
Eliana merasa ada sesuatu yang melingkar di atas tubuhnya dan terasa berat. Dia juga merasa ada yang menempel di bagian belakangnya. Eliana menelan ludah, dia tahu yang ada di atas tubuhnya adalah sebuah tangan yang kekar dan itu adalah tangan seorang pria.
Di rumah itu hanya ada satu pria dewasa, dia sungguh takut untuk menebak kenapa pria itu tidur bersama dengannya. Tidak mungkin Morgan tidur sambil berjalan lalu salah masuk kamar, bukan?
Eliana berbalik dan terkejut mendapati Morgan sedang tidur dengan pulas sambil memeluknya. Yang membuatnya terkejut adalah wajah Morgan yang telalu dekat. Teriakannya terdengar, Morgan pun terkejut mendengar teriakan Eliana. Dia masih belum menyadari situasi namun pada saat itu, Plaakkk! Sebuah tamparan keras mendarat di wajahnya.
Kali ini Morgan yang berteriak, Eliana segera memundurkan tubuhnya dan menarik selimut untuk menutupi seluruh tubuhnya.
"Kenapa kau memukulku?" teriak Morgan marah sambil memegangi wajahnya yang baru saja mendapatkan satu tamparan dari Eliana.
"kau sendiri kenapa tidur denganku?" teriak Eliana pula.
"I-Ini rumahku jadi terserah aku mau tidur di mana," ucap Morgan beralasan. Sungguh bodoh, dia hanya berniat sebentar saja memeluk wanita itu tapi kenapa dia justru tertidur? Semoga kedua putranya tidak tahu tapi sayangnya, teriakan Edwin dan Elvin sudah terdengar di luar sana.
"Mommy, Daddy, kenapa kalian berteriak?" Edwin dan Elvin berlari masuk ke dalam kamar, mereka sangat heran karena ayah mereka berada di dalam kamar itu.
"Daddy, apa Daddy mengganggu tidur Mommy?" tanya Edwin.
"Tidak, bukan begitu," jawab Morgan.
"Jadi? Apa Daddy diam-diam tidur dengan Mommy??" tanya Elvin pula.
"Jadi ini sebabnya Daddy melarang kami tidur dengan Mommy?"
"Wah, Daddy curang. Daddy melarang kami untuk tidur dengan Mommy tapi Daddy sendiri yang melakukannya."
"Sudah kita duga, Daddy pura-pura tidak mau tapi sesungguhnya Daddy memang menyukai Mommy."
Morgan kehabisan kata-kata karena digoda oleh kedua putranya. Edwin dan Elvin masih saja menggoda ayah mereka, sedangkan Eliana menatap Morgan dengan tajam.
"Daddy tidak sengaja jadi tidak perlu menggoda seperti itu!" ucap Morgan seraya beranjak.
"Daddy selalu lain di mulut lain dihati!" ucap Edwin dan Elvin.
"Oke, baiklah. Sebaiknya Daddy keluar," Morgan keluar dari kamar itu, kedua putranya pasti tidak akan berhenti menggoda dirinya jadi sebaiknya dia mencari aman. Sungguh gila, dia benar-benar sudah gila memeluk wanita asing itu.
__ADS_1
Morgan masuk ke dalam kamar, dengan perasaan campur aduk. Tangannya berada di pipi, di mana bekas tamparan berada di sana. Sampai saat ini hanya dua wanita saja yang berani dengannya, yang satu adalah wanita yang dia bayar dulu dan menolak membuatkan makanan untuknya dan sekarang seorang wanita asing begitu berani menampar wajahnya hanya karena dia tidur dengannya tanpa sengaja. Apakah mereka adalah orang yang sama? Entah kenapa dia jadi berpikir demikian.
Tapi tidak mungkin karena Eliana tinggal di Australia jadi bagaimana mungkin Eliana adalah wanita yang Ray bayar waktu itu. Sunggu aneh, dia benar-benar merasa aneh tapi entah kenapa dia justru semakin penasaran dengan Eliana.
Sungguh luar biasa tapi apa yang sebenarnya terjadi dengannya? Dia tahu dia hanya penasaran saja dan ingin tahu tapi perasaan saat memeluk Eliana sama sekali tidak asing.
Eliana pun merasa aneh, selama ini hanya ada satu orang pria saja yang memeluknya. Pria itu Tuan muda yang membayarnya dulu dan sekarang, pria lain juga memeluknya. Jujur saja, dia juga merasa sedikit tidak asing. Sepertinya dia merasa seperti itu karena tidak ada yang memeluknya selain tuan muda itu.
"Mommy, apa Daddy mengganggumu?" tanya Edwin yang sudah duduk di sisi ibunya.
"Apa Daddy menggigit Mommy?" tanya Elvin pula.
