Wanita Adalah Sumber Uangku

Wanita Adalah Sumber Uangku
Ch 26: Kau mau juga?


__ADS_3

“Yan, maaf. Tadi pasti sangat memalukan?!“ sesal Vina.


Yayan dan Vina kini berada di sebuah restoran yang masih dalam kawasan mall untuk makan siang. Mereka sedari tadi diam, hening, hanya ada suara alat makan yang terdengar.


Vina melakukan inisiasi, tapi Yayan tidak menunjukkan respon yang diinginkan.


“Yan?“ panggil Vina.


Yayan akhirnya merespon, dia menarik nafas dalam-dalam dan menepuk-nepuk kedua pipinya.


“Kenapa harus malu? Kita tetap membeli, yah … meski bukan jam yang terlanjur dipamerkan tadi.” Yayan berucap semakin pelan saat akhir kalimat.


Yayan tetap membelikan jam tangan untuk Vina, harganya 30 juta. Artinya Yayan mendapat pengembalian senilai 150 juta.


“Meski begitu ….“


Yayan menggelengkan kepalanya, “Aku malah tersinggung jika kau tidak mau menerima ini. Aku berniat membelikannya untukmu!“


“Tapi … tapi ….“


“Kau ingin ini sia-sia? Apa aku harus memberikan jam ini pada orang lain, atau bahkan membuangnya?“ Yayan mengancam.


“Jangan! Jangan! Sayang dengan uangmu.“ Vina dengan berat hati mengambil kotak kecil berwarna perak yang nampak elegan di sana ada sebuah jam berharga satu unit motor.


“Terima kasih, Yan,” ucap Vina pelan, sedikit segan. “Aku akan menjaga jam ini baik-baik.“


Yayan mengangguk puas, “itu yang kuharapkan!“


“Tapi, ngomong-ngomong … kau bisa mendapat uang sebanyak itu dari mana? Itu bukan tabunganmu, 'kan?“ tanya Vina, ia mencoba menggali lebih dalam. Ia akan merasa bersalah jika uang yang digunakan adalah uang tabungan.


“Uhuk … uhuk …” Yayan terdesak saat meminum minumannya, terkejut dengan ucapan Vina.


'Benar juga, ya. Ke depannya pasti muncul pertanyaan seperti ini! Aku harus menjawab apa? System, pikiran jawaban yang pas!'


[Trading]


'Bagus, itu masuk akal! Buat skenarionya langsung!'


Lalu, muncul sebuah panel mengambang yang berisi kumpulan teka. Itu adalah skenario kebohongan yang dibuat oleh System, akan mengantisipasi semua pertanyaan Vina.


“Trading,“ balas Yayan.


“Beneran? Sejak kapan?“


“Mulai beberapa bulan yang lalu, sih. Aku menyisihkan 20% dari gajiku. Sudah profit, ribuan dolar, lho?“


“Sungguh?“


“Tentu. Itulah kenapa aku berani membelikanmu barang semahal itu.“ Yayan menunjuk jam yang masih tersembunyi di dalam kotaknya.

__ADS_1


“Gitu, ya?“


Vina masih ragu, tapi mengingat ia mengenal Yayan dengan baik. Jadi, Vina memutuskan untuk percaya.


Setelah dari restoran, mereka berdua memutuskan kembali. Yayan sudah menawarkan Vina untuk berbelanja lagi, tapi ia menolaknya.


“Hanya jam itu saja?“ tanya Yayan, tawarannya masih berlaku.


“Ini sudah cukup.“


[GPS wanita melacak keberadaan seorang wanita yang mengenal Anda]


'Eh? Siapa yang kau maksud?'


“Wah, wah … ternyata Yayan si culun sudah punya pacar, ya?“


Yayan dan Vina sontak menoleh ke belakang, di sana sudah ada seorang wanita. Itu adalah Luna, ia bersedekap tangan memandangi mereka berdua, terutama Vina.


Mata wanita itu berhenti pada sebuah paperbag yang Vina pegang. Ia sedikit terkejut melihat logo pada paperbag-nya.


'J-jam itu. Mereka baru saja membelinya? Eh? Tidak, mungkin wanita itu yang membelinya. Dan juga … itu sebabnya si pecundang ini bisa memiliki banyak uang!?' batin wanita itu dengan kesal.


Yayan tersenyum tipis mendengar isi pikiran Luna.


'Aku akan membuatmu kena mental, Lun!' batin Yayan.


“Apa perlu ditanya?“ balas Yayan acuh, segera mengajak Vina pergi. Akan tetapi, Luna mencegahnya dengan beberapa kalimat provokasi.


“Jangan seperti dulu, Yan! Dasar pengecut dan pecundang! Kau tidak ada bedanya saat SMA, bahkan lebih parah——”


“Tutup mulutmu! Kenapa kau ini? Tiba-tiba datang dan menjelek-jelekkan orang, kau pikir itu hebat?“ maki Vina sambil menunjuk-nunjuk Luna, ia tersulut emosinya.


