Wanita Bayaran Sang Penguasa

Wanita Bayaran Sang Penguasa
Rasa Penasaran


__ADS_3

Edwin dan Elvin sedang bersenang-senang berada di ruangan lain sambil mencari jalan keluar dari rumah hantu tersebut, sedangkan Camella masih ketakutan setengah mati. Eliana dan Morgan masih mencari keberadaan Camella, teriakannya masih saja terdengar karena para aktor yang berperan sebagai hantu semakin sengaja menakuti dirinya setiap kali Camella masuk ke ruangan lain.


Eliana masih saja mencari keberadaan Camella yang berpindah-pindah tempat. Morgan pun mengejar Eliana yang berlari dengan cepat sambil memanggil Edwin dan Elvin. Camella sungguh tidak berguna, dia tidak akan memaafkan Camella jika terjadi sesuatu pada kedua putranya.


"Edwin, Elvin!" teriak Eliana memanggil si kembar.


"Eliana, tunggu!" Morgan masih mengejar, seharusnya dia tidak mempercayakan Edwin dan Elvin pada Camella.


"Pergi kalian, dasar hantu-hantu jelek!" ketakutan Camella tentunya membuat para aktor yang berperan sebagai hantu di rumah hantu tersebut semakin sengaja sehingga membuat Camella ketakutan dan berteriak histeris.


"Morgan, tolong aku. Aku takut!" mendengar teriakan Camella membuat Morgan ketakutan. Dia benar-benar kesal karena Camella semakin memalukan. Eliana kembali memanggil kedua putranya, dia harap mereka tidak tersesat.


Eliana berpindah dari ruangan satu ke ruangan lain sampai akhirnya Eliana dan Morgan bertemu dengan Edwin dan Elvin. Kedua anak itu pura-pura menangis di sisi ruangan dan pura-pura takut. Tentunya mereka berpura-pura demikian setelah mendengar Eliana yang memanggil dan melihat Eliana juga ayah mereka masuk ke dalam ruangan.


"Edwin, Elvin!" Eliana kembali memanggil.


"Mommy, Daddy!" mereka berlari ke arah ibu dan ayah mereka sambil menangis.


"Apa kalian baik-baik saja?" tanya Eliana yang mengkhawatirkan keadaan si kembar.


"Kami takut, Mommy. Kami takut!" mereka menangis dengan keras, sambil memeluk kedua kaki Eliana.


"Kami mau keluar, Mom," rengek Edwin.


"Aunty jahat, meninggalkan kami berdua!" rengek Elvin pula.


"Apa yang terjadi?" tanya ayah mereka.


"Kami sedang melihat sesuatu tapi tiba-tiba saja Aunty berlari pergi sambil berteriak karena sebuah boneka menakutkan muncul secara tiba-tiba," jelas Edwin.


"Apakah benar?" Morgan tidak menyangka Camella meninggalkan kedua putranya akibat takut.


"Benar, Dad. Kami mengejar Auny yang ketakutan tapi dia terus lari sehingga kami tersesat," ucap Elvin pula.

__ADS_1


"Camella, awas dia!" Morgan tampak marah, tidak seharusnya dia meninggalkan ke dua putranya pada kekasihnya yang penakut itu.


"Kami takut, Mom!" rengek si kembar sambil menangis. Tentu saja itu drama yang mereka mainkan bahkan tangisan mereka hanya tangisan yang dibuat-buat.


"Ayo keluar dari sini," Eliana menggendong Edwin, dia hendak menggendong si cengeng yang masih menangis namun Morgan sudah menggendongnya terlebih dahulu.


"Ayo pergi," Morgan melangkah terlebih dahulu untuk keluar dari rumah hantu tersebut.


Suara Camella sudah tidak terdengar, mungkin saja dia sudah keluar dari rumah hantu tersebut namun tidak ada yang peduli. Morgan benar-benar kecewa pada sang kekasih yang sudah meninggalkan kedua putranya di tempat gelap yang pastinya sangat menakutkan bagi anak-anaka. Walau Edwin dan Elvin nakal tapi mereka tetaplah anak-anak.


Tangisan Edwin dan Elvin sudah tidak terdengar lagi, mereka sangat senang karena rencana mereka berjalan dengan lancar. Sekarang mereka akan bermain hanya dengan ayah dan ibu mereka saja tanpa adanya penyihir yang tidak mereka sukai.


Setelah mereka melewati beberapa ruangan dan melewati beberapa hantu yang mengerikan, akhirnya mereka berhasil menemukan jalan keluarnya. Eliana tampak lega, namun Camella yang mereka sangka sudah berada di luar tidak terlihat sama sekali.


"Ayo Dad, kita main yang lain," ajak Edwin.


"Aku ingin naik biang lala," teriak Elvin.


