Wanita Adalah Sumber Uangku

Wanita Adalah Sumber Uangku
Ch 59: Kalah start


__ADS_3

“Akhirnya ….“


Yayan langsung merebahkan dirinya di ranjang yang besar. Jas dan aksesoris yang dipakai saat acara sudah dienyahkan, tinggal celana dan kemejanya yang berserakan di lantai kamar hotel.


Waktu telah menunjukkan pukul 2 pagi. Acara pesta yang melelahkan. Selalu tersenyum pada para tamu, meladeni teman-teman yang senantiasa menggoda soal malam pertama. Semuanya selesai, cuma ada Yayan dan tempat tidurnya. Tidak ketinggalan ketiga istrinya, yang kini sedang bebersih diri di kamar mandi.


“Ugh, gimana nantinya?“ Yayan tiba-tiba membayangkan waktu beberapa jam ke depan. Yah, mereka berempat … dia tiba-tiba gugup.


Yayan sudah biasa dengan Andrea, beda dengan Vina dan Mikha. Membayangkan tubuh tanpa sehelai kain yang menutupi dari kedua orang itu saja membuatnya gemetaran. Dia bahkan membayangkan bagaimana ekspresi dari Mikha, apakah tetap datar atau ….


Ya, wanita yang dimaksud telah bilas. Ia nampak keluar lebih dulu. Wajahnya selalu datar, Yayan bahkan berpikir bahwa Mikha adalah poker face sejati yang menyamai robot.


Kedua mata mereka bertemu, Mikha cuma mengangguk lalu menghampiri Yayan, duduk di ranjang. Yayan sontak bangkit dan mengambil posisi duduk di sampingnya.


Mikha memakai handuk kimono berwarna putih, ia sedikit melirik Yayan. Rambut hitam panjangnya yang masih agak lembab disibak dan disampirkan ke depan bahu. Tengkuk putih dan mulusnya pun terekspos. Wangi tubuhnya pun semakin menyeruak, seolah berkata. “Silahkan dinikmati.“ Indera penciuman Yayan bisa gila jika tidak mengendusnya dari dekat.


“Mas, apakah ini cukup?“ ucap Mikha, seperti biasa tanpa emosi. Jika ada sedikit emosi seperti malu-malu. Huh … itu pasti akan memberikan serangan kritikal. Yayan tanpa menunggu lama pasti langsung berupaya memberi tanda ikan ****** di tengkuk mulus Mikha.


'Sial, cara merayunya itu sangat … ah, Andrea pun kalah.'


“Apakah aku perlu membebaskan tubuh ini dari jeratan handuk?“ Mikha berbalik menghadap Yayan, tangannya sudah siap melengserkan handuknya turun.


“Tidak perlu, Mikha. Umm … sedikit mendekat lah!“


Mikha seperti anjing yang patuh mendekatkan diri, mencondongkan badannya ke depan. Jarak wajah mereka sudah sangat dekat, hembusan nafas masing-masing bisa terasa.


'Dia memang tier atas. Aku sebetulnya sangat beruntung. Eh, beruntung … apakah itu keberuntungan?'


Yayan memegang kedua bahu Mikha, tiba-tiba tatapan Mikha berubah nanar menatap Yayan. “Maaf, jika tubuhku tidak memuaskan!“


“Apa yang coba kau katakan? Kau itu sangat cantik Mikha. Aku ingin sekali mencumbu tiap inci tubuhmu. Lihat, pipimu ini sangat lembut dan mulus.“ Yayan membelai pipi kanan Mikha.


“Lelaki mana pun pasti berpikir … 'Aku akan mendapatkan, merasakan, dan melindungi kecantikan yang hampir sempurna ini dari para bajin9an mesum'.“


“Aku tidak berpengalaman, Mas. Aku takut mengecewakan.“


“Yah, makanya dicari dan malah bagus jika non pengalaman.“


'Mikha itu sebenarnya sedikit polos. Huh, andai dia mau menunjukkan sedikit emosinya … woah, pasti sangat lucu.'


[Misi dikonfirmasi]


[Pemanasan dengan Mikha sampai ia keluar atau selama 30 menit]


[Reward: 5 poin kesehatan, 10 spera]


'Tidak, tidak. Vina dan Andrea pasti segera selesai. Mereka pasti bakal bergabung.'

__ADS_1


[Kurasa mereka masih sibuk berdebat, Host]


'Heh? Seriusan? Yah, udah biasa, sih.'


“Mas Yayan?“ panggil Mikha. Yayan memang terbengong sebentar.


“Apa Mas Yayan sedang berpikir bahwa menyesal telah menyetujui perjodohan dari ayah?“


'Ugh … pikirannya jadi kemana-mana.“


Yayan menggeleng seraya menunjukkan senyum lembut. “Aku malah merasa sangat beruntung, Mikha. Kau sudah siap?“


Mikha mengangguk lemah. Yayan tanpa basa-basi langsung nyosor bibir merah muda di hadapannya. Dia langsung mengulumnya, sedikit bermain dengan indera pengecap. Mikha tampak menikmati, ia melingkarkan kedua tangannya di leher Yayan.


Kedua tangan Yayan itu juga aktif menjelajahi area-area sensitif dari Mikha. Tangan kanannya menyentuh lereng gunung yang terasa begitu kencang dan lembut itu, seperti belum pernah ada memainkannya selain Yayan.