Orang-orang di sekitar jadi terganggu, tapi mereka masa bodoh dan asal lewat saja.


Luna menanggapi dengan senyum cengengesan sambil menggeleng-geleng. “Hei, apa yang sudah diperbuat pecundang ini padamu? Oh, apakah disante——”


Plak …


Yayan dan pengunjung lainnya terkejut dengan tindakan Vina.


“Sudah terlanjur parah, kau harus segera disembuhkan!?“ ucap Luna dengan tenang meskipun diserang sensasi nyeri dan panas akibat tamparan di pipi.


“Berhenti menghina Yayan——”


“Vin, Vina … berhenti!“ Yayan memegangi Vina yang mencoba menggerapai ke arah Luna.


“Lepaskan aku! Dia harus disumbat mulutnya, dia harus diajarkan tata krama!“ Vina bersikeras, raut wajahnya penuh akan amarah. Yayan baru pertama kali melihat Vina semarah itu.


“Jangan gegabah! Kau sudah main kekerasan. Salah-salah kau bisa dilaporkan ke polisi. Tolong tenang!“ nasehat Yayan.

__ADS_1


“Dia sudah kelewatan, Yan! Kenapa kau diam saja? Dia sudah menghinamu, aku sungguh tidak suka,“ ucap Vina pelan, berhenti berontak, tubuhnya seketika lesu.


“Karena aku mengenalnya dan aku tau membungkam mulut wanita ini!“ balas Yayan.


Dia kemudian fokus pada Luna. “Apa yang kau mau? Oh, apakah kau juga menginginkan jam ini?“


Luna sekilas terkejut, tapi ia segera memunculkan senyum menyeringai. “Apa? Mau membelikannya?“


“Tentu saja. Kau boleh memilih salah satu barang yang ada di seluruh mall ini. Butuh pembuktian?“


Luna tersentak, bagaimana tidak. Yayan membalas perkataannya dengan sangat tenang seolah-olah dia memang mampu melakukannya. Luna sendiri tidak mempercayai laki-laki yang pernah jadi kacungnya kini lebih sukses darinya.


“Ya, semuanya memang perlu bukti! Oh, ya … aku tidak akan mau dengan jam murahan itu, harus lebih maha——”


“Nggak usah ngelunja——” sembur Vina yang tangannya sudah gatal untuk mencabik-cabik Luna. Namun, dicegah oleh Yayan.


“Tenang saja, Vin. Aku tau apa yang sedang kulakukan,” ucap Yayan mencoba menenangkan Vina. “Tunggu aku di luar, aku akan segera menyusul.“


Vina mematuhi perintah Yayan, meski enggan. Ia keluar dari bangunan mall dan menunggu di dekat area parkir.


Sedangkan Yayan membuntuti Luna untuk pergi berbelanja barang yang diinginkannya. Wanita itu menuju ke toko jam tangan yang baru disinggahi Yayan dan Vina.


'Sedikit beresiko, aku tak tau apa yang diinginkan wanita ini. Harus mencari tambahan!' batin Yayan.


“Hei, Lun!“ panggil Yayan, ia seketika berhenti.


“Apa? Baru sadar tidak punya uang? Huh, akui saja, kau tidak sanggup membelinya!“ ejek Luna.


“Terserah apa katamu. Aku ingin ke toilet, tolong tunggu sebent——”


“Aku tidak sebodoh itu, Yan. Kau mau kabur!“ potong Luna, Yayan hanya menghela nafas berat. Dia mengambil beberapa barang di sakunya.


“Jika kau kurang yakin … ambil ini sebagai jaminan! Aku akan kembali sekitar 20 menit. Aku benar-benar kebelet dan sudah di ujung tanduk!“ dalih Yayan, dia sebetulnya tidak berniat ke toilet.


Luna mengerutkan kening, menatap Yayan serius. Ia perlu mempertimbangkan keputusannya. Setelah berpikir beberapa saat, wanita itu memilih percaya.


“Heh, jika kau benar-benar kabur … itu berarti kau adalah pecundang sejati!“


“Aku tidak akan kabur!“ ucap Yayan langsung pergi meninggalkan Luna.


“Cih, paling-paling nyamperin pacarnya dan minta uang. Sangat terlihat jelas!?“ Luna berlalu ke toko jam tangan untuk melihat-lihat dan memilih jam yang hendak dibelinya.


Yayan muncul kembali sesuai dengan janjinya. Dia baru datang, tapi sudah disodorkan sebuah tagihan.


“Nah, bayar!“ desak Luna.


'Apa-apaan si jalan9 ini! Ngotak dong!'


Luna membeli jam seharga 1 miliar lebih, sedangkan uang yang dimiliki Yayan baru 900 juta. Dia terpaksa mencarinya lagi.

__ADS_1


__ADS_2