saja?!“ ajak Intan.


“Kemana?“ tanya Yayan mengangkat sebelah alisnya.


“Ke lapangan. Nona Nazuna mengajakku untuk survey lapangan. Sampai saat ini, lahan untuk pembangunan pabrik masih belum ada,” jelas Intan.


“Hah? Bukannya kita sudah memberi penawaran yang bagus! Kita membeli tanah para warga 5 kali lipat dari harga normal, lho ?!“ heran Yayan.


Perusahaan tempat Yayan bekerja telah memberikan penawaran untuk warga yang rumah atau tanahnya akan dijadikan pabrik baru. Akan dibeli dengan mahal supaya mereka tidak keberatan.


“Lalu, apa yang mereka inginkan?“


“Yah, maka dari itu. Nona Nazuna akan melakukan negosiasi lagi!“ beritahu Intan.


'Nazuna? Bercanda? Dia bahkan belum lancar berbahasa Indonesia!' batin Yayan.


“Serius? Nona Nazuna?“ Yayan sungguh mempertanyakannya.


“Makannya kita harus ikut!“


“Ada-ada saja,” keluh Yayan.


Dia akhirnya menerima ajakan Intan. Saat jam makan siang, mereka bertiga akan pergi ke tempat yang mana akan dibangun pabrik baru untuk perusahaan.

__ADS_1


Dalam perjalanan ….


“Hmm … bodyguard Nona Nazuna dibawa semua, 'kah?“ tanya Yayan, melirik deretan mobil yang ada di belakang, mengiringi mobil yang ditumpanginya.


Yayan semobil dengan Intan, sama-sama duduk manis di belakang. Sudah ada orang yang menyetir untuk mereka berdua.


“Untuk jaga-jaga, kita tidak tau apa yang mungkin bisa terjadi. Ini adalah antisipasi untuk kejadian terburuk,” jelas Intan. Ia sibuk memainkan tabletnya, urusan kerja.


Selama dalam perjalanan, Yayan tidak banyak bicara. Dia tidak akrab dengan Intan, hubungan mereka di kantor hanya sebatas rekan kerja, tidak ada hubungan lain. Memilih diam adalah pilihan terbaik.


Di sela kegabutannya, Yayan terus memikirkan cara mengatasi Yani. Wanita itu kabur, itu menyulitkan. Selain itu, dia harus bersiap dengan teror yang bakal membayanginya dan orang-orang terdekatnya.


'Apa aku sewa bodyguard saja untuk mereka semua? Ya, itu lebih aman. Namun … yah, itu tidak praktis. Aku juga risih jika selalu diikuti. System … kau punya ide?'


[Belajar bela diri. Host bisa memilih cara instan, membeli skill System dari shop atau secara manual (berlatih)]


'Huh, kendalanya adalah spera. Susah mendapatkan mata uangmu. Misi tak selalu ada.'


[System bisa mengusahakan untuk memberikan misi harian, mingguan, dan bulanan. Spera bisa didapatkan, tetapi bukan dalam jumlah yang banyak]


'Ya, itu bagus. Sedikit tidak apa-apa asal teratur. Baiklah, mulai besok saja!'


[Dimengerti, Host. Misi harian, mingguan, dan bulanan akan aktif besok]


“Kenapa, Yan? Sudut bibirmu melengkung ke atas. Kau memikirkan sesuatu yang bagus?“ tegur intan yang secara tidak sengaja melihat seluas senyum tipis dari Yayan.


Intan cuma merespon dengan oh, ia berbalik dan melihat pemandangan dari kaca mobil.


'Apakah kesempatan itu masih ada?' batin intan seraya membuang nafas dengan jengah.


Yayan pun otomatis bisa mendengar suara pikiran intan yang ambigu.


Setelah lama dalam mobil, merasa jenuh dan suntuk. Mereka akhirnya sampai di lokasi yang bakal dijadikan pabrik baru.


'Wah, sampai diblokade! Sepertinya warga benar-benar menentang keras tanahnya untuk dijual!' pikir Yayan saat melihat tumpukan barang menghadang laju mobilnya.


