
“Hei, Yan! Kenapa tidak memberitahu jika ada lembur? Kau pulang terlalu laru——”
“Bukan saatnya Andrea! Aku buru-buru!“
Yayan langsung nyelonong masuk ke dalam kos-kosan. Dia mengabaikan Andrea yang sebetulnya setia menunggu kepulangan Yayan, wanita itu begitu bersemangat menunggu kepulangan pujaan hatinya.
Ada sesuatu hal yang ingin ditunjukkannya, meskipun bukan sesuatu yang wah, malah bisa dibilang sepele. Namun, Andrea ingin mendapatkan tanggapan soal hasil masakannya. Ia berusaha mati-matian seharian agar bisa memasak dengan benar.
Akan tetapi, Andrea sepertinya harus mencobanya lain kali.
Wanita itu mencoba menenangkan diri, melupakan kejadian tadi. Ia ikut masuk dan menyusul Yayan. Pria itu terlalu tergesa-gesa, pasti ada hal yang penting.
“Yan, apa yang kau cari?“ tanya Andrea melihat Yayan menggeledah nakasnya.
“Hanya sebuah kartu nama. Nah, ini dia!“ Yayan menemukan kartu nama yang dimaksud.
Dia menerimanya dari seseorang yang hampir menjadi korban tabrak lari bila Yayan tidak meneriakinya.
'Rinto bilang, orang yang telah menghutanginya adalah orang dari perusahaan ini? Tapi, siapa? Dia bilang lupa orang yang menghutanginya. Hmm … dari sana saja sudah mencurigakan,' pikir Yayan. 'Perusahaan itu harus kuselidiki.'
“Andrea, kau mau bekerja, 'kan?“ Yayan menoleh pada wanita di belakangnya. Andrea kaget, tidak menyangka akan mengungkit-ungkit obrolan mereka tadi pagi.
“Y-ya, tentu saja.“
“Bagus, aku akan memasukkanmu di perusahaan yang bagus.“
“Di mana? Aku mau sekantor denganmu!“
Saat melihat ke wajah manyun Yayan, Andrea langsung luluh. Ia langsung meralat perkataan yang sebelumnya.
“Baiklah, aku akan menurutmu. Tapi, sebagai gantinya … b-bisakah malam ini kita melakukan 'itu'?“ ucap Andrea sedikit ragu. Yayan bisa saja menolaknya.
“Huh, ya, boleh saja. Mau berapa ronde?“
Wajah Andrea yang tadinya sedikit murung kembali ceria, ia bukan main senangnya.
“Aku kali ini pasti menang. Aku akan membuatmu keluar lebih dulu!“ tantang wanita itu.
“Kita lihat saja nanti! Umm … apa di dapur ada makanan? Aku sebetulnya sedikit lapar,” pinta Yayan yang mengelus perutnya.
“Ada, ada. Tolong, tunggu sebentar! Aku akan memanaskannya sebentar.“ Andrea terburu-buru pergi ke dapur, tapi karena saking semangatnya. Ia sampai terbentur tembok.
Jdug …
“Hei, kau tidak apa-apa?“
“Ya, ya … aku baik-baik saja. Yan, tolong tunggu sebentar, ya?!“
__ADS_1
Yayan geleng-geleng kepala melihat tingkah wanita itu. Dia saat di teras sudah mendengar apa yang disuarakan hatinya Andrea.
Ia menunggu Yayan berjam-jam untuk menunjukkan hasil jerih payahnya, yaitu memasak. Yayan akan jadi sangat merasa bersalah bila mengabaikan usahanya Andrea.
Sekalian menunggu Andrea, Yayan pergi ke kamar Azka dan Aji. Kedua pelajar SMA itu masih belum tidur, keduanya asyik bermain ponsel, sibuk dengan dunianya masing-masing.
“Ada apa, Yan?“ Azka yang pertama menyapa, ia melepas sejenak earphone yang menempel di telinganya.
“Kalian mau pekerjaan?“
“Tentu saja mau,” balas Azka dan Aji secara serempak.
“Tapi, di mana? Apakah di kantormu?“ tanya Aji.
“Bukan, di perusahaan lain. Namun, aku jamin kalian bakal diterima di situ,” ucap Yayan yakin. “Jika kalian memang berminat, aku bisa langsung mengakomodasinya.“
“Ya, kami setuju. Lagian, kami sudah menyelesaikan ujiannya. Mungkin tidak masalah stop sekolah lebih awal. Tapi, ini harus beneran, lho? 100% diterima!“ Azka mewanti-wanti.
“Tenang saja, kalian benar-benar akan diterima. Kalian juga akan bersama Andrea. Dan ada sebuah misi khusus untuk kalian.“ Yayan sedikit menyeringai, Azka dan Aji sedikit curiga.
