Wanita Adalah Sumber Uangku

Wanita Adalah Sumber Uangku
Ch 58: Pernikahan


__ADS_3

“Yah, hari yang dinanti tiba.“ Yayan menguruskan nafas berat dan tersenyum kaku saat dia melihat pantulan dirinya di depan cermin.


Yayan kini sedang berada di ruang rias pengantin. Dia kini sudah disulap menjadi pria yang nampak terhormat serta berwibawa, mengenakan pakaian formal berupa jas berwarna abu-abu yang didalamnya ada kemeja putih, dan memakai celana yang warnanya senada dengan jasnya.


Yayan tidak berhenti tersenyum, perasaan senang, bingung, aneh, dan sedikit kesal, semua itu bercampur. Beberapa jam lagi dia akan resmikan menjadi suami seseorang, hubungan sakral dengan seorang wanita. Tentunya bukan main-main, harus memegang komitmen.


Masalahnya, Yayan tidak memiliki perasaan untuk mencintai, dia cuma menyayangi mereka sebagai temannya. Yah, dia tahu sumber masalahnya, tapi Yayan tetap merasa sangat jahat.


Bagaimana jika selamanya dia tidak bisa mencintai istri-istrinya. Bukannya itu sangat kejam? Hidup dalam kepura-puraan.


“Yani, kau harus bertanggungjawab!“ gumam Yayan dengan suara kecil, telapak tangannya terkepal kuat.


Yayan menepuk kedua pipinya, berupaya mengendalikan diri.


“Huh, fokus! Jangan kecewakan siapa pun!“ Yayan melihat pantulan di cermin dengan sorot yang tajam.


Ya … pesta pernikahan yang telah dirancang susah payah dan menghabiskan anggaran besar, menurut sudut pandang Yayan itu tidak boleh gagal. Apalagi rombongan dari kampung datang, bersama teman-teman masa kecilnya.


Di sebuah hotel yang sangat megah ini, sedang dihelat suatu acara yang sangat besar. Bahkan pengunjungnya mencapai angka ribuan.


Tentu saja, acara ini adalah pesta pernikahan Yayan dengan tiga pengantin wanitanya. Dia membuat pesta sebesar itu bukan tanpa alasan, Yayan berencana untuk meningkatkan derajat ekonominya. Ke depannya dia tidak akan menjadi bawahan seseorang, melainkan dia yang akan menjadi bos.


Dia telah mengambil ancang-ancang dengan menjadi investor perusahaan-perusahaan kecil. Itulah mengapa Yayan mempunyai tamu dengan angka sebanyak itu, walaupun dia orang biasa. Beberapa hari ini, dia sudah bekerja sangat keras … entah bisa disebut kerja keras? Yayan cuma berkencan dengan calon-calon istrinya dan membelikan mereka barang-barang dengan harga selangit.


Yayan sudah merencanakan untuk mengakuisisi sebuah perusahaan serta mendirikan perusahaannya sendiri. Dia sebetulnya malas, tapi tidak ada pilihan lain. Hidup sebagai karakter tidak penting yang memiliki potensi menjadi penguasa itu sungguh sia-sia. Dia berpotensi mengubah tatanan dunia dan membuat dunia menjadi lebih baik.


Hidup sebagai orang golongan menengah ke bawah sudah menjadi salah satu motivasinya. Yayan berpikir, jika hidupku saja kadang susah … lalu, bagaimana dengan orang-orang yang di bawahku? Pertemuannya dengan anak pemulung bernama May menjadi penyebab terbukanya pemikiran Yayan.


Tamu undangan menikmati acara pestanya. Makanan dan minuman yang berlimpah, hiburan dari berbagai band dan musisi terkenal, serta banyak hal yang lainnya membuat semua orang senang.


Sampai puncak acara tiba ….


Mempelai pengantin telah tiba di aula pesta. Semua orang terpana, apalagi dengan tiga bidadari yang berjalan bersama seorang pria yang dikatakan beruntung itu. Para laki-laki lantas merasa iri.


“Jangan menangis, Vin. Nanti saja jika kita sudah resmi,” goda Yayan pada Vina yang menggandeng lengan kanannya.


“B-bukan!“ Ia menggeleng. “A-aku sungguh tidak percaya. Hari ini … saat aku dulu cuma bisa kesal dan berdoa bahwa pria di sampingku ini bisa peka. Eh, tidak … pada akhirnya aku yang menembakmu. Gimana jika aku tidak menyatakan perasaan? Apa aku akan bersanding denganmu hari ini?“ balas Vina panjang lebar dengan suara pelan, hingga cuma bisa terdengar oleh Yayan, Andrea dan Mikha.


“Hei, Yan … aku tidak sabar nanti malam, hehe.“ Andrea tersenyum kecil, memeluk menggandeng lengan kiri Yayan. Di samping kirinya ada Mikha yang cuma fokus berjalan ke depan.


