
Morgan terlihat kesal karena dia tidak di pedulikan oleh kedua putranya dan Eliana. Mereka justru sibuk untuk mendapatkan boneka yang baru Eliana dapatkan satu. Sebuah boneka berbentuk harimau sudah berada di tangan Elvin tapi Edwin belum mendapatkannya. Oleh sebab itu, Morgan diabaikan oleh mereka.
Camella, dia yakin Camella pasti akan memuji penampilan barunya. Jangan katakan wanita itu tidak mempedulikan dirinya karena dia bukanlah tipe pria idaman Eliana. Jika demikian, bukankah dia sudah membuang waktu untuk sesuatu yang sia-sia?
Sekarang dia merasa seperti orang bodoh, dia harap Eliana tidak menertawakan dirinya yang sudah berbuah bodoh hanya karena ucapannya yang tidaklah berarti itu.
"Mommy, kenapa Mommy tidak memuji penampilan baru Daddy?" tanya Edwin.
"Apakah penampilannya harus mendapat pujian dariku?" Eliana berbalik, melihat ke arah Morgan yang sedang menunggu mereka.
"Tentu saja, Daddy merubah penampilannya pasti gara-gara perkataan Mommy tadi pagi. Apa Daddy tidak terlihat tampan di mata Mommy?" tanya Elvin.
"Biasa saja, menurut Mommy penampilan Daddy kalian tidak jauh berbeda," Eliana melihat Morgan dengan teliti, untuk melihat penampilan barunya.
"Benarkah? Apa Mommy beranggapan demikian karena Daddy bukan pria idaman Mommy?"
Eliana menatap Edwin dan Elvin, berapa sih usia kedua anak itu? Kenapa sudah tahu hal yang demikian?
"Kenapa Mommy diam saja? Daddy merubah penampilan untuk Mommy, apa Mommy tidak tahu?" tanya Elvin.
"Tidak mungkin, jangan berdusta seperti itu!" ucap Eliana tidak percaya.
"Untuk apa kami berbohong, Daddy tidak pernah seperti ini sebelumnya."
"Baiklah, sebenarnya menurut Mommy biasa saja tapi katakan pada Daddy kalian jika dia semakin terlihat tampan dengan penampilan barunya!" ucap Eliana walau sesungguhnya dia merasa penampilan Morgan biasa saja tidak jauh berbeda dengan pria lainnya.
"Akan kami sampaikan!" Edwin dan Elvin berlari ke arah ayah mereka yang menunggu dengan ekspresi dingin.
"Daddy... Daddy, Mommy bilang penampilan Daddy semakin membuat Daddy terlihat tampan," ucap Edwin sambil menarik celana ayahnya.
"Benarkah?" Morgan melihat ke arah Eliana, dia seperti tidak percaya.
"Mommy bilang sekarang Daddy sudah terlihat lebih muda dan semakin menawan," Elvin mulai menambahkan bumbu.
"Kalian tidak sedang berbohong, bukan?" rasanya tidak mungkin Eliana berkata demikian.
"Tentu saja tidak, Mommy berkata Daddy tampan luar biasa," ucap Edwin dan Elvin. Senyuman lebar menghiasi wajahnya.
Morgan diam namun senyuman mengembang dengan perlahan, akhirnya apa yang dia lakukan tidak sia-sia tapi sayangnya apa yang dikatakan oleh kedua putranya sudah diberi bumbu yang manis oleh mereka.
"Apa Daddy senang sekarang?" tanya si kembar.
"Hm," Morgan menjawab sambil merapikan dasi yang dia gunakan dan merapikan jasnya.
__ADS_1
"Daddy memang tampan tapi menurut Mommy biasa saja!" ucap Edwin.
"Apa?" Morgan memandangi kedua putranya yang berlari mendekati Eliana karena Edwin dan Elvin dipanggil oleh ibu mereka yang sudah mendapatkan boneka yang mereka inginkan. Kenapa dia merasa baru saja diangkat naik lalu dihempaskan? Rasanya jadi kesal karena kedua putranya mengerjai dirinya.
"Boneka sudah didapat, ayo kita pulang," ajak Eliana.
"Mom, Daddy ingin tahu kenapa Mommy menganggap penampilan Daddy biasa saja?" tanya Elvin. Si kembar sudah seperti provokator yang menuang minyak sehingga ayah mereka semakin panas.
"Hei.. Hei, kapan Daddy pernah berbicara seperti itu?" sela ayahnya yang mendengar ucapan Elvin.
"Kami menyuarakan suara hati Daddy," jawab Edwin.
"Apa? Siapa yang mengajari kalian akan hal ini?" tanya Morgan.
"Tidak perlu Daddy ajari, kami bisa belajar sendiri," jawab Edwin dan Elvin.
Morgan menggeleng, apa yang mengajari mereka adalah para babysitter mereka? Ataukah mereka belajar dari ponsel? Hal itu bisa saja terjadi, kadang anak-anak lebih cepat dewasa tanpa diketahui.
"Elvin, Edwin, ayo kita pulang," ajak Eliana.
"Mommy, katanya ingin ke taman. Apa tidak jadi?"
"Oh, Mommy lupa. Ayo kita ke taman."
