
Yayan dan nesa langsung bergerak, mereka tidak mau buang-buang waktu.
Saat system berhasil membajak ponsel dari orang-orang itu. Yayan menemukan sebuah kontak misterius yang tersimpan, di sana tertulis X. Yah, sedikit dibuat misterius.
Orang-orang yang malang itu pernah berhubungan dengan si X, yah sebut saja yani. Identitasnya memang diketahui. Namun, tidak dengan tempat tinggalnya.
Yani memberi banyak alamat pada masing-masing anak buahnya. Entah yang mana yang asli. Wanita itu memang sudah mempersiapkannya bila hal semacam ini terjadi.
Yayan dan nesa kini sedang naik bis, menuju ke salah satu alamat yang Yani kirimkan.
"Hei, apa kita akan mendatangi semua alamat itu?" tanya nesa.
"Tidak! Sangat berjauhan. Belasan alamat itu tersebar di semua distrik. Kita pergi ke alamat yang ada di distrik timur, sisanya aku serahkan pada orang-orangmu!"
"Hoam ... ya, aku akan segera memerintahkan mereka."
Nesa lantas mengambil ponselnya dan langsung memberi komando.
“Apa yang kita lakukan jika alamat di distrik ini palsu?“ tanya Nesa.
“Mungkin tetap di sini untuk menyelidiki. Aku punya firasat bahwa semua alamat itu palsu.“ Ekspresi Yayan jadi sedikit menegang
'System, apakah kau tidak bisa melacak lokasi chat dari Yani yang dikirimkan?'
[Tidak, host. Yani kemungkinan menggunakan VPN. Kemampuan System cuma sebatas ini. Maaf]
'Hmm … ya sudah. Tidak masalah.'
Yayan mengatupkan giginya kuat-kuat, 'Cih …. wanita itu cukup lihai, dia sudah memikirkan beberapa langkah ke depan. Perhitungannya begitu hati-hati.'
Yayan berpikir, mencoba berpikir seperti Yani, mencoba memahami wanita itu.
'Yani … dia adalah wanita yang suka mempermainkan pria. Dia akan memacari beberapa pria kaya untuk diporoti, setelah bosan bakalan ditinggalkan. Yani memiliki kelainan, yaitu sangat senang melihat orang menderita dan putus asa karenanya. Itu juga yang menjadi alasan dia berpacaran, membuat pasangannya jatuh cinta setengah mati lalu ditinggalkan. Harapannya adalah melihat keputusasaan seseorang. Tidak memiliki harapan, menganggap berpacaran dengan Yani adalah segala-galanya. Akhirnya ….'
Yayan berhenti bermonolog panjang, dia melirik pergelangan tangannya. Dia saat masih hidup di Bumi (1), tindakan sesuai harapan dari Yani, yaitu mengakhiri hidupnya.
Yayan jadi kesal sendiri saat mengingatnya. 'Varianku di dunia ini nyatanya lebih kuat. Tidak sepertiku … mudah sekali terpedaya.'
[Itu bukan sepenuhnya salah Host]
'Aneh sekali kau tiba-tiba bicara, System. Biasanya kau cuma bersikap pasif.'
System tidak menjawab.
'Hmm, terserah.'
Yayan mulai berpikir lagi.
'Yani di varian di Bumi (1) menggunakan ilmu hitam, sedangkan Yani di Bumi (x) … dia memiliki kemampuannya langsung, berhubungan dengan pikiran. Kira-kira dari klan mana dia?'
[System sudah mencari informasinya]
__ADS_1
Panel System muncul dan berisi penjelasan.
[Klan Sema. Klan yang kini anggota darah murninya cuma tersisa 62 orang. Mereka adalah klan yang ahli dalam memanipulasi. Rata-rata anggota klan Sema adalah anggota militer divisi intelijen]
[Kemampuan pengendalian pikiran milik klan Sema diketahui yang paling kuat. Target bahkan tidak sadar jika sudah dikendalikan oleh mereka. Namun, kemampuan pengendalian pikiran tersebut tidak bisa bertahan lama. Stamina akan terkuras, jika terlalu memaksakan mereka bisa tewas]
'Hah? Lalu, kenapa Yani bisa melakukan selama itu dan dengan banyak target?'
[System tidak tahu. Informasi tadi cuma diambil dari internet]
'Internet? Informasi semacam itu? Eh, tadi cuma penjelasan umum. Nggak terlalu spesifik. Memang tidak masalah, tapi jika sampai informasi rahasia.
Sementara itu, bis terus melaju, baik Yayan dan Nesa belum menentukan pemberhentiannya. Tidak, mereka masih ragu untuk menuju ke alamat yang diduga adalah rumah Yani.
Yayan tiba-tiba mendapat pesan dari Vina.