Yayan tersenyum canggung. “Halah, paling kita tepar karena lelah setelah pesta usai. Ada banyak hal yang harus diurus.“


“Nggak bakal. Jika seumur orang tidur … aku yang akan melakukan pertama dengan Yayan, meski dia tertidur,” balas Andrea tanpa jeda.


“Cih, kau ini … apa pemikiranmu cuma tentang ngw3? Oh, ya, kan, nutrisi yang harusnya ke otak malah nyangkut di dadamu!“ sindir Vina.


'Huh, mereka mulai lagi.'

__ADS_1


Calon pengantin telah sampai di mimbar da akan segera dilaksanakan inti acaranya. Semua orang menghadap mereka, pasangan yang bak di negeri dongeng. Ketiga calon pengantin wanita mengenakan gaun abu-abu yang megah, glamor. Sangat cocok dengan wajah cantik mereka.


“Hei, kalian sudah siap, 'kan?“


Mereka bertiga mengangguk.


Salah satu hari besar Yayan resmi terjadi. Dia berhasil menemukan istri sesuai keinginan orang tuanya, yaitu dalam waktu sebulan. Yah, Yayan menghabiskan 29 hari untuk bisa menikah. Janjinya ditepati.


.


.


.


.


“Aku mengucapkan selamat kepada Anda, Tuan Yayan! Semoga kau selalu diberkati dan diberikan kesehatan untuk membuka karir bisnis Anda, hahaha. Kami sangat terbantu dengan dana yang Anda kucurkan, usaha saya hampir runtuh jika Anda tiba-tiba tidak muncul!” Ucap salah seorang Pria Tua dengan rambut yang telah mulai memutih itu.


Ia adalah salah satu owner perusahaan yang menerima investasi dari Yayan. Perusahaan orang itu bergerak di bidang kuliner.


“Hahaha ... dibawa santai saja. Saya harap dengan bantuan saya. Bisnis babak menjadi semakin berkembang!” Balas Yayan sambil tertawa puas dan mengangkat segelas minuman di tangan kanannya.


“Saya pasti akan membalas jasa Tuan Yayan di kemudian hari.“


Penting membangun relasi, Yayan memilih usaha-usaha kecil yang cenderung gulung tikar karena untuk menarik empati owner-nya. Ketergantungan dan balas budi, itu hal yang bagus.


Vina sedang melayani tamu-tamunya yang merupakan teman-teman SMA, kuliah, dan kantor. Ia memiliki teman yang banyak. Berbanding terbalik dengan Andrea, ia seolah-olah tidak memiliki kenalan. Tapi, yah … ia berganti penampilan, dan orang-orang yang mengetahui sebagai wanita malam mungkin hampir tidak ada. Ia cuma bersama Mikha yang bercengkrama dengan keluarganya.


Saat Yayan asyik-asyik berbincang dengan tamu-tamu, seorang wanita mendekat ke arah Yayan.


“S-selamat atas pernikahanmu,” ucapnya dengan malu-malu memalingkan muka.


Yayan berbalik dan sedikit kaget. Tamunya yang diajak berbincang sadar diri, pergi.


“Hmm … ada apa, Luna? Kau datang? Aku tidak menyangka, lho.“ Yayan tersenyum puas, merasa menang. Dulu dia selalu dipermalukan oleh Luna.


“Ya, aku cuma ingin minta maaf. Akhir-akhir ini aku sudah salah padamu, menjadi stalker yang hina. Aku selalu salah paham dan berpikir yang tidak-tidak. Namun, kini aku percaya … kau benar-benar berhasil. Aku turut senang. Dan yah … jika tidak keberatan, bolehkah kau memberiku pekerjaan? Mungkin relasimu bisa sedikit membantuku.“ Luna mengutarakan maksudnya.


“Hmm … boleh, boleh saja. Kau bisa menjadi asisten pribadiku. Ke depannya aku akan menjadi orang yang sibuk.“


“Huh? Apa?“ Luna kaget. Wanita yang lini mengenakan dress berwarna biru itu ternganga-nganga.


“Tapi, ada syaratnya, Lun.“


“Syarat?“ Luna mengerutkan dahinya.


“Tentu saja. Apa dengan kata maaf bisa menyelesaikan semua masalah?“

__ADS_1


Luna tersentak pada awalnya, tapi dengan tekad ia berkata dengan tegas. “Aku siap, Yan. Meski dengan tubuhku sekali pun.“


“Huh, yah ….“


Nesa kemudian datang memberi kabar melalui ponselnya. “Aku telah menemukan keberadaan Yani. Tapi, masih 60% kemungkinan.“


“Hmm … ya, pastikan dia adalah wanita itu. Tapi, maaf …. aku kini sibuk.“ Yayan mematikan panggilannya.


Belenggu perasaan cinta pada Yayan akan segera berkahir.


.


.


.


.


Arc 1 selesai.


Bonus ilustrasi ... yah, kira-kira begini wajah mereka.


•Davina



•Andrea



•Mikha. Warna mata harusnya merah delima.



•Nazuna



•Alya. Tapi, harusnya sedikit pemalu.



•Luna



•Yani

__ADS_1



__ADS_2