Wanita Adalah Sumber Uangku

Wanita Adalah Sumber Uangku
Ch 66: Kau mengenalinya?


__ADS_3

“Nona, apa ada hal yang Anda perlukan lagi?“


“Cukup, cukup. Ini bukan acara yang sangat formal. Cuma acara makan-makan biasa,” cegah Vina pada Gamma yang hendak mengeluarkan lebih banyak model pakaian pada Vina dan dua orang lainnya.


“Begitukah? Tapi, penting untuk berpenam sempurna di hadapan Tuan Yayan?“ Gamma memiringkan kepalanya dengan bingung.


Yah, Yayan menyetel kepribadian sedikit polos dan tidak pandai membaca situasi untuk Gamma. Itu semata-mata agar lebih santai dan lucu. Mempunyai pelayan yang sebetulnya cekatan, tapi pada beberapa kesempatan nampak kikuk adalah hiburan sendiri … untuk Yayan. Orang lain mungkin tidak mengerti, mungkin?


Gamma mengambil rupa perempuan berusia 20-an awal, ia seusia anak kuliahan. Penampakan tubuhnya ideal dengan kulit berwarna sawo matang agak sedikit putih, tidak ada yang berlebihan. Matanya dibuat berwarna cokelat yang dipadukan dengan rambut hitam dengan gaya Messy Bun.


“Acara makan-makan? Huh, sebetulnya aku malas, sih. Apa aku bisa membuat alasan jika tidak enak badan, Gamma?“


“Ya, sangat bisa. Saya bisa langsung membuat skenario agar Nona Andrea——”


“Gamma, jangan dengarkan dia. Ikuti saja perintahku selaku istri pertamanya Yayan,” Vina menyela.


“Hah? Pertama? Tidak ada istilah pertama atau kedua! Kita menikah bersama-sama, tau!“ sahut Andrea sedikit ngegas.


“Ah, kau tidak tau saja. Aku adalah wanita pertama yang dilamar oleh Yayan.“


“Tidak begitu konsepnya, dasar papan! Kau bilang istri … bukan calon istri!“ ucap Andrea penuh penekanan. “Heh, masa bodoh dengan siapa yang dilamar lebih dulu. Kedudukan kita tetap setara sebab pernikahan kita dilakukan sama-sama, mengucap janji secara serempak. Apa-apaan dengan istri pertama, istri kedua?!“


Saat Vina dan Andrea sibuk berdebat. Wanita paling tenang di ruangan itu memillih untuk segera menyelesaikan acara dandannya. Sang suami bisa-bisa lumutan jika terlalu lama menunggu.


“Nona Mikha, biarkan saya membantu Anda——”


“Aku bisa melakukannya sendiri, Gamma!“ sela Mikha dengan nada sedikit datar.


“Ah, baiklah.“


Mikha dalam diam merias dirinya sendiri dengan sesekali menyimak perdebatan Vina dan Andrea.


Setelah selesai, ia pun keluar dari kamar. Mikha kini cuma mengenakan dress dengan panjang selutut yang sederhana. Tidak ada kesan mewah, riasannya pun natural.


"Aku siap!" beritahu Mikha pada yayan yang memang sedari tadi menunggu di luar kamar.


"Hmm ... Lalu, mereka ... huh, ya ... kebiasaan!?" Yayan menatap datar pintu kamarnya. "Kita tunggu sebentar lagi, lagipula lokasinya cuma di sebelah, pokoknya tidak akan terlambat!"


'Selain itu, aku juga menunggu seseorang.' pikir yayan.

__ADS_1


"Yan, pak rinto dan wulan datang," seru Sarah dari depan.


'Ah, panjang umur!'


Yayan pun menghampiri seruan ibunya untuk menyambut tamunya. Mikha mengikuti yayan.


"Ah, apa kami datang di saat yang kurang tepat!? Sepertinya bos ada acara penting."


Rinto mengangguk kecil pada Sarah, mereka telah berkenalan saat acara pernikahannya Yayan. Sarah kemudian undur diri ke belakang.


“Kak Yayan!“ Wulan bersorak dan langsung menghampiri Yayan, gadis kecil itu memeluk sosok pria yang jauh lebih tinggi darinya.


“Ah, sepertinya kita tidak lama bertemu. Eh, bukan … apakah 3 hari adalah waktu yang lama?“ gurau Yayan, dia mengelus pucuk kepala anak itu. Dia kemudian mengoper tatapannya pada Rinto.


