Wanita Adalah Sumber Uangku

Wanita Adalah Sumber Uangku
Ch 83: Insiden di bis


__ADS_3

“Eta, kirim lokasi dari keberadaan Putri Rachial?“


Yayan memberikan perintah melalui telepati. Salah satu perfect worker itu pasti dengan sigap membalas. Melaksanakan perintah adalah suatu kehormatan dan kebanggaan bagi mereka.


“Ya, Tuan.“


Panel System yang berisi alamat kemudian terpampang di depan Yayan. Putri Rachial kini berada di distrik yang berlainan dengan tempat Yayan berada. Itu sudah diprediksi jika ia pasti memiliki keinginan untuk menjauh dari area istana. Si Putri bahkan bisa saja juga berniat untuk menyelundupkan diri ke luar negeri.


“Ah, sebaiknya aku bergegas pergi agar saat pertemuan dengan Raja tidak akan terlambat!“ Yayan menyelinap dari hotel lagi. Dia sebetulnya sudah izin, tapi dia kini menyamar.


Salahkan pada media negara ini. Mereka memberitakan pertemuan antara orang Indonesia itu dengan sang Raja. Profil dan identitas milik Yayan pun tersebar. Dia tidak bisa lagi berkeliaran bebas tanpa ada yang memerhatikan.


Untuk menyamar, Yayan cuma mengenakan masker dan kaca mata bulat, gaya rambutnya pun dibuat seperti orang cupu. Itu sempurna, tidak ngeh jika ada salah satu calon orang terkaya di dunia yang satu bis dengan orang-orang awam.


'Yah, menjemput calon istri. Tapi ….'


Yayan tiba-tiba teringat dengan pertarungannya dengan si psycho kemarin. Mereka waktu itu adu nasib, siapa merasa paling berat dan menderita hidupnya.


'Paling menderita, ya? Hah .. hal seperti itu tidak bisa diukur secara objektif.'


"Umm … maaf, istri saya sedang hamil tua. Bolehkah dia duduk di kursi prioritas?“ ucap pria yang bersama dengan wanita yang perutnya sudah membesar.


Meski sudah sedikit memelas, tidak ada yang merespon permintaannya.


'Huh, kukira di negara ini orang-orangnya sedikit lebih baik … kenyataannya sama saja dengan negaraku!' Yayan berdiri, dia merelakan kursi prioritas yang sebelumnya dia duduki.


“I-ni silahkan!?“ ucap Yayan sedikit gagap sebagai mengubah sedikit membuat cempreng suaranya.


“Terima kasih, terima kasih.“ Pria itu membungkuk 90° pada Yayan. “Ayo, sayang!“ Ia mengajak istrinya untuk duduk di kursi prioritas.


Setelah 10 menit, bis berhenti di halte. Beberapa orang turun dan beberapa orang masuk.


[Misi telah dikonfirmasi]


[Ringkus perampok]


[Reward: 20 poin spera]


“Serahkan uang kalian jika tidak ingin terluka!“


'Ahh! Apa-apaan, sih? Ban9sat!' rutuk Yayan dalam hati. Tiga orang pria dengan pakaian serba hitam yang baru masuk seketika menodong para penumpang dengan pedang panjang.

__ADS_1


“Woi, jalan!“ perintah salah satu dari mereka pada sang supir untuk mengemudikan bisnya.


Si supir dengan penuh ketakutan melajukan kembali bis itu.


Sedangkan, dua orang perampok yang lain mulai menjarah harta milik para penumpang. Tidak ada yang berani melawan. Mereka patuh memberikan uang, ponsel, perhiasan, pokoknya barang berharga jual tinggi. Para perampok itu pun tidak segan untuk menyuruh seseorang telanjang untuk merampas pakaiannya. Yah, mereka sangat maruk.


Di dalam bis itu mungkin ada yang berjiwa pahlawan, tapi ia menunggu waktu yang pas. Nah, mungkin sekarang ketika setengah penumpang bis yang berjumlah sekitar 30 orang telah membuka pakaiannya, dan menyisakan pakaian dalam mereka.


Sayangnya, sang pahlawan itu cuma omong besar. Ia darah murni dengan bakat yang tidak berguna untuk kondisi semacam ini. Ia berakhir mendapat luka sayatan akibat tebasan pedang. Yayan lantas mentransfer poin kesehatan untuk menyembuhkan lukanya.


“Kalian lihat ini?! Jangan berani-beraninya melawan jika tidak ingin terluka.“ Para perampok itu menyeringai lebar. Satu orang sibuk memasukan barang jarahan ke dalam tas yang sudah dibawa, dua orang lainnya sibuk merampas dari para penumpang.