Nazuna yang berada di dalam mobil paling depan keluar, diikuti oleh belasan bodyguard bertubuh besar.


“Meski ada bodyguard, sepertinya masih tetap beresiko. Aku melihat blokade ini saja sudah bisa menggambarkan perangai mereka,” komentar Yayan.


“Kau benar! Tapi, kita tidak ada pilihan. Kita harus mendapatkan tanah ini. Susah mencari lahan, hanya ini yang pas. Perusahaan bahkan sedikit membakar uang untuk pembangunan pabrik baru itu. Apakah penawaran yang kita ajukan itu merugikan?“ Intan nampak lelah mengurusi masalah itu, ia memijat keningnya.


“Yah, mungkin mereka ada di sekte 'Uang tidak bisa membeli kebahagian'. Kebersamaan dan kenangan yang ada di rumah mereka itu tidak bisa dibeli,” timpal Yayan.


“Omong kosong belaka!“ Intan hanya tersenyum geli sambil geleng-geleng kepala.


“`Aku juga berpikir begitu. Hanya 0,00001% manusia yang tidak butuh uang!“

__ADS_1


Yayan dan Intan ikut keluar dari mobil. Kasihan Nazuna yang menghadapi massa sendirian.


“Pergi kalian! Kami tidak akan menjual tanah kami, bahkan sampai mati!“ teriak salah seorang warga dengan keras. Beberapa batu dilemparkan dari balik blokade pembatas.


Para bodyguard dengan siap sedia memasang badan untuk melindungi. Nazuna nampak panik, ia tidak tau harus berbuat apa. Hal seperti ini masih menjadi hal baru baginya. Di sisi lain, Yayan juga tidak tau harus melakukan apa untuk keluar dari situasi ini.


Uang kini tidak berguna, para warga tidak membutuhkannya. Sekarang yang berperan adalah kekuatan.


'Apa aku harus menggunakan mental out untuk bisa melancarkan proyek ini?' pikir Yayan.


“Semuanya tolong tenang! Kami di sini untuk iktikad yang baik. Beri kami sedikit kesempatan?!“ Intan mencoba menenangkan massa.


Lalu, sebuah batu lolos dan hampir mengenai Intan.


“Akhh … Yayan? Terima kasih,” ucapnya lega mengelus dada.


Batu yang hampir membuat benjol kepala Intan berhasil ditangkap sempurna oleh Yayan.


'Mereka memang terlalu anarkis!'


Yayan menguatkan tumpuan, batu yang berhasil digenggam lebih kuat. Dia menarik nafas panjang.


“Semuanya diam!!“ teriak Yayan.


Yayan melemparkan batu itu dengan sekuat tenaga, membentur baja ringan lalu menimbulkan suara gemuruh seperti geledek. Semua orang sontak berhenti berteriak dan melemparkan batu.


Setelah berhasil mendapat atensi, Yayan malah menjadi bingung ingin berucap apa.


'Aduh, sial!'


“Kami di sini datang baik-baik. Jangan membuat kerusuhan! Di sini ada wanita yang bahkan tak tau apa-apa. Kami bisa melaporkan kalian atas tuduhan penyerangan!“ ucap Yayan lantang.


Intan yang berada di sampingnya pun tidak bisa berkata apa-apa. 'Apa ini benar-benar Yayan? Sangat jauh dari bayanganku. Kukira dia lebih pendiam!'


'Aku terpaksa manager, aku terpaksa!' Yayan menimpali suara hati dari intan.


“Oh, maksud baik-baik? Baiklah, kita buat lebih simpel saja.“


Seorang pria tua membuka sedikit blokade dan berjalan mendekati rombongan Nazuna. Para bodyguard bersiap siaga.


“Tenang saja! Ini akan cepat, kita selesaikan perselisihan ini dengan sebuah permainan,” ucap pria yang memakai ikat kepala hitam, sebagian rambutnya telah memutih.


“Permainan?“ ulang Yayan dan Intan.


“Kau … laki-laki di sana! Ayo kita duel!“


“Hah?“ Yayan tentu saja terkejut.

__ADS_1


__ADS_2