Wanita Adalah Sumber Uangku

Wanita Adalah Sumber Uangku
Ch 56: Tiga calon pengantin wanita


__ADS_3

Yayan tersentak kaget setelah melihat banyak alas kaki di depan beranda rumah kos-kosan Bu Salma.


Yayan menghela nafas dan bergumam. “Huh, dasar ibu. Dia pasti langsung menangih kapan pernikahannya!?“


Yayan membuka pintu, betul saja, beberapa orang berjejer di ruang tamu dan hampir kesemuanya adalah perempuan. Spesies laki-laki cuma Azka dan Aji, mereka pun sedikit terisolir dari riuh keramaian para perempuan.


“Nah, bintang utamanya sudah pulang,” sambut Sarah. Ia langsung mempersilahkan putranya untuk segera duduk. Akan diadakan rapat kecil-kecilan.


“Keputusanmu sudah yakin dan bulat?“ tanya sang ibu memastikan, ia memegang kedua bahu Yayan. Kentara sekali Sarah berharap agar menarik keputusannya dan memilih Mikha. “Pikirkan baik-baik!“


“Huh, ya udah deh. Batal saj——”


“Bukan, bukan begitu. Ibu cuma ingin memastikan jika kau serius memilih Vina! Kalian nggak mau pacaran dulu?“


“Pacaran? Ok. Aku akan pacaran dengan Vina, mungkin minimalnya 5 tahun.“


“Aduh, bukan! Nak ….“


Sarah jadi serba salah, ia pun menyerah. Calon menantu favoritnya sudah pupus harapan untuk menjadi istri pertama.


“Ya sudah. Ibu restui, kau boleh dengan siapa saja.“


“Nah, gitu dong.“ Yayan tersenyum. Dia memandang semua orang di ruang tamu, tertangkap wajah yang nampak kurang bersahabat.


'Andrea?'


Wanita itu mendekat pada Yayan dan berkata. “A-aku sudah berusaha, tapi kenapa begini?“ Ia memeluk Yayan, menangis tersengal-sengal.


Semua orang di ruangan itu mengerti, mereka raib satu per satu. Mikha yang memutuskan pergi ke belakang untuk membuat minuman. Azka-Aji yang masuk ke kamar kos-kosannya.


Sarah juga akan memberikan waktu berdua untuk mereka.


“Makanya, jangan suka baperin anak orang! Repot, 'kan? Tapi, ibu harap kau memang bisa poligami!“ Sarah menepuk bahu Yayan sebelum pergi keluar dengan alasan membeli cemilan, ia berbisik yang suaranya cuma mampu didengar Yayan.


'Poligami?'


Kini tinggal Yayan dan Andrea saja.


“Ini sangat tidak adil, Yan. Kenapa kau tidak memberiku kesempatan? Kenapa harus secepat ini?“ Andrea ngedumel, pelukannya semakin erat, menunjukkan bahwa ia tidak ingin Yayan menikah secepat itu.


“Tidak adil apanya Andrea?“


“Sudah, sudah. Kau cengeng sekali! Ini bukan lah akhir!“ ucap Yayan menghapus air mata yang masih menetes di matanya.


“Jangan memberiku harapan lagi! Kau benar-benar playboy!“ sebal Andrea menyentak tangan Yayan dari pipinya. “Aku terlanjur cinta padamu, tapi kau cuma menjadikanku mainan. Itu sakit, tau!“

__ADS_1


“Ucapanmu tadi … seolah-olah aku orang yang kejam!“


“Memang!“ sahut Andrea cepat.


“Huh, langsung ke intinya saja … apakah perasaanmu tetap sama? Apakah kau sekarang berubah membenciku?“


“Apakah perlu ditanya? Aku tidak mungkin bisa membencimu. Kau sudah menyelamatkanku, melihat diriku sebagai wanita dan bukan alat pemuas nafsu semata.“ Matanya Andrea kembali berkaca-kaca, mungkin ia mengingat kejadian-kejadian yang sudah dilalui bersama Yayan.


“A-aku tidak akan pernah bisa membencimu sampai kapan pun, bahkan jika kau berniat membunuhku!“


Yayan tersentak, parameter kesukaan Andrea melonjak dari 88 langsung menjadi 100.


“Dengan begini … kau tau, 'kan? Cintaku tidak kalah besar dari Vina, meskipun aku kalah dalam hal waktu bersamamu.“ Air mata mengalir lagi, Andrea buru-buru mengenyahkannya.


