
Negara Rugia (negara fiksi)
Salah satu negara pecahan Uni Soviet. Negara ini tidak lebih besar dari pada kota Jakarta, penduduknya pun hanya sekitar 5 juta orang. Meski begitu, negara ini bisa dikatakan makmur, tidak seperti Indonesia yang kesejahteraan rakyatnya masih belum merata.
“Yap, ini negara Eropa pertama. Selamat datang di Rugia,” ucap Yayan dengan semangat setelah keluar dari pesawat.
“Jangan terlalu bersemangat, sayang. Kita di sini bukan cuma untuk liburan!“ Vina menepuk pundak suaminya dari belakang.
“Aku tau, tapi jangan terlalu kaku lah! Ayo, kita bersenang-senang selagi bisa!“
“Ya, kau harus tau Vin. Bahwa Yayan ini stress, tau! Jika terus-terusan memikirkan urusan bisnis,” timpal Andrea.
“Tidak ada yang meminta pendapatmu, Andrea. Yang cuma bekerja keras di sini cuma aku dan Yayan.“ Vina menatap Mikha. “Ya, Mikha juga … kau cuma bermalas-malasan di rumah!“ Vina mencibir, tersenyum menyeringai.
“Apa katamu? Jangan merasa si paling sibuk! Kau tidak tau bahwa aku sudah bekerja keras!“ Andrea tidak terima.
“Heh? Jadi, apa kerja keras yang kau lakukan itu?“
Mereka menjadi pusat perhatian beberapa orang. Yah, untung identitas Yayan masih belum terkenal jika di luar negeri, jadi tidak akan ada orang yang menghampirinya untuk meminta berfoto atau tanda tangan.
'Jika mereka akur mungkin dunia sedang tidak baik-baik saja!?'
“Sayang, ayo kita jalan dulu!“ ucap Mikha yang langsung menggandeng tangan Yayan.
“Ah, ya, ayo. Kita mau kemana dulu, Mikha?“
“Aku akan mengikutimu meski terjun ke jurang sekali pun!“ Seperti biasa, eskpresi wajah Mikha selalu datar. Tapi, entah kenapa terasa lucu Jika diperhatikan.
'Aku tidak sadar selama 4 bulan ini bahwa Mikha jadi sedikit bucin dan agresif. Dia selalu menang start dari Vina dan Andrea. Mereka berdua sampai kesal!'
Yayan dan Mikha berjalan lebih dulu. Begitu pula dengan rombongan keluarga besarnya.
“Hei, Vin. Sudah, suamimu sudah jalan jauh, tuh!“ Ibunya Vina mengingatkan, menunjuk Yayan dan Mikha yang berjalan lebih dulu.
“Ahh, Andrea … ini gara-gara kau!“
“Hah? Salahku? Jelas-jelas itu salahmu!“
__ADS_1
Mereka berdua tidak berhenti untuk saling menyalahkan sampai petugas bandara datang untuk melerai mereka berdua.
Sementara itu, di rombongan yang menjaga jarak dari rombongan utama.
“Hei, dengar ya … kita di sini bukan cuma untuk liburan! Kalian beruntung karena dipilih untuk misi kali ini! 430, 431, 432, 433, 434, dan 435!“
“Ya, Nona Eta. Saya sangat beruntung dan merasa sangat terhormat untuk menjadi pengawal keluarga besar Boss!“ balas 430, ia yang jadi ketua tim beranggotakan lima orang itu. Lalu, wanita dengan rambut berwarna merah maroon yang dikepang, Eta, akan bergabung dengan rombongan utama.
“430, laksanakan misi ini dengan sebaik-baiknya! Kau ketua timnya!“
“Saya tidak akan mengecewakan, Nona Eta dan Boss.“
Eta selanjutnya pergi menyusul rombongan utama.
“Kalian dengar, 'kan? Kita harus benar-benar serius untuk misi ini! Jangan sampai ada yang malah asyik liburan. Terutama kau, 435!“ 430 menunjuk orang dengan code name 435.
“Tenang saja, aku juga bisa membedakan mana yang prioritas, mana yang tidak!“ balas 435.
Di antara kelima orang itu, ada satu kenalan Yayan. Ia mendapat code name 435.
