
“A-aku mengenalnya!? Yayan tunggu di sini. Aku akan bicara.“
Nazuna keluar dari mobil begitu saja tanpa rasa takut untuk menghadapi pria yang sudah keluar lebih dulu. Memang seperti menunggu Nazuna untuk muncul.
'Hmm … kenalannya, 'kah? Tapi, kenapa sangat tidak sopan? Menghadang mobil orang seenaknya! Itu jelas berbahaya. Yah, pasti kenalan dalam arti yang buruk!' pikir Yayan, memerhatikan Nazuna yang terlihat sedang mengobrol dengan seorang pria.
Obrolannya hanya berlangsung beberapa saat, Nazuna sudah berjalan ke arah mobilnya.
“Ada apa?“ tanya Yayan saat Nazuna baru saja masuk.
“Nande——tidak apa-apa,“ sangkal Nazuna.
Yayan pun tidak berniat menggali informasi terlalu dalam, jika Nazuna tidak ingin bercerita … maka biarlah. Itu bukan urusan Yayan, dia tidak mau menambah kesulitan dalam hidupnya dengan berurusan dengan Nazuna.
Itu yang dia pikirkan pada awalnya, namun sesuatu tak selalu sesuai rencana.
Akhirnya Yayan telah sampai di kosannya, beruntung gang itu muat dilewati mobil. Dia dan Nazuna keluar untuk berganti tempat duduk.
“Rumah kamu?“ tanya Nazuna memerhatikan kos-kosan Yayan.
“Ya, kecil, 'kan?“
“Tidak.“ Nazuna kemudian tersenyum tiba-tiba. “Kamu punya kenalan perempuan?“ Ia melirik ke arah kos-kosan.
“Hah?“ Yayan sontak ikut melihat ke arah kosannya.
'Huh, Andrea? Dia ngintip-ngintip!' Yayan pura-pura tidak menyadari keberadaan Andrea.
Setelah itu, Nazuna pamit karena hari juga terlalu larut.
“Mata ashita.“ (Sampai jumpa besok) ucap Nazuna sebelum masuk ke mobilnya.
“Huh, padahal sudah kuingatkan untuk menggunakan bahasa Indonesia.“ Yayan geleng-geleng menyaksikan mobil merah milik Nazuna melaju melewati gang yang sempit dan gelap.
Yayan selanjutnya masuk ke dalam kos-kosan. Sudah disambut oleh Azka dan Aji yang duduk di ruang tamu. Ada Andrea juga, padahal itu adalah area terlarang untuk wanita. Ia punya bagian kos-kosan sendiri, tapi selalu nimbrung di bagian milik pria.
“Ada apa dengan wajahmu, Andrea? Kenapa kau tekuk begitu?“ goda Yayan sambil tersenyum jahil.
“Tidak, aku hanya kesal!“ balas Andrea memalingkan muka, menggerutu sendiri.
“Hoh?!“ Yayan cekikikan sendiri, entah mengapa dia merasa menikmati kecemburuan buta dari Andrea. Yah, itu adalah hiburan yang sedikit merilekskan.
“Hei, Yan … sebetulnya berapa gebetanmu? Lagipula, tak habis pikir. Semuanya spek tinggi, woi!“ ucap Aji penuh kecemburuan, ia melirik Andrea untuk menunjukkan bahwa wanita itu adalah salah satunya.
__ADS_1
“Ka, hitung … berapa gebetan pria ini!“ Aji mengoper pada Azka.
“Oke.“ Meski malas, Azka tetap menyanggupi permintaan sahabatnya. “Vina, Andrea, dan wanita mobil merah, itu berarti 3. Oh, ya apakah Yani masih termasuk?“
Suasana hati Yayan langsung berubah drastis ketika mendengar nama itu tersebut.
“Maaf.“
“Jangan sebut nama wanita itu! Aku tidak sudi telingaku tercemar!“ peringat Yayan.
Aji dan Azka hanya manggut-manggut.
'Hmm … padahal hubungan mereka sebelumnya baik-baik saja. Tapi, kenapa setelah putus jadi seperti musuh besar. Sebenernya apa yang terjadi sampai Yayan bisa sangat membenci mantan pacarnya?' pikir Aji. Ia selalu penasaran dengan hal-hal percintaan, terlebih masalah kenalannya.
“Dan satu lagi … Alya!“ Azka menambah-nambahkan.
“Tidak, tidak boleh! Itu incaranku. Apa-apaan itu? Yayan terlalu maruk!? Untuk Alya tidak boleh … dia masih sekolah, kau ingin dipanggil ped0?“ cecar Aji, ia kurang senang gadis incarannya juga ingin diembat oleh Yayan.
