Wanita Adalah Sumber Uangku

Wanita Adalah Sumber Uangku
Ch 88: Bakat penggoda


__ADS_3

"Hah? Apa-apaan ini?" Yayan terkejut bukan main setelah melihat seseorang lelaki yang masih berusia belasan tahun memasuki arena.


"Bukannya dia Aji?" Andrea juga menyadarinya. "Dia ikut kita ke Rugia, 'kah?"


Lelaki itu dengan percaya diri memasuki arena, lawannya kini adalah seorang wanita yang bernama Vanetta.


Aji atau 435 memakai jubah hitam milik Black Robe, tapi ia tidak memakai tudungnya. Jadi, jelas sekali memamerkan rupa muka yang sebetulnya standar.


'Tunggu sebentar! Data peserta yang diberikan Eta ... tidak ada informasi tentang Aji.'


[Mungkin ada, host. Ada data peserta bernama Ija, seorang non-clan]


'Lalu, kenapa Eta tidak memberikan identitas asli dari ija? Oh, yang mengumpulkan data para peserta, ,'kan, bawahannya?' Yayan hanya bisa geleng-geleng.


Dia sebetulnya tidak masalah jika Aji atau para member Black Robe yang ikut dalam misi kali ini ikut. Hanya saja ....


'Dia setelah ini harus dihukum bersama timnya!' Yayan tersenyum menyeringai.


"Kenapa senyum-senyum sendiri?" vina merasa aneh saat melirik yayan. "Pasti memikirkan rencana yang jahat?!"


"Yap, tepat sekali!"


Yayan memutuskan untuk menonton jalannya pertarungan. Dia tertarik apa Vanetta bisa menaklukan Aji atau tidak.


"Baiklah, para penonton. Kita sampai di pertandingan kedua yang memertemukan Ija, seorang pria dari indonesia. Terkejut, bukan? Ini adalah sejarah ada orang indonesia yang berpartisipasi dalam Festival Dewa Perang!


Dan untuk lawannya adalah Vanetta ... Hmm, yah, wanita cantik ini menolak membocorkan apa pun tentang dirinya. Dia benar-benar misterius!“ ucap seorang pemandu jalannya pertarungan dari podium, ia memegang mik yang membuat suaranya terdengar ke segala penjuru Colloseum.


Baik Aji maupun Vanetta bersiap dengan senjatanya masing-masing. Wanita berambut pirang itu mengeluarkan sebuah pedang yang tergantung di pinggang kiri. Sedangkan, Aji mengeluarkan semacam pisau dari sebalik jubahnya. Semua orang tidak mengenali jenis senjata yang digunakan Aji. Tentu saja, itu adalah senjata yang cuma ada di Indonesia.


Kurambit, sebuah pisau dengan bentuk melengkung seperti cakar. Aji memegang di kedua tangannya.


“Nah, Nona … kamu pasti tidak pernah melihat jenis pisau ini, 'kan?“ ucap Aji dengan senyum menjengkelkan, ia memutar-mutar kurambitnya untuk pamer.


“Please, English!“ ucap Vanetta yang datar. Aji memang menggunakan bahasa dari negaranya, sehingga ia tidak mengerti.


“Oh, sorry.“


Pertarungan akan segera dimulai. 3 buah drone wasit sudah terbang mendekat ke arah peserta. Mereka mengeluarkan cahaya berwarna kuning dari lampu, artinya menyuruh untuk bersiap-siap.


Cahaya hijau telah terpancar.


Vanetta tanpa basa-basi langsung menyerang Aji, ia mengayunkan pedangnya secara horizontal ke arah perut.


Klang …


Aji dengan mudah menangkisnya dengan kurambit di tangan kiri, yang satunya lagi dikerahkan untuk menyayat leher Vanetta.


Wanita memiliki refleks yang bagus, ia menunduk dan secara bersamaan melakukan tendangan tinggi khas taekwondo.


“Apa?“ kejut wanita itu.

__ADS_1


Aji berhasil menangkap tendangan yang kuat itu lalu menghempaskan Vanetta menjauh. Aji reflek melemparkan salah satu kurambitnya seperti bumerang.


“Gawat!“ panik Vanetta yang masih dalam keadaan melayang di udara, belum bisa mendapatkan keseimbangannya.


Klang ….


Di saat-saat terakhir Vanetta berhasil menggerakkan pedangnya dan mendapatkan keseimbangan sehingga berhasil mendarat dengan mulus. Sementara itu, pisau lengkung yang harusnya terpental menjauh malah terbang kembali ke arahnya. Ia reflek jatuh berguling ke samping.


“Uwoaaah!“


Penonton bersorak riuh, satu menit yang mendebarkan. Aji sungguh tidak membiarkan Vanetta mengambil jeda.


Aji melemparkan kurambitnya yang lain. Vanetta susah payah menghindar ke sana kemari sebab pisau itu memburunya. Apalagi 2 sekaligus.


Siyat … siyat … siyat …


Vanetta tidak bisa menjaga agar kulit putihnya tergores, ia mengalami beberapa sayatan yang lumayan panjang di bahu kanan.


Vanetta melompat jauh ke belakang. 2 kurambit yang melayang tidak lagi mengejarnya.


'Apa ada batasan jarak?' Vanetta menyadari sesuatu saat melihat pisau-pisau itu cuma melayang.


'Lagipula, apa itu Telekinesis atau semacamnya? Tidak, kurasa pisau itu memang semacam senjata dan teknologi!' pikir Vanetta. Ia kali ini bisa mengambil nafas sebentar, ia benar-benar dibuat ngos-ngosan.


