
Beberapa hari setelahnya ….
Untuk keperluan berlatih, Yayan sampai harus repot-repot membeli sebuah sasana. Ya, untuk pribadi. Dia memang merogoh koceknya agak dalam, tapi itu bukan masalah.
Yayan hari ini tidak berangkat ngantor lagi. Sudah hari ke berapa dia absen dalam bulan ini? Itu sudah melebihi batas. Normalnya Yayan akan mendapat peringatan keras atau bahkan langsung di PHK. Apalagi perusahaan sedang sibuk-sibuknya,
Karena jasanya tempo hari, berhasil mendapatkan lahan untuk pembangunan pabrik baru. Yayan kini dibebaskan tugas selama seminggu. Jasanya itu tergolong besar, harusnya mendapat bonus dan kenaikan jabatan. Namun, Yayan memilih untuk libur panjang
“Wanita bermata merah itu hebat!“ celetuk Vina, ia takjub dengan gerakan-gerakan akrobatik yang dipertontonkan di hadapannya.
Vina sedang menyaksikan sparing antara Yayan dan Mikha, duel senjata. Kedua-duanya memakai tongkat kayu panjang.
Ia juga tidak pernah menyangka bahwa Yayan, pria yang dikiranya tidak bisa bela diri. Kini pamer kemampuannya menggunakan tongkat.
'Sejak kapan Yayan bisa bela diri, terlebih lihai menggunakan senjata?' batinnya.
Kemudian, seorang wanita lain merapat ke arah Vina.
“Hei, kau tau?“
“Aku tidak ingin bicara denganmu!“ Vina bergeser, ia tidak ingin dekat-dekati dengan si pendatang baru.
“Cih, aku sebetulnya juga tidak mau bicara denganmu. Tapi, ini demi rivalitas kita! Aku tidak mau ada rival tambahan. Apalagi wanita itu … dia sungguh sempurna?“
“Apa yang kau bualkan, Andrea? Rival apanya? Kita bersaing untuk apa?“ Vina terkekeh, ucapan Andrea memang lucu.
“Dengar saja dada kecil! Kau mungkin bisa mengungguliku, tapi kau tak mungkin bisa menang dengan wanita itu, di bidang apa pun!“
Vina seketika berhenti tertawa, dia menoleh pada Andrea.
“Pertama-tama, jangan selalu mengusik ukuran asetku! Mentang-mentang punyamu lebih besar! Yang kedua … sesempurna apa pun dia! Pasti punya kekurangan!“ ucap Vina panjang lebar, menyangkal argumen Andrea.
Ia kembali memerhatikan Mikha. Sekali lihat saja, mungkin semua orang langsung luluh padanya. Selain cantik, ia hebat dalam bidang lainn, misalnya bela diri. Vina tiba-tiba merasa minder.
Sparing antara Yayan dan Mikha selesai. Sarah, ibunya Yayan mendekat dan memberikan minuman untuk mereka berdua.
Yayan lalu menuju ke arah Vina dan Andrea.
“Hei, tumben akur? Pada kesambet apa? Lagian, kenapa kalian tidak berlatih?“ tanya Yayan seraya mengelap keringat di pelipisnya dengan handuk kecil.
“Di mana pelatihnya?“ sembur Andrea manyun. “Dan perlu dipertegas, aku tidak mau berteman dengan Vina!“
“Si kakek itu? Mungkin akan sedikit terlambat. Tunggu saja!“
Sementara itu, Vina memerhatikan Mikha yang ikut mendekat ke arah mereka.
'Yayan juga dalam masa penjajakan dengannya. Jika merasa cocok …. mereka akan ….'
“Yan, aku mau sparing dengan Mikha!“
“Hah?“ Andrea yang paling terkejut.
__ADS_1
'Apa dia tidak menggubris peringatanku tadi?' batin Andrea.
“Dengan senang hati.“ Mikha menyambut dengan baik, ia sedikit memamerkan senyumnya.
“Kau yakin?“
“Tentu saja. Tapi, aku tidak mau duel senjata. Duel tangan kosong.“
Yayan menatap Vina lekat, meminta berpikir ulang. Pada akhirnya, Yayan menghembus nafas malas. “Terserah kau saja.“
Vina begini-begini bisa sedikit bela diri, terutama Muay Thai dan karate, meskipun tingkat dasar.
“Aku ganti baju dulu.“
Vina berlalu untuk ganti baju yang sesuai. Dan tak berselang lama, sang guru yang akan mengajar akhirnya tiba. Ia adalah Saka.
Azka dan Aji yang sebelumnya asyik sendiri mendekat ke arah Yayan.
“Nah, latihan yang serius! Kau harus bisa menjaga dirimu sendiri!“ peringat Yayan.
