
Yayan tiba di rumah Vina. Dan yah, terlihat sepi. Kemungkinan orang tuanya sedang pergi. Vina segan untuk meminta mereka kembali, jadi satu-satunya orang yang ia percaya bisa dimintai bantuan adalah Yayan.
“Vin?“
Yayan nyelonong masuk, dia melihat wanita itu menunggu di ruang tamu. Mengenakan pakaian yang dirasa bisa menghalau hawa dingin.
“Kau benar-benar sakit?“ Yayan menghampiri Vina, ia mencoba menyentuh keningnya.
'Panas!? Wajahnya juga pucat,' pikir Yayan. Sakit ini benar-benar merenggut keceriaan yang biasa hadir dari Vina.
“T-terima kasih sudah datang, Yan,” ucap Vina lemah.
“Ya, tentu saja. Kau bisa berdiri?“ tanyanya.
Vina mengangguk dengan lemah lalu berupaya berdiri, ia sedikit sempoyongan. Yayan terpaksa memapahnya. Dia jadi sedikit cemas pada keadaan temannya itu.
Yayan tidak membawa kendaraan, jadi mungkin mereka ke puskemas mengendarai motor Vina. Namun, keadaan wanita itu tidak memungkinkan untuk naik motor.
'Ah, apa aku panggil ambulans saja? Ya, itu yang terbaik.'
Yayan pun menelpon pihak rumah sakit untuk dibawakan ambulans. Tujuan sedikit dirubah, tujuan mereka kini adalah rumah sakit.
Setelah menunggu beberapa saat, ambulans datang.
“Vin, kau tertidur?“
Vina tidak merespon, wanita itu kini tidur di pangkuan Yayan.
'Sakitnya benar-benar parah!?'
Petugas rumah sakit membaringkan Vina dengan benar dan mengecek kondisinya. Penjelasan darinya membuat Yayan lega. Vina memang cuma tertidur.
“Dia sepertinya mengalami gejala tifus, Mas!“ jelas petugas rumah sakit.
“Tifus?“ Yayan sedikit kaget. “Kalau begitu … tolong percepat lagi ambulans-nya!“ pintanya.
Petugas itu menyuruh sang supir untuk lebih ngebut.
'Semoga tidak terjadi sesuatu yang buruk padamu, Vin.'
Mereka semua telah sampai di rumah sakit terdekat, Vina langsung ditangani oleh ahlinya. Yayan cuma bisa harap-harap cemas, tapi syukurlah … setelah dilakukan medical check-up. Vina masih dalam kondisi normal. Sakitnya masih dalam tahap gejala.
Vina kini pun sudah bangun.
“Aku di rumah sakit, ya?“ tanyanya sambi melihat sekeliling.
“Ya, di puskesmas agak nanggung. Aku sedikit panik tau saat kau tidak sadarkan diri alias tertidur. Makanya aku langsung membawamu ke rumah sakit.“
__ADS_1
“Y-ya, terima kasih sudah mengkhawatirkanku,” ucap Vina yang memalingkan mukanya dari Yayan.
“Mungkin kau harus rawat inap. Aku ingin kondisimu benar-benar pulih.“
“Huh? Itu terlalu berlebihan! Di rumah saja sepertinya cukup——”
“Jangan protes! Kau ingin sesuatu? Aku akan membelikannya.“
“Aku tidak ingin apa-apa. Makanan yang lewat mulut rasanya hambar semua.“ Vina melirik jam, sudah pukul 8. “Yan, kau tidak bekerja?“
“Tidak, aku akan menjagamu di sini. Lagian kemana orang tuamu?“
“Mereka sedang di rumah kerabat, di luar kota.“
Yayan ber-oh, dia merasakan bahwa perutnya ingin sesuatu.
“Umm … Vin, sepertinya aku harus sarapan dulu.“
“Ya, silahkan.“
Saat Yayan keluar dari ruangan Vina ….
'Huh, si stalker itu …. dia terlalu niat. Mengikutiku sampai sini! Harus diberi pelajaran.'
“Eh, di mana dia?“ Si stalker yang tidak lain adalah Luna bingung mengetahui Yayan telah raib dari pandangannya. Ia celingukan ke sana kemari, tapi tidak tampak keberadaan dari pria itu.
“Cepat sekali hilangnya?“ Saay Luna berbalik, ia menabrak seseorang. “Aduh, apa sih——” wanita itu tidak bisa melanjutkan perkataannya. Ia reflek hendak berlari.
Tapi, orang yang ditabraknya tidak meloloskan semudah itu. Tangannya ditahan sangat kuat dan didorong ke dalam ruangan kosong.
