Wanita Adalah Sumber Uangku

Wanita Adalah Sumber Uangku
Ch 46: Pertemuan kedua


__ADS_3

Nesa, remaja seumuran dengan Azka dan Aji, bahkan mungkin satu SMA dengan mereka. Mengingat Alya dan Mysta satu sekolahan, tidak salah bila mungkin Nesa berada di SMA yang sama. Namun, sepertinya laki-laki itu sudah lama berhenti sekolah, ia malah bergabung dengan komplotan preman. Bukan sebagai babu, melainkan bos yang ditakuti dan disegani.


Yayan masih waspada, dia sedikit kagum dengan si rambut perak, Nesa. Di umurnya yang baru belasan, ia cukup hebat.


Dan sekarang … laki-laki berambut perak itu akan menjadi bawahanya Yayan.


“Jadi, apa tugasnya? Woah, aku akan segera mempersiapkan semuanya.“ tanya Nesa tanpa basa-basi. Dia dan Yayan kini berada di dekat tong pembakaran, masih berada di area pembangunan gedung yang mangkrak.


“Hmm … kau mau langsung kerja?“ tanya Yayan sedikit heran.


“Ingin segera bermalas-malasan!“


“Cih, tapi kukira kerjamu tidak akan mudah dan mulus.“


Nesa sedikit melebarkan mata yang sebelumnya menyipit karena mengantuk. Ia memang terlihat selalu mengantuk.


Yayan mengeluarkan ponselnya, “Cari wanita ini!“


“Jika dapat?“


“Bawa dia ke hadapanku!“


Bibir Nesa terukir senyum tipis, “Yah, kurasa sangat mudah?! Tapi, kau harus segera memberiku uang muka!“


Yayan dengan jengah melemparkan koper berisi uang pada Nesa. “Aku akan membayar sisanya nanti!“


Tatapan Yayan menjadi sedikit dingin, 'Coba saja bawa kabur uang itu. Kau akan kena batunya!'


Setelah itu, Yayan undur diri dari markas komplotannya Nesa.


“Simpan nomorku! Lapor jika menemukan sesuatu!“


“Woah, ya ….“ Nesa melambai-lambai pada Yayan yang hendak pulang, seperti biasa disertai mulut menganga sebab menguap.


'Bocah itu memang butuh tidur!'


.


.


.


.


Keesokan harinya ….


Yayan menjalani aktivitasnya yang biasa, bangun pada waktu fajar, sedikit berolahraga untuk menyelesaikan misi harian System. Setelah itu mandi untuk bersiap berangkat ngantor. Dia sudah kebanyakan cuti.


“Hei, Andrea … lebih baik kau segera cari kerja?! Kerjaan cuma ngenolep. Dan aku sebetulnya tidak sudi menafkahi wanita yang bahkan bukan siapa-siapaku!“ celetuk Yayan di saat dirinya memberi makan kucing liar di lingkungannya bersama Andrea.


“Bekerja? Bekerja jadi apa? Ijazahku cuma SMA!?“ sangkal Andrea, ia ikut memberikan makan kucing.


“Ya pikirlah! Kau harusnya tau apa kelebihanmu. Selain ngevve, ya?!“


“Itu merepotkan, Yan!“ rengeknya. Ia jelas tidak suka bekerja.


“Jadi, kau mau selamanya menjadi beban?“ tanya Yayan.

__ADS_1


“Ya nggak juga, sih!“


“Makanya——”


“Eh, gimana kalau bekerja di kantormu, sebagai office girl. Aku tidak keberatan asal satu tempat denganmu.“ Andrea memotong ucapan Yayan.


“Ditolak!“ balas Yayan langsung.


“Heh? Kenapa? Katanya suruh cari kerja?“


“Kau ingat … siapa yang selalu mengurus kondisi kos-kosan? Ya … Itu aku dan Azka-Aji. Aku jamin kau bakal dipecat pada minggu pertama!“


“Kau kejam sekali!“


“Begitulah kenyataannya.“


Yayan kemudian berdiri, dia selesai memberi makan kucing-kucingnya.


“Aku tidak mau tau, Andrea! Carilah pekerjaan, lebarkan relasimu, dan pelajari skill-skill baru yang berguna! Jangan nolep!“ petuah Yayan sebelum pergi ngantor mengendarai motornya.


Setelah perjalanan yang membosankan, Yayan sampai di kantornya. Dia tak sengaja datang bersamaan dengan Nazuna. Wanita itu tidak membawa mobil merahnya, ia kini diantar mobil hitam yang nampak tidak asing bagi Yayan.


'Mobil itu? Bukannya mobil yang pernah nyegat kami?' pikir Yayan menduga.