'Nah, sekarang bagaimana? Aku tidak mungkin mendekat. Meski radius pengendalian pisaunya cuma 15 meter!' Vanetta menggertakan giginya dengan kesal.


Sementara itu ….


'Anjir, ini keren woi! Wahaha … penyiksaan selama berbulan-bulan itu akhirnya terbayarkan. Aku akan jadi terkenal mengingat turnamen ini disiarkan di seluruh dunia. Wahaha.' Aji tertawa terbahak-bahak di dalam hatinya sementara ia bertingkah cool di hadapan penonton.


“Aku merasa bisa mengetahui isi pikirannya!“ Yayan tersenyum masam.


“Pikirannya memang mudah ditebak!“ sahut Andrea.


'Yah, Alpha dan yang lainnya sungguh berhasil menciptakan bawahan-bawahan yang kuat!'


Yayan memerhatikan Vanetta secara seksama. 'Apa dia juga akan menggunakan cara yang sama saat kualifikasi?'


Kembali ke arena ….


'Cih, bagaimana ini? Apakah aku harus menggunakan cara itu? Menggunakan bakatku?' Vanetta bingung sendiri, ia menggenggam kuat pedangnya serta memerhatikan Aji yang barang kali membuat gerakan untuk menyerangnya.


Benar saja, Aji mulai bergerak karena sudah membiarkan Vanetta terlalu lama mengambil nafas.


Kurambi-kurambit terbang itu kembali menghujam Vanetta. Si pirang itu kepayahan dalam menghindar, belum lagi ia juga harus meladeni pertempuran tangan kosong dengan Aji. Ia serasa dikeroyok oleh 3 orang.


Buaghh …


Vanetta mendapat hantaman telak dibagian perut yang berlanjut dengan tendangan sambil melayang dan memutar badan.


“Uhuk … uhuk … uhuk.“ Ia serasa ingin memuntahkan isi perutnya.

__ADS_1


'Sialan! Aku memang tidak mungkin bisa menang jika tidak menggunakan cara itu!'


“Kau menyerah, Nona?“ Aji berjalan mendekati Vanetta yang kesusahan berdiri hingga harus menggunakan pedangnya sebagai penopang.


“E-english!“


'Ugh, aku lupa. Harusnya tadi cukup keren. Huh, oke tenang' batin Aji.


“Kau menyerah, Nona pirang?“ Aji menggunakan bahasa Inggris untuk mengulang kalimat sebelumnya.


“M-menyerah, ya?“ gumam Vanetta pelan menunduk ke bawah.


Di hati kecilnya, ia tidak ingin menyerah. Vanetta punya tujuan besar, alasannya mengikuti turnamen adalah untuk mengubah hidupnya. Ia tidak ingin hidup menggunakan cara klannya, ia membenci bakatnya sendiri. Sebab menurutnya terlalu hina.


'Aku terpaksa. Dengan teknik berpedang saja tidak akan cukup!'


Vanetta mengarahkan pedang ke lehernya sendiri. Semua orang yang melihat itu seakan tidak ingin percaya.


Apa saking frustasinya hingga membuat dia menyerah? Bukan hanya pada duel ini, melainkan pada hidupnya!?


Panitia penyelenggara tentu tidak akan membiarkan tindakan gegabah wanita itu merusak citra turnamen. Orang-orang yang dikira adalah petugas medis berhamburan ke arena.


Sudah terlambat, Vanetta keburu menggerakkan tangannya.


“Aku akan memberimu sebuah hadiah!?“ ucap Vanetta tersenyum manis pada Aji.


Slash …


“A-pa maksudnya?“


Vanetta bukan menusukkan pedang itu ke lehernya, malahan ia cuma mengayunkannya ke bawah. Itu berakibat terbelahnya baju Vanetta sehingga terlihatlah aset dengan ukuran sedangnya.


Aji terpaku, tidak bisa bergerak. Venatta memanfaatkannya untuk mendekati Aji dan ….


Cup ….


Vanetta menempelkan bibirnya pada bibir lelaki itu. Semua penonton yang melihatnya tidak bisa berkata apa-apa, mereka cuma bergumam. “Apa maksudnya ini?“


'Inilah bakatku! Aku bisa membuat seorang pria atau pun wanita memuncak birah1nya. Membuat mereka menjadi budak yang akan menuruti segala perintahku dengan hadiah s3x!'


Vanetta mulai menjalankan rencananya ….


“Kau akan dapat lebih jika menyerah!“ bisik Vanetta tepat di telinga Aji. Ia pun terpengaruh dan ….


“Peserta Ija menyerah! Pemenangnya adalah Vanetta!“ ucap si pemandu pertarungan.


Penonton tidak ada yang bersorak, mereka bingung dengan jalannya pertarungan. Awalnya seru, malah endingnya absurd.


Dan berita tidak disangka-sangka muncul setelah seseorang datang ke podium dan berbisik perdana menteri dan Raja.


Si perdana menteri membalas bisikannya dan menyuruh si pemandu acara mengumumkan sesuatu.

__ADS_1


“Sepertinya ada kabar yang sedikit mengejutkan! Putri Rachial telah diselamatkan dari penculiknya. Ini kabar yang sangat menggembirakan. Pernikahan antara Putri Rachial dan Tuan Rudolf akan dilaksanakan sekarang!“ beritahu si pemandu acara.


Yayan reflek berteriak. “APA?!!“


__ADS_2