Wanita Bayaran Sang Penguasa

Wanita Bayaran Sang Penguasa
Dia Bukan Ibu Kalian


__ADS_3

Eliana bangun lebih pagi, ini adalah hari terakhirnya berada di rumah itu tapi sebelum pergi dia ingin membuatkan sarapan terakhir kalinya untuk Edwin dan Elvin. Dia bahkan beranjak dengan perlahan agar si kembar tidak terbangun. Eliana segera mandi, semua barang-barangnya pun dimasukkan ke dalam koper.


Rasanya berat untuk keluar dari kamar itu apalagi dia tidak akan masuk lagi setelah ini. Dia akan pergi setelah membuat sarapan Untuk Edwin dan Elvin. Eliana memandangi kedua putranya sejenak, dengan perlahan Eliana mencium dahi mereka untuk terakhir kali. Air mata menetes, sungguh dia tidak sanggup meninggalkan mereka tapi dia harus melakukannya sebelum dia diusir karena dia tahu Morgan tidak menyukai keberadaannya dan dia pun harus sadar jika dia hanyalah orang asing.


"Good bye, Boys. I love you," bisik Eliana.


Dengan langkah berat, Eliana keluar dari kamar sambil membawa koper kecilnya. Saatnya pergi untuk mencari keberadaan Ray atau Grace. Satu saja yang dia harapkan setelah dia pergi, semoga Edwin dan Elvin bisa menerima kepergiannya.


Saat Eliana membuat sarapan, tidak ada siapa pun. Para pelayan belum bangun karena masih pagi. Sebuah kertas berisi pesan dia letakkan di bawah piring makanan. Pesan itu tentunya ditujukan untuk Edwin dan Elvin dan pesan yang dia tulis agar Edwin dan Elvin tidak nakal setelah dia pergi.


Hanya seorang penjaga yang tahu kepergiannya karena Eliana memintanya membuka pintu. Eliana memandangi mansion itu sejenak. Dia akan mengingat kebersamaan dengan Edwin dan Elvin, dia tidak akan melupakannya. Anak buah Morgan hanya memandanginya saat Eliana melangkah pergi membawa koper miliknya. Walau masih gelap, Eliana akan pergi ke stasiun karena dia akan kembali menggunakan kereta.


Cukup jauh dia berjalan sampai akhirnya Eliana mendapatkan taksi yang akan membawanya ke stasiun. Semua masih tidur di mansion tapi sebentar lagi akan ada keributan besar yang disebabkan oleh si kembar nakal. Para pelayan yang bangun terlebih dahulu mendapati sarapan untuk Edwin dan Elvin sudah tersedia, sebuah kertas yang ada di meja tidak berani mereka sentuh. Mereka menebak sebentar lagi keributan seperti dulu pasti akan terulang kembali.


Edwin dan Elvin sudah terbangun, yang mereka cari pertama kali adalah ibu mereka tapi Edwin dan Elvin tidak mendapati ibu mereka. Edwin dan Elvin beranjak dari ranjang, mereka berlari menuju kamar mandi karena mereka mengira Eliana ada di dalam sana.


"Mommy, apa Mommy di dalam?" tanya si kembar sambil mengetuk pintu.


"Mommy," mereka kembali memanggil tapi tidak ada respon sama sekali.


"Ke mana Mommy pergi, Kak?" tanya Elvin.


"Mungkin Daddy menculiknya saat malam. Ayo kita lihat!"


Elvin mengangguk. Edwin meraih tangan sang adik lalu mereka berdua berlari keluar sambil berpegangan. Mereka hendak berlari menuju kamar ayah mereka tapi sang pelayan yang menemukan pesan yang dituliskan oleh Eliana memanggil mereka berdua.


"Tuan Muda, ada pesan untuk kalian," ucap pelayan itu.


"Pesan dari siapa?"


"Pergilah lihat, ada di atas meja."


Tanpa membuang waktu, Edwin dan Elvin pergi ke dapur dan menghampiri meja makan. Mereka juga mengambil kertas tersebut namun mereka belum begitu bisa lancar membaca. Mereka berdua bekerja sama untuk membaca pesan yang ditinggalkan oleh Eliana untuk mereka.

__ADS_1


..."Edwin, Elvin, Mommy minta maaf karena harus pergi secara diam-diam meninggalkan kalian berdua. Mommy harap kalian tidak nakal dan menjadi anak yang baik. Dengarkan perkataan Daddy kalian, jangan membuatnya marah. Maaf karena Mommy tidak bisa tinggal terlalu lama dengan kalian, Mommy sangat menyayangi kalian tapi Mommy harus pergi karena Mommy bukanlah siapa-siapa bagi kalian. Ingat jangan nakal, Mommy menyayangi kalian berdua. Nikmati sarapan yang Mommy buat dan jangan lupa pergi ke sekolah," itu pesan yang ditinggalkan oleh Eliana....


Setelah membaca pesan yang ditinggalkan oleh ibu mereka, Edwin dan Elvin berteriak dengan keras. Mereka menangis meraung sambil memanggil ibu mereka sampai-sampai membuat Morgan terbangun dari tidurnya.


"Jangan pergi, Mommy. Jangan pergi!" teriak Edwin dan Elvin.


"Kenapa Mommy pergi meninggalkan kami, kenapa?" teriak Edwin.