“Dasar stalker! Sampai kapan kau mau terus membuntutiku?“
“Membuntutimu? Teori dari mana itu? Kau kepedean!“
“Apa aku perlu menunjukkan bukti?“ Yayan merogoh saku celananya. Dia mengambil ponsel. Ditunjukan sebuah gambar.
Luna sontak membelalakkan matanya, ia tidak mempercayainya. “Bagaimana bisa?“ Tatapnya penuh selidik.
“Aku sekarang punya banyak Intel, kau sudah ketahuan dari awal. Aku sengaja membiarkanmu.“
Luna nampak kesal, ia menggigit bibir bagian bawah lalu berkata.
“Dasar sampah! Aku mengikutimu karena ingin membongkar kedok dan rahasiamu! Sebenarnya kau mendapat semua uang itu dari mana?“ Luna menunjuk-nunjuk Yayan.
Yayan tidak bisa menjawabnya, memang tidak bisa diberikan alasan yang pas. Sebab itulah, Yayan berniat mengakuisisi sebuah perusahaan agar sumber uangnya tidak perlu dipertanyakan. Itu akan membuat tenang.
“Kau bahkan bisa beli rumah mahal! Dari mana uang itu? Kau menghutang? Korupsi uang perusahaan? Punya ilmu pengganda uang? Jawab, sialan! Aku benar-benar tersiksa oleh rasa penasaranku sendiri. Aku tidak terima kau bisa menjadi sesukses ini, Yan?“
__ADS_1
Yayan dengan diam mendengarkan ocehan Luna. Dia menatap lekat wanita itu.
“Apa kau akan mempercayaiku?“
“Hah? Tentu saja tidak——”
“Lalu kenapa kau bertanya bila apa pun yang aku ucapkan tidak bakal kau percaya?“
“Baiklah, baiklah. Aku akan mempercayaimu.“
Yayan tersengum sinis, penuh kemenangan. Dia mendorong Luna ke tembok, merapatkannya.
'Yah, jadi buaya … tidak ada salahnya menaklukkan wanita ini. Aku harus memberinya pelajaran.'
Luna menjadi panik dengan perilaku Yayan. Ia gelagapan, mencoba mendorongnya menjauh. Sementara itu, Yayan mencolek-colek pipi Luna selayaknya pria bajingan.
“Hei, aku bisa memberitahumu segalanya. Asal kau mau melakukan itu denganku?“ Bisik Yayan dengan suara yang menggoda.
Luna reflek menampar Yayan, tapi berhasil ditahan dengan mudah. Hal yang paling mengejutkan adalah Luna melihat Yayan mencoba untuk mengemut jari-jarinya.
'Apa ini benar-benar sisi Yayan yang asli?' pikir Luna.
Luna tidak bisa melakukan perlawanan, ia seolah sudah pasrah. Pikirannya tidak sinkron dengan tubuh, semuanya bergerak sesuai kehendak dari Yayan.
“Lebarkan selangkanganmu!“ Luna menurutinya, sorot matanya sudah kosong, ia jelas-jelas tidak sadar. Apa yang terjadi padanya pun ia akan lupa setelannya.
'Huh, tidak menarik! ini sama saja aku melakukannya dengan s3x doll.'
Yayan menjauhi dari Luna. Pipi wanita itu ditepuk agak kuat agar sadar. Begitu sadar, ia terkejut melihat baju bagian atasnya sedikit terbuka, menampilkan bra berwarna ungu.
“Apa yang kau lakukan?“ maki Luna melingkarkan tangannya di depan dada.
“Masih ditanya?“ goda Yayan dengan senyum menyeringai. Dia mengisyaratkan untuk melihat sekeliling, dan yah … ruangan kosong,
“Cih, aku akan melaporkanmu! Kau akan menerima batunya karena berniat menodaiku?“ Ancam Luna.
“Hmm … cepu, 'kah? Tapi, aku ragu kau akan melakukannya. Kau sudah pernah melihatku melakukan itu. Dan seharusnya itu bisa menjadi senjatamu. Tapi, kenapa kau membiarkanku?“
“I-tu——”
“Itu simpel saja! Kau juga menginginkannya. Akui saja, Luna!?“ ucap Yayan memegang dagu Luna, mengangkat wajahnya untuk berani menatap satu sama lain.
Yayan menatapnya beberapa saat dalam diam, lalu melepaskannya.
“Nih, kau bisa menghubungiku kapan-kapan jika ingin melanjutkannya?“ Yayan memberikan kartu namanya.
Dia asal meninggalkan Luna dan segera menuntaskan niat awalnya. Ya, sarapan.
__ADS_1
Dada Luna berdegup kencang, ia tidak bisa menahan semburat merah di wajahnya. Malu bercampur marah.
“Tidak, tidak!“ Ia menolak keras hasratnya.