Wanita Bayaran Sang Penguasa

Wanita Bayaran Sang Penguasa
Kecurigaan Morgan


__ADS_3

Morgan sangat heran karena pakaiannya seperti ada yang memindahkan. Beberapa benda juga terlihat berpindah tempat, walau dia tidak begitu memperhatikan tapi dia ingat letak benda yang tanpa sengaja akan terlihat saat dia mengambil pakaian.


Apakah Edwin dan Elvin yang memindahkan beberapa barang itu? Ataukah Eliana? Rasanya tidak mungkin Eliana karena dia tidak bisa masuk ke dalam kamarnya dalam keadaan kaki yang sedang sakit. Jika bukan Eliana berarti Edwin dan Elvin. Akan dia tanyakan hal ini nanti.


Morgan segera mengambil bajunya, dia ingin mencari tahu akan hal ini. Meski pun di dalam lemari tidak ada benda berharga apa pun, tapi tetap saja dia harus tahu siapa yang telah memindahkan barang yang ada di dalam lemari apalagi ada dua pelayan baru yang tidak boleh dia percayai begitu saja.


Edwin dan Elvin bersama dengan Eliana di dalam kamar mereka saat itu. Eliana sedang membacakan dongeng untuk kedua putranya karena mereka akan segera tidur.


"Edwin, Elvin, apa kalian membongkar lemari pakaian Daddy?" tanya Morgan seraya menghampiri mereka.


"Tidak, kami tidak membuka lemari di kamar Daddy," jawab si kembar.


"Ada apa?" tanya Eliana.


"Tidak ada apa-apa, aku hanya bertanya saja."


"Dad, besok siapa yang akan menemani kami ke sekolah?" tanya Edwin.


"Pelayan, salah satu dari mereka yang akan menemani kalian."


"Baiklah, semoga Mommy cepat sembuh sehingga bisa mengantar kami ke sekolah lagi," Elvin sudah memeluk ibunya yang duduk di sisinya.


"Malam ini Daddy akan mengobati kaki Mommy agar cepat sembuh," ucap Morgan.


"Mengobati, apa yang hendak kau lakukan?" Eliana menatapnya curiga.


"Mengompres, memangnya apa yang kau pikirkan?"


"Jika begitu kami akan segera tidur agar Daddy bisa segera mengobati kaki Mommy," setelah mengatakan hal demikian, Edwin menarik selimut dan memeluk bantal. Elvin juga melakukan hal yang sama, mereka berdua sudah siap untuk tidur.


"Good night, Mom. Good Night, Dad," ucap Edwin dan Elvin.


"Good night, Sayang," Eliana mencium dahi Edwin dan Elvin. Morgan pun melakukan hal yang sama sebelum membawa Eliana keluar dari kamar. Eliana tidak melupakan tongkatnya karena dia butuh benda itu saat malam. Dia tidak bisa bergantung pada Morgan terus menerus apalagi mereka tidak akan tidur bersama namun nyatanya, Morgan sedang membawanya ke dalam kamarnya saat ini.


"Kenapa kau membawa aku ke dalam kamarmu?" tanya Eliana curiga.


"Mengobati kakimu yang terkilir. Tidak melupakannya, bukan?"


"Tapi bisa di kamarku, bukan?"

__ADS_1


"Aku lebih suka melakukannya di dalam kamarku!" ucap Morgan. Senyum licik menghiasi wajah, dia akan memanfaatkan malam mereka apalagi Edwin dan Elvin sudah sepakat untuk tidak mengganggu.


"Awas jika kau berani mengambil kesempatan dalam kesempitan!" ancam Eliana.


"Aku tidak akan ragu melakukannya!" goda Morgan.


"Enak saja, turunkan aku sekarang!" protes Eliana.


"Nanti, setelah di dalam kamar!"


"Hei, awas jika kau berani!" Eliana sudah menutupi tubuhnya menggunakan lengannya. Morgan terkekeh, reaksi yang ditunjukkan oleh Eliana membuatnya semakin ingin menggoda Eliana.


Mereka sudah berada di dalam kamar, Morgan mendudukkan Eliana ke sisi ranjang dan memintanya untuk menunggu karena dia hendak menyiapkan air hangat untuk mengompres kaki Eliana. Obat untuk memijat kaki Eliana pun sudah dia siapkan karena malam ini dia akan memijat pergelangan kaki Eliana.


Morgan kembali dengan sebuah baskom berisi air hangat. Eliana diam saja saat pria itu mengangkat satu kakinya dan mengompresnya menggunakan handuk hangat yang baru dia ambil dari dalam baskom.


"Kau tidak perlu melakukan hal ini, Morgan," ucap Eliana.


"Aku ingin melakukannya, jadi jangan mencegah!"


"Terus terang, aku tidak bisa membalas semua yang kau lakukan padaku saat ini," ucapnya. Sesungguhnya dia tidak suka berhutang budi pada siapa pun apalagi pada Morgan yang kemungkinan besar adalah Tuan muda yang telah membayarnya dulu. Kemungkinan mereka akan berselisih setelah ini, setelah hasil tes Dna keluar karena dia akan membawa Edwin dan Elvin pergi.


