Wanita Adalah Sumber Uangku

Wanita Adalah Sumber Uangku
Ch 31: Berhasil lolos


__ADS_3

Buaaghh!


Vicky tersungkur ke depan karena dorongan pintu di belakangnya.


“Ada apa ini?“ murka Vicky, tapi detik selanjutnya ia langsung tersenyum. “Oh, kau rupanya? Apakah kau membuntuti kami?“


Yayan mengacuhkan Vicky, dia fokus memerhatikan Andrea. Tentu saja dia sangat terkejut melihat kondisinya.


'Ini lebih buruk dari yang kukira. Dan juga … Andrea menangis?! Dia sungguh-sungguh menangis! Bukannya ini pekerjaannya, dia harusnya sangat bersemangat! Ada belasan pria yang … cih, berarti sangat buruk, ya? Andrea sampai menangis!'


“Mau kau apakan dia?“ tanya Yayan dengan nada dingin, matanya menatap tajam Vicky dan belasan pria bu9il di belakang Andrea.


“Apa? Kami hanya pelanggannya, dia sedang bekerja. Kenapa kau mengganggunya? Benarkan, Andrea?“ Vicky mengoper kalimatnya pada Andrea, wanita itu tertegun, tidak tau harus menjawab apa.


Yayan berdecih dengan kesal, 'Yah, ini adalah perintahku untuk mendekati bajingan ini! Namun, aku tidak pernah tau pacarnya Yani itu lebih bejat dari yang kukira. Andai saja aku tidak diberitahu oleh Azka dan Aji, bahwa ada orang suruhan Yani sampai mengawasi ke kos-kosan. Aku tidak akan repot-repot membuntuti Andrea dan pergi ke hotel ini! Lagipula … berapa banyak anak buahnya?'


Namun, jika Yayan masih belum tau, Andrea bisa kenapa-kenapa. Dan itu adalah salahnya, Yayan merasa sangat bersalah bila seseorang yang dia kenal mendapat masalah karenanya.


Yayan menghiraukan keberadaan Vicky dan yang lainnya, dia langsung menuju ke arah Andrea dan langsung menariknya dari salah satu pria tanpa busana itu.


“Ayo, kita pulang!“ ucap Yayan acuh, bahkan Andrea tidak menyangka Yayan bisa begitu.


“Kau pikir mau kemana? Dia wanitaku untuk malam ini, aku sudah membayarnya mahal. Kau harus bersabar untuk giliranmu! Atau jika tidak … kau harus membayar biaya ganti rugi sebanyak 100 kali lipat. Itu artinya … 10 miliar. Kau punya uang sebanyak itu?“ Vicky terkekeh geli, menikmati ekspresi tegang yang diperlihatkan Yayan.


'10 miliar? Aku tidak memiliki uang sebanyak itu untuk sekarang!' batin Yayan yang melirik Andrea. Dia menghela nafas berat.


“Oke, aku tidak memiliki uang sebanyak itu. Apakah ada opsi lain?“ tanya Yayan.


“Tentu saja ada, kau harus merelakan tubuhmu!“


“Maksudnya?“ Yayan mengernyitkan kening dengan bingung.


“Kau harus rela kami keroyok sampai kau lebih memilih mati!“


Salah seorang pria tanpa busana langsung menyerang Yayan. Ia menerjang dengan cepat dan melayangkan beberapa serangan.


Yayan menghindar, bergerak menjauhi Andrea.


'Cih, System. gunakan poin-poin System!'


[Misi dikonfirmasi]


[Keluar dari hotel]


[Reward: 10 spera, 10 poin kekuatan, 10 poin kesehatan, 10 poin kecerdasan, 10 poin keberuntungan, 10 poin kharisma]


Yayan tersenyum pada misi yang tidak disangka-sangka itu. Dia kemudian menatap mata Vicky lekat, fokus untuk melarikan diri.


Yayan lebih memilih untuk kabur, dia menghajar Vicky lalu menyingkirkan dari pintu. Namun, itu masih belum berakhir.


Buaghh!


Yayan dipukul tepat di wajah, sudut bibirnya seketika berdarah. Andrea sontak berteriak cemas.


