
“Yah, role play menjadi Robin hood yang serakah sudah tamat!“ Yayan cuma berkata dengan malas, menatap pemandangan ibukota Rugia dari jendela kamar hotelnya.
Entah sudah ke berapa kali dia menghela nafas. Ketiga istrinya pun sedikit bingung dengan tingkahnya. Namun, mereka memilih acuh tak acuh saja. Sepertinya bukan hal yang penting, mungkin?
“Jadi, gimana? Apa kita akan kembali ke Indonesia? Turnamennya dibatalkan, untuk apa kita berada di negara ini?“ Andrea meminta konfirmasi Yayan, ia juga sudah jenuh di negara itu. Sudah seminggu lebih mereka di sana, dan yah … tempat-tempat menarik mungkin sudah dikunjungi di seluruhnya.
“Kau bodoh atau apa? Kau tak mengerti kondisi saat ini? Rugia sedang dalam teror dan Black Robe yang disalahkan! Apakah itu tidak terlalu bangsat?“ sebal Vina. Ia agak mengerti situasinya.
“Jangan mengatai aku bodoh! Tentu aku tau situasinya. Tapi, untuk apa kita ambil pusing, apa hubungannya dengan kita? Yang terpenting perusahaan kita sudah mendapat izin pembangunan pabrik-pabrik di negara ini. Politik dan bisnis adalah hal yang berbeda!“ sangkal Andrea tidak terima dengan bersungut-sungut.
“Orang-orang penting, para menteri itu tewas, lho? Itu akan sangat berpengaruh! Apalagi jika mereka tahu bahwa Yaavim dan Black Robe memiliki hubungan. Bukannya itu akan sangat berantakan?“ Vina pun tidak mau kalah.
'Mereka ini!? Aku kali ini malas mendengarkan ocehan mereka!'
“Hei, apakah kalian tidak bisa diam?“ ucap Yayan dengan suara yang pelan.
Baik Vina maupun Andrea seketika tersekiap, mereka langsung diam dan menunduk. Mereka merasa nada bicara Yayan tadi agak dingin, belum pernah dia mengeluarkan suara seperti itu. Yah, padahal, Yayan berucap dengan intonasi yang normal, bahkan cenderung malas.
'Eh? Apa aku tadi berlebihan?'
[Bukan! Mereka yang terlalu berlebihan menanggapinya!]
“M-maaf, kami akan mencoba untuk tidak ribut!“ desak Vina dengan kepala tertunduk. Andrea pun begitu.
“Ya, i-ni cuma kebiasaan yang sedikit dihilangkan.“
'Mereka terlalu menganggap serius perkataanku!?'
“Tenang saja, aku tidak marah, kok. Huh, mari luapkan sejenak masalah ini. Kalian itu sedang hamil, jangan berpikir yang berat-berat!“ Yayan menghampiri Vina dan Andrea lalu mengelus rambut mereka. Dan satu orang lagi merasa sedikit terpinggirkan.
“Aku tidak melupakannmu, Mikha! Mendekatlah!“ Yayan juga mengelus rambut Mikha
Pada akhirnya Yayan mencoba untuk masa bodoh pada masalah yang terjadi pada hari ini. Dia mengalihkan perhatian dengan bergaul dengan istri-istrinya.
.
.
.
.
__ADS_1
Keesokan paginya, Yayan dan rombongannya berada di kolam renang yang berada di atap. Mencoba bersantai dan melupakan masalah yang terjadi pada Black Robe.
Dia semalam sebetulnya sudah menerima banyak laporan dari Alpha. PBB dan berbagai lembaga lain cukup cepat kerjanya. Tidak basa-basi dan langsung menyelidiki akar masalahnya.
Yayan juga memutuskan untuk menyuruh Alpha agar menghancurkan semua hal yang berhubungan dengan Black Robe. Dia juga menyarankan agar para member untuk menghentikan semua kegiatan, menunggu ketegangan sedikit mereda yang entah kapan itu.
Yayan juga menyuruh Alpha dan lainnya untuk segera menyusul ke Rugia.
'Ah, si Putri … dia mencariku?! Ya, nanti aku akan ke sana.'
Eta menghubungi lewat telepati dan melaporkan perihal keadaan Putri Rachial. Wanita itu pasti terguncang hatinya, ia sudah menerima sebuah kenyataan yang begitu pahit dan tidak bisa diterima. Malah bisa saja cuma dianggap mimpi buruk sewaktu tidur.
'Saya tunggu kedatangan Anda, Tuan!'
Yayan memutuskan untuk segera mentas, tapi sesuatu menyentuh punggungnya. Itu ada sebuah bola, seorang wanita yang dia kenal pun juga mendekatinya. Ia tertegun melihat bola yang dilemparkan oleh anaknya berada di dekat Yayan.
“T-tolong, lemparkan bola itu!“ pintanya dengan sedikit gagap.
“Eh, ah, ya.“ Yayan melemparkan bola itu. Dia tidak mencoba untuk menatap tubuh wanita yang kini cuma memakai pakaian renang itu.