“Yan, kamu pulang jam berapa?“
Yayan langsung membalasnya. “Pokoknya malam, sih. Aku tidak tahu jam berapa pastinya.“
Vina kemudian mengirimkan emoticon sedih.
“Yah … huh, tapi jangan terlalu malam, ya!? Malam ini harus jadi makan malam pertama kita sebagai suami-istri. Aku akan memasak makanan spesial untukmu~♡.“
Yayan tersenyum kecil sembari menggerakkan jarinya ke layar keyboard di ponselnya.
“Siap!“
Yayan kemudian tersentak kaget, pemikiran yang lumayan liar, tapi masuk akal. Ekspresinya semakin tegang, telapak tangannya terkepal kuat.
Yayan kemudian melirik Nesa yang duduk di sampingnya.
“Hei, Nesa … anak buahmu itu? Apa mereka pergi semua?“
Nesa menoleh dengan kaget. Ekspresi malas dan kantuknya tersimpan keseriusan. Ia menebak hal yang membuat Yayan gelisah.
Mata mereka berdua sama-sama terbelalak.
“Kita harus segera kembali.“
.
.
.
.
Yayan dan Nesa secepat mungkin, dia pun juga menghubungi Saka untuk meminta kembali ke rumahnya yang ada di Diamond town. Situasinya benar-benar gawat jika firasat atau insting Yayan benar.
'Semoga cuma perasaanku. Semoga tidak terjadi.' Yayan berdoa, meminta keselamatan untuk seluruh keluarganya.
__ADS_1
“Apa kita bisa mengandalkan sistem keamanan dari diamond town?“ celetuk Nesa.
“Itu perumusan elit, keamanannya ketat. Bukan sembarang orang bisa masuk, selain penghuni dan yang berkepentingan di sana.“ Yayan menggeleng kasar. “kita harus bersiaga untuk kemungkinan terburuk.“
Mereka akhirnya tiba di gerbang masuk perumahan diamond town. Anehnya di sana tidak ada satpam yang berjaga.
Perasaan cemas Yayan semakin menguat. Dia asal masuk lalu melesat dengan kecepatan tinggi, meninggalkan Nesa. Tujuannya adalah rumah Mikha dan rumahnya.
Di sepanjang jalan, Yayan melihat banyak orang yang bukan penghuni perumahan itu berkeliaran. Perhatian mereka langsung tertuju pada Yayan yang baru datang. Dan puluhan langsung menyerbu dari segala penjuru, ada juga yang dari dalam rumah.
Yayan belum memikirkan apa yang terjadi pada penghuninya. Dia mengepalkan tangannya kuat-kuat dan bergumam dengan pelan.
“Jangan … halangi … aku!“ Yayan menatap mereka dengan sorot yang tajam. Secara tidak sadar mengaktifkan skill System, mental out.
Orang-orang yang kemungkinan adalah anak buah Yani langsung tidak bisa bergerak, beberapa saat kemudian jatuh tidak sadarkan diri.
[Level up]
[Skill System: Mental out]
[Level: 2(0/100]
[Cooldown: 1 menit]
Yayan menghiraukan notifikasi tentang peningkatan dari salah satu skillnya itu. Dia lanjut berlari menuju rumahnya. Di sepanjang jalan selalu ada halangan. Namun, Yayan mampu membereskannya tanpa kesulitan.
Sampai pada akhirnya, dia sampai di rumah. Nesa pun juga sudah sampai.
“Wanita itu memang benar-benar gila!?“ celetuk Nesa mengeluarkan belatinya.
Yayan mengatupkan mulutnya, mengigit bibir bawahnya. Pintu rumahnya terbuka dan keluar seorang wanita dengan rambut pendek sebahu, tersenyum bengis menatap Yayan. Ia menyeret seseorang, bukan, malah dua orang.
“Selamat datang, sayang! Ah, ini, aku baru bermain-main dengan adikmu.“
Wanita itu, Yani memperlihatkan tubuh adiknya yang berlumuran darah. Terluka sangat parah. Dian dan Diana nampak disiksa habis-habisan.
“Ahahaha …. ekspresi seperti itulah yang aku sukai, sayang. Huh, untung aku masih berbaik hati. Mereka belum mati, tapi jika tidak segera diobati … mereka akan tetap mati juga.“ Yani tersenyum lebar.
“Nah, apa yang kau pilih. Membunuhku atau menyelematkan nyawa adikmu? Pilihlah pilihan yang tepat, sayang.“
Dari dalam keluar orang lagi, itu adalah Saka dan Mikha.
'System!'
[Host, host, host]
[System mengalami eror. Ledakan emosi Anda mempengaruhi S-s-syst——]
[Unlimited poin kesehatan diberikan]
[Meningkatkan semua skill ke tahap maksimal]
__ADS_1
[Semua item di shop seharga 0 poin spera]
Yayan mengambil alih kendali System. Itu bug yang merugikan. Tapi, bukan bagi Yayan.