
Akibat jam weker yang mengenai dahinya, kini sebuah benjolan merah berada di dahi Morgan. Morgan sangat kesal apalagi hari ini ada rapat penting yang harus dia hadiri. Wajah tampannya jadi kurang sempurna akibat benjolan itu, semua gara-gara Eliana.
Balasan apa lagi yang harus dia berikan pada Eliana, dia harus memikirkan hal ini dengan baik tapi sebelum itu, dia harus bergegas karena rapat sudah menunggu. Benjolan menyebalkan, lain kali dia yang akan membuat benjolan di tubuh Eliana tentunya di bagian tertentu.
Eliana enggan melihat ke arahnya saat Morgan bergabung dengan mereka di meja makan. Morgan menatapnya tajam, dia bagaikan pemangsa yang sedang mengincar mangsa yang bisa dia terkam kapan saja. Edwin dan Elvin melihat ayah mereka dengan tatapan heran.
"Apa yang terjadi dengan dahi Daddy?"
"Terbentur pintu kamar mandi," dusta Morgan.
"Kenapa bisa, Dad? Apa Daddy berjalan sambil menutup mata?" tanya Elvin pula.
"Tidak, cepat sarapan. Daddy akan mengantar kalian ke sekolah," tatapan mata masih tidak berpaling dari Eliana yang sedang mengoles selai di atas roti tawar. Eliana tidak peduli, sebisa mungkin dia menghindari kontak mata dengan Morgan.
"Daddy, bagaimana jika kita ajak Mommy makan malam di luar?" ucap Edwin.
"Benar, Dad. Kita belum pernah mengajak Mommy makan malam di restoran," ucap sang adik pula.
"Boleh saja, jika dia mau!"
"Mommy pasti mau. Benarkan, Mom?" Edwin dan Elvin melihat ke arah Eliana dan menatapnya dengan tatapan penuh harap.
"Tidak perlu, Sayang. Mommy tidak mau merepotkan kalian," tolak Eliana.
"Kami selalu merepotkan Mommy jadi Mommy tidak boleh menolak," ucap Elvin.
"Benar, Mom. Sekarang giliran kita yang menyenangkan Mommy," ucap Edwin.
"Baiklah, Mommy tidak akan menolak," ucap Eliana.
Sorakan Edwin dan Elvin terdengar, Eliana tersenyum karena mereka begitu senang hanya untuk makan malam saja namun senyumannya hilang saat tatapan matanya beradu dengan tatapan mata Morgan. Mereka saling pandang dalam diam dengan permusuhan yang terpancar dari tatapan mereka berdua. Morgan menyentuh dahinya, seperti ingin menunjukkan pada Eliana akan benjolan di sana namun Eliana membuang wajah seolah dia tidak peduli. Tentunya hal itu membuat Morgan kesal setengah mati.
"Kami sudah selesai, Mom," ucap si kembar.
"Bagus, sekarang habiskan susunya agar kalian cepat besar!" dua gelas susu di dorong mendekat ke arah si kembar.
Dua gelas susu pun di teguk sampai habis, Eliana mengajak mereka keluar untuk mengambil tas. Morgan pun buru-buru menghabiskan kopinya. Edwin dan Elvin sudah siap berangkat, Morgan akan mengantar mereka terlebih dahulu sebelum pergi ke kantor.
__ADS_1
Tidak ada yang saling berbicara antara Eliana dan Morgan. Hanya suara si kembar saja yang terdengar begitu heboh sampai mereka tiba di sekolah.
"Daddy tidak bisa menjemput kalian karena sibuk tapi nanti Daddy akan mengutus seseorang untuk menjemput kalian," ucap Morgan sebelum kedua putranya turun.
"Tidak apa-apa, Dad. Kami bisa pulang dengan Mommy."
"Baiklah, nikmati waktu kalian."
Sebelum turun, Edwin dan Elvin memeluk ayah mereka. Eliana sudah menunggu di luar, Edwin dan Elvin melompat turun dari mobil dan setelah itu mereka memegangi tangan Eliana untuk masuk ke dalam sekolah. Morgan memandangi mereka sebelum pergi. Sebuah harapan tumbuh di hati, dia jadi berharap mereka selalu seperti itu.
Setelah kepergian Morgan tidak lama, sebuah mobil berhenti. Sepasang suami istri keluar dari mobil dan berdiri di depan sekolah yang sudah tertutup rapat. Mereka tampak melihat-lihat sambil melihat alamat yang mereka bawa.
"Apa benar di sini?" tanya yang pria.
"Sudah pasti benar, informasi yang aku dapatkan tidak mungkin salah!" ucap yang wanita.
Mereka adalah ayah Eliana dan istri keduanya. Tentu mereka datang untuk mencari Eliana dan membawanya pulang karena Eliana hendak mereka jodohkan dengan seorang pengusaha yang memang sejak awal ingin mereka jodohkan dengan Eliana.
Setelah kematian mantan istrinya, mereka tidak tahu ke mana Eliana pergi. Sang ayah terus mencari selama tiga tahun sampai akhirnya mereka mendapat kabar jika Eliana berada di kota itu lagi namun Eliana berada di daerah lain. Mereka tahu keberadaan Eliana saat ini berkat bantuan seorang informan yang mereka bayar.