“Iya, iya ….“ Andrea ikut berlalu pergi untuk ganti baju.
Vina telah bersiap-siap, Mikha pun telah menunggu di arena. Yayan dan lainnya langsung terfokus pada duel itu, begitu tertarik. Semua orang menghentikan aktivitasnya untuk melihat duel antar dua orang wanita.
Saka akan berperan menjadi wasit.
'Huh, apa aku bisa mengalahkannya? Tidak, apa aku bisa meladeninya?' pikir Vina menggertakan giginya, menguatkan kuda-kuda.
“Kalian siap?“
Baik Vina maupun Mikha menguatkan kuda-kuda masing-masing.
“Baiklah, mulai!“ seru Saka.
Vina yang menyerang duluan, ia mengayunkan tendangan tinggi mengincar kepala Mikha.
Buaghh!
Mikha menahan tendangan Vina dengan tendangan yang sama. Sekilas, sudah nampak jurang besar antara Vina dan Mikha.
Tubuh Vina bergetar, menahan benturan yang hampir membuatnya terjatuh.
'Berat?' pikir Vina, ia mengambil langkah mundur kemudian mulai menerjang Mikha.
Ia melakukan tinju lurus mengincar kepala. Mikha dengan mudah mengelak, di saat yang bersamaan serangan balasan datang. Tidak terlalu keras, Mikha cuma mendorong Vina.
Vina tidak mau menyerah, ia menyerang, berusaha meningkatkan kecepatan serangan. Namun, di hadapan Mikha itu tidak berarti. Ia dengan gerakan yang anggun berhasil mengelak, bahkan sesekali melancarkan serangan balasan yang berupa dorongan.
'Apa-apaan dia?“
Vina sedikit tersulut emosinya, perlakuan dari Mikha seolah-olah sangat merendahkannya.
__ADS_1
Wanita yang bekerja sebagai pegawai kantoran itu menyerang dengan emosi yang meluap, terjadi sedikit peningkatan kekuatan di setiap serangannya.
'Ada apa dengan Vina? Gerakannya semakin kacau! Dia asal menyerang!' komentar Yayan dalam hati. Dia bisa menilai bahwa Vina sangat berhasrat untuk mendaratkan pukulan pada Mikha.
Vina dibuat menari-nari oleh Mikha, serangan seperti apa pun tidak ada yang sanggup mengenainya. Mikha bahkan belum menitihkan setetes keringat, sangat berbanding terbalik dengan Vina.
'Ayo, kena! Kena! Sehebat apa pun dia! Jika aku terus menyerangnya tanpa henti … aku pasti bisa mengenainya!' Sayangnya, itu cuma pemikiran naif dari Vina.
Buaaghh!
“Huh?“
Mikha berhasil menangkap tendangan lurus yang mengincar perutnya.
“Maaf.“
Mikha melakukan pukulan dengan tenaga yang besar mengincar perutnya.
Buaghh … wush …
Vina terhempas sampai keluar dari arena yang sebetulnya sudah diperbesar dari ukuran normal.
Yayan dengan sigap menangkap Vina supaya ia tidak membentur dinding.
“Pemenangnya adalah Mikha.“
Memang tidak ada yang peduli dengan kemenangan Mikha, sedari awal wanita itu sudah menang. Yayan dan yang lainnya cuma ingin melihat perlawanan dari Vina.
Andrea mendekat, ia langsung bertanya. “Gimana keadaannya?“
“Dia hanya pingsan. Kau tidak perlu secemas itu!“
“A-aku bukannya cemas. Tapi ….“ Andrea melihat Vina yang pingsan dalam dekapan Yayan.
“Kau lanjutkan latihanmu. Aku akan menyadarkan Vina.“ Yayan membopong Vina ke tempat yang lebih aman.
'Dasar Vina!' Yayan cuma geleng-geleng kepala saat melihat wajah Vina.
Vina sedikit menggeliat, sepertinya pukulan Mikha tidak terlalu kuat. Ia akan sadar. Sedangkan kondisinya sedang di bawa ke kamar ganti.
“Kau sudah sadar, Putri tidur? Huh, tindakanmu itu nekat sekali! Beruntung Mikha tidak bertarung serius!“
“Itu yang membuatku kesal! Dia sangat meremehkanku.“ Vina memalingkan muka, ia sebetulnya malu dengan gendongan ala-ala tuan putri di dongeng-dongeng.
“Ya, aku bisa melihatnya,” balas Yayan santai.
“Aku ingin mengalahkan Mikha!“
“Ambisi yang bagus.“
Yayan sampai di ruang ganti.
__ADS_1
“Aku ingin tidur, Yan. Bisakah aku meminjam pahamu untuk kujadikan bantal?“