
Suara teriakan Edwin dan Elvin terdengar memeneluhi rumah. Mereka juga menggedor pintu dan meminta ayahnya untuk membuka pintu kamar yang terkunci. Segala benda yang bisa mereka lempar sudah mereka lemparkan ke arah pintu, tidak saja suara teriakan si kembar namun suara teriakan Eliana juga tak hentinya terdengar.
Morgan berada di dalam kamarnya, berdiri di depan jendela dengan perasaan yang kacau. Dia tidak mau semua ini terjadi namun dia kecewa karena Eliana ingin membawa kedua putranya pergi. Emosi benar-benar telah membutakan mata hati sehingga sulit untuk berpikir jernih.
Eliana berteriak di luar sana sambil menangis, semua di luar rencana. Padahal dia ingin menunggu hasil tes Dna tapi ternyata, akta lahir itu menjawab semuanya. Seharusnya dia sadar lebih cepat agar tidak terasa menyakitkan akibat perasaan yang sudah terlanjur tumbuh di dalam hatinya. Sekarang dia benar-benar orang asing yang terbuang tapi dia tidak peduli, yang dia inginkan hanya Edwin dan Elvin. Apa pun caranya akan dia lakukan untuk mendapatkan kedua putranya.
Edwin dan Elvin yang kembali berulah benar-benar menghancurkan semuanya. Sisi nakal yang sudah lama tidak mereka tunjukkan pada akhirnya kembali mereka tunjukkan. Suara benda yang menghantam pintu kamar pun masih tak henti terdengar.
"Daddy jahat, keluarkan kami dari sini!" teriak Edwin lalu di susul dengan teriakan Elvin.
"Suatu saat kami akan membalas apa yang telah Daddy lakukan pada kami!"
"Aku akan membenci Daddy sampai besar karena Daddy telah mengusir Mommy!"
"Daddy jahat... Daddy jahat!"
Setelah berteriak, mereka pun menangis dengan kerasnya sambil memukul-mukul daun pintu. Morgan yang mendengar suara teriakan mereka semakin sakit kepala. Sejak awal seharusnya dia tidak membawa Eliana kembali, seharusnya tidak karena wanita itu mengacaukan ketenangan hidup dan sekarang wanita itu pun mengacaukan hubungannya bersama dengan kedua putranya.
"Berhenti menangis Edwin, Elvin!" bentaknya.
"Daddy jahat, keluarkan kami dari sini. Mommy bukan pencuri, Mommy tidak mencuri!" teriak Edwin karena dia dan adiknya mengira jika ibu mereka diusir karena dikira pencuri oleh ayah mereka.
"Benar, Mommy sudah lama tinggal bersama dengan kita. Mana mungkin Mommy mencuri dari kita?" teriak Elvin pula.
"Diam kalian berdua, kalian tidak mengerti apa pun dengan permasalahan orang dewasa. Yang kalian bisa hanya menangis dan menangis saja. Apa kalian kira Daddy suka hal ini terjadi? Tidak sama sekali jadi sebaiknya berhenti berteriak dan menangis. Segera bersiap-siap, kita akan pergi setelah ini!" lebih baik dia mengasingkan kedua putranya untuk sementara waktu. Mereka pasti akan lupa dengan Eliana seiring berjalannya waktu.
"Kami memang tidak mengerti karena orang dewasa jahat seperti Daddy!"
"Aku tidak mau ke rumah Uncle Peter. Jika Daddy membawa kami ke sana, aku akan membenci Daddy sampai aku besar!" teriak Elvin.
"Diam, Daddy melakukan hal ini untuk kebaikan kalian berdua!"
__ADS_1
"Aku tidak mau, Dad. Tidak mau!!" teriak kedua putranya.
Morgan tidak peduli dan melangkah pergi, kedua putranya masih terlalu kecil untuk mengerti dengan hal ini jadi percuma berdebat dengan mereka.
Morgan keluar dari rumah, melangkah menuju pagar di mana Eliana masih berada di sana sambil memohon. Eliana menatapnya dengan penuh kebencian, sedangkan Morgan pun menatapnya sinis.
"Kenapa tidak juga pergi?!" tanya Morgan dengan nada mencibir.
"Aku akan pergi setelah kau memberikan Edwin dan Elvin padaku!" ucap Eliana.
"Jangan harap, Eliana. Aku tidak akan membiarkan kau membawa mereka dariku. Setelah ini, aku akan membawa mereka pergi yang jauh dan kau, jangan pernah berharap bisa menemukan mereka lagi!"
"Jangan terlalu jahat, Morgan. Mereka putraku dan mereka membutuhkan aku. Bukankah lebih baik kita membesarkan mereka bersama?"