"Apa Mommy tidak menyayangi kami atau kami sudah terlalu nakal?" teriak Elvin pula.


Suara tangisan mereka memenuhi rumah, Morgan keluar dari kamar dengan terburu-buru karena dia mengira kedua putranya terjatuh atau pun terluka.


"Apa yang terjadi?" tanyanya sambil berteriak.


"Daddy jahat, Daddy jahat!" teriak Edwin dan Elvin. Mereka sudah berlari menuju ayah mereka dan memukulinya.


"Apa yang kalian lakukan, kenapa kalian memukul Daddy seperti ini?" Morgan berusaha menenangkan kedua putranya yang menangis tapi mereka semakin menjadi.


"Kami benci dengan Daddy, Daddy jahat!" teriak Edwin.


Edwin dan Elvin berlari menuju kamar Eliana dan masuk ke dalam. Pintu kamar pun dikunci oleh mereka agar tidak ada yang bisa masuk. Suara tangisan mereka semakin nyaring terdengar, Morgan sungguh tidak mengerti apa yang telah terjadi.


"Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Morgan pada pelayannya.


"Nona Eliana pergi dan meninggalkan pesan," jawab pelayannya.


"Apa?" Morgan terkejut. Eliana pergi? Kebetulan macam apa ini? Dia memang ingin meminta wanita itu pergi tapi ternyata dia sudah pergi tanpa dia pinta. ternyata dia wanita yang cukup tahu diri.


Morgan melangkah menuju kamar, di mana Edwin dan Elvin masih menangis. Pintu diketuk, Morgan pun memanggil kedua putranya.


"Tidak perlu menangis, dia hanya orang asing jadi dia memang harus pergi!" ucap Morgan.


Tidak ada respon, Edwin dan Elvin tidak menjawab. Hanya tangisan mereka saja yang terdengar dari dalam sana.

__ADS_1


"Daddy bilang jangan menangis, dia bukan ibu kalian jadi jangan menangisi kepergiannya!" teriaknya.


"Daddy jahat, apa Daddy yang membuat Mommy pergi?" teriak Edwin.


"Jangan asal bicara. Daddy sudah mengusir penyihir yang tidak kalian sukai jadi jangan keterlaluan karena wanita yang kalian anggap sebagai ibu hanyalah orang asing dan dia bukan ibu kalian!"


"Jika begitu jangan pedulikan kami, kami benci dengan Daddy!" teriak Elvin pula.


"Jadi kalian membenci Daddy hanya karena wanita asing itu?" rasanya benar-benar tidak terima karena pengaruh Eliana begitu besar terhadap kedua putranya.


"Kami benci karena Daddy jahat!' teriak Edwin dan Elvin.


"Jangan keterlaluan dan menguji kesabaran Daddy!" teriak Morgan marah. Dia yang tidak pernah membentak kedua putranya akhirnya melakukan hal itu.


"Sekarang segera mandi dan sarapan, kalian harus pergi ke sekolah. Mulai hari ini akan ada yang mengikuti kalian jadi jangan mengira kalian bisa lari seperti yang sebelumnya. Daddy tidak akan segan menghukum kalian berdua jika kalian berani!" ancamnya.


Edwin dan Elvin tidak bersuara, Morgan pun berlalu pergi. Dia memang harus bersikap tegas pada kedua putranya agar mereka tidak keterlaluan. Edwin dan Elvin menangis sambil berpelukan, tak hentinya mereka memanggil ibu mereka yang sudah pergi.


"Seharusnya kita curiga dengan sikap Daddy dan Mommy," ucap si bungsu.


"Daddy pasti telah mengatakan sesuatu pada Mommy sehingga Mommy pergi."


"Bagaimana ini, Kak. Apa kita harus pergi lagi?"


"Tidak perlu, Daddy yang menginginkan ini jadi kita harus bersikap seperti biasanya. Kita harus membawa Mommy kembali dan Daddy yang akan membawanya!"


"Caranya?"


Edwin mendekati adiknya, membisikkan sesuatu. Mereka tidak akan lari lagi, mereka akan tetap berada di rumah dan bersikap seperti biasanya. Elvin mengangguk, mereka sudah sepakat. Mereka pun segera keluar untuk mandi, Morgan tampak puas melihat kedua putranya yang patuh.


Setelah Edwin dan Elvin mandi dan mengenakan pakaian, mereka segera sarapan dan menikmati makanan yang dibuat oleh ibu mereka. Morgan kembali terlihat puas, kedua putranya tidak berulah tapi sesungguhnya mereka tidak mau membuang makanan yang dibuat oleh ibu mereka.


"Cepat, Daddy akan mengantar kalian!" ucap Morgan tapi kedua putranya tidak menjawab. Morgan menatap kedua putranya dengan tatapan heran, ada apa dengan mereka?

__ADS_1


"Kenapa kalian diam saja?" tanya Morgan.


"Ayo Kak, cepat!" Elvin menarik tangan kakaknya, mereka berdua berlari pergi tanpa mempedulikan ayah mereka. Morgan hanya menggeleng namun itu adalah awal dari apa yang akan kedua putranya lakukan karena mereka berdua akan membuat ayah mereka pergi mencari ibu mereka dan membawa ibu mereka kembali.


__ADS_2