
Urusan bisnis dengan Raja Richard IV memang sudah selesai. Seharusnya Yayan sudah bisa pergi dari sana dan membiarkan Alpha yang mengurus sisanya.
Namun, karena Yayan mengikuti festival Dewa Perang, dia terpaksa untuk berada di Rugia sedikit lebih lama. Apalagi dia memiliki rencana untuk membantu Putri Rachial, sekaligus menancapkan pengaruh yang lebih kuat di Rugia dengan cara menjadi suaminya Putri Rachial.
Setelah puas melakukan tur istana bersama dengan ketiga istrinya. Yayan memutuskan kembali.
"Tempat ini luar biasa. Apa kau bisa membangun istana semegah ini, sayangku, hehe?!" ucap asal Andrea yang sekaligus menggodanya.
"Yah, mungkin bisa. Tapi, untuk apa? Hidup kita sudah cukup mencolok, awak media selalu ingin tahu tentang kehidupan kita. Memangnya ada, ya, orang yang ingin mengetahui kegiatan kita sehari-hari? Bukannya sama saja dengan orang lain, bedanya hanya memiliki sedikit uang!?"
"Tapi, berita tentang artis terkenal selalu laku, lho. Anak artis jatuh dari tempat tidur dan kepalanya benjol. Contohnya seperti itu!" Vina menimpali.
"Hmm ... Kau sering melihat berita semacam itu?"
"Ya, mau gimana lagi? Hampir semua chanel TV membahas hal yang serupa!?" Vina tersenyum masam.
"Benar-benar hal tidak ada gunanya, kecuali untuk pihak-pihak yang terkait," cibir Yayan yang geleng-geleng kepala.
"Itu juga salah orang tuanya yang mengeksploitasi anaknya terlalu berlebihan. Selalu merekam segala aktivitasnya lalu diupload di internet." Mikha menambahkan.
Topik obrolan mereka berempat sementara waktu adalah itu .... sampai Yayan mendapat laporan dari Eta soal perkembangan situasinya.
'Begitu, ya? Baiklah, malam ini aku akan ke sana.'
Eta kemudian mengirimkan data-data para peserta turnamen yang lolos ke putaran final. Ia menjabarkan semuanya dengan jelas. Dari 32 peserta, pemilik bakat yang paling mendominasi, yaitu 90% lebih dan sisanya adalah non-clan.
'Eta terlalu berlebihan. Tapi, ya sudahlah.' Yayan mengenyahkan panel System di hadapannya.
Yayan kembali dari Richard's Palace, mereka tidak langsung pergi ke hotel. Memangnya apa yang mau mereka lakukan? Di sana sangat membuat jenuh.
Yayan pergi ke dekat sungai yang membelah ibukota Rugia menjadi wilayah selatan dan utara. Mereka membeli es krim dan memakannya di pinggir dermaga kayu.
“Wah, indah, ya?“ kagum Vina melihat sungai yang airnya tampak begitu jernih.
“Hei, mau mencoba naik kano? Sepertinya seru?“ajak Andrea yang tertarik setelah melihat beberapa orang menikmati kota dengan cara menyusuri sungai.
Yayan menggeleng pada permintaan salah satunya istrinya itu. “Aku kurang minat. Kalian bertiga saja!“
“Aku tidak pernah bilang setuju sih, kau juga, 'kan, Mikha?“
“Ya.“
“Jika beneran mau, aku akan mengurusnya!“ Yayan menunggu jawaban Andrea sembari menjilati es krim rasa cokelatnya.
“Aku berubah pikiran. Itu akan sangat membosankan jika aku sendirian.“
__ADS_1
“Hmm … okay.“ Yayan santai saja menikmati es krimnya.
Es krim habis dan begitu juga dengan topik obrolannya. Mereka berempat bingung ingin membicarakan apa, kali ini keheningan yang menang.
Yayan dan ketiga istrinya berada di sana sampai sore hari, menikmati sunset, yah, itu indah. Matahari akhirnya menghilang sepenuhnya, mereka pun kembali ke hotel.
.
.
.
.
Yayan siap dengan jam malamnya, dia lagi-lagi harus menyelinap sebab urusannya kali ini sedikit rahasia.
Penyelundupan itu berhasil tanpa kendala, Yayan selanjutnya pergi menuju ke alamat yang telah diberikan Eta. Yah, itu adalah sebuah gedung yang nampak tidak terurus jika dilihat dari bagian luar. Namun, saat masuk ke dalam melalui pintu yang engselnya sudah berdecit, itu ternyata sebuah bar. Bukan … tempat pelelangan barang curian.