"Apa kau akan melakukan sesuatu?"


"Tidak, hanya tidur saja. Aku berjanji tapi cium sedikit tidak apa-apa, bukan?"


"Tidak boleh!" Eliana membuang wajah, sedangkan Morgan kembali terkekeh.


Setelah mengompres kaki Eliana, Morgan memijat pergelangan kakinya. Eliana berusaha menahan sakit akibat pijatan yang dilakukan oleh Morgan. Pria itu melakukannya dengan perlahan, dia tahu itu sangat sakit namun rasa sakit itu membuat Eliana berteriak. Eliana buru-buru menutup mulutnya dengan rapat agar dia tidak berteriak lagi.


Braakkk!! Tiba-Tiba terdengar suara benda jatuh di luar sana.


"Edwin, Elvin," ucap Eliana.


"Aku akan melihatnya," Morgan beranjak. Tidak mungkin itu kedua putranya karena Edwin dan Elvin tidak mungkin berada di luar. Morgan keluar dari kamar, tidak ada siapa pun diluar sana namun sebuah benda yang pecah berada di atas lantai. Morgan melangkah mendekati benda itu untuk melihat, aneh. Tidak mungkin benda itu jatuh dengan sendirinya.


Karena tidak ada siapa pun, Morgan kembali masuk ke dalam kamarnya. Rasanya ada yang tidak beres, ada yang mencurigakan.


"Ada apa? Apa Edwin dan Elvin terjatuh?" tanya Eliana.

__ADS_1


"Tidak ada apa-apa, Hanya benda jatuh saja!"


"Baiklah, aku rasa sudah cukup," Eliana sedang memijat pergelangan kakinya yang terasa tidak begitu sakit lagi saat dipijat.


"Apa perlu aku pijat di bagian lain?"


"Sembarangan, aku mau tidur!" ucap Eliana sinis.


"Aku hanya bercanda tapi lain kali tidak!"


Eliana membuang wajah, Morgan membawa baskom kembali ke kamar mandi. Ada yang aneh, dia tahu itu. Sudah lama tidak mengaktifkan Cctv di rumahnya karena tidak ada pelayan tapi sepertinya harus dia aktifkan lagi untuk melihat apa yang terjadi. Dia juga akan meletakkan sebuah Cctv di kamarnya.


Morgan menghampiri Eliana yang sudah berbaring membelakanginya. Tubuh Eliana terasa membeku saat Morgan memeluknya dari belakang. Tangan pria itu bergerak, mengusap lengannya dengan perlahan.


"Aku belum mendapatkan ciuman darimu, Eliana," ucapnya seraya mencium bagian tengkuk Eliana sampai membuat Eliana merasa geli.


"Ja-Jangan lakukan!" cegah Eliana.


"Ayolah!" Morgan membalik tubuh Eliana, sehingga mereka saling berhadapan.


Tangannya sudah berada di pipi Eliana, mengusapnya perlahan. Mereka berdua pun saling menatap, Morgan bahkan memperlihatkan senyuman menawannya.


"Apa kau tahu?" tangannya yang sudah berada di pipi kini berada di bawah dagu, "Aku selalu merasa aneh saat bersama denganmu," ucapnya.


"Apa maksudmu?"


"Rasakan ini," Morgan meraih tangan Eliana dan meletakkannya ke dadanya, "Apa kau tahu debaran apa ini, Eliana?" tanyanya.


"A-Aku tidak tahu!" jawab Eliana seraya berpaling.


"Aku rasa kau tahu, Eliana!" tangan Morgan sudah berada di pinggang Eliana, menarik tubuhnya mendekat. Bibirnya pun sudah berada di wajah Eliana, menciumnya dengan perlahan.


"Jangan seperti ini, Morgan," Eliana berusaha mendorong tubuh Morgan agar menjauh, "Kita tidak memiliki hubungan jadi jangan lakukan!"


"Sudah aku katakan, jadilah pacarku!" setelah berkata demikian, Morgan mencium bibir Eliana tanpa permisi. Eliana terkejut dan berusaha memberontak tapi pada akhirnya, dia tidak bisa melawan dan mulai terbuai dengan ciuman Morgan yang semakin dalam.


Dia tahu tidak benar, apa yang sedang mereka lakukan saat ini tidaklah benar. Meski dia tahu demikian tapi dia tidak bisa menolak ciuman Morgan yang semakin panas. Eliana sudah pasrah di dalam dekapan Morgan, itu adalah kesempatan yang sangat bagus tapi Morgan tidak melakukan apa pun selain ciuman itu.


"Ayo tidur, sudah malam," ucap Moragn seraya memberikan ciuman di dahi.

__ADS_1


Eliana hanya mengangguk dan memejamkan mata namun tidak dengan Morgan yang merasa ada yang aneh. Sebaiknya dia berhati-hati tapi sesungguhnya yang paling dia curigai saat ini adalah sikap Eliana saat berada di rumah sakit. Apakah Eliana menyembunyikan sesuatu darinya? Entah kenapa dia jadi sangat ingin tahu.


__ADS_2