Wanita Bayaran Sang Penguasa

Wanita Bayaran Sang Penguasa
Sudah Tidak Sabar


__ADS_3

Pagi yang sangat berbeda bagi Edwin dan Elvin dan tentunya pagi yang damai tanpa adanya teriakan mereka padahal mereka berada di rumah. Edwin dan Elvin yang biasanya selalu heboh dan berteriak tanpa henti tidak melakukan hal.


Pagi ini dia tampak patuh dengan ibu mereka. Kedua anak itu sudah mandi, mereka pun sudah terlihat rapi. Hari ini mereka belum mau pergi ke sekolah karena hari ini mereka akan pergi ke taman bermain. Edwin dan Elvin sudah berada di meja makan. Mereka tidak berlari masuk ke dalam kamar ayah mereka untuk membangunkan ayah mereka sambil berteriak seperti yang biasanya mereka lakukan.


Tentunya hal itu membuat para pelayan yang sudah mengetahui kenakalan mereka berdua sangat heran. Edwin dan Elvin bahkan duduk dengan manis dan yang paling membuat mereka terkejut adalah, ketika mereka mendengar Edwin dan Elvin memanggil Eliana dengan sebutan Mommy. Apakah pelarian mereka berhasil mempertemukan mereka pada ibu yang sangat mereka inginkan selama ini? Hal itu tidak mustahil karena keajaiban akan terjadi pada siapa saja.


Morgan pun sangat heran karena tidak terdengar suara kedua putranya. Biasanya Edwin dan Elvin akan masuk ke dalam kamar dan membuat keributan tapi pagi ini, setelah mereka kembali dari melarikan diri, tidak ada suara gaduh seperti yang biasa kedua putranya lakukan.


Morgan beranjak dari atas ranjang, baju pun dikenakan dan setelah mencuci wajahnya, pria itu melangkah keluar. Benar-Benar suasana yang tenang. Dia justru mengira kedua putranya sedang tidur namun suara mereka terdengar dari dapur.


Kedua kakinya melangkah menuju dapur, suara tawa kedua putranya dan Eliana terdengar. Morgan tidak langsung bergabung, dia justru memperhatikan Eliana dan kedua putranya yang sedang menikmati sarapan mereka.


"Mommy, kami belum tahu nama Mommy," ucap Edwin.


"Eliana, itu namaku," jawab Eliana.


Eliana, nama yang bagus. Sekarang dia tidak perlu bertanya siapa nama wanita itu karena dia sudah tahu dari kedua putranya.


"Kenapa Mommy tinggal seorang diri?" kali ini Elvin yang bertanya.


"Mommy sudah tidak memiliki siapa pun lagi, Sayang. Lagi pula Mommy hanya pendatang."


"Benarkah? Mommy tinggal di mana sebelumnya?"


"Australia, kalian mau ikut?"


"Mau, jika Daddy menikah dengan penyihir itu maka kami akan ikut dengan Mommy ke Australia!" ucap Edwin.


"Hm, aku mendengar rencana kalian!" ucap Morgan dengan nada tidak senang.

__ADS_1


Edwin dan Elvin berpaling, begitu juga dengan Eliana. Morgan melangkah menghampiri, tatapan matanya tidak lepas dari Eliana.


"Selamat pagi, Morgan," sapa Eliana, senyum manis menghiasi wajahnya.


"Good morning, Dad," sapa Edwin dan Elvin pula.


"Morning, kenapa hari ini kalian tidak berisik seperti biasanya?" tanya Morgan sambil mengusap kepala kedua putranya.


"Kami sudah berjanji menjadi anak baik jadi kami akan menjadi anak baik."


Morgan tersenyum sinis, luar biasa. Orang luar benar-benar membuat kedua putranya patuh. Hanya dengan satu kata yang diucapkan oleh Eliana, Edwin dan Elvin benar-benar berubah dari anak yang super nakal, menjadi anak yang baik.


"Apa kau ingin aku membuatkan sesuatu?" tanya Eliana, dia sudah beranjak untuk membuat minuman.


"Kopi hitam tanpa gula, jika kau tidak keberatan."


"Tentu tidak!" Eliana sedang mengambil serbuk kopi dan juga gelas.


"Daddy kenapa menatap kami seperti itu?" tanya Elvin yang kembali menikmati roti bakarnya.


"Tidak!" sepotong roti diambil, selai coklat pun diambil. Eliana menghampirinya dengan segelas kopi hitam yang Morgan inginkan dan meletakkannya ke atas meja.