Mikha kemudian datang membawa secangkir teh hangat untuk Yayan, wanita itu berniat langsung pergi ke belakang. Namun, Yayan mencegahnya.


“Mikha!“ panggilnya.


“Ya, ada apa? Mas Yayan perlu sesuatu?“


“Aku cuma perlu dirimu. Silahkan duduk di sini,” pinta Yayan. Mikha mengangguk, ia duduk di samping Yayan, sedangkan Andrea di sisi lainnya.


“Kalian berdua ….“


'Ah, sulit mengatakannya. Aku tidak menyangka bisa menciptakan harem begini. Padahal dulu semua wanita menolakku!' pikir Yayan yang gugup untuk mendeklarasikan sesuatu yang penting. Tidak akan menyakiti hati siapa pun.


“'Kalian berdua' apa? Mau mengatakan kalau kami ke depannya cuma akan jadi parasit. Kau menyuruh kami untuk pergi jauh-jauh dari kehidupanmu?“


Andrea berburuk sangka duluan, kini pikirannya dipenuhi hal negatif.


Yayan memutar bola matanya dengan malas. “Jika begitu, ya sudah. Mikha, kau mau, 'kan jadi istri kedua?“


“Tentu saja, Mas Yayan——”


“Aku mau!“ Andrea menyahut tiba-tiba.


Yayan mengerutkan kening pada Andrea. “Aku tidak menawarimu.“


“Tidak, tidak. Kau tadi terlanjur ngomong 'kalian berdua', artinya aku juga termasuk!“


Jtak ….


“Makanya jangan asal nyerocos!“ Yayan menjitak dahi Andrea.


Yayan menikmati waktu Andrea ngedumel dengan sebal, hiburan tersendiri.

__ADS_1


“Hei, Andrea … apa kau senang?“


“P-pertanyaan macam apa itu? Tentu saja ….“


Andrea kembali cengeng dan memeluknya, Yayan mengelus-elus rambut wanita itu.


“T-terima kasih.“


“Ya.“


Yayan kemudian melirik Mikha.


“Mikha, apa kau senang? Bahagia?“


“Jika Mas Yayan menginginkannya. Aku sangat senang.“ Mikha ikut memeluk Yayan, bedanya cuma tanpa ekspresi.


Ya, sedikit seram, tapi suara hati dari Mikha sudah menunjukkan ekspresi kebahagiaan. Bukan karena akan menikah dengan Yayan, tapi senang sebab Andrea tidak merasa tersakiti.


“Tantanganmu kali ini cuma satu, Andrea. Coba bujuk Vina untuk menyetujui poligami ini!“


.


.


.


.


“Andrea?“ ucap Vina dengan wajah manyun. Aura-aura perselisihan hebat sudah nampak, mereka pasti tidak akan dengan mudahnya mengalah satu sama lain.


“Jangan merasa senang, Vina! Yayan masih kepincut dengan gumpalan lemak ini!“ Andrea tersenyum penuh kemenangan, menggoyang-goyangkan dadanya.


“Huh, kau cuma jadi cadangan-serep. Tetap aku yang nomor 1 di hati Yayan!“


“Masa bodoh! Tapi, saat sudah menikah, ayo buktikan. Siapa yang paling bisa memuaskan Yayan. Dasar dada kecil!“ tantang Andrea.


“Andai aku tidak sakit, aku pasti akan mencabik-cabikmu, dasar penyepon9 aset!“


Terjadi perdebatan di antara mereka. Selain, mereka berdua, ada Mikha. Namun, ia cuma diam dan menyimak. Lagi pula, apa yang mau mereka berdua coba bandingkan? Mikha pasti akan menang dengan mudah.


Ada pun untuk pernikahan dengan 3 pengantin perempuan. Lagi pula, sudah lumrah jika seorang pria memiliki 3 istri di Bumi (x).


Yayan menghela nafas berat mendengar suara gaduh-gaduh dari dalam.


“Untuk Vina dan Andrea … apa mereka bisa akur? Mereka selalu berdebat siapa yang lebih baik,” gumam Yayan yang duduk pada bangku yang ada di depan ruangan Vina.

__ADS_1


Selain itu, Yayan juga memikirkan hal lain.


'Yani, aku harus segera menemukan dan mematahkan pengaruhnya. Ini cukup menyiksa, dasar jalan9!'


__ADS_2