
“Aima? Apa maksud Anda? Nama saya Aida.“ Aida sedikit risih atas salah penyebutan nama atau asal memanggil nama seseorang yang baru dikenal. Ia menatap Yayan untuk meminta kejelasan soal pria yang asal memberinya nama itu.
Namun, sebelum menjawab, sang suami keluar. Ia nampak terkejut melihat keberadaan Yayan dan Rinto.
“Ada apa, sayang?“ tanyanya melihat Aida yang syok.
“Sayang? Kau siapanya Aima? Dia punya suami, tau!“ Rinto bersungut-sungut mendekati sang suami, Satya.
“Ya, dan saya suaminya. Lalu, siapa Anda?“
“Jangan asal bicara! Saya suaminya!“ Rinto asal menonjok Satya lalu menarik lengan Aida menjauh. Ia kaget dengan respon dari wanita yang disangka istrinya itu.
Aida menyentak genggaman tangan Rinto, ia langsung menghampiri Satya untuk mengecek keadaan. Rinto tentu terguncang, ia bergumam. “Apa maksudnya ini? Aima, kamu sudah melupakanku? Kamu tidak rindu dengan Wulan?“
“Jangan mengada-ada! Lupa? Saya bahkan tidak mengenal Anda? Perlu dipertegas, nama saya Aida, bukan Aima,“ seru Aida dengan membentak. Ia menatap Rinto dengan tatapan yang menyiratkan kebencian. “Satu lagi … kenapa Anda bisa tahu nama anak saya?“
“Karena dia adalah anak kita!?“
Aida kehilangan kesabarannya, ia menghampiri Rinto, menyiapkan telapak tangannya. Sementara itu, Rinto sudah senang saat wanita yang dikiranya adalah Aima mendekat, tapi ia langsung ditampar oleh kenyataan. Bukan, ia memang ditampar.
Plak …
“Cukup! Semua bualan yang Anda ucapkan … jika lebih dari ini. Saya akan melaporkannya pada polisi!“ Aida jelas-jelas menunjukkan raut wajah penuh amarah.
“Saya tidak akan pernah memaafkan Anda jika terjadi sesuatu dengan rumah tangga saya!“ sambung Aida memberi peringatan.
Aida juga menatap Yayan, tapi ia tidak mengatakan apa pun dan cuma langsung menghampiri Satya. Mereka kemudian masuk ke apartemennya sendiri.
'Yah, makan-makannya kemungkinan batal?!' batin Yayan melihat Rinto yang sangat terguncang. Pria itu sempat berpikiran untuk mengejar Aida. Beruntung pikirannya yang agak rasional mencegah.
Rinto kemudian menatap Yayan, sorotnya jelas menanyakan kejelasan.
“Dia adalah Aida, tetangga baruku. Seperti yang dilihat … dia sudah berkeluarga. Kami pertama kali bertemu saat berada di Waterboom. Maaf, baru sekarang aku memberitahumu——”
“Kenapa kau tidak bicara sejak awal——” Rinto mencengkeram baju Yayan dan hendak memukulnya, tapi segera diurungkan. Dipikir-pikir lagi, ia memang kelewatan jika sampai menghajar Yayan yang sebetulnya tidak tahu apa-apa.
“Maaf.“ Rinto menunduk dengan menyesal. “Aku yang terlalu merindukannya atau apa? Aku sungguh gila sudah mengira wanita tadi adalah istriku.“
“Jadi, apakah Aida semirip itu dengan istrimu?“ tanya Yayan tiba-tiba.
“Bukan mirip lagi, dia adalah Aida——” Rinto sadar dengan apa yang dikatakannya, dengan segera meralat. “Aku terlalu … ahg, Bos, bisa minta sedikit es? Aku butuh untuk mendinginkan kepala ini?“
“Umm, ya, silahkan.“ Yayan mengangguk.
__ADS_1
Setelah mendapat izin, Rinto kemudian masuk ke dalam. Yayan tidak menyusul dengan segera, dia masih di sana, mencoba memikirkan sesuatu.
'Yap, sepertinya Aida benar-benar Aima! Dan … huh, gelombang energi yang sama, mirip dengan Yani. Ada seseorang dari klan Sema telah memanipulasi Aida!?'
[Benar sekali, host]
'Huh, tapi sayang sekali. Setelah bug yang kau alami, level skill mental out kembali normal. Andaikan tetap max, aku bisa membebaskan Aida dari jeratan kendali pikiran!?'
Yayan kemudian masuk kembali ke apartemennya. Oh, ya, dia hendak memungut ponsel yang sebelumnya dijatuhkan Rinto. Namun, dia terpikirkan sesuatu, sedikit mengotak-atik ponsel itu lalu pergi. Ponselnya dibiarkan terbalik.