'Yah, keren, sih. Kami diberi nama samaran berdasarkan angka dan dilatih dengan berbagai kemampuan yang tidak pernah kubayangkan! Punya atasan yang cantik-cantik! Tapi, kenapa anggota timku semuanya cowok, Ban9sat!' rutuk si nomor 435 dalam hati, atau nama aslinya Aji.
'Timnya Azka semuanya cewek! Ahh, sungguh tidak adil!'
Struktur Black Robe cukup sederhana. Ada 10 anggota utama, yaitu para perfect worker. Sisanya yang anggotanya 5000-an lebih itu adalah para Numbers. Mereka direkrut dengan latar belakang yang berbeda-beda, anak-anak terlantar, orang-orang miskin, serta mantan-mantan penjahat yang diberi kesempatan oleh Black Robe.
Yayan berjalan-jalan berdua saja dengan Mikha. Mereka menang tidak langsung pergi ke hotel, memisahkan diri dari rombongani.
“Wahh … Colloseum itu terlihat megah! Lebih besar daripada yang di Italia!“ kagum Yayan melihat bangunan paling besar di ibukota Rugia. Menjulang paling tinggi.
Alasan lain Yayan datang ke Rugia selain liburan dan mengurus urusan bisnis, dia punya alasan lain. Yayan datang saat acara tahunan terkenal di Rugia akan dilaksanakan.
“Festival Dewa Perang! Yah, itu pasti akan sangat meriah!“
“Apa kamu ingin berpartisipasi, sayang?“ tanya Mikha.
“Tentu Saja. Itu pasti seru. Apalagi hadiahnya besar dan acara ini akan disiarkan di seluruh dunia! Ini ajang yang pas untuk memamerkan betapa hebatnya perusahaan kita.“
__ADS_1
Rugia adalah negara yang masih mempertahankan kebudayaan lama. Bangunan-bangunan di negara itu rata-rata masih mempertahankan originalitasnya. Semuanya terasa seperti di Era Victoria. Yayan seolah-olah pergi ke masa lalu atau pergi ke dunia lain. Jalan-jalan di jalanan kotanya memberikan sensasi berbeda. Memang itu daya tarik turis asing untuk berbondong-bondong datang ke Rugia.
Brakkk!
Seorang wanita tidak sengaja menyenggol bahu Yayan, ia sedikit terhuyung dan kakinya menginjak gaun panjang yang dikenakannya. Yayan memegang lengan wanita itu agar tidak terjatuh.
“Are you okay?“ tanya Yayan.
Wanita berambut perak itu mengangguk, ia tidak berani menatap Yayan dan Mikha. Pandangannya selalu tertuju ke bawah.
“Помоги мне!“
Wanita itu langsung pergi begitu saja.
Yayan cuma menaikkan sebelah alisnya dengan bingung.
“Eh? Tadi bahasa Rusia, 'kan? Apa yang coba dikatakannya?“ gumam Yayan.
“Mungkin, 'maaf'.“ Mikha memberikan jawaban.
“Masuk akal. Tapi, kenapa busananya sangat glamour? Dia seolah-olah sedang akan menikah … lalu ….“ Yayan langsung menoleh ke belakang.
“Pengantin yang lari, 'kah?“
[Misi dikonfirmasi]
[Kawin lari]
[Reward: 20 poin kharisma, 5 poin kesehatan, 10 poin daya tahan]
'Deskripsi misimu sangat ambigu, System? Apaan coba 'kawin lari'? Yah, aku mikir-mikir dulu untuk misi ini. Aku perlu melihat situasi dan kondisi?!'
Yayan melanjutkan jalan-jalannya dengan Mikha. Mereka tidak lupa membeli beberapa street food khas negera Rugia. Dan saat mereka kembali ke hotel, Vina dan Andrea cuma bisa gigit jari.
“Ayo, jalan-jalan lagi!“ ajak Vina. “Tapi, berdua saja.“
“Ya, berdua denganku saja!“ sela Andrea.
__ADS_1
“Ingat, ya, Vin. Kita di sini bukan untuk liburan saja … kau ingat, 'kan?“ Yayan tersenyum.
“Ini tidak adil!“