'Ayo, kita lihat … apa pendapatnya tentang seorang wanita yang sangat mirip dengan istrinya?'


Sebuah fakta bahwa Yayan belum pernah memberitahukan informasi mengenai Aida pada Rinto. Baru akan diberitahu, Yayan sekalian untuk mengetes tingkat kemiripan Aida dengan istrinya Rinto itu. Sebagai suami, Rinto pasti bisa membedakan istrinya dengan orang lain, mau semirip apa pun itu.


“Di mana kak Vina?“ tanya Wulan dengan polosnya. Ia tidak sengaja bertatapan dengan Mikha yang ada di samping Yayan.


Anak itu belum terlalu mengenal Mikha. Jadi, sedikit canggung dan segan.


Wulan seketika menggeleng, respon dari anak itu membuat alis Mikha agak turun. Ia jelas-jelas kecewa.


'Huh, dasar Mikha! Tidak pandai berekspresi.


Setelah melirik sang istri yang berada di sampingnya, sorot matanya kembali pada Rinto.


“Umm, Wulan. Aku pinjam ayahmu sebentar. Kamu bisa bermain dengan kak Mikha atau … eh, kak Yayan punya adik, lho. Kamu pasti bisa bersenang-senang dengan mereka. Dian, Diana … ke sini sebentar?“


Kedua anak itu lantas menanggapi panggilan Yayan, mereka yang sebelumnya berada di ruang TV kini ikut menyusul ke dekat pintu masuk.


“Apa sih, kak?“ Diana protes. Ia kemudian kaget melihat keberadaan banyak orang. Terlebih Wulan, ia terkesiap karena keimutannya.


Dian pun begitu, ia lantas bergumam asal yang menyuarakan suara hatinya. “Aku akan menunggunya sampai dewasa.“


'Ya, respon semacam itu. Aku juga sempat berpikiran begitu.'


“Wulan … perkenalkan. Mereka adik-adik kak Yayan——”

__ADS_1


“Wulan, kamu bisa panggil aku kak Dian——” Dian asal nyerobot tangan Wulan, Diana lantas menghentikannya.


“Jauhkan tangan kotormu!“ Sang kakak memelototi adiknya dengan pandangan jijik.


“Apa sih?! Sinis mulu kerjaannya!“ respon Dian sebal.


“Bodo! Ayo, wulan … main sama kak Diana saja! Jangan sama orang ini, dia berbahaya, pasti punya niat buruk pada Wulan!“ Diana menyeringai pada Dian seraya menatap tajam. Ia kemudian menarik lengan Wulan untuk mengajaknya bermain.


“Kau mengatakan seolah-olah aku orang jahat, tau!“


“Memang!“


Yayan sedikit geleng-geleng kepala desa interaksi adiknya bagaikan dua zat yang susah menyatu. Mereka berdua hampir tidak pernah sejalan pikirannya.


Yayan kembali terfokus pada Rinto, dia langsung membawanya ke luar ruangan sebab di dalam agak ramai. Sementara pembicaraan mereka akan sedikit penting.


'Hmm, tidak ada orang, 'kah?'


Yayan pertama-tama memastikan di koridor tidak ada orang yang berlalu lalang. Jika ramai sama saja dengan keadaan di dalam.


Koridor rupanya sedang sepi, Yayan jadi bisa langsung to the point pada Rinto. Dia mengeluarkan ponsel lalu membuka sebuah file foto.


“Kau mengenali wanita ini?“ ucap Yayan yang menunjukkan foto itu di hadapan Rinto.


“Siapa ….“


Rinto kehilangan kata-kata, mulutnya ternganga serta mata membelalak lebar, ia langsung menyahut ponsel yang digenggam Yayan. Ia menatap lekat foto pada ponsel itu, memerhatikan secara seksama. Setelah puas melihat-lihat Rinto meminta penjelasan dari Yayan.


“Dari mana kau mendapatkan foto ini? Wanita dalam foto ini——”


Penghuni apartemen sebelah tiba-tiba keluar, itu adalah Aida. Ia terjun melihat Yayan dan Rinto yang berada di luar.


Ada pun, ia sedikit aneh pada pria yang bersama Yayan. Tatapannya terlalu berlebihan untuk orang yang baru pertama kali tatap muka.


“Yan, siapa dia?“


“Aima! Kamu Aima, 'kan?“


'Huh, mungkin akan ada sedikit drama.'

__ADS_1


__ADS_2