Wanita Adalah Sumber Uangku

Wanita Adalah Sumber Uangku
Ch 53: Sebuah fakta, benang merah!


__ADS_3

Yayan pulang ke kos-kosannya, seluruh penghuninya tidak ada dan kebetulan si pemilik kos-kosan lewat. Ia menegur Yayan.


“Kau tidak bekerja, Yan?“ tanya Bu Salma, ia mendekati Yayan.


“Absen, ada sedikit urusan.“


“Hoh … tapi, dipikir-pikir kau hampir setiap hari absen. Sudah mulai tidak betah dengan pekerjaanmu?“ Bu Salma menerka-nerka.


“Nggak juga, sih. Huh, yah … bukannya seolah sok sibuk. Tapi, aku memang memiliki banyak urusan di luar kantor … lebih penting!“


“Hoh, terserah. Terpenting kau selalu punya uang!“ Bu Salma menepuk bahu Yayan kemudian pergi.


“Punya uang, tapi nganggur pasti dicurigai yang tidak-tidak,” gumam Yayan, dia segera masuk ke dalam kos-kosan.


Kos-kosan kini sepi, mereka semua sedang bersama Nesa, entah melakukan apa. Mungkin saja tengah melakukan latihan militer.


Yah, Saka sedang sibuk. Tidak bisa melatih Andrea dkk.


Yayan cuma mandi dan berganti baju. Setelah itu dia memberi kabar pada Andrea dan yang lain bahwa dia sedang berada di rumah sakit. Bisa saja Andrea mencari-carinya.


Yayan langsung tancap gas kembali ke rumah sakit mengendarai motor. Perjalanannya berjalan mulus, tidak ada hambatan, tidak ada yang mengekori. Luna sementara tidak akan membuntuti Yayan. Apalagi, suruhan Yani. Wanita itu juga sementara tidak mungkin mengirimkan orang untuk mengusik Yayan. Ia kemungkinan tahu bahwa Yayan sedang memburunya.


Yayan telah sampai di rumah sakit, dia membawa parsel buah. Yayan juga mampir sebentar ke rumah Vina untuk mengambil kebutuhan Vina di rumah sakit seperti baju ganti.


Yayan masuk ke ruangan Vina tanpa mengetuk pintu, dia yakin bahwa Vina masih tertidur. Kenyataannya berbanding terbalik, Vina terlihat sudah bangun dan duduk bersandar. Ia nampak bengong sesaat sampai Yayan muncul.


Vina tersenyum dan berkata. “Kamu banyak bawa barang?“


“Banyak? Cuma parsel dan beberapa baju gantimu,” ucap Yayan yang berlalu ke kursi di samping ranjang. Dia meletakkan parsel di meja.


“Kamu pengertian dan perhatian juga, ya? Kenapa nggak dari dulu?“ gurau Vina meledek.


“Apakah masih perlu dipertanyakan?“ Yayan mendecih. Vina sontak tertawa kecil melihat ekspresi kesal dari pacar, bukan, calon suaminya.


“Sejujurnya aku masih belum percaya. Aku masih menganggap ini mimpi.“ Nada bicara Vina berubah, ia menunduk, mencengkeram selimutnya dengan kuat. “Padahal aku masih banyak kekurangan, aku tidak seperti Mikha?“


“Lha? Kenapa kau malah jadi rendah diri begini?“ Yayan mendekat, membelai pipi Vina. Wanita itu mendongak, menatap lekat Yayan.


“Kenapa aku memilihmu? Yah … jawabannya sama dengan jawabanmu. Kau lebih dari Mikha.“ Yayan mendekatkan wajahnya pada Vina.


“Kau tidak perlu memikirkan apa pun lagi. Aku memilihmu … ini buktinya! Anggap saja sebagai pemanasan.“


Vina sudah tahu scene selanjutnya, jadi ia reflek memejamkan mata. Sedangkan Yayan semakin mendekatkan wajahnya, kini mereka bisa merasakan hembusan nafas satu sama lain. Apalagi Vina, ia merasakan wangi tubuh Yayan dari jarak yang sangat dekat.

__ADS_1


Vina pasrah bila Yayan melakukan itu, toh mereka sebentar lagi akan menjadi sepasang suami istri. Namun, nasib tidak merestui.


Tok … tok … tok …


Yayan dan Vina reflek menjauh satu sama lain, mereka pura-pura tidak terjadi apa-apa.


'Huh, ada pengganggu di saat yang tidak tepat,' ucap Yayan sedikit kecewa. Dia melirik Vina dan mendengarkan suara hatinya secara seksama.


'Sepertinya dia sangat kesal dan marah!? Huh, tolong jaga dirimu …. siapa pun yang hendak masuk! Kau sudah melakukan kesalahan besar!' Yayan mewanti-wanti dalam hati. Mood Vina sudah jatuh sampai dasar.


Orang yang masuk adalah seorang dokter, lebih mengejutkannya lagi, Yayan sudah pernah berpapasan dengannya. Dokter Anju, baik Yayan maupun dokter muda itu sama kagetnya, tapi keterkejutan itu tidak berlangsung lama.