Sementara itu, tangan kirinya menjelajah pahanya Mikha. Dia menaikkan handuknya dan terlihat lah, paha putih yang mulus tanpa lecet, koreng, tanda lahir, atau lainnya. Yayan menjelajah naik sampai tepian lubang.


Mikha sedikit menggeliat dan gemetar, ia sedikit geli pada sentuhan itu.


Mereka berdua terus bercumbu satu sama lain, memutar indera pengecap, menggerakkannya secara perlahan di mulut masing-masing.


Setelah 10 menit tanpa henti menghubungkan bibir masing-masing, Yayan melepaskan cumbuannya. Wajah Mikha seolah-olah ingin meminta lebih, Yayan bahkan bisa membayangkan muncul pupil bentuk love berwarna pink yang biasa ada di doujin dewasa.


'Poker face-nya perlahan runtuh?!'


Yayan menatap Mikha dan berbisik lembut ke telinganya. “Kau sangat cantik, Mikha. Aku bahkan membayangkan bisa melakukannya denganmu selama-lamanya.“


“K-k-kalian?“ Vina yang baru keluar dari kamar mandi terkejut melihat kondisi Yayan dan Mikha yang urakan.


“Ups, kau kalah start!“ Andrea yang ada di belakangnya menepuk bahu Vina, tersirat ejekan. “Tak kusangka Mikha akan seagresif itu! Ya, ke depannya aku harus waspada.“


Vina melirik Andrea, ia terpancing. Semangatnya untuk bersaing pun jadi berkobar-kobar. Tidak ada kata minder lagi.


“Huh, yah … sekiranya giliran kami, Yan! Kamu harus adil!?“


“T-tentu saja. Aku cuma pemanasan sedikit sembari menunggu kalian, hehe.“ Yayan tersenyum kecut.


Vina dan Andrea kemudian melepaskan handuk yang melilit tubuh mereka dan langsung lompat ke atas ranjang.


Yayan sudah merasakan hal buruk.


'Cairanku pasti diperas habis-habisan!'


.


.

__ADS_1


.


.


Keesokan paginya ….


Wajah Vina terus manyun saat ia dan keluarga besarnya sarapan, yah, orang tua Vina juga termasuk. Meski di depannya ada berbagai hidangan mewah dari hotel bintang lima, belum ada yang sanggup menggugah nafsu makan dari wanita yang sedang kesal itu.


“Ada apa, Vin? Kenapa makanannya nggak disentuh? Kurang enak badan?“ tanya ibunya Vina. Sementara itu, ayahnya Vina seketika melirik Yayan yang sebetulnya juga berat untuk memasukkan makanannya ke mulut.


Namun, jika dia ikut-ikutan mogok makan seperti Vina, semua orang pasti curiga.


“Apakah itu tidak berjalan lancar?“ tanya ayahnya Vina sedikit ambigu.


Semua orang di meja makan kemungkinan langsung ngeh, lagipula mereka tidak lah polos.


Vina lantas melirik Yayan dengan sorot yang tajam. 'Kamu yang sudah menciptakan kondisi ini, Yan!' Yayan membayangkan Vina mengatakan itu. Tidak, Yayan memang mendengar suara hatinya.


'Tunggu, apa itu salahku? Kita cuma pemanasan. Vina dan Andrea tak lama langsung bergabung. Malah mereka yang kejam, aku tidak dibiarkan istirahat dan malah terus memeras sampai kering. Itu kejam, woi!' teriak Yayan dalam hati.


Vina sadar bahwa suasana di ruang makan sedikit tegang. Jadi, ia mengubah rona wajahnya dan tersenyum.


“Sangat lancar, kok, Yah. Hmm … mungkin sedik sakit di bawah sini.“


Semua sorot mata langsung tertuju pada Yayan, dia seketika tersedak saat hendak meminum segelas air.


“Apa?“ Yayan mengangkat sebelah alisnya dengan bingung. Apalagi mendengar suara cekikikan adik-adiknya yang pura-pura polos.


“Ya, kupikir Yayan terlalu berlebihan. Saat bangun tidur aku jadi susah untuk berjalan.“ Andrea menimpali.


“Ya, Mas Yayan sedikit berlebihan. Itu terasa nyeri!“ Mikha ikut-ikutan.


Ketiga istrinya menyudutkannya. Yah, terasa menyebalkan.


'Oh, gitu cara mainnya. Aku tidak akan mau melayani kalian lagi.'


“Sepertinya anak kita sudah dewasa. Tapi, jangan berlebihan … kau tidak kasihan pada Vina, Andrea, dan Mikha? Main halus lah! Hmm … kau memang turunan ayahmu. Dia sama saja … langsung gas tanpa kendor!“ Sarah tersenyum.


“Sudah, sudah. Obrolannya malah ngelantur kemana-mana. Topiknya terlalu … ingat, ada anak-anak!“ sergah Yayan.


Para orang tua cuma tersenyum. Yayan serasa ingin menghilang saja dari dunia, dia menunduk dan dengan tenang menghabiskan makanannya.


.


.


.

__ADS_1


.


Huh, harusnya chapter 59 udah diupload dari kemarin. Tapi, gitu … ditolak terus ban9sat. Padahal belum terlalu vulgar. Ini sudah direvisi dan dirombak, sih …. kalo ini masih ditolak … ya nyerah, deh.


__ADS_2