Wanita Adalah Sumber Uangku

Wanita Adalah Sumber Uangku
Ch 30: Salah langkah


__ADS_3

Sesuai kesepakatan, Andrea menjalankan tugas yang diberikan Yayan. Ia akan berusaha mendekati pacarnya Yani, nama pria itu adalah Vicky.


Tujuan utamanya adalah supaya Vicky berpaling dari Yani, jadi Andrea berusaha melakukan NTR. Rencananya itu bisa dibilang sudah setengah jalan, bagaimana tidak …. si target sudah melakukan kontak lebih dulu.


Andrea tinggal meneruskan niat perselingkuhan dari Vicky.


Andrea kini menunggu di taman dekat kos-kosannya Yayan, mereka janjian di sana lalu pergi ke hotel.


“Hmm … entah kenapa aku sangat tidak menyukainya. Membayangkan tubuhku dinikmati orang lain selain … akh, cukup! Kendalikan dirmu, Andrea!“ Ia menepuk pipinya untuk mengenyahkan perasaan tidak enak tadi.


'Aku hanya akan melakukannya sekali, setelah itu aku tak bakal sudi melakukannya bersama siapa pun, kecuali Yayan!'


Andrea menunggu dengan sabar. Sampai pada akhirnya muncul seorang pria yang datang menghampirinya. Ya, ia adalah customer, tentu saja Vicky.


Pria dengan potongan rambut mullet, mengenakan kemeja hitam yang dilapisi rompi berwarna merah yang lengannya digulung sampai siku. Bawahanya hanya celana pendek berwarna hitam.


Vicky langsung tahu keberadaan Andrea, ia melambai dan tersenyum.


Andrea hanya merespon dengan lambaian kecil.


“Ternyata aslinya lebih cantik dan ….“ Vicky memerhatikan area-area yang sebetulnya tak etis untuk ditatap terlalu lama.


Vicky bersiul, ia sangat tidak sabar. “Kau benar-benar sangat cantik, Andrea!“


“Ya. Namun, aku sebetulnya sudah tidak melayani seseorang lagi!“


“Tenang saja, jika pelayananmu sangat baik. Aku bisa melipatgandakan bayaranmu.“ Vicky memberi iming-iming.


Vicky mencoba menggandeng tangan Andrea, wanita itu reflek menyentaknya. Ia sadar apa yang baru saja dilakukannya.


“Maaf, sedikit reflek!“


“Tidak apa-apa. Hanya malam ini, dan kau bebas pensiun. Ayo!“ Vicky mengulurkan tangannya, Andrea menerimanya.


Mereka berdua pergi menuju mobil mewah milik Vicky yang terparkir di luar taman.


Sementara itu ….


“Aku tak pernah berpikir kau memiliki pacar lain selain Vina!“


“Ssttt … nggak usah banyak omong!“


Nampak dua orang sedang mengawasi gerak-gerik Andrea dan Vicky dari kejauhan, berbaur dengan pengunjung taman yang lain. Mereka adalah si budak korporat divisi keuangan bersama kacungnya, penjual nasi goreng.


“Mereka pergi, tuh. Apa yang akan kita lakukan? Membuntutinya?“


“Ya,” balas si budak korporat, Yayan.

__ADS_1


“Kenapa?“ heran Rinto. “Kau cemburu?“


“Gajimu kupotong!“ ucap Yayan to the point. Dia mulai bergerak perlahan mengikuti kedua targetnya yang kini sudah masuk ke dalam mobil dan hendak pergi.


Yayan sebelumnya telah memesan taksi online, dia bisa langsung mengikuti Andrea.


“Kau ikut atau di sini?“ tanya Yayan memastikan.


Bukan masalah sebetulnya bila Rinto ikut atau tidak. Yayan hanya menjadikannya sebagai personel tambahan. Si penjual nasi goreng memutuskan untuk ikut.


“Pak, tolong buntuti mobil itu!“ pinta Yayan, sang sopir taksi pun dengan perlahan mulai membuntuti mobilnya Vicky.


'Tidak ada yang namanya kebetulan, itu hanya takdir yang menyamar. Aku sudah tau bila selama ini ada orang yang selalu mengawasiku.'


Yayan sudah sadar tentang keberadaan mata-mata suruhan Yani berkat laporan dari Azka dan Aji. Dia jadi curiga saat Andrea mendapat pesanan dari pacarnya Yani.


Dia tidak menyangka akan dimata-matai sampai ke kos-kosannya.


'Mereka pasti punya niat buruk pada Andrea!'