“Perlu kujelaskan sedikit. Mereka semua tidak memiliki hubungan apa-apa denganku. Jadi, terserah kalian saja. Kau boleh menembak Andrea jika dia mau?“ Yayan melirik Andrea. Wanita itu langsung bereaksi.
“Aku tidak menerima bocah!“
Ada yang pecah, tetapi bukan piring. Aji merasakan hatinya remuk. Yah, jika ia memiliki kesempatan, ia ingin berpacaran dengan Andrea. Namun, setelah mengetahui ini … ia harus mundur pelan-pelan dan fokus mengejar Alya.
“Umm … hei, besok kalian bebas, 'kan?“ tanya Yayan pada semuanya.
“Aku selalu bebas!“ timpal Andrea.
“Besok hari minggu. Yah, beruntung aku tidak punya rencana dengan pacarku!“ ucap Azka dengan nada sombong, bermaksud menyindir Aji.
“Ya, Yayan harus membawa kita ke tempat yang menarik,” ucap Aji yang tidak mau tau.
Seluruh penghuni kos-nya Bu Salma berencana untuk pergi jalan-jalan. Yah, bukan sih … Yayan mengajak beberapa orang lagi.
.
.
.
.
Keesokan harinya … personel tambahan yang diajak Yayan adalah Vina, Alya, Rinto, Wulan, dan seorang gadis yang susah sekali diajak. Yayan harus membujuknya sedimikian rupa untuk bisa mengajak gadis itu.
__ADS_1
Ia adalah Mysta. Gadis SMA yang pernah menolongnya.
“Waterboom?“ Aji mengangkat sebelah alisnya, mempertanyakan keputusan Yayan.
“Ya, cuci mata lah! Lihat semua cewek itu! Mungkin kau bisa menemukan jodohmu di sini?!“ sahut Azka.
“Dan kamu tidak boleh mencari jodoh lain di sini, sayang!“ timpal seorang perempuan, pacarnya. Ia bernama Mitan. Gadis dengan rambut hitam panjang yang dikucir pony tail.
“Hehe … ya, tidak lah!“ balas Azka canggung menggaruk pipinya.
Mitan menarik tangan Azka untuk menuju salah satu wahana air yang ada. “Ayo, sayang. Kita bermain di sana!“ ucapnya riang.
Aji ditinggal sendirian. Ia ingin nimbrung dengan para perempuan, tapi sepertinya dalam suasana yang tidak pas.
Sementara itu, Yayan ….
“Kau? Siapanya Yayan?“ tanya Vina dengan tatapan kesal.
“Aku teman satu kos-kosannya. Kenapa? Kami cukup dekat, bukan?“ Andrea tersenyum penuh kemenangan.
Vina sontak melirik tajam Yayan. Sorot matanya yang mengatakan. “Kenapa tidak pernah cerita?“
“Dekat? Aku sudah berteman dengan Yayan selama bertahun-tahun.“ Vina tidak mau kalah.
“Hoh? Tapi, hanya teman, 'kan?“
Ucapan yang benar-benar tepat sasaran. Vina kelabakan untuk menjawab.
'Kenapa jadi kontes siapa yang paling dekat?' batin Yayan yang sebetulnya malas meladeni dua orang wanita ini. Tapi, jika dia membiarkan mereka … pasti langsung cakar-cakaran dan jambak-jambakan.
Mereka kini berada di wahana ombak buatan. Baik Vina maupun Andrea memakai kaos oblong untuk menutupi baju renangnya. Yah, dan gunung milk Andrea yang lebih menggoda, kaos basah itu memperlihatkan lekuk tubuhnya. Apalagi samar-samar terlihat warna biru dari sebalik kaosnya.
“Yah, asetku lebih besar!“ Andrea menunjuk ke arah dadanya Vina.
Ia tampak tidak terima. “Persetan dengan aset! Itu hanya gumpalan lemak tidak bernilai! Kau tau, medium is premium. Jadi, asetku lebih berharga dari pada gumpalan lemakmu!“ Vina nampak puas bisa membantah argumennya Andrea.
“Oh, berharga, ya? Biar kutanya … apa kau pernah melakukannya dengan Yayan?“ Andrea mendekat dan berbisik pada Vina.
Tentu saja Vina bingung dengan hal yang dimaksud oleh Andrea. “Melakukan apa?“ Ia menaikkan sebelah alisnya.
Yayan yang sekilas mendengar perkataan Vina langsung bisa mengerti. Dia langsung menyumbat mulut Andrea.
Vina menjadi curiga. Ia menatap Yayan dan Andrea dengan sorot penuh selidik.
__ADS_1
“Jawab, apa yang sudah kalian lakukan?“