
Eliana dapat mendengar keributan yang terjadi di luar sana namun dia tidak mau keluar dan pura-pura tidur. Entah apa yang terjadi, suara teriakan Camella yang marah juga tawa Edwin dan Elvin terdengar di luar sana. Sepertinya Edwin dan Elvin telah membuat Camella marah tapi kenapa Morgan tidak mencegah?
Sebaiknya dia tidak memikirkannya, dia hanya orang asing saja. Lagi pula ini adalah malam terakhirnya, dia tidak boleh ikut campur dengan masalah orang lain. Eliana kembali memejamkan mata, sesungguhnya dia lapar tapi tidaklah bijak keluar di situasi seperti itu karena dia akan memperkeruh suasana.
Morgan melangkah mendekati kedua putranya yang masih tertawa, langkah Morgan terhenti sejenak saat melewati kamar Eliana. Pandangannya tertuju pada kamar itu namun dia kembali menghampiri kedua putranya yang masih juga tertawa. Dia akan menemui Eliana besok dan memintanya untuk pergi
"Apa kalian sudah puas?" tanya Morgan pada kedua putranya.
"Tentu saja, Dad," Edwin dan Elvin tersenyum dengan lebar.
"Jika begitu kembali ke meja makan!"
"Kami mau makan dengan Mommy!" Edwin dan Elvin berlari menuju meja makan. Morgan mengikuti mereka dan mendapati kedua putranya sedang sibuk mengambil makanan yang hendak mereka berikan pada ibu mereka. Steak tanah sudah disingkirkan oleh pelayan, beberapa dari mereka sedang sibuk membersihkan kekacauan yang disebabkan oleh Edwin dan Elvin.
"Mau ke mana kalian?" tanya Morgan karena kedua putranya mau pergi dengan sepiring makanan yang sudah mereka ambil.
"KamiĀ mau makan dengan Mommy!" kedua putranya menjawab hal yang sama.
"Tidak boleh, makan dengan Daddy!" perintah Morgan.
"Kami tidak mau!" Edwin dan Elvin sudah berlari pergi membawa makanan yang sudah mereka siapkan untuk mereka nikmati bersama dengan ibu mereka.
"Daddy bilang tidak boleh!" teriak Morgan tapi kedua putranya sudah berlari masuk ke dalam kamar di mana Eliana berada.
Morgan sangat kesal, pengaruh wanita asing itu lebih besar dari pada dirinya. Tidak bisa, jangan sampai kedua putranya lebih dekat dengan Eliana dan lebih patuh dengannya. Hal itu tidak boleh terjadi karena Eliana bisa membawa kedua putranya pergi dengan mudah.
Malam ini akan dia biarkan Edwin dan Elvin bersama dengan wanita asing itu tapi besok, wanita itu sudah harus pergi. Morgan melangkah pergi, mulai besok dia akan menempatkan dua anak buah untuk mengikuti kedua putranya agar mereka tidak kabur lagi dari rumah untuk mencari keberadaan Eliana.
__ADS_1
Di dalam kamar, Edwin dan Elvin sudah duduk bersama dengan ibu mereka di atas ranjang. Eliana tidak menyangka kedua putranya akan masuk ke dalam dan membawakan makanan untuknya.
"Ayo, Mom. Kita makan, Mommy pasti lapar, bukan?" tanya Edwin.
"Terima kasih, Sayang. Mommy memang lapar."
"Lalu kenapa Mommy tidak keluar untuk makan dengan kami?" tanya Edwin.
"Mommy tidak mau mengganggu kebersamaan kalian sebab itu Mommy tidak mau keluar."
"Kenapa?" Edwin dan Elvin menatapnya dengan tatapan heran.
"Tidak ada apa-apa, ayo kita makan," Eliana memotong daging steak yang ada di piring lalu menyuapi Edwin. Dia juga melakukan hal yang sama pada Elvin.
"Kami juga ingin menyuapi Mommy!" Edwin mengambil sepotong kentang lalu memberikannya pada Eliana. Hal itu juga dilakukan oleh Elvin, sebuah perasaan bergejolak di dalam dada saat Edwin dan Elvin menyuapinya makan. Air mata Eliana bahkan mengalir, dia tidak tahu tapi perasaan aneh itu memenuhi hatinya.
"Kenapa Mommy menangis?" tanya si kembar.
Edwin dan Elvin memeluk ibunya, Eliana mendekap mereka dengan erat dan tidak henti mencium wajah mereka. Kenapa dia merasa berat berpisah dengan Edwin dan Elvin? Mungkin karena kasih sayangnya padanya kedua anak itu yang membuatnya merasa berat meninggalkan mereka apalagi malam itu akan menjadi malam terakhir mereka bersama.