'Eta memilih tempat seperti ini? Apa yang ada di pikirannya itu?' pikir Yayan yang sedikit bingung.
Saat masuk sudah ada seorang pria berbadan kekar dan tinggi, serta rambut pirangnya yang tipis, ia memakai kaca mata hitam.
“Password!“ ucapnya dalam bahasa Inggris. Yayan seketika terkejut saat mengetahui pria itu sedang meregangkan persendian jemarinya.
'Eta! Lain kali, beritahu aku dari awal!'
'Hah? Sebentar maksudnya?'
“Kita adalah ksatria Putri Rachial. Hidup kita cuma digunakan untuk kebahagiaan Our Silver Princess!“ ucap Yayan dengan jelas, tapi setelah selesai, dia merasa aneh sendiri.
'Sebenarnya tempat apa ini? Perkumpulan fans Tuan Putri? Eh? Mungkin,'kah?'
“Nice!“ Pria itu membukakan jalan untuk Yayan.
'Hmm … aku menilai terlalu tinggi. Ini cuma home base dari fan club Putri Rachial. Dandanannya saja seperti penjahat, tapi mereka cuma simper si Putri!' Yayan memandang dengan sorot malas ke orang-orang yang penampilannya tidak sinkron dengan kepribadiannya.
“Halo, selamat datang, Tuan!“ sambut Eta yang kini menjadi bartender. “Mau minum apa?“
Yayan masih memerhatikan orang-orang di sekitarnya. 'Lha? Bukannya itu gaun pengantin Putri Rachial? Mereka melelangnya, aksesoris dijual terpisah?' Dia geleng-geleng.
“Huh, Eta. Jelaskan, tempat macam apa ini?“
“Seperti yang terlihat. Penggemar Yang Mulia Putri Rachial!“ balas Eta dengan bangga.
“Huh, ya, terserah. Sekarang, di mana Putri? Aku mau bertemu dengannya?“
__ADS_1
Semua pria di tempat itu seketika melirik sinis ke arah Yayan.
“Memangnya siapa kau? Berani-beraninya mau menemui Dewi kita, hah!? Kita yang rendah ini tidak akan sanggup.“
'Mereka benar-benar simp akut!'
Yayan lama-lama jadi, muak. Dia pun sedikit ngegas.
“Bacot! Kalian sendiri ingin bertemu dengannya, 'kan? Nggak usah munafik!“ bentak Yayan yang tangannya menggebrak meja.
Semua orang menjadi hening. Sementara itu, Yayan tidak sadar sudah menghancurkan mejanya. Dia lantas berdehem untuk mengembalikan rasa tenangnya.
“Ehem … Eta, di mana Putri Rachial?“
“Ikuti saya!“ ucap Eta dengan riang. Ia pergi ke ruangan belakang.
“Putri kita ada di sini——”
“Bergerak seinci saja dari tempat kalian, aku jamin … kalian tidak akan bisa melihat Putri Rachial untuk selama-lamanya!“ ancam Yayan dengan nada suara yang dingin sebelum menyusul Eta.
Para pria itu sungguh tidak berdaya dengan gertakan Yayan.
“Yang Mulia, ada yang ingin bertemu dengan Anda,” beritahu Eta di depan sebuah pintu.
“Siapa?“ terdengar respon dari balik pintu itu.
“Tuan Yayan.“
“Hah? Suruh bajin9an itu masuk sekarang!“ teriaknya.
Eta selanjutnya membuka pintu yang sudah dibuka kuncinya dari dalam. Ia mempersilakan Yayan untuk masuk.
Yayan begitu terkejut saat melihat kondisi ruangan itu. Ada Putri Rachial yang duduk di tepi ranjang, melipat kakinya. Wanita itu menatap Yayan dengan pandangan kesal.
Sedang Yayan sendiri ….
'Apa-apaan ini? Ini terlalu berlebihan! Eta terlalu memanjakannya. Dia jadi belagu, 'kan?'
Eta mengatur ruangan itu seperti kamar seorang bangsawan. Yayan terfokus pada ranjang besar yang nampak mewah itu.
'Padaha aku cuma menyuruh untuk memperlakukannya dengan baik!'
“Kau punya hutang padaku! Apa tujuanmu?“ tanya Putri Rachial.
“Tujuan? Kau perlu mendengar hal ini, Putri. Sebetulnya …..“
__ADS_1
Yayan menceritakan apa yang diketahuinya tentang rencana sang perdana menteri bersama anaknya. Si Putri lantas terkejut, yah, tapi ia sudah menduga dari dulu. Ia bisa menerima cerita dari Yayan.
'Maaf, Putri. Aku tidak bisa menceritakan keadaan Raja yang sebenarnya!'