"Yan——"


"Tidak usah cemas, Andrea! Seperti biasa pahlawan selalu kalah dulu." Yayan menyeringai untuk menutupi ketegangannya. Dia memang tidak boleh terlihat lemah, itu akan membuat Vicky merasa sangat di atas angin.


"Oh, kalah dulu? Baiklah!" Vicky menjentikkan jari.

__ADS_1


Semua pria di dalam kamar dan beberapa yang baru masuk mendekat mengerubungi Yayan. Tidak meninggalkan celah sedikit pun.


"Woi, hentikan! Sudah cukup! Yan, tidak apa-apa. Aku bisa mengatasi ini!" Andrea berteriak jeri, matanya sungguh berkaca-kaca.


"Sudah kubilang diam! Aku sedang berkonsentrasi!" maki Yayan melihat semua pria bertubuh besar yang kapan saja bisa meremukkan semua tulangnya.


"Buat dia sekarat!" titah Vicky.


Semua pria itu sontak bergerak bersama, melancarkan pukulan beruntun. Yayan tidak bisa menghindar, dia memblokade pun percuma. Semua tubuhnya disasar, lebih parah Yayan menjadi tiarap, dia seperti diinjak-injak.


"Cukup! Cukup!" teriak Andrea, ia tentu tak tega melihat Yayan diperlakukan seperti itu. "Tolong, hentikan ini! Aku akan menuruti semua keinginanmu."


"Kau di sini sudah tidak memiliki suara, Andrea. Sebaiknya diam dan nikmati saja!" Vicky tersenyum licik.


'Ugh, sial! Sial!' batin Yayan. Tubuhnya terasa remuk.


[Cooldown mental out selesai]


'Huh, ini yang kutunggu-tunguu!'


Setelah beberapa menit, mereka semua berhenti menghajar Yayan untuk melihat kondisinya. Masih sadar atau tidak.


"Yan? Yayan!!" Andrea berteriak parau, Yayan tergeletak begitu saja, nampak tidak bergerak.


"Ah, kebablasan, kah?" ucap Vicky merasa puas melihat kondisi Yayan.


"T-tenang saja! P-permainannya belum berakhir!" ucap Yayan mendadak bangkit. Wajahnya benar-benar bonyok, darah berceceran di lantai, bahkan nampak beberapa gigi yang tanggal.


'Akan kuhabisi kalian semua!'


Yayan menatap salah satu dari mereka secara bergantian selama 2 detik.


Beberapa pria bawahan Vicky nampak bergerak ke arah Yayan lalu membelakanginya, seperti membentengi Yayan.


Yayan tersenyum, 'Serang!'


Para pria yang masuk dalam pengaruh cuci otak langsung menyerang rekannya sendiri. Terjadi perkelahian besar, Yayan secara bertahap juga menambah pionnya.


Yayan memanfaatkan kesempatan itu untuk menerobos, dia hanya punya waktu beberapa detik mereka sadar kembali. Yayan tidak mampu untuk menahannya terlalu lama. Efek samping dari penggunaan skill itu mulai terasa. Yayan merasakan kepalanya sangat pusing.


Dia memang perlu meningkatkan staminanya ke tahap yang lebih tinggi bila ingin menggunakan skill mental out. Atau tidak, level skill-nya yang harus ditingkatkan.


“Ayo, Andrea!“ Yayan menarik tangan Andrea menyusuri koridor, dia hendak menuju lift. Sementara itu, keadaan di sana terlampau sepi. Vicky memang telah mengosongkan area lantai itu dari orang-orang.


“Hei, kau belum diapa-apain, 'kan?“ tanya Yayan sambil terus mengajak Andrea berlari.


"Apa yang kau katakan? Harusnya aku yang berkata begitu!" Andrea reflek memeluk Yayan, menumpahkan seluruh air mata.


Yayan membelalakkan mata dengan kaget, dia hendak ngomel-ngomel. Namun, untuk kali ini saja, Andrea bebas melakukan apa pun. Wanita itu memeluk Yayan dengan erat.


“Yah, aku biarkan untuk kali ini!“ ucap Yayan sedikit acuh. Andrea memeluknya cukup lama.


“Kau harus ingat ini, Andrea! Tidak ada pria-pria yang benar-benar mencintai seorang wanita tanpa ada maksud tertentu! Seperti yang kau alami! Tapi, kau bisa memanfaatkan nafsu mereka untuk mencari uang!“


Andrea tiba-tiba mengingat masa lalu, tentang orang tuanya.