"Jangan harap aku sudi setelah aku tahu niat terselubung yang kau miliki, Eliana!" teriak Morgan lantang.
"Sudah aku katakan, tujuan awalku memang ingin menemukan mereka dan membawa mereka tapi?"
"Kau benar-benar jahat!" teriak Eliana marah. Ini ternyata tuan muda yang tidur dengannya, ternyata sifatnya tidak sebagus rupanya.
"Aku memang jahat jadi sebaiknya pergi sebelum aku memerintahkan anak buahku untuk mengikatmu dan melemparkan dirimu ke dalam hutan belantara!" ancam Morgan. Setelah berkata demikian, Morgan melangkah pergi.
"Tunggu, Morgan. Kenapa kau tidak mau mendengarkan penjelasanku terlebih dahulu?" teriak Eliana.
"Tidak ada yang perlu dijelaskan lagi, Eliana!" ucap Morgan.
"Aku mohon padamu, Morgan. Buka pintunya, kita bicarakan masalah ini baik-baik!"
"Pergi, sebelum mereka berdua melemparmu ke dalam hutan!" teriak Morgan lantang.
Eliana hanya bisa menangis, Edwin dan Elvin yang memperhatikan dari jendela pun menangis dan berusaha memanggil ibu mereka namun Eliana tidak bisa mendengar karena jarak yang cukup jauh.
__ADS_1
"Bagaimana ini, Kak? Kita tidak akan bisa bertemu dengan Mommy lagi!" ucap Elvin sambil menangis.
"Kita harus membuat sebuah rencana. Saat pintu itu terbuka, kita langsung lari saja!" ucap Edwin.
"Apa bisa?"
"Tentu saja, kita harus menggunakan kesempatan saat Daddy lengah."
"Tapi Mommy?" suara tangisan Elvin kembali terdengar saat melihat ibu mereka diusir oleh dua orang anak buah ayah mereka.
"Daddy jahat, benar-benar jahat!" teriak Edwin.
"Mommy, jangan pergi!" teriak Elvin sambil memukul kaca jendela.
"Jangan tinggalkan kami, Mom. Kami tidak mau di sini, kami mau ikut dengan Mommy!"
"Kami benci dengan Daddy, kami mau ikut dengan Mommy saja!"
Morgan yang mendengar teriakan kedua putranya itu semakin murka. Dia tahu kedua putranya begitu menyayangi Eliana oleh sebab itu dia harus membawa mereka pergi jika tidak, Edwin dan Elvin akan pergi meninggalkan dirinya dan lebih memilih bersama dengan ibu mereka.
Jalan satu-satunya memang membawa kedua putranya pergi, pergi yang jauh sampai Eliana tidak bisa menemukan keberadaan mereka lagi. Kali ini, Eliana benar-benar tidak boleh tahu.
Morgan tidak peduli sama sekali, dia lebih memilih masuk ke dalam ruangannya karena dia ingin memerintahkan sang asisten membersihkan Villa miliknya karena dia akan membawa kedua putranya ke sana. Morgan tidak tahu apalagi yang terjadi di luar sana, yang dia tahu suara tangisan Edwin dan Elvin sudah tidak terdengar lagi. Sepertinya mereka tertidur akibat lelah. Bagus, itu sangat bagus. Inilah yang dia tunggu, dengan begini dia bisa membawa kedua putranya dengan mudah.
Morgan keluar dari ruangan, yang dia lihat pertama kali adalah Eliana. Wanita itu sudah tidak terlihat di depan rumahnya, sepertinya anak buahnya bekerja dengan baik jadi sekaranglah waktunya pergi. Edwin dan Elvin tidak akan melawan karena mereka sudah tidur. Morgan melangkah pergi, menuju kamarnya.
Beberapa barang penting pun diambil, barang-barangnya yang berantakan akibat dibongkar oleh Liona pun dirapikan. Dia belum melihat rekaman cctv untuk melihat apa yang terjadi. Nanti saja, setelah dia membawa kedua putranya pergi. Setelah mendapatkan apa yang dia mau, Morhan pun keluar dan menghampiri kamar kedua putranya. Kunci dimasukkan, tapi kenapa pintu sudah tidak terkunci?
"Edwin, Elvin!" Morgan masuk ke dalam untuk mencari kedua putranya yang tidak ada.
"Edwin, Elvin!" kini dia berteriak mencari, namun kedua putranya tidak ada di mana pun. Rumah mendadak sepi, Morgan berlari keluar dari kamar bahkan dia pun berlari keluar rumah. Dua penjaganya tergeletak di depan gerbang yang sudah terbuka dalam keadaan pingsan. Apa yang telah terjadi?
__ADS_1