Kedua orang itu sudah berada di dekat Yayan. Sementara itu, pasangan suami istri yang ada di dekatnya nampak cemas. Terutama sang suami yang sedang menenangkan istrinya.


'Eh? Dia mau melahirkan?' kaget Yayan.


“Tenang, sayang. Kita akan sampai di rumah sakit dengan selamat. Kamu tidak perlu cemas, anak kita pasti kuat menghadapi ini!“


“T-tapi, tapi ….“ Wanita itu tampak kesakitan, nafasnya tidak teratur. Yayan melihat keluar cairan dari kakinya.


'Air ketubannya sudah pecah!?' pikir Yayan.


“Hei, serahkan semua barang berharga kalian jika tidak mau——”


“Sebaiknya kalian yang serahkan barang berharga kalian!“ Yayan dengan secepat kilat merebut pedang yang dibawa oleh perampok itu. Sekarang gantian ia yang ditodong.


“Hei, hei … gimana ini?“ Ia meminta tolong pada rekan-rekannya.


“Cih, merepotkan!“


Yayan merasakan gelombang misterius yang menghampiri dirinya.


'Ah, dia memiliki bakat untuk menghapus ingatan orang lain. Itulah kenapa mereka tidak mencoba menyembunyikan rupa wajah mereka!?'


“Ah, aku lupa. Eh? Apa yang akan sedang kulakukan? Di mana ini?“


Slash ….


“Bercanda!“


Yayan menerjunkan kepercayaan diri mereka saat dia pura-pura terpengaruh dengan bakat salah satu rekannya.

__ADS_1


“Tenang saja, aku tidak memberikan luka yang terlalu dalam. Tapi, berusaha saja untuk tidak kehilangan banyak darah.“ Yayan telah menyayat perampok itu dengan luka diagonal di dadanya.


“Nah, sekarang giliranku yang merampok kalian!“ ucap Yayan.


.


.


.


.


[Misi berhasil selesaikan]


[Selamat, Host mendapatkan 20 poin spera]


Aksi perampokan di dalam bis itu berhasil digagalkan. Para pelakunya telah ditangkap oleh polisi. Sedangkan, ibu-ibu yang hendak melahirkan itu berhasil melahirkan bayinya dengan selamat. Ya, ia melahirkan di dalam bis, dibantu oleh semua orang.


Yayan pun juga sudah sampai di tempat tujuannya.


“Terima kasih sudah menolong kami. Aku tidak tahu bagaimana membalasnya, tapi tolong terima——”


“Kalian tidak perlu memberikan apa-apa! Cukup rawat saja bayi kalian dengan baik. Dan doakan saja jika calon anakku juga bisa terlahir dengan selamat, selayaknya bayi kalian,” ucap Yayan menatap seorang bayi yang berada di gendongan sang ibu.


Sepasang suami-istri yang kini sah menjadi orang tua sontak melebarkan matanya bersamaan. Mereka lantas tersenyum.


“Tentu saja. Semoga anak-anak kita di masa depan dapat berteman. Anak kami yang akan membalas jasamu yang tidak ternilai ini!“


“Ya.“ Yayan mengangguk.


Setelah itu, Yayan pergi melanjutkan perjalanannya. Dia terus mengecek jam, masih tersisa 3 jam sebelum pertemuan penting membahas bisinis dengan sang Raja. Kini baru jam 10 pagi menjelang siang.


'Huh, kejadian di bis sudah membuang cukup waktu.' Yayan ngedumel dalam hati seraya memerhatikan alamat yang tertera di penel System.


Setelah menelusuri alamat yang dimaksud selama setengah jam. Rupanya alamat itu tujuannya adalah sebuah restoran dengan gaya abad pertengahan yang khas. Yayan tanpa basa-basi langsung masuk dan melakukan hal yang lumrah di sebuah restoran, memesan sesuatu.


Selagi menunggu pesannya datang. Ia memerhatikan secara seksama orang-orang yang ada di dalam restoran itu.


'Apa mungkin si Putri bekerja di sini? Tapi, apakah tidak terlalu beresiko. Meski menyamar, masih ada celah jika ada yang mengetahui indentitasnya. Apalagi dia kini menjadi buronan semua orang!?'


Beberapa saat kemudian, seorang pegawai wanita yang ber-cosplay sebagai Maid menghampiri meja Yayan, ia membawa pesanannya.

__ADS_1


'Yap, kena kau Putri! Aku sudah mengunci bau tubuhmu. Tidak peduli kau menyamar untuk menyembunyikan rambut silver dan mata biru itu!'


“Terima kasih, ya … Yang Mulia Putri Rachial.“


__ADS_2