Singkat cerita Andrea pernah menjadi korban pemerkosaan oleh gurunya sendiri sewaktu SMA, lebih tepatnya oleh kepala sekolahnya sendiri.


Apalagi terlahir di keluarga miskin, Andrea telah rusak kala itu. Ia kecanduan s3x dan mencari uang dengan menjual tubuhnya.

__ADS_1


“Yayan!“


“Ada ap——”


“Terima kasih.“


“Tidak masalah. Nah, pakai ini untuk menutupi tubuhmu!“ Yayan menyerahkan jaketnya.


Itu belum cukup, tubuh bagian bawah Andrea masih kelihatan. Padahal sebentar lagi mereka akan keluar dari lift dan bertemu dengan para pengunjung hotel.


Yayan akhirnya memutuskan untuk merobek kaosnya untuk bisa dililitkan pada Andrea.


“Tapi, kau?“ risau Andrea, ia merasa tidak enak.


“Jangan pikirkan! Kita akan tetap mencolok dan diperhatikan oleh orang-orang. Namun yang terpenting adalah adalah tidak ada yang bisa melihat tubuhmu.“ Yayan melilitkan sobekan kaosnya pada Andrea.


Yayan sendiri melakukan persiapan dengan mengenakan masker serta kaca mata hitam. Dia tidak ingin identitasnya ketahuan.


Mereka sudah sampai di lift, langsung masuk dan pergi ke lantai bawah.


Setelah beberapa saat, lift terbuka, mereka berdua keluar begitu saja tanpa memperdulikan pandangan orang-orang, yang menganggap mereka aneh. Yayan menyuruh Andrea untuk terus menunduk, sementara dia melihat-lihat loby untuk mencari keberadaan Rinto.


Yayan mengirimkan kode mata, si penjual nasi goreng mengerti dan langsung keluar dari hotel.


Masalah muncul lagi, rombongannya Vicky nampak sudah turun dari tangga darurat dan lift. Yayan tidak bisa tinggal diam, dia dan Andrea langsung tancap gas keluar dari hotel.


“Keamanan, keamanan! Mereka berdua adalah sekelompok penjahat! Tangkap mereka!“ teriak Vicky. Semua orang langsung terpaku pada Yayan dan Andrea.


“Gawat, ayo Andrea!“ ajak Yayan agar Andrea mempercepat langkah.


Mereka berdua berusaha untuk sampai pintu keluar. Namun, beberapa staf keamanan sudah siap siaga memblokir.


'Sial!'


Yayan melepaskan kacamata hitamnya dan langsung menggunakan skill mental out. Berkat itu pelariannya menjadi mulus. Dia dan Andrea berhasil lolos.


Sementara itu, Rinto telah siap menyiapkan kendaraan, ia telah memesan taksi online.


“Pak, cepat-cepat! Sedang urgent. Kami dikejar-kejar penjahat!“ teriak Yayan pada driver.


Si supir tanpa banyak bertanya langsung menginjak pedal gas.


Yayan melihat keadaan hotel, rombongan reog-nya Vicky nampak sudah keluar, tapi kebingungan hendak melakukan apa. Mereka tak sempat melihat Yayan dan Andrea masuk ke dalam taksi.


“Woah, tadi sangat menegangkan!“ lega Yayan melepaskan maskernya.


“Memangnya apa yang terjadi di sana? Kenapa kondisi pakaian kalian jadi begitu? Dan terutama wajahmu, sangat banyak!?" tanya Rinto yang duduk di samping driver.


“Akan kujelaskan nanti. Aku kelelahan!“


Itu adalah efek dari mental out. Yayan menggunakannya pada para staff keamanan.


'Aku sepertinya harus belajar ilmu bela diri. Sangat tidak menyenangkan jika harus bonyok terus-menerus.'


[Misi berhasil diselesaikan]


[Selamat, host mendapat 10 spera, 10 poin kekuatan, 10 poin kesehatan, 10 poin kecerdasan, 10 poin keberuntungan, 10 poin kharisma]


“Umm … Andrea kukira kau harus mengganti warna rambutmu? Orang-orang tadi pasti akan memfitnah kita! Padahal kita yang menjadi korbannya!“

__ADS_1


__ADS_2