Tepat setelah Yayan masuk. Pintu apartemen sebelah terbuka, Satya, suami dari Aida tampak keluar. Ia memandangi apartemennya Yayan yang berjarak 15 meter dari dirinya.
“Ini tidak boleh dibiarkan! Aku harus melenyapkan orang-orang itu. Aku tidak akan membiarkan orang-orang merebut Aida dariku lagi!“ gumam Satya. Ia kemudian pergi menyusuri koridor untuk pergi ke suatu tempat.
'Huh, yah … setidaknya jangan kebiasaan untuk melafalkan lantang rencana jahatmu!? Apa dia tidak mengetahui ada fitur yang namanya suara hati?' Yayan tersenyum licik saat mengambil ponselnya yang tergeletak. Dia berhasil mendapat rekaman suara dari niat jahat Satya.
.
.
.
.
Yayan dan ketiga istrinya berada di dalam kamar untuk sementara waktu.
“Terus, gimana sekarang?“ tanya Vina.
“Buat acara makan-makan aja sendiri! Oh, ya … bahan makanannya terlalu sedikit!?“
“Tenang saja, Tuan. Saya bisa mendapatkannya dalam waktu singkat. Serahkan pada saya, tunggu 8 menit!“ Gamma langsung tancap gas.
'Aku ragu dia menggunakan tangga atau lift?!' pikir Yayan saat melihat salah satu bawahannya itu pergi dari kamarnya.
“Dari mana kamu mendapatkan ART semacam itu? Dia agak kurang normal. Apalagi namanya ... Gamma? Sedikit aneh!' Andrea bertanya.
'Yah, memang kurang wajar, sih. Tapi, masa bodoh!'
“Gamma itu cuma code name … nama samaran! Selain menjadi ART, dia bisa kugunakan untuk hal-hal lain. Apa kau pikir Gamma adalah orang biasa?“ terang Yayan.
Vina dan Andrea mengangguk serempak. Mereka berdua kemudian menghapus make up yang sedikit berlebihan itu secara mandiri. Mikha sendiri hanya cukup berganti pakaian yang lebih santai.
“Hiii … aku tidak tau kenapa tubuhku selalu merinding tiba-tiba,” celetuk Andrea yang kini cuma mengenakan pakaian dalam itu.
__ADS_1
“Itu karena ada seseorang yang sedang menyalahgunakan sesuatu yang berkaitan dengan Andrea!?“ sahut Mikha dengan wajah datar. Ia berhadapan dengannya. “Punyamu besar!“
“Ah, iya, terima kasih. Setidaknya milik Mikha itu medium cenderung ke large. Tidak seperti papan kita satu ini, ukurannya small!“ Andrea melirik Vina.
'Huh, teruslah berdebat! Untuk Vina dan Andrea itu … mereka tidak mau kalah satu sama lain.'
Yayan kemudian menerima hubungan telepati dari salah satu bawahannya. Ya, Yayan memang menyetel mereka dengan masing-masing kemampuan telepati agar pertukaran informasi jadi lebih efektif.
“Tuan, saya sudah melaksanakan persiapan awal.“
“Oke, kerjamu bagus!“
“Terima kasih.“
.
.
.
.
“Pria yang sebetulnya tidak pantas hidup! Jika peranmu tidak kubutuhkan … aku sudah memenggal kepalamu!“
Gadis dengan rambut pirang panjang dan mata hijau zamrud menodongkan pedang pada seorang pria dengan badan bongsor, meringkuk ketakutan di pojok ruangan. Pria itu tidak berbusana, begitu juga dengan gadis berambut pirang itu.
“Beta … ngomong-ngomong, apa yang sedang kau lakukan di sana?“ Tuannya menghubungi lewat telepati. Tentu saja Yayan.
“Sedang bugil, Tuan!“
“Ahh … ya, aku mengerti. Tapi, kau belum sempat dia sentuh, 'kan? Entah mengapa aku merasa tidak rela?!“
“Tidak. Saya cuma membiarkan dia untuk melihat tubuh indah saya. Untuk berjaga-jaga, saya memotong kedua tangannya!“
“Eh? Dia tidak mati, 'kan? Jangan berlebihan! Dia penting untuk rencana kita. Dia bisa menjadi boneka yang bagus!?“
“Saya tidak akan membiarkannya mati!“
“Hmm … ya, lanjutkan saja. Entah kenapa kata-katamu kurang meyakinkan!?“
Yayan memutuskan hubungan telepatinya pada Beta.
“Nah, ayo kita bersenang-senang lagi.“ Beta menyeringai jahat.
__ADS_1