"Mommy jangan menangis," pinta Edwin yang juga menangis.
"Katakan pada kami, apa ada yang sakit?" Elvin juga menangis.
"Tidak ada, Sayang. Mommy baik-baik saja," Eliana semakin memeluk Edwin dan Elvin dengan erat. Sungguh, rasanya tidak ingin meninggalkan mereka tapi dia hanyalah orang asing yang sudah harus pergi. Lagi pula dia tidak boleh melupakan tujuannya. Jangan sampai Morgan mengusir sehingga dia seperti orang yang tidak tahu diri.
Eliana melepaskan pelukannya, air mata Edwin dan Elvin pun dihapus. Eliana mencium pipi mereka kembali, jika mereka berjodoh mereka pasti akan bertemu kembali.
__ADS_1
"Ayo habiskan makanannya," ucap Eliana.
"Kami ingin tidur dengan Mommy malam ini, apa boleh?"
"Tentu saja, Sayang. Sekarang kita makan terlebih dahulu," Eliana kembali memotong daging dan memberikannya pada kedua putranya.
Edwin dan Elvin menikmati setiap suapan yang ibu mereka berikan. Mereka juga menyuapi ibu mereka sampai makanan yang ada di atas meja habis. Malam ini Eliana benar-benar tidak keluar dari kamar karena dia tidak mau bertemu dengan Morgan. Lagi pula tidak penting bertemu dengan pria itu.
Setelah makan, Eliana meminta Edwin dan Elvin untuk mengganti baju dan menggosok gigi mereka terlebih dahulu. Morgan sedang berada di ruang tamu, dia diam saja memperhatikan kedua putranya berlari keluar dari kamar Eliana dan tidak lama kemudian mereka keluar lagi setelah memakai baju tidur dan kembali masuk ke dalam kamar Eliana. Malam ini saja, dia akan membiarkan mereka tidur bersama karena esok wanita itu sudah harus pergi.
Edwin dan Elvin berlari menghampiri ibu mereka yang sudah menunggu di atas ranjang. Eliana sangat senang, dia tidak akan melupakan kebersamaan mereka. Walau singkat tapi menyenangkan.
"Ayo tidur, Mommy akan membacakan cerita untuk kalian," Eliana mengambil sebuah buku dongeng yang ada di atas meja.
"Aku lupa mengunci pintu," Edwin turun dari atas ranjang dan berlari menuju pintu.
"Tidak apa-apa, tidak perlu di kunci," ucap Eliana.
"Tidak boleh, nanti daddy masuk secara tiba-tiba dan tidur di samping Mommy!"
"Jika begitu kunci saja!" jangan sampai hal itu terjadi karena dia tidak mau dianggap bantal oleh pria itu.
Setelah Edwin mengunci pintu, dia kembali berlari menghampiri ibunya sambil berteriak, "Sudah aman, Daddy tidak akan bisa masuk lagi!"
"Anak pintar, kemarilah!" Eliana menepuk sisi ranjang yang kosong. Edwin berbaring di sisi kanan, sedangkan Elvin berbaring di sisi kiri. Eliana mulai membacakan dongeng untuk kedua putranya. Edwin dan Elvin memeluknya, mereka berbincang sesekali sampai pada akhirnya si kembar tertidur.
Buku dongeng disimpan, Eliana berbaring bersama mereka. Dahi kedua putranya dicium, rasanya tidak ingin pagi cepat tiba agar mereka tidak cepat berpisah. Eliana pun tertidur namun seorang pria di luar sana tampak gelisah. Morgan terlihat mondar mandir, seperti ingin menghampiri kamar Eliana namun enggan. Dia melangkah mendekat lalu melangkah pergi.
__ADS_1
Morgan sudah melakukan hal itu entah keberapa kali sampai membuatnya kesal. Dia pun melangkah menuju pintu, sudah tidak ada suara mereka pasti sudah tidur. Dia hanya akan melihat Edwin dan Elvin sebentar lalu pergi. hanya itu saja yang ingin dia lakukan.
Handle pintu diputar, Morgan hendak mendorong pintu namun sayangnya pintu tidak bisa dibuka. Dia kembali mencoba, umpatannya pun terdengar saat tahu pintu itu terkunci. Sial, sungguh wanita yang menyebalkan. Morgan melangkah pergi menuju kamarnya sambil mengumpat. Dia benar-benar sudah seperti orang bodoh. Apa dia penjahat sehingga pintu pun harus dikunci? Baiklah, wanita itu yang mulai duluan, jadi besok dia akan mengusirnya tanpa ragu.