
“Yan, kau benar-benar akan resign?“
“Ya, terima kasih atas bantuannya selama ini, manager.“
Yayan pergi ke kantornya untuk menyerahkan surat pengunduran diri. Dia bertemu dengan teman-teman di kantornya.
Bukan cuma Yayan, Vina pun ikut membuat surat pengunduran diri. Wanita itu kini sibuk menguatkan diri dengan Yulia atas perpisahan itu. Ya, tidak, tidak. Itu berlebihan, mereka hanya pindah kerja, bukan pindah kota. Mereka bisa saling bertemu jika hari libur.
“Jadi, kau mau apa setelah ini?“ tanya Intan.
“Ya … mungkin membuat usaha sendiri?!“ jawab Yayan agak ragu.
“Hmm … kau sepertinya sudah banyak berkembang dari pertama kau masuk ke sini. Kau sudah berani untuk merintis usahamu sendiri.“ Intan tersenyum, kentara penuh kesedihan.
“Ya, jika sudah sukses, kau boleh masuk ke perusahaanku, Manager.“
Melihat senyuman Yayan yang lebar mengangkat moral Intan. Ia tidak terlalu sedih lagi.
“Ya, pasti. Siapakan posisi yang bagus untukku, ya!“ Intan menangapi dengan mengedipkan sebelah matanya.
Yayan selesai melakukan perpisahannya dengan seluruh teman di kantornya. Sebelum pergi, ada seorang wanita yang menghampirinya … Yayan hampir melupakannya.
“Oh, Rukaw——Nazuna. Kukira kau hari ini tidak berangkat. Maaf.“ Yayan agak membungkuk.
“Uhm ….“ Nazuna menggeleng. “Terima kasih atas bantuannya selama ini, Yayan.“ Ia melirik Vina. “Selamat atas pernikahannya. Aku tidak sempat datang."
“Ya, semoga di masa depan kita bisa bekerja sama lagi.“ Yayan undur diri, dia melambai pada rekan-rekan kantor yang bisa dianggap teman. Meski begitu, tetap ada yang sinis pada Yayan. Terutama pria yang merupakan calonnya Nazuna.
'Orang semacam itu … aku sungguh tidak suka,' pikir Yayan. Dia berpikir sedikit jahil. Dari jarak jauh, Yayan menurunkan resleting celana pria itu menggunakan Telekinesis.
“Kenapa kamu senyum-senyum begitu?“ Vina heran pada Yayan yang cengengesan.
“Cuma berpikir hal yang lucu. Yah, jangan jutek begitu. Aku sudah menjadi milikmu, kenapa harus cemburu saat aku berbicara dengan manager dan Nazuna.“ Yayan mencolek hidung Vina.
“Iya, iya, milikku. Tapi, ada kemungkinan kamu bisa juga menjadi milik mereka!?“ ucap Vina judes.
“Kenapa kau berpikir begitu?“
“Cuma firasat.“
Yayan dan Vina pun pulang. Eh, tidak, ada sedikit rencana lain.
“Ah, kenapa aku selalu lupa untuk membeli mobil. Itu hal yang lumayan penting, 'kan?“ gumam Yayan menepuk dahinya sendiri. Dia menoleh pada Vina untuk meminta pendapatnya.
“Mungkin kamu sudah terbiasa dengan motor. Dan kurasa itu lebih romantis.“
“Hmm … benarkah? Kau tau … saat di jalan sedang hujan yang derasnya minta ampun, sampai tidak memungkinkan untuk mobil berjalan. Aku memilih untuk berhenti di pinggir jalan. Keadaan yang sangat dingin … lalu cuma ada kita berdu——berempat di mobil itu. Kau tau … kehangatan?“ Yayan memberikan kode.
“Entah kenapa akhir-akhir ini kamu jadi sedikit cabul?“ Vina sedikit memalingkan muka untuk menyembunyikan pipinya yang merona. “K-k-kurasa masuk akal. Kita sangat butuh mobil.“
__ADS_1
“Oke … ayo pergi ke showroom!“
“Umm … tapi apakah ada mobil yang cukup muat? Kita berempat, lho … apakah nanti tidak sempit?“ tanya Vina dengan polosnya.
Sekarang terbukti siapa yang lebih cabul.
.
.
.
.
Dian dan Diana mendengar ada tamu yang datang, mereka pikir itu adalah tetangga mereka, Bu Aida dan keluarganya. Namun, agak salah.
“Siapa?“ tanya Diana pada adiknya.
Dian melihat rupa dari kamera kecil di dekat pintu. Ada sekelebat rambut hitam panjang, ia seorang wanita.