Eliana menggandeng tangan Edwin dan Elvin untuk pergi dari tempat itu. Morgan mengikuti mereka dari belakang, saat itu waktu sudah sore, setelah dari taman maka mereka akan pulang. Camella yang sudah menunggu kesal setengah mati. Kenapa tidak ada yang pulang sedari tadi? Padahal dia sudah menyiapkan makanan untuk Morgan dan kedua putranya tapi mereka tidak juga kembali.
Eliana sedang duduk di bawah sebuah pohon besar, dia melakukan itu untuk mengenang ibunya. Edwin bersandar di sisi kiri, sedangkan Elvin di sisi kanannya. Si kembar memang baru pertama kali melakukan hal seperti itu tapi mereka sangat senang.
"Apa Mommy selalu datang ke taman?" tanya Edwin.
"Yes, dulu Mommy sering menghabiskan waktu di taman."
"Kenapa? Apa Mommy menunggu seseorang?" kini Elvin yang bertanya.
"Tidak, Mommy hanya suka saja berada di taman karena menenangkan."
"Di mana kau tinggal sebelumnya?" Morgan tidak mau ketinggalan, mengenal wanita itu sedikit saja sepertinya tidak masalah.
"Australia, sepertinya kau sudah tahu."
"Kenapa begitu sinis, apa kau tidak menyukaiku?" Morgan menatapnya dengan tatapan tidak senang.
"Tolong jangan melontarkan pertanyaan yang bisa membuat orang salah paham. Kau sudah memiliki kekasih, sebaiknya tidak bicara sembarangan. Bagaimana jika sampai kekasihmu mendengar? Dia akan membenci aku karena mengira aku hendak merebut dirimu darinya."
__ADS_1
"Daddy, kenapa Daddy menyukai penyihir itu?" tanya Edwin.
"Benar, dia wanita jahat. Kenapa Daddy menyukainya?" tanya Elvin pula.
"Kalian tidak mengerti akan hal ini!" ucap Morgan.
"Daddy yang tidak mengerti! Pantas saja Mommy menganggap Daddy tidak menarik, itu karena Daddy payah!"
"Ayo kita pulang, Mom. Daddy memang payah dan tidak menarik!" ucap Elvin seraya beranjak dan menarik tangan ibunya.
"Tidak boleh berkata seperti itu, Sayang," Eliana berusaha membujuk.
"Kami mau pulang," rengek si kembar.
"Baiklah, ayo kita pulang," Eliana juga beranjak dan mengajak si kembar pergi dari taman tersebut.
"Hei, tunggu!" Morgan meraih tangan Eliana untuk menghentikannya.
"Ada apa?" tanya Eliana.
"Hm, apa aku benar-benar tidak menarik bagimu?" tanya Morgan.
"Apa?" Eliana tampak tidak mengerti, untuk apa Morgan bertanya seperti itu?
"Daddy memang tidak menarik. Benarkan, Mom?" tanya si kembar.
"Hm, ya," jawab Eliana. Jangan sampai dia salah bicara yang membuat Morgan salah paham.
"Daddy dengar, Daddy tidak menarik!" ucap Edwin.
"Apa?" tangan Eliana dilepaskan, kenapa rasanya sangat kesal? Dia sudah merubah penampilan tapi kenapa penampilannya masih saja tidak menarik bagi Eliana? Morgan mengepalkan kedua tangan tapi tunggu sebentar, kenapa dia jadi seperti ini?
Morgan mengusap wajah, kenapa dia jadi bersikap bodoh seperti itu? Ck, semua gara-gara kedua putranya yang memanasi dirinya, sepertinya si kembar berhasil memprovokasi dirinya. Morgan kembali memasang ekspresi dinginnya, dia kembali seperti semula tapi sesungguhnya di dalam hati, dia tidak percaya jika Eliana tidak tertarik sama sekali dengannya.
Mereka pulang ke rumah tanpa tahu Camella sudah menunggu. Edwin dan Elvin sangat senang tapi ketika melihat Camella membuka pintu, mereka pun berteriak dengan keras.
"Penyihir datang!"
"Akhirnya kalian kembali," Camella tidak peduli dengan teriakan mereka dan tersenyum dengan manis.
"Untuk apa kau datang, Camella?" tanya Morgan dengan dingin.
"Oh my God, Morgan. Kau terlihat luar biasa dan semakin tampan," puji Camella tapi Morgan tidak senang sama sekali dengan pujian yang diberikan oleh Camella.
__ADS_1
Morgan masuk ke dalam, melewati Camella setelah Eliana dan kedua putranya masuk ke dalam. Kenapa dia jadi penasaran dengan wanita lain dari pada Camella? Camella mengejarnya sambil memuji penampilan baru Morgan tapi pujian yang dia berikan justru membuat Morgan kesal.
Walau Morgan tidak menjawab tapi Camella tidak peduli karena da memiliki tujuan. Setelah ini dia akan memberi pelajaran pada si kembar dan juga wanita yang bersama dengan mereka. Akan dia buat wanita itu pergi dari kehidupan mereka agar dia tidak memiliki saingan tapi sepertinya sebentar lagi Camella akan mendapat amarah dari Morgan.