Dokter Anju menyapa Vina dan Yayan, ia beralasan ingin mengurus soal masalah infus.


“Kenapa mbak Vina nampak manyun? Apa ada sesuatu?“ tanya dokter Anju.


“Bukan apa-apa!“ balas Vina.


Dokter Anju sedikit memiringkan kepalanya karena bingung, ia takut penyebabnya adalah dirinya. Namun, pada akhirnya si dokter nampak tidak peduli. Ia berlalu menuju infus.


'Mengurus infus? Untuk apa? Diganti? Padahal masih belum habis?' bingung Yayan melihat dokter Anju mencoba mengganti infusnya Vina.


Dokter Anju telah selesai mengganti infusnya, ia kemudian tiba-tiba mengeluarkan sebuah suntikan dari saku depan jas medisnya.


Yayan kemudian mendorong dokter Anju merapat ke tembok.


“Apa yang sedang coba kau suntikkan?“ tanya Yayan dengan sorot mata tajam. Dia menekan bahu dokter Anju dengan kuat hingga merasa kesakitan.


“A-aw, m-mungkin ini salah paham. T-tapi tadi cuma——awww, Mas. Anda cuma salah paham!?“ erang dokter Anju, ekspresi wajahnya jelas menunjukkan rasa sakit.


“Yan?“ ucap Vina cemas, ia sungguh tidak tau apa-apa.


“Tidak apa-apa. Orang ini punya niat buruk padamu. Tentu saja tidak bisa dibiarkan.“


Yayan mendengar semua rencana dari dokter itu, suara hatinya sangat berisik. Ini juga adalah sebuah keberuntungan, ya si pelaku adalah wanita … jadi, Yayan bisa langsung tau ada niat tersembunyi.


“Kau, dokter gadungan!? Salah satu komplotan penjual organ manusia?“


Di dokter melebarkan matanya sangat terkejut. Ia tidak menyangka ada seseorang yang bisa mengetahui rencananya.


“A-apa maksudnya?“


“Jangan mengelak!“ kesal Yayan, dia memegang dagu dokter Anju untuk memaksanya bertatapan mata.

__ADS_1


'Ya, aku perlu melakukan variasi soal skill Mental out!' pikir Yayan. Dia mencoba untuk membaca pikiran dan ingatan si dokter.


Yayan menyelam jauh di ingatan si dokter, beragam kejadian terlewati. Yayan bisa melihat semuanya, dengan siapa saja si dokter pernah berhubungan. Saat Yayan menyelam ke waktu beberapa bulan yang lalu.


'Apa?' Yayan tercengang. Pegangan terhadapnya mengendur, itu langsung dimanfaatkan untuk kabur. Yayan lengah sesaat.


Akan tetapi, si dokter gadungan tetap tidak bisa lolos.


Buaghh!


Vina memukulkan benda tumpul berupa vas bunga yang ada di meja, tepat di tengkuk dengan cukup keras, dokter Anju seketika kehilangan kesadaran.


Vina merosot jatuh seraya memegangi infusnya. Ia cukup kelelahan.


“Yan?“ panggilnya lemah.


Yayan langsung tersadar lalu membantu Vina kembali ke ranjang.


“Apa yang terjadi? Kenapa dengan dokter itu? Dia orang jahat?“ tanya Vina yang sedikit ketakutan.


“Ya, dia berniat jahat padamu. Tapi, sekarang tidak apa-apa. Kerja bagus, Vin!“ ucap Yayan berupaya menenangkan Vina, dia menyibak poninya, mengelus-elus rambut.


“Kau cukup nekat!“


“Jika tidak begitu, dia bisa kabur! Dan kenapa kamu tadi sempat lengah?“ tanya Vina.


“Yah, itu … tidak usah dipikirkan!“


Yayan tidak tau harus beralasan apa. Beruntung Vina tidak terlalu mendesaknya, ia cukup menghargai Yayan yang tidak mau cerita.


Selanjutnya Yayan mengurus si dokter. Dia menyembunyikannya sementara dan memburu kompolotannya yang berkeliaran di rumah sakit.


Yayan sudah melihat semua bentuk wajah kompolotannya, jadi dia tidak kesulitan untuk menemukan mereka. Yayan membawa bala bantuan, dia mengundang beberapa anak buah Nesa untuk mengurus para sindikat penjual organ ilegal itu.


Si dokter gadungan Anju dan yang lain akan diinterogasi oleh Yayan lebih lanjut. Mereka pernah berhubungan dengan seorang pria yang pernah menjalin hubungan dengan Yani.


Ya, itu alasannya Yayan tercengang ketika melihat isi ingatan dari Anju. Wanita itu pernah bertemu dengan bosnya yang memiliki kekasih. Dan kekasihnya itu adalah Yani.


'Wanita itu? Dia manusia, 'kah? Bukan, mungkin dipanggil iblis saja. Aku sungguh tidak pernah menyangka ini! Sewaktu kita pacaran … dia sudah menjalin hubungan dengan banyak pria!'


[Misi berhasil diselesaikan]


[Bantu dokter menyelesaikan masalahnya]

__ADS_1


[Selamat, host mendapatkan 5 poin kharisma]


__ADS_2