Wanita Bayaran Sang Penguasa

Wanita Bayaran Sang Penguasa
Harga Diri Terakhir


__ADS_3

Edwin dan Elvin sangat senang karena kedua orangtua mereka sudah memutuskan untuk menikah walau begitu, pernikahan mereka akan dilaksanakan setelah keadaan Eliana sedikit membaik. Lagi pula Morgan harus menyiapkan segala sesuatu untuk pernikahan mereka. Hanya pernikahan sederhana yang diinginkan oleh Eliana, dia tidak memiliki siapa pun lagi begitu juga dengan Morgan jadi mereka akan menikah disaksikan oleh kedua putra mereka saja.


Morgan membawa Eliana kembali hari ini, lagi pula luka akibat tembakan sudah ditangani dan hanya perlu diberi obat secara rutin saja. Eliana tampak canggung, dia enggan melangkah masuk ke dalam rumah karena beberapa jam yang lalu dia baru saja ditarik dengan paksa untuk keluar dari rumah itu. Kejadian itu bahkan masih segar berada di ingatannya bahkan kedua penjaga yang menyeretnya keluar memperhatikan dirinya tanpa berpaling.


Rasanya sangat aneh, semua jadi terasa berbeda akibat pertengkaran mereka dan akibat perlakukan kasar Morgan. Rasanya harga dirinya tidak ada lagi karena dia harus kembali ke rumah di mana dia baru saja diusir dengan kejamnya. Dia memang bersedia menikah dengan Morgan demi kedua putranya tapi entah kenapa dia merasa kembali ke rumah itu justru menghancurkan harga dirinya.


Morgan dan kedua putranya sudah melangkah masuk namun Eliana masih berdiri di depan pintu. Tentunya hal itu membuat mereka heran sehingga mereka kembali keluar dan menghampiri Eliana.


"Mommy, kenapa Mommy diam saja?" tanya Edwin setelah menyadari ibunya tidak juga melangkah masuk.


"Benar, kenapa Mommy tidak masuk?" Elvin mendekati ibunya begitu juga dengan Edwin. Tangan ibu mereka pun diraih, si kembar juga menatap ibu mereka dengan tatapan heran.


"Ada apa? Apa kakimu sakit?" Morgan juga menghampiri dan menyentuh bahunya. Dia kira kedua kaki Eliana kembali sakit karena kedua kakinya memang belum begitu sembuh.


"Tidak!" Eliana menepis tangan Morgan, dia kembali bersikap dingin. Sungguh terasa berat melangkah memasuki rumah itu, jika tidak demi kedua putranya, dia tidak akan mau melakukannya demi harga dirinya namun sekarang dia harus membuang harga dirinya dan kembali ke rumah di mana dia sudah terusir sebelumnya.


"Ayo masuk, Mom," ajak kedua putranya.


Eliana berusaha tersenyum, dengan berat hati Eliana melangkah masuk. Terserah orang mau berkata apa, dia tidak peduli bahkan dia akan menjadi bahan cibiran karena dia harus menikah dengan pria yang sudah membayarnya dan pria yang sudah mengusirnya dengan kejam.

__ADS_1


Morgan sangat heran karena sikap Eliana yang mendadak menjadi dingin padahal sebelumnya tidak. Apa dia kembali membuat kesalahan? Sepertinya dia lupa dengan perlakuan kasarnya pada Eliana yang telah menarik dan juga melemparnya keluar.


Eliana mengikuti kedua putranya masuk ke dalam kamar mereka, sekarang dia harus mempertahankan harga diri terakhirnya. Sekalipun dia harus kembali ke rumah itu lagi, dia benar-benar tidak akan membiarkan Morgan dapat menyentuhnya dengan mudah. Morgan yang sudah berada di dalam kamar pun tidak melepaskan pandangan darinya karena dia benar-benar ingin tahu kenapa sikap Eliana tiba-tiba menjadi begitu dingin.


"Ayo, Mommy harus berbaring agar luka Mommy tidak berdarah lagi," ucap Edwin.


"Apa yang Mommy mau, katakan pada kami. Aku dan kakak akan mengambilkannya," ucap Elvin pula.


"Terima kasih, Sayang. Tapi Mommy bisa mengambilnya sendiri. Sekarang bolehkan Mommy beristirahat?"