“Kenapa wajahmu sangat menyeramkan!“


“Cih, kau menganggu monolog-ku!“


Setelah perjalanan hampir 45 menit, mobil yang dikendarai Vicky berhenti di salah satu hotel bintang lima di kotanya.


'Ugh, sial! Hausnya aku mengajak Vina saja! Eh, tidak … aku tak mau melibatkan dalam bahaya!'


“Lalu, apa? Mereka sudah masuk? Apa kita harus masuk juga?“ ucap Rinto.


“Sedang diusahakan, sebaiknya kau jangan banyak omong!“ sembur Yayan. Dia telah selesai melakukan pemesanan, sisanya tinggal check-in dengan resepsionis.


“Ayo, masuk!“


Yayan dan Rinto langsung keluar dari taksi kemudian menuju lobi hotel.


“Kamar atas pesanan Yayan!“ ucap Yayan pada wanita yang bertugas melayani tamu yang baru datang.


Si resepsionis sedikit malu menatap ke arah Yayan dan Rinto. “T-tuan Yayan? Segera diperiksa.“ Kata-kataku jadi belepotan karena gugup.


'Dua orang laki-laki memesan satu kamar untuk berdua——'


“Bukan, bukan. Mbak sangat salah paham! Saya straight, masih tertarik pada wanita. Jadi, jangan——”


Yayan baru sadar dengan apa yang dilakukannya, dia melihat sekeliling. Para tamu hotel yang lain memandangnya dengan tatapan aneh.


Dia dengan malu menunduk ke bawah. Sedangkan Rinto tidak mengerti konteksnya.

__ADS_1


'Memang lebih baik mengajak Vina. Aku tadi juga terlalu ceroboh,' sesal Yayan.


Si resepsionis memberikan kunci kamarnya pada Yayan, datang seorang pegawai hotel untuk melayani. Namun, Yayan tidak membawa apapun.


“Tolong jaga orang ini! Saya ada keperluan di atas!“ perintah Yayan yang langsung pergi menuju lift.


Rinto sontak kebingungan, “Lalu, kenapa aku diajak jika ditinggalkan begini?“ protes Rinto.


.


.


.


.


“Kau siap Andrea? Ini akan jadi malam yang panjang dan panas!“ ucap Vicky sambil merangkul Andrea. Mereka kini sudah di depan kamar hotel.


'Pria ini? Senyumannya saja sudah membuatku jijik! Benar-benar bajin9an sejati!' batin Andrea yang berusaha tersenyum meski hatinya menolak dengan keras.


Saat Vicky membuka pintu, ia sempat berbisik pada Andrea sebentar.


“Ini akan jadi s3x yang tidak mungkin bisa kau lupakan! Pertama dan terakhir kalinya!“


Setelah itu, Vicky menjorokkan Andrea hingga terjatuh. Dan apa yang menyambut Andrea adalah ….


“Baiklah, kawan-kawanku. Kalian bebas menikmati wanita ini sampai dia tidak bisa bernafas!“ teriak Vicky seraya tersenyum lebar, nampak bahagia.


“Hah?“ Andrea terkejut. Pupil matanya seketika mengecil, bukan karena kamar mewahnya. Melainkan penghuninya, ada belasan pria besar yang tidak ada satu helai pun yang menyelimuti tubuhnya.


Andrea reflek hendak melarikan dir, ia tahu bahwa Vicky cuma ingin mencelakainya.


“Kau mau kemana? Ini pekerjaanmu, 'kan? Harusnya kau senang? Tenang saja, kami akan membuatmu merasakan sensasi bercinta yang tidak ada duanya!“ Vicky tersenyum bungah, menghalang-halangi pintu supaya Andrea tidak bisa kabur.


“Minggir! Sebenarnya apa salahku padamu? Aku bahkan tak mengenalmu!“ berang Andrea, ia berupaya memukul-mukul Vicky.


“Kau tidak punya salah apa-apa. Mungkin hanya takdir. Kesialanmu saja kenal Yayan dan cukup dekat dengannya … andai saja kau tidak mengenalnya!“


“Yayan!“ Andrea menggumamkan nama itu, matanya mulai berkaca-kaca.


Ia mulai mengerti kenapa Yayan sangat membenci Vicky ataupun Yani.


'Jadi, ini maksudnya. Ingin saling menghancurkan?' batin Andrea yang tidak tahu harus berbuat apa.


Vicky lalu mendorongnya menuju kumpulan pria yang sudah nampak lapar. Satu per satu bajunya Andrea mulai dilucuti.


'Aku tau ini mustahil, tapi tolong. Siapa pun, tolong aku!'

__ADS_1


Salah seorang pria sudah mulai mencoba mencicipi bibir Andrea.


'Yayan!'


__ADS_2