Kali ini mereka tidak boleh gagal membawa Eliana pulang seperti waktu itu. Dengan cara apa pun, sekalipun dengan cara paksa mereka harus membawa Eliana kembali agar perjodohan itu tidak gagal. Tanpa tahu ayahnya datang untuk mencarinya, Eliana menunggu si kembar di tempat yang sudah tersedia sampai si kembar pulang.
Eliana kembali terkejut, apalagi ketika melihat jika ayahnya yang melakukan hal itu. Istri kedua ayahnya menatapnya dengan sinis, dia bahkan mencibir Eliana karena mereka berpikir Eliana bekerja sebagai baby sister yang menjaga anak orang kaya.
"Mau apa kalian ke sini?" tanya Eliana tidak senang.
"Tentu saja untuk mencarimu!" jawab ayahnya yang mencoba melihat ke arah Edwin dan Elvin yang sedang bersembunyi di belakang Eliana.
"Untuk apa? Bukankah kau tidak menganggap aku ada? Jadi sebaiknya pergi!"
"Jangan asal bicara, kau adalah putriku jadi ikut aku kembali karena sekarang kau harus berbakti sebagai putriku!" tangan Eliana diraih dan ditarik.
"Lepaskan Mommy!" teriak Edwin dan Elvin yang berusaha memeluk ibu mereka untuk menahannya.
"Anak kecil tidak perlu ikut campur, lepas!" ibu tiri Eliana berusaha melepaskan pegangan tangan Edwin dan Elvin.
"Jangan memaksa aku, aku tidak mau!" teriak Eliana.
__ADS_1
"Sekarang kau tidak bisa menolak. Kau harus berkorban untuk Daddy jadi kali ini Daddy tidak akan membiarkan kau menolak!" Eliana masih ditarik, sehingga pelukan Edwin dan Elvin terlepas apalagi sang ibu tiri bersuaha menyingkirkan mereka berdua.
"Penculik jahat, jangan bawa Mommy!" teriak si kembar dan karena kejadian itu beberapa penjaga yang ada di depan gerbang hendak membantu.
"Diam, kami kedua orang tuanya!" teriak ibu tiri Eliana.
"Lepaskan aku, Dad. Aku tidak sudi mengikuti keinginan kalian!" teriak Eliana namun ayahnya sudah menariknya menuju mobil.
"Lepaskan Mommy, lepaskan!" Edwin dan Elvin hendak membantu namun ibu tiri Eliana mendorong mereka berdua hingga mereka terjatuh.
"Anak kecil jangan ikut campur!" teriaknya ibu tiri Eliana. Dia bahkan berteriak pada orang yang hendak membantu Eliana sehingga mereka tidak jadi melakukannya.
"Mommy!" si kembar berteriak memanggil, mereka pun menangis.
Dengan tenaga yang dia miliki, Eliana tidak bisa melawan sehingga begitu mudahnya dia ditarik oleh ayahnya. Eliana sudah didorong masuk, supir ayahnya yang sudah menunggu di dalam membantu memegangi Eliana lalu membius Eliana hingga pingsan. Edwin dan Elvin mengejar mobil yang membawa Eliana pergi, mereka tidak mau ibu mereka di bawa seperti itu tapi seseorang menahan mereka dari belakang.
"Tuan Muda, apa yang terjadi?" itu adalah orang yang diutus ayah mereka untuk menjemput.
"Mommy dibawa pergi orang jahat!" jawab mereka sambil menangis.
"Maksud kalian?"
"Sekarang antar kami ke tempat Daddy, Kami ingin bertemu dengan Daddy!" rengek Edwin.
"Cepat, Uncle. Kami ingin bertemu Daddy!" pinta si cengeng yang menangis tiada henti.
"Jika begitu ayo cepat!" si kembar dibawa menuju mobil. Mereka pun dibawa ke kantor untuk menemui ayah mereka. Morgan masih rapat saat itu, namun Edwin dan Elvin menerobos masuk ke ruang rapat sambil menangis. Padahal mereka sudah dicegah dan diminta untuk menunggu tapi mereka tidak peduli. Morgan terkejut melihat keadaan kedua putranya yang kacau. Apa yang terjadi pada kedua putranya?
"Ada apa dengan kalian berdua?"
"Daddy, ada orang jahat yang membawa Mommy!" teriak Edwin.
"Apa?" Morgan beranjak dari tempat duduknya.
"Mommy dibawa pergi oleh pria jahat dan nenek tua!" ucap Elvin pula.
"Bubarkan rapat!" perintah Morgan karena dia tahu ada yang tidak beres.
__ADS_1
Kedua putranya digendong lalu Morgan membawa Edwin dan Elvin yang masih menangis keluar dari ruang rapat karena dia harus tahu apa yang terjadi dan apa maksud dari perkataan mereka. Eliana yang saat itu sedang pingsan mulai didandani oleh ibu tirinya karena saat itu juga, mereka akan menikahkan Eliana bahkan gaun pengantin pun sudah tersedia. Eliana tidak boleh menolak karena kali ini dia harus berkorban untuk ayahnya.