"Tentu saja, kami juga mau beristirahat dengan Mommy!" Edwin dan Elvin naik ke atas ranjang terlebih dahulu. Mereka menyiapkan bantal untuk ibu mereka agar ibu mereka bisa berbaring dengan nyaman.


"Kenapa kau bersikap dingin padaku?" tanya Morgan.


"Pergi, Morgan. Ini satu-satunya harga diri yang aku miliki jadi jangan menyentuh aku!" pinta Eliana.


"Apa maksud ucapanmu? Apa aku membuat kesalahan?" Morgan sungguh tidak mengerti apa yang telah dia lakukan.


"Aku malu, Morgan. Sungguh malu, aku adalah orang yang kau usir tapi aku harus membuang harga diriku untuk kembali ke rumah ini lagi. Sebentar lagi orang-orang akan mencibir aku jadi tolong tinggalkan aku karena aku butuh waktu sendiri karena aku ingin meyakinkan diriku jika apa yang aku lakukan saat ini tidaklah salah."

__ADS_1


"Aku minta maaf, Eliana. Jika kau tidak mau kembali ke rumah ini lagi, maka kita bisa pindah!"


"Bukan rumah ini yang bermasalah, tapi sikapmu. Luka bekas pukulan bisa sembuh tapi luka di hati tidaklah mudah jadi tinggalkan aku sendiri, aku membutuhkannya!" pinta Eliana.


"Baiklah, aku benar-benar minta maaf. Aku akan menebus kesalahan yang aku lakukan jadi katakan padaku, apa yang harus aku lakukan agar aku bisa menebusnya."


"Sekarang tinggalkan aku, Morgan," pinta Eliana.


"Baiklah jika itu yang kau mau," lebih baik mengikuti perkataan Eliana dari pada semakin dibenci oleh wanita itu. Semua memang kesalahan yang dia lakukan dan dia harus bisa menebusnya.


Morgan keluar dari kamar, tanpa meninggalkan ciuman di dahi karena Eliana tidak mau. Benar yang Eliana katakan, luka di hati memang sulit disembuhkan tapi dia akan berusaha memperbaiki kesalahan yang dia lakukan. Setelah Morgan keluar dari kamar, Eliana tidak tidur sama sekali. Eliana benar-benar ragu dan bimbang dengan keputusannya yang telah setuju untuk menikah dengan Morgan. Dia takut, dengan sikap kasar yang Morgan miliki, bukan kebahagiaan yang dia dapatkan nantinya.


Sepertinya dia harus membuat sebuah perjanjian, yeah... kali ini dia tidak boleh dirugikan. Dia harus memikirkan hal ini baik-baik, memikirkan sebuah kesepakatan yang tidak merugikan dirinya lagi. Seperti dulu Morgan memberikan sebuah kesepakatan, dia pun harus memberikan sebuah kesepakatan. Itu harus dia lakukan agar dia tidak kembali diusir dengan kejam dan agar dia bisa pergi dengan penuh kepercayaan diri dari rumah itu jika Morgan berani mengusir dirinya lagi.


Di luar sana, tatapan Morgan jatuh pada pintu lemari yang dia pukul sampai retak. Apa sebenarnya yang dia pikirkan hingga membuatnya ingin memukul Eliana? Sepertinya dia sudah gila saat itu, dia bahkan masih ingat bagaimana dia menarik Eliana keluar dari rumahnya dan melemparnya keluar.


Sekarang dia sadar, benar-benar sadar akan kebodohan yang dia lakukan sehingga membuat Eliana bersikap dingin dengannya. Siapa pun yang berada di posisi Eliana, pasti akan merasa terhina karena harus kembali ke rumah di mana dia baru saja diusir dengan kejamnya.


"Sial!" Morgan mengumpat, kesalahan yang dia lakukan benar-benar fatal. Meski dia bisa menikahi Eliana tapi sepertinya dia belum mendapatkan hatinya dan semua itu, akibat kebodohan yang dia lakukan dan sekarang, bagaimana caranya memperbaiki kesalahan itu agar dia bisa mendapatkan hati Eliana? Kali ini dia harus berusaha sendiri tanpa melibatkan kedua putranya agar Eliana melihat jika kali ini dia benar-benar serius.

__ADS_1


__ADS_2