"Tidak, Mommy hanya terkejut saja," jawab Eliana.
"Padahal Daddy tidak mengijinkan kami tidur dengan Mommy tapi ternyata Daddy yang ingin tidur dengan Mommy."
"Sepertinya mulai nanti malam kita harus tidur dengan Mommy, Kak," ucap Elvin.
"Benar, kita harus menjaga Mommy agar Daddy tidak mengganggu Mommy," ucap Edwin setuju.
"Mommy, apa Mommy baik-baik saja?" tanya si kembar.
"Keadaan Mommy sudah baik-baik saja, Sayang. Terima kasih sudah mengkhawatirkan Mommy."
"Mommy tidak marah pada Daddy, bukan?" tanya Edwin.
"Tidak, tentu saja tidak. Mommy hanya terkejut saja."
"Daddy tidur di sini pasti karena mengkhawatirkan Mommy jadi Mommy jangan marah pada Daddy," si cengeng yang bermulut manis mulai mengarang cerita.
"Benarkah?" Eliana memandangi si kembar dengan tatapan tidak percaya.
"Kami anak baik jadi tidak berbohong. Daddy takut terjadi sesuatu pada Mommy saat malam, Daddy berkata akan menjaga Mommy oleh sebab itu Daddy tidur di sini tanpa sadar jadi Mommy jangan marah."
"Benar, Mom. Kami ingin menemani Mommy tapi Daddy melarang karena Daddy takut kami mengganggu Mommy," ucap Elvin.
__ADS_1
"Baiklah, Mommy yang sudah salah paham. Mommy akan meminta maaf pada Daddy kalian nanti."
"Jadi Mommy tidak akan membenci Daddy, bukan?"
"Tentu saja tidak," ucap Eliana sambil tersenyum, dia jadi tidak enak hati karena sudah memukul wajah Morgan padahal pria itu mengkhawatirkan dirinya.
"Terima kasih, Mom. Kami sangat menyayangi Mommy," Edwin dan Elvin memeluk dirinya. Eliana tersenyum, andai mereka adalah kedua putranya, andai Morgan adalah Tuan muda itu tapi sayangnya bukan karena Edwin dan Elvin memiliki ibu yang sudah meninggal.
Morgan kembali masuk ke dalam kamar, dia ingin meminta maaf pada Eliana. Tidak seharusnya dia memeluk Eliana karena mereka adalah dua orang yang asing.
"Hm, aku ingin minta maaf padamu. Aku sunggu tidak sengaja," ucap Morgan.
"Tidak apa-apa, Edwin dan Elvin sudah menjelaskannya padaku. Aku yang seharusnya meminta maaf padamu karena sudah memukul wajahmu jadi maafkan aku," ucap Eliana tidak enak hati.
"Oh, yeah?" Morgan memandangi kedua putranya, memangnya apa yang mereka katakan pada Eliana? Edwin dan Elvin menunjukkan jempol mereka secara diam-diam yang menandakan jika ayah mereka tidak perlu khawatir.
"Baiklah, aku juga minta maaf," sepertinya Edwin dan Elvin mengatakkan sesuatu yang menguntungkan dirinya. Dia tahu kedua putranya licik dan pintar.
"Daddy, Mommy berkata perutnya masih tidak nyaman dan ingin makan makanan yang dibuatkan oleh Daddy," ucap Edwin.
Eliana memandangi Edwin, kapan dia berkata demikan?
"Benar, Dad. Mommy berkata makanan yang dibuat oleh Daddy sangat enak," ucap Elvin pulang.
Eliana menggeleng, kedua anak itu bermulut manis dan lihatlah, ayah mereka percaya jika dia mengatakan hal seperti itu.
"Jika begitu, Daddy akan membuatkan makanan. Ayo kalian juga membantu," ajak Morgan. Dia tampak senang karena Eliana menyukai makanan yang dia buat.
"Aku tidak?"
"Tunggu di sini baik-baik, Mom," teriak si kembar yang sudah berlari mendekati ayah mereka.
"Cepat, Dad. Jangan membuat Mommy menunggu!" Edwin dan Elvin menarik tangan ayah mereka keluar dari kamar. Eliana kembali tersenyum memandangi kepergian mereka. Kehidupan yang menyenangkan tapi dia tidak bisa tinggal terlalu lama bersama dengan mereka.
Edwin dan Elvin bersenang-senang dengan ayah mereka di dapur. Mereka akan melewatkan pagi menyenangkan bersama dengan ayah dan ibu mereka tapi setelah ini, mereka akan menyusun rencana untuk mengerjai Camella yang sebentar lagi akan datang untuk makan malam. Ayah mereka sudah memberi ijin jadi mereka tidak akan ragu untuk membuat penyihir itu lari dari rumah mereka.
__ADS_1