Sementara itu, Andrea sudah kembali dari dapur membawakan sepiring nasi lengkap dengan lauknya.
“Yan, kau di sini? Umm, maaf, aku cuma bisa masak ini.“ Andreas dengan malu-malu menyerahkan piringnya. Yang tersaji di piring itu cuma nasi putih, tahu-tempe, sayur bening.
Yayan melirik Azka dan Aji.
“Tidak apa-apa, ini lebih dari cukup.“ Yayan mencoba menyuapi mulutnya dengan satu sendokan.
Jantung Andrea berdebar-debar, ia sungguh mengharapkan respon baik dan bukan sebaliknya. Ia sungguh takut bila Yayan kecewa atau bahkan memuntahkan kembali makanannya. Yah, namun Yayan tidak sekejam itu.
Yayan mulai mengunyah nasi dan tahu-tempe secara bersamaan, lidahnya sedang merasakan rasa yang dihasilkan oleh makanan itu.
“Hmm … gimana, ya?“ Yayan sedang mencoba menggoda Andrea.
Yayan tidak menunjukkan perusahaan ekspresi yang berarti, jadi susah ditebak bagaimana rasa sebenarnya dari makanan itu.
Andrea sudah panik duluan, tapi komentar dari Yayan tidak seburuk yang ia kira.
“Masakanmu masih buruk, Andrea! Walaupun masakan sederhana seperti ini, yang mana bocah SD bisa memasaknya. Tapi ….“ Sebuah senyuman terukir sekilas di wajah Yayan.
“Siapa peduli dengan kau yang kalah berbakat dengan anak SD. Terpenting kau sudah berusaha, 'kan? Aku yakin kau memasak ini pasti dari video tutorial. Itu sudah lebih dari cukup, Andrea! Apa kau pikir aku bakal marah?“
Andreas dengan polos mengangguk.
“Itu karena kau malas, kau tidak mau berusaha! Kau nolep!“ Yayan dengan gemasnya mencubit pipi Andrea sampai melar.
“A-a-a … s-sakit!“ Ia mengerang kesakitan, tapi diiringi dengan senyum kebahagiaan.
__ADS_1
Azka dan yang melihat pemandangan itu cuma bisa memasang wajah datar, keberadaan mereka seakan tidak ada.
“Hei, sebetulnya Yayan itu punya bakat menjadi buaya. Berapa banyak gebetannya? Mungkin kau harus belajar darinya untuk mendapatkan cewek!“ gumam Azka.
“Ya, bahkan bocah-bocah SMA juga diembat.“ Aji menjawab dengan hampa.
“Meski begitu, kenapa Yayan tidak memacari salah satu dari mereka? Apa yang dia tunggu? Dia tidak mencintai salah satu dari mereka?“ sambung Aji.
Ya … itu menjadi suatu yang besar untuk sekarang. Namun, jawabannya ada di chapter awal.
.
.
.
.
Yayan kembali ke kamar kos-kosannya sendiri, menikmati waktu sendiri yang berharga, karena sebentar lagi Andrea akan datang dengan baju dinasnya yang haram.
Yayan berkutat dengan laptop, mencari informasi tentang perusahaan dari pria yang pernah dia selamatkan.
“Wira? SATA Telcom? Dua perusahaan yang merger, SATA dan Telcom. SATA adalah perusahaan yang bergerak di pembuatan barang-barang elektronik seperti ponsel, TV, dan sebagainya … sedangkan Telcom adalah perusahaan telekomunikasi seluler. Hmm … ngomong-ngomong kenapa bisa merger?“
Yayan kemudian mencoba melakukan pencarian tentang alasan kenapa dua perusahaan itu melakukan merger. Dan yap, tidak ada informasi yang valid di internet. Semua artikel yang muncul cuma sebatas spekulasi yang belum tentu kebenarannya.
“Ini menjadi semakin mencurigakan! Hmm …. mungkin aku bisa mendapatkan perusahaan ini. Ini sebagai topengku, dari mana aku mendapat uang. Tidak mungkin aku selalu menjawab trading dan menang lotre.“
Yayan sedang memperhitungkan rencananya untuk ke depan.
[Misi bulanan dikonfirmasi]
[Ambil alih perusahaan SATA Telcom]
[Reward: 1 juta spera]
[Batas waktu: 1 bulan dari sekarang]
“Nah, gitu dong! Gini kan jadi semangat. Satu juta poin … hmm, fitur shop milikmu tidak akan sia-sia lagi, System!“
Tok … tok … tok …
“Yan, kenapa berisik sekali? Kau berbicara dengan siapa?“
“Ah, Andrea,” gumam Yayan pelan.
“Hanya bergumam sendiri. Kau boleh masuk.“
__ADS_1
Sesuai prediksi Yayan, Andrea sudah memakai baju dinasnya.