"Semoga sesuai dengan seleramu," ucapnya.


Morgan tidak menjawab, Eliana kembali duduk. Mereka sarapan bersama seperti keluarga pada umumnya. Edwin dan Elvin begitu patuh, saat Eliana mengajaknya keluar dari dapur.


"Daddy, jangan lupa kita mau pergi ke taman bermain," ucap kedua putranya.


"Ayo siapkan barang-barang yang harus kalian bawa," ucap Eliana.

__ADS_1


Morgan pun beranjak setelah selesai, entah apa yang dilakukan namun tawa Edwin dan Elvin yang ceria terdengar. Sungguh dia sangat ingin tahu apa yang sedang mereka lakukan namun karena selama ini Edwin dan Elvin tidak pernah seperti itu, dia memutuskan akan melihat apa yang sedang mereka lakukan setelah selesai mandi.


Camella pun sudah tiba di luar sana, dia harus mengikut  mereka ke taman bermain. Dia tidak boleh melewatkan hal itu apalagi ada seorang saingan yang bisa mengambil posisinya kapan saja. Oleh sebab itu dia tidak boleh lengah. Suara bel pintu berbunyi dan secara kebetulan Eliana yang membukakan pintu untuknya.


Senyum Camella mekar saat daun pintu terbuka namun senyumannya hilang saat melihat Eliana yang membuka pintu. Bagus, sekarang wanita itu sudah seperti pemilik rumah. Rasa kesal melanda setiap kali melihat Eliana dan kekesalan yang dia rasakan semakin memuncak ketika Edwin dan Elvin berteriak memanggil Mommy.


"Mommy, kami sudah siap!" teriak kedua anak itu.


Camella tercengang. Mommy? Wow, apa ada yang dia lewatkan? Bagaimana bisa hanya dalam satu malam wanita itu sudah mendapatkan status sebagai ibu si kembar? Apa Morgan tidak keberatan dan tidak mencegah kedua putranya melakukan hal demikian?


Edwin dan Elvin sudah berdiri di sisi Eliana, menatapnya dengan tatapan tidak senang namun tidak lama karena mereka tampak tersenyum dengan  manis.


"Selamat pagi, Aunty," sapa Edwin dan Elvin. Hari ini mereka akan mengerjai penyihir itu agar menjauh dari ayah mereka.


"Selamat pagi, kalian benar-benar anak yang sangat manis," Camella tersenyum dengan manis.


"Kami kira Aunty tidak jadi ikut," ucap Edwin basa basi.


"Tentu saja ikut, Aunty tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan untuk bermain dengan kalian berdua."


"kami juga sudah tidak sabar bermain dengan Aunty," Edwin dan Elvin tersenyum lebar begitu juga dengan Camella. Dia pemenangnya, ternyata kedua anak itu menyukainya. Walau mereka memanggil wanita asing itu dengan sebutan Mommy tapi bisa dia lihat jika kedua putra Morgan lebih menyukai dirinya.


"Pergilah, panggil Daddy kalian," perintah Eliana.


"Baik, Mom!" Edwin dan Elvin berlari menuju kamar ayah mereka sedangkan Camella masuk ke dalam melewati Eliana.


Eliana hanya tersenyum. Mereka hendak pergi ke taman bermain, kenapa Camella menggunakan rok pendek dengan tank top serta high heel? Camella juga memakai topi besar dengan sebuah kaca mata hitam. Semoga saja dia tidak terganggu karena gaya berpakaiannya apalagi dia akan menemani Edwin dan Elvin bermain nanti.


Edwin dan Elvin berteriak girang saat ayah mereka keluar dari kamar. Saatnya pergi ke taman bermain untuk melakukan hal yang menyenangkan. Untuk hari ini, mereka akan dekat dengan si penyihir yang tidak mereka sukai. Edwin dan Elvin menarik tangan Camella agar mereka segera keluar dari rumah.

__ADS_1


Camella sangat senang, itu nilai lebih di mata Morgan. Mau secantik apa pun wanita yang dia bawa pulang, mau sebaik apa pun wanita yang Morgan bawa pulang tapi pada akhirnya dialah yang menjadi pemenang karena Edwin dan Elvin lebih menyukai dirinya.


Tanpa curiga sama sekali, Camella melakukan apa yang bisa dia lakukan untuk Edwin dan Elvin untuk mencari perhatian Morgan tapi Morgan justru curiga dengan kelakuan kedua putranya. Semoga saja tidak ada akal licik dan semoga saja mereka benar-benar menyukai kekasihnya.


__ADS_2