“Wanita, mungkin tante Aida. Ada semacam keperluan, kurasa?“ Dian mengangkat kedua bahunya lalu pergi untuk kembali menonton TV.
“Hei, apa kita perlu membangunkan ayah dan ibu?“ Diana meminta pendapat.
“Jangan! Biarkan mereka istirahat, menikmati apartemen mewah ini! Tenang saja kakakku yang pengecut! Si tamu pasti bukan orang asing!?“
Yayan sebelumnya memang sudah berpesan agar tidak menerima tamu jika tidak mengenalnya.
Si adik mengacuhkan kakaknya. Diana jadi sedikit muak, jadi, ia asal membuka pintu. Saat rupa dari si tamu kelihatan. Diana tidak mampu berbicara, Dian juga ikut-ikutan. Mereka terperangah melihat wanita itu.
'Bagaimana dia bisa sampai ke atas sini?' pikir mereka berdua.
“Hai, Nona muda Diana dan Tuan muda Dian. Saya Gamma, akan membantu dan mengurus keperluan kalian.“
.
.
.
.
“Huh, ini membosankan! Sejak Yayan pindah dari sini tempat ini jadi sepi!“ celetuk Aji yang bingung ingin melakukan apa. Mereka cuma duduk-duduk di ruang tamu, kurang kerjaan.
“Kau benar!“
“Apalagi Andrea juga ikut pindah. Huh, ngga bisa lagi cuci mata. Aku sangat suka melihat dadanya yang menggoda itu.“
“Kusarankan hentikan fantasimu tentang Andrea. Dia sudah jadi istri orang, kau bisa dihajar Yayan jika menggunakan salah satu istrinya untuk fantasi jorok!“ sahut Azka.
__ADS_1
“Apa salahnya, sih? Terpenting tidak merugikan orang lain. Tapi, sungguh … kau tidak mau salah satu fotonya Andrea? Ahh, pose yang ini sangat bagus. Aku tidak sengaja mengambil gambarnya saat dia tertidur di sofa.“
Azka yang merupakan remaja normal dan sehat, mau tidak mau tertarik dengan segelintir foto yang tersimpan di ponsel teman karibnya itu.
“Hei, apakah ada yang saat dia mandi?“
Aji menyeringai jahat, “Nah, siapa yang sok suci tadi? Terlebih, apakah Mitan tersayangmu tidak sebohai Andrea?“
“Berisik! Aku tanya … apa kau memiliki fotonya saat mandi?“ Azka dengan malu-malu berkata, ia menjilat ludahnya sendiri.
Aji menggeleng. “Kau pikir itu mudah? Jika ketahuan … habis sudah. Ini taruhan nyawa, tau!“ Aji menyombongkan diri.
“Taruhan nyawa? Apakah aku harus sangat berterima kasih padamu?“
“Tentu saja.“
Azka mendecih. Diakui atau tidak, ia sangat berterima kasih. Mereka selanjutnya melihat-lihat koleksi foto yang ada. Kesemua fotonya menggairahkan.
“Hei, apakah diriku berbakat untuk menjadi fotografer?“ Aji menjadi semakin angkuh.
....
Sementara itu, di tempat lain. “Entah kenapa aku jadi sangat merinding?“ ucap Andrea.
“Mungkin ada yang menyalahgunakan sesuatu?“ respon Mikha.
“Maksudnya?“
....
Kembali ke kos-kosan milik Bu Salma.
“Masa bodoh! Sekarang, kirim semua foto itu?“
“Oh, tidak, tidak. Ini mahal! Kau berani berapa?“
Tok … tok … tok …
Suara ketukan pintu depan tempo yang agak cepat terdengar. Mereka berdua langsung terfokus pada pintu, keduanya saling pandang.
“Mungkin Bu Salma?“
Aji membuka pintu, dan begitu terkejutnya saat melihat sang tamu.
Brakkk …
Aji seketika ditiarapkan ke lantai. Azka yang terkaget mengangkat kedua tangannya seolah-olah ia terpergok telah melakukan sesuatu yang salah.
“Ini pelanggaran berat! Jangan jadikan Nona Andrea bahan fantasi jorok kalian! Saya Teta, sosok yang akan menemani kalian untuk masuk ke perusahaan SATA Telcom. Oh, ya …. Tuan Yayan sudah sangat berbaik hati pada kalian. Kalian boleh menggunakan saya untuk keperluan apapun! Saya akan sangat marah jika kalian menyimpan foto-foto dari Nona Andrea, Nona Vina, atau Nona Mikha. Bahkan Nona muda Diana.“
__ADS_1
“Apapun?“ Aji yang paling tertarik dengan pernyataan tadi.