"Kita harus menunggu Aunty Camella terlebih dahulu, bagaimana jika dia masih berada di dalam?" ucap Eliana.


"Benar, kami mendengar suara teriakan Aunty tadi di dalam. Mungkin Aunty sudah keluar dari tadi karena takut."


Morgan memandangi kedua putranya dengan tatapan curiga. Jangan katakan jika mereka berdua yang telah membuat Camella seperti itu.


"Apa ini ulah kalian?" tanya Morgan curiga.


"Tidak, kenapa Daddy menuduh kami?" Edwin dan Elvin bersembunyi di belakang kaki Eliana.


"Benar kalian tidak melakukan apa pun?"


"Kenapa kau menuduh mereka?" Eliana tampak tidak senang karena Morgan menuduh kedua putranya yang telah melakukan hal itu.


"Aku tidak menuduh, aku hanya curiga!"

__ADS_1


"Apa bedanya?" Eliana benar-benar kesal dengan sikap seorang ayah yang lebih mementingkan kekasihnya itu dari pada kedua putranya.


"Ayo ikut dengan Mommy, kita naik biang lala bertiga!" ajak Eliana dengan perasaan kesal.


"Daddy jahat!" teriak kedua putranya sehingga membuat Morgan menjadi pusat perhatian.


"Hei, bukan seperti itu. Kenapa jadi kau yang marah?" Morgan berlari mengejar mereka yang sudah melangkah pergi meninggalkan dirinya.


Eliana membawa si kembar menuju biang lala karena mereka ingin menaiki wahana tersebut. Morgan pun mengikuti mereka, dia tidak tahu jika Camella dibawa keluar dalam keadaan pingsan oleh beberapa orang. Akibat rasa takut yang teramat sangat, Camella akhirnya tumbang dan tidak sadarkan diri.


Edwin dan Elvin tidak mau memandangi ayah mereka yang berusaha membujuk, si kembar tampak merajuk dan kesal. Eliana juga terlihat kesal. Tapi dia benar-benar marah dengan sikap Morgan yang menyalahkan anaknya sendiri.


"Ayolah, Daddy minta maaf," ucap Morgan, saat itu mereka sudah berada di biang lala.


"Tidak mau, Daddy jahat. Daddy keluar sana, kami tidak mau dengan Daddy!" teriak Edwin.


"Keluar, Dad. Kami mau dengan Mommy saja. Daddy pergi cari penyihir itu saja karena Daddy lebih menyayanginya!" Elvin pun tidak mau kalah.


"Oke, baiklah. Daddy memang salah, tidak seharusnya Daddy menuduh kalian berdua. Maafkan Daddy," kali ini dia harus membujuk kedua putranya baik-baik agar putranya tidak marah. Bisa gawat jika sampai putranya kembali melarikan diri dengan wanita asing itu.


"Apa Daddy akan membela penyihir itu lagi?" tanya Elvin.


"Tidak, Daddy tidak akan melakukannya lagi," jawab Morgan.


"Apa Daddy tidak akan bertemu dengannya lagi?"


Morgan diam, tidak menjawab. Tatapam matanya justru jatuh pada Eliana. Eliana jadi sangat heran, dia hanya pendengar saja tapi kenapa pria itu menatapnya seperti itu?


"Kenapa kau memandangi aku seperti itu? Tidak mungkin kau butuh persetujuanku untuk menjawab keinginan kedua putramu, bukan?" tanya Eliana dengan sinis.


"Bukan begitu," Morgan beranjak dan duduk di sisi Eliana, tentunya hal itu membuat Eliana terkejut sehingga membuat Eliana menggeser duduknya dengan terburu-buru.


Morgan tidak melepaskan pandangan dari Eliana, entah kenapa dia jadi penasaran. Semua itu terjadi karena insiden yang tak terduga di dalam rumah hantu. Eliana benar-benar tidak nyaman, dia segera pindah ke sisi lain dengan terburu-buru. Apa yang sedang dilakukan oleh pria aneh itu?

__ADS_1


Mendadak suasana menjadi sunyi, Eliana memandangi pemandangan dari atas biang lala begitu juga dengan si kembar. Mereka bersorak dan terdengar heboh namun si kembar melirik ke arah ayah mereka sesekali. Morgan masih memandangi Eliana, jujur saja dia semakin ingin tahu. Rasa penasaran yang dia rasakan bahkan semakin besar.


Edwin dan Elvin saling pandang, tiba-tiba mereka memiliki ide licik. Mereka menganggap ayah mereka menyukai Eliana karena ayah mereka tidak juga melepaskan pandangan mereka dari Eliana. Sepertinya sekarang mereka memiliki misi untuk menyatukan ayah dan ibu mereka.


__ADS_2