Yayan dan Nazuna tidak sengaja saling pandang, ketahuan oleh pria dengan ekspresi masam, kentara tidak suka dengan kejadian itu.


Yayan menarik pandangannya lalu langsung masuk ke gedung.


“Siapa itu?“ tanya pria itu pada Nazuna.


“Teman.“


“Kami hanya teman!“


Pria itu tidak menjawab dan langsung masuk kembali ke mobilnya. Ia bablas pergi.


Nazuna menghela nafas, “M-merepotkan.“


Sedangkan di sisi lainnya ….


“Huh? Vina izin?“ kejut Yayan setelah mendapat kabar yang kurang mengenakkan.


“Ya, katanya sakit.“


'Hmm … apa gara-gara kemarin, ya?'


“Oh, ya sudah.“


Yayan bekerja seperti biasa, dia kini lebih dikenal oleh seisi kantor karena jasanya yang luar biasa. Dia dinaikkan gaji, walaupun jabatannya tetap sama.


Bila dipikir-pikir Yayan tidak butuh kerja, dia bisa dengan mudah mendapatkan uang.


Setelah waktunya pulang, Yayan membereskan bilik kerjanya lalu bergegas kembali. Dia kali ini tidak punya jadwal lembur.


Saat berada di parkiran, Yayan lagi-lagi tidak sengaja bertemu dengan Nazuna. Dia sudah jemput oleh mobil yang mengantarnya tadi pagi.


Yayan sedikit memperhatikan mobil itu keluar dari area parkiran kantor, dikintili mobil para bodyguard.

__ADS_1


“Jika kau ingin tau … itu adalah calonnya Nona Nazuna. Orang sekantor lagi patah hati.“


Yayan sedikit tersentak saat Intan tiba-tiba muncul di sampingnya. “Kau membuatku kaget, manager.“ Dia mengelus dada.


“Haha, maaf.“


“Sekantor? Aku biasa aja, tuh.“


“Yah … kalau itu, sih ….“ Intan menyikut-nyikut Yayan. “Kau sudah menjadi primadona. Banyak karyawan wanita yang masih single mengagumi dan secara gamblang suka padamu!“


'Kemana saja saat aku masih payah?' batin Yayan.


“Bagaimana kau bisa tau?“ tanya Yayan.


“Biasalah … wanita, suka ngegosip kalau kumpul-kumpul,” jawab Intan mengibas-ngibas telapak tangan di depan wajah.


“Hmm … Yan, mau mampir sebentar ke rumah makan?“ tawar Intan.


“Umm, maaf, manager. Aku tidak bisa, harus segera pulang,” tolak Yayan dengan halus. Dia sebetulnya merasa tidak enak menolak ajakan Intan.


“Oh, ya sudah. Tidak apa-apa, aku sendiri saja.“ Intan berlalu pergi, ia menyembunyikan ekspresi murungnya. “Hati-hati di jalan.“


“Ya, kau juga,” balas Yayan.


“Huh, harus segera pulang.“ Yayan bergegas kembali.


Dia tidak kembali ke kos-kosannya, melainkan pulang ke rumahnya yang ada di Diamond town. Di sana sudah ada ibunya dan Mikha.


Yayan sudah sampai dan menekan bel di pintu. Sarah membuka pintu dan menyambut anak sulungnya dengan hangat.


“Kau pasti lelah bekerja. Sini, Mikha sudah memasak makanan yang spesial untukmu.“


Ada banyak menu makanan yang tersaji di meja makan. Yayan berpikir bahwa akan makan beramai-ramai.


'Ini terlalu banyak untuk 3 orang. Bukannya sedikit berlebihan?' pikir Yayan.


“Ayo, duduk. Kau mau makan apa?“ tawar Sarah. Mikha sibuk mengambil nasi untuk sepasang ibu dan anak itu.


'Jumlah piringnya ada 6?'


“Hei, jangan bengong!“ Sarah menyadarkan Yayan yang sedikit termenung.


“Yan, mau lauk apa?“ Mikha sudah selesai mengambil nasi, ia menawarkan lauk yang tersedia. Memang seperti sepasang suami-istri, Sarah pun girang melihatnya.


Ting-tong …


Suara bel di pintu depan berbunyi. Ada seseorang yang hendak bertamu.


“Nah, mereka sudah datang?!“ Sarah bergegas membuka pintu.


'Benar dugaanku!?'


Sarah pun kembali bersama 3 orang tamu. Satu pria, satu wanita, dan anak kecil.


“Yan, kenalkan … mereka adalah tetangga kita …..“


'Dia orang yang mirip ibunya Wulan?' batin Yayan yang masih tidak percaya.

__ADS_1


Muncul keterkejutan yang juga dialami oleh wanita yang sangat mirip dengan istrinya Rinto.


__ADS_2