'Ini memang sungguh menyebalkan! Kenapa kejadian waktu di mobil harus terjadi? Jadi canggung begini, 'kan?' kesal Yayan dalam hati. Dia mengacak-acak rambutnya.
'Dipikir-pikir … hmm, aku masih penasaran. Kenapa Aida dan Rinto memutuskan untuk menikah. Bukannya aku mau merendahkan Rinto. Huh, aku memikirkan hal yang tidak berguna!' Yayan mengenyahkan pemikirannya. 'Yah, jodoh siapa yang tau?'
“Ada sedikit urusan, aku mungkin kembali saat malam. Ini hal penting!“
Vina pasrah saja melihat Yayan yang mentas dari air. Sementara itu, Aida mendekati Vina. Mereka tadi sebetulnya sedang bermain polo air.
“Suamimu sepertinya sangat sibuk, ya? Tapi, wajar saja sebab dia punya banyak tanggungan!“
Vina setuju-setuju saja pada Aida, ia mengangguk. “Tapi, paling tanggungan janji dengan cewek!?“
Di saat yang bersamaan di tempat lain.
“Ada yang membicarakanku? Huh, belum juga pergi!“ Yayan baru saja bersin. Dia jadi merasa menjadi topik utama obrolan seseorang.
Setelah selesai ganti baju, Yayan langsung meluncur ke basecamp dari para simper-nya Putri Rachial. Dia sudah siap untuk menghadapi Putri yang kemungkinan sedang galau itu.
'Buronan pun buronan! Asal tidak mengunakan identitas asliku!'
Yayan sampai di markas klub penggemar Putri. 430 dan timnya menyambut kedatangan Yayan, begitu juga dengan Eta.
__ADS_1
“Tuan, apa Alpha dan yang lainnya akan segera menyusul ke sini?“ girang Eta.
Yayan mengangguk, “ya, di sana keadaannya agak ruwet. Lebih baik bersembunyi dan berpikir untuk langkah selanjutnya.“
“Bagaimana keadaan si Putri?“
“Tuan bisa melihatnya sendiri.“
Yayan lantas segera pergi ke belakang. Dia tahu para simper-nya Putri agak tidak terima dengan Yayan yang bisa dekat dengan Dewi mereka. Namun, di sisi lain mereka sadar diri.
“Beginilah nasibnya menjadi npc atau figuran!?“
Yayan masuk ke ruangan Putri Rachial. Ia nampak berbaring miring membelakangi Yayan. Nampaknya si Putri sudah sadar akan kehadiran seseorang.
“K-kau berbohong!“ ucap Putri Rachial dengan suara serak.
'Dia mungkin menangis cukup lama?!' pikir Yayan.
“Apa maksudmu?“ Yayan mendekat dan duduk di tepian ranjang.
“Padahal kau sudah berjanji untuk membantuku. Dasar penipu! Kau tidak pantas hidup!“ maki Putri Rachial dan suara yang serak.
“Kau pikir aku ini apa? Tuhan? Aku tidak bisa menghidupkan orang mati. Itu terlalu mustahil! Kau sudah mengerti Semuanya, 'kan? Sang Raja, keluargamu sudah lama mati! Orang yang kau anggap keluarga, yang menemanimu beberapa tahun belakangan ini tidak lebih dari mayat hidup!“ ucap Yayan kesal. Dia disalahkan atas semua hal yang terjadi pada hidup Putri Rachial.
'Hmm … pertengkaran semacam ini? Mungkin bisa untuk memperkuat hubungan.'
“Lalu, kenapa perdana menteri bisa menggerakkan mayat mereka? Kenapa kau tidak bisa? Kau memiliki kekuatan yang besar, 'kan? Harusnya bisa mengembalikan jiwa mereka ke tubuhnya semula?!“ erang Putri Rachial.
Yayan melihat bahu wanita itu bergetar, ia sedang menahan sesuatu. Ya, pastinya adalah tangisan.
“Kau sudah dewasa, Putri! Kenyataan harus diterima, mau sepahit apa pun itu!“
“Jangan bicara omong kosong!“ Putri Rachial bangkit dan seketika menerkam Yayan.
Sang Putri kini menindih tubuh Yayan. “Memangnya kau sanggup bila berada di posisiku? Ia menangis. Tetesan demi tetesan air menjatuhi muka pria yang berada di bawahnya.
“Aku tanya, kau bisa?“ teriak sang Putri. “Semua orang terdekatmu yang kau kira masih hidup rupanya sudah lama meninggal. Apa yang akan kau lakukan? Aku berpikir kau pasti akan balas dendam?! Lalu, selanjutnya apa? Kau tetap hidup sendirian, semua orang tersayangmu tetap tidak bisa hidup lagi?!“
Yayan menerima tiap curahan hati dari sang Putri, dia membiarkannya puas menangis dan berteriak. Namun, Putri Rachial bertindak tidak sesuai harapan Yayan.
“Lebih baik aku mati saja!“ Ia berusaha mencekik lehernya sendiri.
__ADS_1
'Oi, oi …. jangan mati dulu, Putri!'